Singha Durbar. (Sumber gambar: Wikimedia Commons)

Intip Sejarah & Kemegahan Arsitektur Gedung Parlemen Nepal

12 September 2025   |   20:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Gelombang demonstrasi besar berujung kericuhan berdarah di Nepal turut menghanguskan sejumlah bangunan, salah satunya adalah Singha Durbar, kompleks istana bersejarah yang berfungsi sebagai pusat pemerintah dan sejumlah kementerian.

Bangunan ini jadi sasaran amuk demonstran yang mengecam dugaan pemerintahan korup dan pemblokiran media sosial.

Menurut laporan Hyperallergic, pada Selasa (9/9/2025), para pengunjuk rasa yang marah mengabaikan aturan batas waktu demonstrasi yang ditetapkan polisi. Mereka pun mulai merusak dan membakar sejumlah bangunan lembaga publik, situs bersejarah, hingga gedung-gedung kantor swasta di Nepal.

Baca juga: Sejarah Gedung Grahadi Sebagai Cagar Budaya Bagunan Peninggalan Era Kolonial

Di antara sejumlah bangunan yang dihancurkan, Singha Durbar menjadi salah satu yang paling menyita perhatian dan sangat disayangkan. Kompleks istana yang telah berdiri sejak akhir abad ke-18 ini bukan hanya menjadi pusat pemerintahan, melainkan simbol sejarah Nepal yang memiliki arti mendalam.

"Menyaksikan Singha Durbar terbakar sungguh memilukan. Dengan kebakaran ini, kita tidak hanya kehilangan bangunan, tetapi juga catatan, kenangan, dan fragmen terakhir sejarah kita yang tak tergantikan menjadi abu," kata aktivis warisan budaya Hrishav Raj Joshi dalam sebuah unggahan di akun Instagram pribadinya.
 



Singha Durbar bukan sekadar kantor pusat administrasi dan pemerintahan Nepal. Lebih dari itu, gedung tersebut memiliki sejarah panjang dari yang semula merupakan rumah pribadi, lalu dialihfungsikan menjadi tempat tinggal bagi perdana menteri.

Berlokasi di pusat kota Kathmandu, Singha Durbar atau yang berarti "Istana Singa" telah menjadi simbol arsitektur politik Nepal. Kompleks istana ini berbatasan dengan Babar Mahal, Kuil Bhadrakali, dan Thapathali Durbar, menjadikannya lokasi yang strategis sekaligus simbolis.

Dikutip dari Mindtrip, struktur bangunan ini menampilkan desain arsitektur rumit dengan taman yang luas, memamerkan kekayaan sejarah pemerintahan Nepal. Di dalamnya terdapat sejumlah kantor pusat beberapa lembaga terkemuka seperti Bursa Efek Nepal, Bank Rastriya Banijya, Bank Pembangunan Pertanian, dan berbagai badan pemerintahan.

Singha Durbar memiliki perpaduan gaya arsitektur Eropa dan Nepal yang memukau. Meskipun fungsi utamanya sebagai kantor pemerintahan, bangunan tersebut memiliki desain fasad yang mengesankan dengan nilai sejarah penting, menjadikannya destinasi favorit bagi wisatawan yang tertarik dengan warisan sejarah Nepal.

Dilansir dari situs Nepal In Data, istana Singha Durbar dibangun oleh perdana menteri Nepal kala itu, Chandra Shumsher Jung Bahadur Rana. Beberapa sumber mengatakan Singha Durbar dibangun pada 1903, tapi ada juga yang mengatakan pada 1908.

Singha Durbar awalnya dibangun untuk tempat tinggal Chandra Shumsher usai terpilih menjadi perdana menteri. Dia membangun sebuah istana besar yang dinobatkan sebagai salah satu istana paling indah dan mewah di dunia hingga 1950-an.

Meski demikian, Chandra Shumsher sebenarnya tidak berniat untuk membangun sebuah istana, melainkan hanya rumah pribadi berukuran kecil. Namun selama proses pembangunan, rumah tersebut justru dibuat makin besar bak istana.
 
 

Arsitektur & Interior

Struktur eksterior bangunan Singha Durbar dirancang oleh Kumar Narsingh Rana dan Kishor Narsingh Rana. Arsitektur istana ini merupakan contoh unik dari perpaduan berbagai gaya Eropa seperti palladian, corinthian, neo klasik, dan baroque. Hal ini tak lepas dari pengaruh Inggris yang pernah menjalin hubungan diplomatik dengan Nepal sejak 1816.

Singha Durbar dilaporkan memiliki 7 halaman dan 1.700 kamar dengan lantai marmer, langit-langit yang dicat, perabotan perak dan hamparan pencahayaan kristal. Adapun, ruangan terbesar dan paling banyak dekorasi di istana ini ialah Aula Negara.

Aula tersebut dihiasi dengan karya seni impor seperti lampu kristal kaca Murano, cermin Belgia, pintu kaca patri Inggris, dan lantai marmer Italia dengan motif bunga di dinding dan langit-langit. Tak hanya itu, Chandra Shumsher juga membangun sebuah teater pribadi yang diberi nama Galeri Baithak. Teater ini akhirnya digunakan sebagai gedung parlemen.

Setelah pembangunan Singha Durbar selesai, Chandra Shumsher segera menjual istana tersebut kepada Pemerintah Nepal seharga 20 juta rupee Nepal sebagai tempat tinggal resmi perdana menteri. Setelah kematiannya pada 1929, Singha Durbar akhirnya digunakan sebagai tempat tinggal resmi perdana menteri dinasti Rana kecuali Padma Shumsher JBR, yang memilih tinggal di Bishalnagar Durbar miliknya sendiri.

Adapun, Perdana Menteri Rana terakhir yang menduduki Singha Durbar adalah Mohan Shumsher JBR. Bahkan, setelah jatuhnya Dinasti Rana tahun 1951, Mohan masih tinggal di istana tersebut. Tetapi, pada 1953, dia diperintahkan oleh Pemerintah Yang Mulia untuk meninggalkan istana yang menjadi akhirnya resmi menjadi properti nasional.

Akhirnya, setelah berakhirnya sistem Perdana Menteri secara turun-temurun, pemerintah Nepal menggunakan kompleks istana tersebut untuk kantor-kantor pemerintahan. Kompleks istana ini ditempati oleh kedua majelis Parlemen Nepal  yakni Pratinidhi Sabha atau  Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Rashtriya Sabha atau Dewan Negara Bagian. Kompleks ini menampung sekitar 20 kementerian dan kantor pemerintahan, termasuk adanya kantor pusat radio dan televisi Nepal.

Pada 1973, kebakaran besar pernah terjadi di Singha Durbar yang menghanguskan ketiga sayap istana kecuali sayap yang menghadap ke depan. Untuk mencegah sayap depan terbakar, meriam diluncurkan untuk menghancurkan tiga sayap yang menghadap ke utara, selatan, dan barat. Setelah api padam, seluruh area yang terbakar pun dibangun kembali di atas fondasi bangunan lama. 

Tak hanya itu, Singha Durbar juga pernah mengalami kerusakan yang cukup parah akibat bencana gempa bumi Nepal pada April 2015. Pasca gempa, kantor perdana menteri dan dewan menteri dipindahkan sementara ke tempat yang lebih aman selama proses renovasi. Kejadian ini membuat Singha Durbar sempat menjadi sorotan karena dinilai bukan merupakan bangunan yang aman.

Baca juga: Mengenal Pemikiran & Karya-Karya Monumental Arsitek Han Awal

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

SEBELUMNYA

Art & Bali 2025 Dibuka, 17 Galeri dari Lima Negara Hadir di Nuanu Creative City

BERIKUTNYA

‘Nasi Bungkus’ Budi Ubrux di Art & Bali 2025, Kritik Ketimpangan dari Simbol Sehari-hari

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga