Alasan Produser Bikin Prekuel Film Ali & Ratu Ratu Queens dalam Bentuk Serial
13 September 2025 |
19:50 WIB
Netflix Indonesia akhirnya merilis serial orisinal terbarunya bertajuk Ratu-Ratu Queens: The Series pada Jumat, (12/9/2025). Serial produksi Palari Films ini merupakan prekuel dari Film Ali & Ratu Ratu Queens yang sebelumnya dirilis pada tahun 2021.
Meski perilisannya dilakukan setelah filmnya keluar, versi serial ini sejatinya sudah dirancang lebih awal. Showrunner Muhammad Zaidy menyebut ide mengenai cerita empat perempuan diaspora yang tinggal di Amerika Serikat sudah tercetus sejak 2015. Namun, dalam perkembangannya, kata pria yang karib disapa Eddy ini, justru versi filmnya yang lebih dahulu tayang.
Baca juga: Pengalaman Asri Welas, Blokir Jalanan Times Square Demi Syuting Serial Netflix
“Sebenarnya ide awalnya adalah membuat serialnya dulu sebelum punya ide bikin cerita film Ali & Ratu Ratu Queens, tapi kemudian saat itu kami memutuskan untuk membuat versi filmnya, dengan adanya karakter-karakter lain,” tutur Eddy.
Setelah filmnya meraih sukses di Netflix, tim produksi merasa perlu melanjutkan kisah tersebut. Selain karena banyak penonton yang penasaran dengan keempat karakter utama, pihaknya juga para sineas yang terlibat di dalamnya juga ingin menggali cerita mereka lebih jauh.
Terlebih, saat ini cerita-cerita mengenai pengalaman imigran dan diaspora Indonesia berusia 30–40 tahun masih jarang ditampilkan di sebuah film maupun serial. Padahal, perjalanan hidup serta perjuangan kelompok usia ini menyimpan banyak hal menarik untuk diangkat ke layar.
"Rasanya kisah mereka penting untuk diceritakan. Kami pun kembali ke ide awal dan mengeksplorasi kembali untuk membuat serial ini," imbuhnya.
Eddy menjelaskan bahwa untuk versi prekuel, mereka memang sejak awal memilih format serial. Selain kembali pada konsep awal, dia menilai pendekatan ini lebih tepat untuk mengulik sisi lain dari kehidupan empat perempuan diaspora tersebut.
Menurutnya, dengan adanya empat tokoh utama, cerita tentu akan berkembang menjadi lebih kompleks. Jika hanya dikemas dalam film, durasi terasa kurang untuk mengupas karakter mereka. Oleh karena itulah, format serial dipilih agar setiap tokoh bisa digali lebih mendalam.
Sementara itu, sutradara Lucky Kuswandy mengatakan bahwa kekuatan utama Ratu Ratu Queens ada pada keberagaman karakter dan masalah hidup yang mereka hadapi. Menurutnya, hal inilah yang membuat cerita dari mereka dalam versi film, maupun yang sekarang coba diperdalam dalam bentuk serial, terasa dekat dengan penonton.
Dia menjelaskan bahwa tim kreatif banyak berdiskusi untuk memastikan perjalanan setiap karakter konsisten hingga akhirnya tampak seperti yang diperlihatkan di film. Jadi, karena filmnya keluar lebih dahulu, katanya, mau tidak mau tim produksi mesti berpedoman pada versi awal tersebut.
Lantaran ini prekuel, tim produksi pun mesti mencari singgungan karakter yang menarik, yang kemudian memicu para karakter ini punya sifat yang tertuang di dalam film. Misalnya, tokoh Chinta yang dalam film terlihat sangat “namaste”, di serial masih digambarkan dengan pergolakan batin yang belum sepenuhnya tenang.
Hal serupa juga berlaku untuk Ance, yang di serial akan dijelaskan alasan di balik sikap kerasnya. Lucky menegaskan bahwa setiap karakter memiliki jalan cerita masing-masing yang dijaga dengan cermat agar tetap utuh dan bermakna.
Ratu Ratu Queens menampilkan kisah persahabatan empat perempuan Indonesia yang berjuang membangun hidup di negeri orang. Ceritanya dikemas dengan ringan, hangat, dan relatable, sehingga bukan hanya menghibur tetapi juga menyentuh lewat perjuangan dalam bertahan hidup, menemukan cinta, hingga menemukan jati diri mereka sendiri.
Dari cuplikan trailer, penonton akan diperlihatkan awal pertemuan para tokoh serta potongan perjuangan mereka sebagai imigran. Setiap karakter memiliki tantangan masing-masing yang membuat cerita semakin berwarna dan penuh dinamika.
Setiap tokoh memiliki cerita unik yang saling melengkapi. Party, misalnya, harus mencari cara agar tetap bisa tinggal di apartemennya sambil berusaha naik pangkat meski berstatus pekerja ilegal. Ance berjuang sebagai orang tua tunggal dengan anak yang mulai beranjak remaja.
Sementara itu, Chinta harus menghadapi pahitnya perceraian dan Biyah rela melakukan pekerjaan apa pun, bahkan memakai kostum hot dog atau patung Liberty, demi bertahan hidup. Serial ini sudah bisa disaksikan di Netflix mulai 12 September 2025.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Meski perilisannya dilakukan setelah filmnya keluar, versi serial ini sejatinya sudah dirancang lebih awal. Showrunner Muhammad Zaidy menyebut ide mengenai cerita empat perempuan diaspora yang tinggal di Amerika Serikat sudah tercetus sejak 2015. Namun, dalam perkembangannya, kata pria yang karib disapa Eddy ini, justru versi filmnya yang lebih dahulu tayang.
Baca juga: Pengalaman Asri Welas, Blokir Jalanan Times Square Demi Syuting Serial Netflix
“Sebenarnya ide awalnya adalah membuat serialnya dulu sebelum punya ide bikin cerita film Ali & Ratu Ratu Queens, tapi kemudian saat itu kami memutuskan untuk membuat versi filmnya, dengan adanya karakter-karakter lain,” tutur Eddy.
Setelah filmnya meraih sukses di Netflix, tim produksi merasa perlu melanjutkan kisah tersebut. Selain karena banyak penonton yang penasaran dengan keempat karakter utama, pihaknya juga para sineas yang terlibat di dalamnya juga ingin menggali cerita mereka lebih jauh.
Terlebih, saat ini cerita-cerita mengenai pengalaman imigran dan diaspora Indonesia berusia 30–40 tahun masih jarang ditampilkan di sebuah film maupun serial. Padahal, perjalanan hidup serta perjuangan kelompok usia ini menyimpan banyak hal menarik untuk diangkat ke layar.
"Rasanya kisah mereka penting untuk diceritakan. Kami pun kembali ke ide awal dan mengeksplorasi kembali untuk membuat serial ini," imbuhnya.
Eddy menjelaskan bahwa untuk versi prekuel, mereka memang sejak awal memilih format serial. Selain kembali pada konsep awal, dia menilai pendekatan ini lebih tepat untuk mengulik sisi lain dari kehidupan empat perempuan diaspora tersebut.
Menurutnya, dengan adanya empat tokoh utama, cerita tentu akan berkembang menjadi lebih kompleks. Jika hanya dikemas dalam film, durasi terasa kurang untuk mengupas karakter mereka. Oleh karena itulah, format serial dipilih agar setiap tokoh bisa digali lebih mendalam.
Sementara itu, sutradara Lucky Kuswandy mengatakan bahwa kekuatan utama Ratu Ratu Queens ada pada keberagaman karakter dan masalah hidup yang mereka hadapi. Menurutnya, hal inilah yang membuat cerita dari mereka dalam versi film, maupun yang sekarang coba diperdalam dalam bentuk serial, terasa dekat dengan penonton.
Dia menjelaskan bahwa tim kreatif banyak berdiskusi untuk memastikan perjalanan setiap karakter konsisten hingga akhirnya tampak seperti yang diperlihatkan di film. Jadi, karena filmnya keluar lebih dahulu, katanya, mau tidak mau tim produksi mesti berpedoman pada versi awal tersebut.
Lantaran ini prekuel, tim produksi pun mesti mencari singgungan karakter yang menarik, yang kemudian memicu para karakter ini punya sifat yang tertuang di dalam film. Misalnya, tokoh Chinta yang dalam film terlihat sangat “namaste”, di serial masih digambarkan dengan pergolakan batin yang belum sepenuhnya tenang.
Hal serupa juga berlaku untuk Ance, yang di serial akan dijelaskan alasan di balik sikap kerasnya. Lucky menegaskan bahwa setiap karakter memiliki jalan cerita masing-masing yang dijaga dengan cermat agar tetap utuh dan bermakna.
Ratu Ratu Queens menampilkan kisah persahabatan empat perempuan Indonesia yang berjuang membangun hidup di negeri orang. Ceritanya dikemas dengan ringan, hangat, dan relatable, sehingga bukan hanya menghibur tetapi juga menyentuh lewat perjuangan dalam bertahan hidup, menemukan cinta, hingga menemukan jati diri mereka sendiri.
Dari cuplikan trailer, penonton akan diperlihatkan awal pertemuan para tokoh serta potongan perjuangan mereka sebagai imigran. Setiap karakter memiliki tantangan masing-masing yang membuat cerita semakin berwarna dan penuh dinamika.
Setiap tokoh memiliki cerita unik yang saling melengkapi. Party, misalnya, harus mencari cara agar tetap bisa tinggal di apartemennya sambil berusaha naik pangkat meski berstatus pekerja ilegal. Ance berjuang sebagai orang tua tunggal dengan anak yang mulai beranjak remaja.
Sementara itu, Chinta harus menghadapi pahitnya perceraian dan Biyah rela melakukan pekerjaan apa pun, bahkan memakai kostum hot dog atau patung Liberty, demi bertahan hidup. Serial ini sudah bisa disaksikan di Netflix mulai 12 September 2025.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.