Mengenal Pertasol, Pelarut Ramah Lingkungan Untuk Industri
11 September 2025 |
15:00 WIB
Sebagai perusahaan energi milik negara, Pertamina tidak hanya dikenal melalui produk bahan bakar minyak, tetapi juga melalui berbagai produk petrokimia yang mendukung kebutuhan industri. Salah satu di antaranya adalah Pertasol, yang memiliki peran penting dalam berbagai proses produksi.
Mengutip laman resminya, pertasol adalah salah satu jenis solvent atau pelarut yang berasal dari hidrokarbon naftenat, terbentuk melalui komponen paraffin, cycloparaffin/naftaenic, dan aromatic.
Sebagai produk kimia, dia mampu melarutkan, mendispersikan, maupun mengekstrak berbagai material tanpa mengubah struktur kimianya, baik ketika bereaksi dengan sesama pelarut maupun dengan material lain.
Baca juga: 5 Bahan Alami untuk Perawatan Diri & Kecantikan
Kegunaannya tidak hanya terbatas pada sektor industri, melainkan juga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertasol banyak dipakai di berbagai sektor industri, terutama pada produksi cat, pernis, tinta cetak, hingga ban, di mana dia berperan sebagai bahan pelarut utama. Sifatnya yang mampu melarutkan dan mendispersikan bahan lain tanpa merusak struktur kimia menjadikannya sangat dibutuhkan dalam proses produksi.
Produk kimia ini diproduksi Pertamina sebagai perusahaan migas milik negara Indonesia, melalui Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Migas Cepu, Jawa Tengah, dan tersedia dalam tiga varian, yaitu Pertasol CA, Pertasol CB, dan Pertasol CC yang masing-masing dibedakan berdasarkan titik didih serta kandungan aromatiknya.
Pertasol CA merupakan salah satu produk olahan dengan fraksi paling ringan dibandingkan jenis pertasol lainnya, yaitu pertasol CB dan CC. Pertasol CA adalah solvent berbasis naphta dengan rentang titik didih 40–153°C, yang banyak dimanfaatkan sebagai pengencer cat, pernis, pelarut dalam melukis, serta bahan dalam produksi karet untuk industri ban.
Sifatnya jernih, stabil, tidak korosif, dan mudah menguap. Produk ini terbentuk dari senyawa alifatik (parafin dan sikloparafin/naftenik) dengan kandungan hidrokarbon aromatik yang rendah. Tingkat toksisitasnya relatif rendah karena kadar benzena yang kecil.
Biasanya digunakan dalam cat, lacquer, dan varnish (sebagai pengencer), tinta cetak (pelarut maupun pengencer), bahan pembuatan karet di pabrik ban, proses vulkanisasi, adhesive (lem gun), industri farmasi (kosmetik), hingga industri pembersih dan degreasing.
Sementara itu, Pertasol CB tersusun dari senyawa parafin, sikloparafin, dan hidrokarbon aromatik, dengan initial boiling point 95°C dan final boiling point 192°C. Pertasol CB memiliki karakteristik tidak korosif, stabil, serta berwarna jernih. Produk ini umumnya digunakan untuk cat, thinner, lacquer, tinta cetak, pelarut dry cleaning, dan pada industri tekstil (printing).
Adapun Pertasol CC memiliki rentang IBP 120°C dan FBP 246°C. Produk ini dihasilkan dari kilang BBM Cepu dengan kapasitas produksi sekitar 3.900 ton per tahun. Secara umum digunakan sebagai pelarut pada industri thinner, cat, varnish, tinta cetak, insektisida, dan pestisida. Selain itu, Pertasol CC juga dapat diaplikasikan sebagai bahan kimia pendukung di industri kimia maupun pelumas.
Ketiga produk tersebut berasal dari hasil destilasi minyak mentah, namun sifatnya lebih ringan dibandingkan minyak tanah. Secara teknis, ketiganya memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai bahan emulsi pada pasta pencapan tekstil, sebagaimana fungsi minyak tanah.
Pertamina memproduksi rangkaian pelarut ini untuk memberikan alternatif yang ramah lingkungan bagi industri, sesuai regulasi yang bertujuan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Produk tersebut didukung fasilitas produksi yang memadai, dengan pengujian mutu dan standar kualitas yang ketat sehingga menghasilkan produk dengan kualitas tinggi. Pertamina juga menjamin ketersediaan pasokan serta jaringan distribusi yang luas di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.
Mengutip laman resminya, pertasol adalah salah satu jenis solvent atau pelarut yang berasal dari hidrokarbon naftenat, terbentuk melalui komponen paraffin, cycloparaffin/naftaenic, dan aromatic.
Sebagai produk kimia, dia mampu melarutkan, mendispersikan, maupun mengekstrak berbagai material tanpa mengubah struktur kimianya, baik ketika bereaksi dengan sesama pelarut maupun dengan material lain.
Baca juga: 5 Bahan Alami untuk Perawatan Diri & Kecantikan
Kegunaannya tidak hanya terbatas pada sektor industri, melainkan juga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertasol banyak dipakai di berbagai sektor industri, terutama pada produksi cat, pernis, tinta cetak, hingga ban, di mana dia berperan sebagai bahan pelarut utama. Sifatnya yang mampu melarutkan dan mendispersikan bahan lain tanpa merusak struktur kimia menjadikannya sangat dibutuhkan dalam proses produksi.
Produk kimia ini diproduksi Pertamina sebagai perusahaan migas milik negara Indonesia, melalui Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Migas Cepu, Jawa Tengah, dan tersedia dalam tiga varian, yaitu Pertasol CA, Pertasol CB, dan Pertasol CC yang masing-masing dibedakan berdasarkan titik didih serta kandungan aromatiknya.
Pertasol CA merupakan salah satu produk olahan dengan fraksi paling ringan dibandingkan jenis pertasol lainnya, yaitu pertasol CB dan CC. Pertasol CA adalah solvent berbasis naphta dengan rentang titik didih 40–153°C, yang banyak dimanfaatkan sebagai pengencer cat, pernis, pelarut dalam melukis, serta bahan dalam produksi karet untuk industri ban.
Sifatnya jernih, stabil, tidak korosif, dan mudah menguap. Produk ini terbentuk dari senyawa alifatik (parafin dan sikloparafin/naftenik) dengan kandungan hidrokarbon aromatik yang rendah. Tingkat toksisitasnya relatif rendah karena kadar benzena yang kecil.
Biasanya digunakan dalam cat, lacquer, dan varnish (sebagai pengencer), tinta cetak (pelarut maupun pengencer), bahan pembuatan karet di pabrik ban, proses vulkanisasi, adhesive (lem gun), industri farmasi (kosmetik), hingga industri pembersih dan degreasing.
Sementara itu, Pertasol CB tersusun dari senyawa parafin, sikloparafin, dan hidrokarbon aromatik, dengan initial boiling point 95°C dan final boiling point 192°C. Pertasol CB memiliki karakteristik tidak korosif, stabil, serta berwarna jernih. Produk ini umumnya digunakan untuk cat, thinner, lacquer, tinta cetak, pelarut dry cleaning, dan pada industri tekstil (printing).
Adapun Pertasol CC memiliki rentang IBP 120°C dan FBP 246°C. Produk ini dihasilkan dari kilang BBM Cepu dengan kapasitas produksi sekitar 3.900 ton per tahun. Secara umum digunakan sebagai pelarut pada industri thinner, cat, varnish, tinta cetak, insektisida, dan pestisida. Selain itu, Pertasol CC juga dapat diaplikasikan sebagai bahan kimia pendukung di industri kimia maupun pelumas.
Ketiga produk tersebut berasal dari hasil destilasi minyak mentah, namun sifatnya lebih ringan dibandingkan minyak tanah. Secara teknis, ketiganya memenuhi kriteria untuk digunakan sebagai bahan emulsi pada pasta pencapan tekstil, sebagaimana fungsi minyak tanah.
Pertamina memproduksi rangkaian pelarut ini untuk memberikan alternatif yang ramah lingkungan bagi industri, sesuai regulasi yang bertujuan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Produk tersebut didukung fasilitas produksi yang memadai, dengan pengujian mutu dan standar kualitas yang ketat sehingga menghasilkan produk dengan kualitas tinggi. Pertamina juga menjamin ketersediaan pasokan serta jaringan distribusi yang luas di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.