Polusi udara menyelimuti gedung bertingkat di Jakarta, Senin 21/7/2025. Berdasarkan data dari situs pemantau kualitas udara IQAir, DKI Jakarta tercatat sebagai salah satu kota paling polutif di Indonesia. (sumber gambar: Hypeabis.id/Abdurachman)

Jarang Disadari, Polusi Udara Diam-Diam Memangkas Usia Warga Kota

11 September 2025   |   10:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Langit kelabu dan udara sesak kini jadi pemandangan yang akrab di kota-kota besar Indonesia. Di balik bising kendaraan dan asap pabrik, polusi udara terus mengintai kesehatan dan perlahan memangkas usia harapan hidup warganya.

Hampir seluruh penduduk Indonesia tinggal di wilayah dengan kadar partikulat jauh di atas ambang batas aman WHO, yakni 5 µg/m³ per tahun. Artinya, polusi udara bukan lagi isu sepele, tapi ancaman nyata yang dirasakan sehari-hari.

Laporan IQAir 2024 menempatkan Indonesia di urutan ke-15 dari 20 negara paling tercemar. Konsentrasi rata-rata polutan mencapai 35,5 μg/m³, angka yang nyaris tujuh kali lipat standar aman kesehatan.

Dampaknya terasa langsung di usia harapan hidup. Warga Jakarta, misalnya, diperkirakan kehilangan 2,5 tahun masa hidup bila polusi bertahan di level saat ini. Fenomena ini menunjukkan udara kotor benar-benar berpengaruh pada panjang umur masyarakat.

Air Quality Life Index (AQLI) 2024 juga mengonfirmasi hal serupa. Laporan itu menyebut kualitas udara global memburuk sejak 2021, dan ada hubungan erat antara polusi dengan usia panjang penduduk.

Meski sempat menurun pada 2022, tingkat polusi di Asia Tenggara stagnan selama dua dekade terakhir. Konsentrasi PM2.5 berkisar 17–22 µg/m³ atau hampir 3,5 kali lipat panduan WHO.

Particulate Matter (PM2.5) adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 µm (mikrometer). Hanya daerah terpencil seperti Simeulue, Mentawai, dan beberapa pulau kecil di Filipina yang udaranya masih bersih.
 
 


Deputi Meteorologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut transportasi darat jadi salah satu biang kerok. Padatnya lalu lintas, kendaraan tanpa uji emisi, dan penggunaan bahan bakar fosil membuat upaya pengendalian polusi jalan di tempat.

Di luar kota, masalah lain datang dari kebakaran hutan dan lahan. Saat musim kemarau, asap karhutla bisa membuat konsentrasi polutan melonjak jauh di atas batas harian, lalu menyebar lintas provinsi bahkan negara tetangga.

“Tingginya polusi di Indonesia adalah kombinasi emisi harian di perkotaan dan asap karhutla,” jelas Sena. Menurutnya, kualitas udara dalam lima tahun terakhir naik-turun, sempat membaik saat pandemi 2020–2021, lalu kembali buruk saat aktivitas pulih dan musim kemarau panjang 2024.

BMKG menegaskan, sumber utama polusi di Indonesia ada di sektor transportasi, energi, dan industri. Selama masih bergantung pada energi fosil dan praktik industri beremisi tinggi, udara bersih akan sulit dicapai.

Solusi yang ditawarkan adalah pengendalian emisi secara simultan. Transportasi publik ramah lingkungan, energi terbarukan, dan industri hijau harus jalan bersama, dibarengi rencana aksi udara bersih yang sinkron antara pusat dan daerah.

“Targetnya jelas, penurunan bertahap hingga sesuai standar kesehatan WHO,” kata Sena.

Ancaman Ganda
Manajer Advokasi & Kampanye Pantau Gambut, Wahyu Perdana, menyoroti ancaman ganda dari kebakaran lahan gambut. Selain menghasilkan polusi udara berbahaya, kebakaran gambut juga melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah masif.

Padahal, meski hanya menutupi 3% permukaan bumi, gambut menyimpan lebih dari 550 gigaton karbon. Di Indonesia, luasnya mencapai 13,43 juta hektare dengan cadangan karbon sekitar 57,4 gigaton. Namun, alih fungsi jadi perkebunan dan kawasan industri membuat kondisi ini rapuh.

Kebakaran gambut tak hanya melepas partikel halus PM2.5, tapi juga gas rumah kaca seperti metana (CHâ‚„) yang potensi pemanasannya 21 kali lipat karbon dioksida. Dampaknya, krisis iklim makin sulit dikendalikan.

“Polusi dari gambut tak hanya karena api. Proses pembukaan lahan saja bisa memicu emisi berbahaya,” ujar Wahyu.
 

Sejumlah personel melakukan pemadaman karhutla di Provinsi Sumatra Barat. dok BNPB

Sejumlah personel melakukan pemadaman karhutla di Provinsi Sumatra Barat. (sumber gambar: dok BNPB)


Pantau Gambut mencatat, Juli 2025 terdapat 11.287 titik panas di 303 Kesatuan Hidrologis Gambut, naik tajam dari 2.321 pada bulan sebelumnya. Riau, Kalimantan Barat, dan Aceh menjadi wilayah paling terdampak.

Bank Dunia pernah menghitung kerugian karhutla 2019 di Indonesia mencapai US$5,2 miliar atau sekitar Rp72,9 triliun. Angka fantastis ini menunjukkan betapa besar beban negara akibat degradasi gambut.

“Kalau mau serius, pengendalian polusi udara harus terintegrasi dengan perlindungan penuh ekosistem gambut. Penegakan hukum, restorasi hidrologis, dan penghentian pembukaan lahan ilegal wajib jadi prioritas,” tegas Wahyu.

SEBELUMNYA

Demam Mendaki Gunung Picu Masalah Konservasi Lingkungan

BERIKUTNYA

Pilihan Serial Televisi Populer 2025: Adolescence hingga Murderbot

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga