Hidup Terasa Berat? Kenali Sinyal Putus Asa dan Cara Dapat Bantuan
10 September 2025 |
19:30 WIB
Setiap 10 September, dunia memperingati World Suicide Prevention Day, sebuah inisiatif global yang digagas oleh International Association for Suicide Prevention (IASP) bersama World Health Organization (WHO) sejak 2003. Tema tiga tahunan periode 2024–2026 adalah “Changing the Narrative on Suicide”.
Kampanye ini mengajak masyarakat di seluruh dunia untuk menghentikan stigma dan kesunyian terkait isu bunuh diri, menggantinya dengan dialog terbuka, empati, dan dukungan nyata.
Baca juga: Peduli Orang Terdekat Jadi Upaya Preventif Kasus Bunuh Diri Generasi Z
Perasaan ingin menyerah pada hidup bisa dialami siapa saja, dan bisa berujung pada niatan mengakhiri hidup. Kondisi kesehatan tertentu, peristiwa tak terduga, tekanan jangka panjang, atau sekadar merasa hidup tidak berjalan seperti yang diharapkan dapat membuat seseorang merasa lelah dan kehilangan semangat hidup.
Meski hal ini mungkin terasa wajar ketika menghadapi masa-masa sulit, situasi seperti ini tetap harus ditangani dengan serius. Perasaan ingin menyerah bisa menjadi gejala sesaat, namun juga dapat menjadi tanda awal dari keinginan untuk mengakhiri hidup (suicidal ideation). Dilansir dari Verywell Mind, berikut penjelasan mengenai suicidal ideation.
Banyak yang beranggapan bahwa suicidal ideation selalu berarti seseorang memiliki rencana untuk bunuh diri. Padahal, ada dua bentuk pikiran ini. Pertama adalah active suicidal ideation, yakni ketika seseorang memiliki rencana konkret untuk mengakhiri hidup. Kedua adalah passive suicidal ideation, yaitu perasaan ingin mati atau menyerah tanpa adanya rencana yang jelas.
Keduanya sama-sama berbahaya dan tidak boleh diabaikan. Pikiran pasif dapat berkembang menjadi tindakan nyata jika seseorang mulai menyusun rencana, menyiapkan cara, atau berharap kematian datang secara tidak disengaja.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
Penyebab suicidal ideation beragam. Banyak kasus terkait dengan gangguan kesehatan mental seperti gangguan kecemasan, bipolar, depresi mayor, atau depresi persisten (dysthymia). Penelitian menunjukkan, sekitar 23 persen orang dengan gangguan kecemasan pernah mengalami suicidal ideation, sementara risiko bunuh diri pada penderita bipolar 10–30 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Sekitar 56 persen penderita depresi mayor juga mengalami suicidal ideation sepanjang hidupnya.
Kondisi lain yang turut memengaruhi adalah Post-traumatic Stress Disorder (PTSD), trauma masa kecil yang belum terselesaikan, gangguan kepribadian seperti borderline personality disorder, hingga perubahan hormonal seperti depresi pascapersalinan, perimenopause, atau gangguan disforik pramenstruasi.
Namun, seseorang juga dapat merasa ingin menyerah tanpa memiliki diagnosis medis tertentu. Peristiwa hidup seperti kehilangan orang tercinta, perceraian, pemutusan hubungan kerja, tekanan pekerjaan yang tinggi, kelelahan (burnout), masalah kesehatan kronis, hingga trauma yang belum terselesaikan dapat memicu perasaan bahwa hidup sudah tidak berarti lagi. Dalam beberapa kasus, individu mengalami situational depression atau depresi yang muncul karena kesulitan beradaptasi terhadap perubahan besar dalam hidup.
Jika muncul perasaan ingin menyerah, langkah pertama adalah mencari bantuan tenaga profesional kesehatan mental. Psikoterapi dapat membantu mengatasi akar masalah, baik melalui terapi perilaku kognitif (CBT), dialektikal (DBT), maupun interpersonal (IPT). Dalam beberapa kasus, dokter juga dapat meresepkan obat antidepresan, antiansietas, atau antipsikotik.
Jika penggunaan alkohol atau zat adiktif menjadi faktor pemicu, penanganan kecanduan juga diperlukan, termasuk detoksifikasi, terapi, serta dukungan kelompok.
Yang paling penting, jangan menghadapi ini sendirian. Perasaan ingin menyerah bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan perhatian serta dukungan. Dengan penanganan yang tepat, keinginan untuk hidup bisa kembali, dan kualitas hidup dapat membaik seiring waktu.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kampanye ini mengajak masyarakat di seluruh dunia untuk menghentikan stigma dan kesunyian terkait isu bunuh diri, menggantinya dengan dialog terbuka, empati, dan dukungan nyata.
Baca juga: Peduli Orang Terdekat Jadi Upaya Preventif Kasus Bunuh Diri Generasi Z
Perasaan ingin menyerah pada hidup bisa dialami siapa saja, dan bisa berujung pada niatan mengakhiri hidup. Kondisi kesehatan tertentu, peristiwa tak terduga, tekanan jangka panjang, atau sekadar merasa hidup tidak berjalan seperti yang diharapkan dapat membuat seseorang merasa lelah dan kehilangan semangat hidup.
Meski hal ini mungkin terasa wajar ketika menghadapi masa-masa sulit, situasi seperti ini tetap harus ditangani dengan serius. Perasaan ingin menyerah bisa menjadi gejala sesaat, namun juga dapat menjadi tanda awal dari keinginan untuk mengakhiri hidup (suicidal ideation). Dilansir dari Verywell Mind, berikut penjelasan mengenai suicidal ideation.
Memahami Suicidal Ideation
Banyak yang beranggapan bahwa suicidal ideation selalu berarti seseorang memiliki rencana untuk bunuh diri. Padahal, ada dua bentuk pikiran ini. Pertama adalah active suicidal ideation, yakni ketika seseorang memiliki rencana konkret untuk mengakhiri hidup. Kedua adalah passive suicidal ideation, yaitu perasaan ingin mati atau menyerah tanpa adanya rencana yang jelas.Keduanya sama-sama berbahaya dan tidak boleh diabaikan. Pikiran pasif dapat berkembang menjadi tindakan nyata jika seseorang mulai menyusun rencana, menyiapkan cara, atau berharap kematian datang secara tidak disengaja.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- sering membicarakan kematian atau penyesalan pernah lahir
- memberikan barang-barang berharga
- mengisolasi diri
- mengalami perubahan suasana hati ekstrem
- menyelesaikan urusan pribadi tanpa alasan jelas
- peningkatan penggunaan alkohol atau obat-obatan
- menyiapkan cara untuk mengakhiri hidup
- perubahan rutinitas harian yang mendadak
- penurunan minat terhadap hal-hal yang dulu disukai
- pesan-pesan perpisahan yang tersirat
Penyebab yang Beragam
Penyebab suicidal ideation beragam. Banyak kasus terkait dengan gangguan kesehatan mental seperti gangguan kecemasan, bipolar, depresi mayor, atau depresi persisten (dysthymia). Penelitian menunjukkan, sekitar 23 persen orang dengan gangguan kecemasan pernah mengalami suicidal ideation, sementara risiko bunuh diri pada penderita bipolar 10–30 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Sekitar 56 persen penderita depresi mayor juga mengalami suicidal ideation sepanjang hidupnya.Kondisi lain yang turut memengaruhi adalah Post-traumatic Stress Disorder (PTSD), trauma masa kecil yang belum terselesaikan, gangguan kepribadian seperti borderline personality disorder, hingga perubahan hormonal seperti depresi pascapersalinan, perimenopause, atau gangguan disforik pramenstruasi.
Namun, seseorang juga dapat merasa ingin menyerah tanpa memiliki diagnosis medis tertentu. Peristiwa hidup seperti kehilangan orang tercinta, perceraian, pemutusan hubungan kerja, tekanan pekerjaan yang tinggi, kelelahan (burnout), masalah kesehatan kronis, hingga trauma yang belum terselesaikan dapat memicu perasaan bahwa hidup sudah tidak berarti lagi. Dalam beberapa kasus, individu mengalami situational depression atau depresi yang muncul karena kesulitan beradaptasi terhadap perubahan besar dalam hidup.
Pentingnya Mendapatkan Bantuan Profesional
Jika muncul perasaan ingin menyerah, langkah pertama adalah mencari bantuan tenaga profesional kesehatan mental. Psikoterapi dapat membantu mengatasi akar masalah, baik melalui terapi perilaku kognitif (CBT), dialektikal (DBT), maupun interpersonal (IPT). Dalam beberapa kasus, dokter juga dapat meresepkan obat antidepresan, antiansietas, atau antipsikotik.Jika penggunaan alkohol atau zat adiktif menjadi faktor pemicu, penanganan kecanduan juga diperlukan, termasuk detoksifikasi, terapi, serta dukungan kelompok.
Yang paling penting, jangan menghadapi ini sendirian. Perasaan ingin menyerah bukan tanda kelemahan, melainkan tanda bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan perhatian serta dukungan. Dengan penanganan yang tepat, keinginan untuk hidup bisa kembali, dan kualitas hidup dapat membaik seiring waktu.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.