Foto katalog Obzessed (Sumber gambar: Instagram/obzessed_)

Perjalanan ObZessed dan Lemari Koa, Ketika Fesyen Jadi Medium Menggali Obsesi

13 September 2025   |   15:12 WIB
Image
Tiffany Syabillah Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Di tengah industri fesyen lokal yang makin marak dan kian kompetitif, sejumlah brand lahir bukan hanya karena peluang pasar. Ada yang berawal dari tekad untuk mengubah hidup, ada pula yang tumbuh dari kecintaan terhadap gaya berpakaian yang sederhana tapi menawan. 

Di balik setiap potongan kain dan jahitan, tersimpan cerita tentang ambisi, nilai personal, dan keyakinan bahwa pakaian bukan sekadar benda yang dikenakan, melainkan medium untuk menyampaikan pesan dan identitas diri. Bagi Adam Malik Al Izma (24), pendiri brand ObZessed, misalnya, busana adalah cara untuk menghidupkan perjalanan batin yang pernah membawanya pada titik terendah.

Merek yang namanya merupakan plesetan dari kata “Obsessed” ini dia bentuk bersama timnya. Adam memimpin langsung sebagai CEO yang mengarahkan visi, strategi, dan pengambilan keputusan penting. ObZessed bukan sekadar menjual pakaian, melainkan menjadi forum untuk menyalurkan obsesi terhadap pengembangan diri.

“Saya ingin membawa ambisi ini ke dalam sesuatu yang nyata. Bukan sekadar fashion, tapi wadah bagi orang-orang yang terobsesi dengan versi terbaik dirinya,” ungkap Adam. Dia melihat busana sebagai bahasa visual yang mampu membentuk cara hidup dan pola pikir.

Baca juga: Kolaborasi Cap Bali X Garuda Indonesia, Saat Fesyen Bertemu di Langit Indonesia
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by ObZessed™ (@obzessed__)


Setiap koleksi ObZessed lahir dengan pesan, emosi, dan filosofi yang dirancang untuk mengajak audiens merenung. Desainnya cenderung subtle tapi tetap memancarkan karakter yang kuat. Branding-nya menekankan eksklusivitas, nilai emosional, estetika tinggi, dan kedalaman makna. Target pasarnya adalah anak muda yang mengutamakan estetika serta individu yang fokus pada pengembangan diri. 

Adam memilih pendekatan storytelling untuk menjangkau pasar. Media sosial digunakan bukan sekadar untuk memajang foto produk, melainkan untuk menyampaikan kisah dan nilai yang diusung. “Saya lebih suka membuat konten yang menyentuh rasa, bukan cuma mata. Orang tersambung dulu secara emosional, baru memutuskan membeli,” tuturnya. 

Perjalanan ObZessed tidak selalu mulus. Penjualan yang fluktuatif dan tantangan menjaga orisinalitas di tengah derasnya arus tren menjadi ujian tersendiri.

Meski begitu, apresiasi terus datang. Beberapa kali, pelanggan dari Jepang memesan produk dalam jumlah besar dan mengirimkan dokumentasi penggunaan produk di sana. “Yang paling berkesan adalah ketika orang bilang brand ini punya kesan global, padahal dibangun dari banyak keterbatasan,” ujarnya.

Jika ObZessed tumbuh dari perjalanan personal yang penuh gejolak, Lemari Koa hadir dari kecintaan Dwi Tyas (33) dan Aryza Zachra (32) pada busana kasual yang nyaman dan tetap modis. Ide itu muncul dari kegemaran mereka berdua mengamati tren busana sekaligus melihat kebutuhan akan busana yang fleksibel dipakai untuk berbagai suasana. 

Dengan konsep “basic but not too basic”, Lemari Koa menawarkan koleksi yang bisa dikenakan untuk bepergian santai hingga acara semi-formal. “Kami ingin pemakai cukup melakukan mix and match tanpa harus membeli banyak pakaian berbeda,” ujar Tyas. Fokusnya adalah perempuan berusia 20–40 tahun yang menghargai kenyamanan, kerapian, dan rasa percaya diri.
 

Instagram menjadi panggung utama untuk menampilkan identitas jenama ini. Konten diisi dengan tips padu-padan, kolaborasi bersama micro-influencer yang memiliki gaya serupa, hingga promo tematik yang mendorong interaksi. Tyas menuturkan bahwa mereka ingin membangun komunitas, bukan hanya basis pelanggan.

“Media sosial bagi kami adalah tempat untuk terhubung langsung dengan audiens,” katanya.

Meski baru memulai dan penjualan belum stabil, setiap transaksi memiliki makna tersendiri. Tyas mengenang pembeli pertama yang memesan lewat pesan langsung di Instagram. “Begitu paket sampai, dia kirim foto sambil bilang kainnya enak banget. Itu sederhana, tapi memberi kami dorongan besar untuk melanjutkan,” ujarnya. 

Tantangan terbesar Lemari Koa adalah menjaga identitas kasual–effortless di tengah tren yang berubah cepat. Mereka memilih fokus pada kualitas bahan, kenyamanan, dan desain yang timeless, lalu menambahkan sentuhan tren secukupnya agar tetap relevan tanpa kehilangan ciri khas. 

Baca juga: Eksplorasi Wastra Nusantara dalam Panggung Modest Fashion Dunia IN2MOTIONFEST 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Konser WINNER di Jakarta Batal, Para Penggemar Kecewa

BERIKUTNYA

Bukan Sekadar Festival Kuliner, Cek 4 Agenda Seru di Wine & Dine Hong Kong 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga