Aktor dan pendiri Sundance Film Festival Robert Redford (Sumber gambar: Instagram/Robert Redford)

Jalan Panjang Robert Redford Mendirikan & Membesarkan Sundance Film Festival

17 September 2025   |   07:50 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Nama Robert Redford akan selalu melekat di benak pencinta film. Ia tidak sekadar aktor legendaris Hollywood, tetapi juga tokoh visioner yang membuka jalan bagi lahirnya film independen lewat Sundance Institute, yang kelak menjadi cikal bakal Sundance Film Festival.

Sebelum tahun 1980-an, Redford sudah menjadi bintang papan atas. Popularitasnya meroket berkat perannya di Butch Cassidy and the Sundance Kid (1969), lalu berlanjut ke sejumlah film besar seperti The Way We Were (1973), The Sting (1973), All the President's Men (1976), hingga Out of Africa (1985).

Meski hidup di pusat gemerlap Hollywood, Redford dikenal tetap bersahaja. Sudah sejak awal 1960-an, hobinya adalah berkendara dengan motor melintasi negeri. Hingga suatu ketika, di dalam perjalanan itu, dia sampai dan jatuh hati pada keindahan Provo Canyon dan Gunung Timpanogos. 

Baca Juga: Legenda Hollywood Robert Redford Meninggal Dunia Usia 89 Tahun 

Terinspirasi dari suasana alam yang liar dan tenang, dia membeli sebidang tanah kecil dan membangun kabin dengan tangannya sendiri di tempat tersebut. Tak lama setelahnya, Redford memperluas lahannya hingga 5.000 hektar. Kawasan tersebut ia beri nama “Sundance,” merujuk pada perannya yang ikonik di film Butch Cassidy and the Sundance Kid.

Di sana, dia membuka Sundance Mountain Resort untuk umum dan menetapkan sebagian besar wilayahnya sebagai kawasan konservasi. Pada 1980, Redford mengundang sejumlah kolega ke Sundance, Utah. Pertemuan itu bertujuan membahas pentingnya mengembalikan fokus perfilman pada manusia, cerita, dan keahlian. 

Dari pertemuan sederhana itulah lahir sebuah lembaga nirlaba bernama Sundance Institute. Setahun kemudian, Sundance Institute menggelar laboratorium pertamanya di resor tersebut. Sebanyak 17 pembuat film independen mendapat kesempatan mengembangkan proyek orisinal bersama mentor kenamaan seperti Sydney Pollack dan Waldo Salt.

Atmosfer kreatif ini mendorong lahirnya kisah-kisah autentik dengan gaya khas masing-masing sineas. Hasil nyata segera terlihat pada 1983 lewat film El Norte karya Gregory Nava. Didukung oleh laboratorium Sundance, film yang mengisahkan perjuangan imigran Guatemala itu meraih pujian kritis dan bahkan mengantar Gregory Nava serta Anna Thomas meraih nominasi Oscar untuk skenario terbaik.

Setahun kemudian, Sundance juga merambah dunia teater dengan mendirikan Laboratorium Penulis Drama. Transformasi besar terjadi pada 1985 ketika Sundance Institute mulai mengambil alih sisi kreatif dan administratif Festival Film AS.

Acara tersebut kemudian berganti nama dan mulai mengenalkan diri sebagai Festival Film Sundance setelahnya. Ini adalah festival yang menawarkan warna baru, sebuah ajang sepuluh hari yang menampilkan karya-karya naratif dan dokumenter independen dari Amerika maupun mancanegara. 
 

Tak berhenti di situ, pada 1986–1987 Sundance memperluas jangkauan global. Program pertukaran kreatif dengan Amerika Latin diluncurkan, dan festival bahkan dibawa ke Tokyo untuk membuka peluang bagi pendongeng dari berbagai belahan dunia.

Menjelang akhir dekade 1980-an, Sundance semakin berperan besar dalam dunia film. Pada 1989, Sex, Lies, and Videotape karya Steven Soderbergh meraih penghargaan di Sundance dan kemudian menjadi salah satu film independen paling sukses di masanya. Hal ini mengukuhkan Sundance sebagai panggung utama bagi karya-karya indie.

Memasuki era 1990-an, industri perfilman global mulai serius menaruh perhatian. Sundance melahirkan gelombang baru pembuat film independen dan meluncurkan program khusus bagi sineas lokal di sana. Ajang ini pun makin menegaskan perannya sebagai rumah besar bagi cerita-cerita alternatif yang mungkin tak mendapat tempat di studio besar Hollywood.

Kurasi ketat membuat film-film yang lahir maupun tayang di Sundance kerap melesat jadi besar. Beberapa yang awalnya dipandang kecil, seperti Daughters of the Dust (1991), Paris Is Burning (1991), Slacker (1991), In the Soup (1992), El Mariachi (1993), Clerks (1994), Hoop Dreams (1994), Mi Vida Loca (1994), hingga Reality Bites (1994), menjadi bukti nyatanya. Di Directors Lab, Quentin Tarantino bahkan mendapat ruang untuk mengembangkan feature pertamanya, Reservoir Dogs, yang kemudian tayang perdana di festival tahun 1992.

Pada 1993, Sundance Institute memperluas pengaruhnya dengan mendukung Lab Penulis Skenario Meksiko pertama, bekerja sama dengan Universitas Guadalajara. Salah satu pesertanya adalah Guillermo del Toro, yang membawa naskah The Devil's Backbone untuk dipoles lebih lanjut.

Dua tahun berikutnya, Sundance semakin menegaskan komitmennya pada pembuat film lokal. Tahun 1995 melahirkan Smoke Signals, film pertama yang ditulis dan disutradarai penduduk asli Amerika, yakni Chris Eyre dan Sherman Alexie. Film ini menang besar di Festival 1998 dan menjadi film Pribumi pertama yang dirilis secara komersial.

Pada tahun yang sama, Sundance juga memperluas jangkauan global. Konferensi Produser Amerika Latin digelar di Meksiko, Brasil, dan Kuba, serta Lab Penulis Skenario di Meksiko, Brasil, Chili, dan Eropa Tengah. Bahkan, Festival Film Sundance hadir sebagai festival film independen Amerika pertama di Tiongkok.

Memasuki 1997, kerja sama dengan UCLA melahirkan Koleksi Sundance di UCLA. Arsip ini menjadi rumah bagi pelestarian karya sinema independen, sebuah langkah penting untuk menjaga warisan perfilman non-studio.

Pada tahun yang sama, Kimberly Peirce mengembangkan Boys Don't Cry di Directors Lab. Film ini kemudian melambungkan nama Hilary Swank lewat aktingnya yang mengantarkan piala Oscar Aktris Terbaik pada 2000.

Medio 2000-an kemudian menandai langkah besar lainnya dari festival. Ketika banyak pihak masih meragukan era digital, Sundance justru menjadi salah satu festival pertama yang mengadopsi proyeksi digital. Mereka juga memperluas dukungan lewat Program Teater, termasuk Sundance Playwrights Retreat di Wyoming dan laboratorium musikal di Florida.

Pada 2004, program teater Sundance mencatat prestasi gemilang. I Am My Own Wife karya Doug Wright meraih Pulitzer, Tony Award untuk drama terbaik, serta Tony untuk aktor terbaik lewat penampilan Jefferson Mays.
 

Rentang 2005–2007 membawa terobosan lain. Festival meluncurkan Kompetisi Sinema Dunia dan bagian New Frontier, yang merayakan karya di persimpangan film, seni, dan teknologi. Sundance juga memperkenalkan Inisiatif Produksi Kreatif untuk mendukung produser independen lewat laboratorium, hibah, dan pendampingan jangka panjang.

Tahun 2011, menyadari potensi teknologi baru, Sundance meluncurkan #ArtistServices, yang kemudian berubah nama menjadi Creative Distribution Initiative. Program ini membantu sineas mempertahankan hak atas karya mereka sekaligus menembus audiens lewat platform digital seperti iTunes, Netflix, dan Amazon.

Tahun berikutnya, Sundance menjadi saksi awal revolusi virtual reality. Nonny de la Peña mempresentasikan Hunger in Los Angeles di festival 2012, yang menginspirasi Palmer Luckey menciptakan prototipe Oculus Rift. Dari titik itu, demam VR menjalar ke industri film, gim, hingga teknologi global.

Seiring berkembangnya lanskap media, Sundance pun mendorong keberagaman. Tiga inisiatif diluncurkan: Women at Sundance Institute, Catalyst, serta Outreach and Inclusion Initiative. Program Episodik juga hadir untuk menjawab maraknya konten serial di televisi dan platform daring. Mereka juga meluncurkan program Ignite Fellows pada 2015. Program ini menghadirkan pengalaman festival khusus bagi sineas muda.

Pandemi Covid-19 mendorong transformasi lain. Festival 2021 dan 2022 digelar secara digital, sementara pemutaran satelit dilakukan di berbagai kota AS. Tahun 2023 menghadirkan format hibrida pertama, dan 2024 menjadi perayaan 40 tahun Sundance dengan rekor 17.000 film yang didaftarkan dari seluruh dunia.

Kini, Robert Redford memang telah tiada. Dia dikabarkan meninggal di rumahnya di Sundance, Utah, tempat penting dia menemukan cintanya pada sinema. Namun, warisan-warisan pengembangan film darinya akan terus hidup dan dikenang oleh generasi setelahnya.

Baca Juga: Perjalanan Karier Robert Redford dari Panggung Teater Menjadi Sineas Ternama

SEBELUMNYA

Perjalanan Karier Robert Redford dari Panggung Teater Menjadi Sineas Ternama

BERIKUTNYA

Pameran Arsip Bertajuk Stasiun UI, Buku, Pesta Kereta, dan Cinta Hadir di Selasar Stasiun UI

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga