CIJAGO, Catatan Sejarah Pembangunan Jalan Tol dari Pinggiran Jakarta
09 September 2025 |
18:00 WIB
Apa jadinya bila sebuah garis sederhana di atas peta berubah menjadi jalan tol yang kini menghubungkan ribuan kendaraan setiap harinya? Itulah kisah Tol Cinere–Jagorawi (Cijago), yang didokumentasikan dalam buku CIJAGO: Lintasan Historis Pembangunan Jalan Tol Cinere–Jagorawi karya Hilman Muchsin, Direktur Utama PT Translingkar Kita Jaya (TLKJ).
Buku ini diluncurkan di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Selasa (9/9/2025), yang dikemas dalam format bedah buku. Menghadirkan tokoh-tokoh infrastruktur, mahasiswa, hingga praktisi transportasi, hasil kerjasama antara UMN, bersama TLKJ, dan Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Buku itu merekam proses pembangunan Tol Cinere–Jagorawi (Cijago), salah satu proyek strategis yang memperkuat konektivitas Jabodetabek. Isinya menyoroti perjalanan historis, tantangan perencanaan, hingga implementasi proyek, sekaligus menegaskan peran infrastruktur dalam memperlancar mobilitas, mengurai kemacetan, dan membuka peluang ekonomi.
“Jalan tol bukan sekadar konstruksi fisik, melainkan integrasi aspek teknis, finansial, hukum, hingga sosial. Cijago menjadi bukti bagaimana pembangunan infrastruktur bisa menghadirkan nilai strategis jangka panjang bagi masyarakat,” ujar Hilman Muchsin.
Baca juga: Rayakan 750 Tahun, Amsterdam Gelar Rave Terbuka di Tengah Jalan Tol
Sekretaris Jenderal Asosiasi Jalan Tol Indonesia, Dr. Ir. Krist Ade Sudiyono, M.M., yang juga hadir dalam diskusi peluncuran, menyoroti bahwa pembangunan infrastruktur jalan tol masih menghadapi tantangan serius.
“Banyak pelaku bisnis sebenarnya siap bergerak, tetapi kerap tertahan oleh tarik-ulur regulasi dan hambatan kebijakan. Situasi ini menciptakan semacam inersia. Tanpa kepastian dan dukungan fiskal, sulit bagi swasta untuk berani mengambil risiko,” ujarnya.
Krist menegaskan ada tiga persoalan utama yang memengaruhi minat investor, yaitu kemampuan pendanaan, kepastian tingkat keuntungan, dan daya tarik proyek. Dia juga menyoroti kebijakan clawback, yang memungkinkan negara menarik kembali kelebihan keuntungan proyek tol sebagai salah satu hambatan.
“Pertanyaannya, mengapa negara harus berbisnis dengan cara seperti itu? Yang kita butuhkan justru insentif fiskal, bukan hambatan tambahan,” tegasnya.
Buku CIJAGO tidak hanya berisi catatan teknis pembangunan, tetapi juga kisah jatuh-bangun yang dialami sejak 1998, di tengah krisis moneter, saat ide ini pertama kali digagas. Dari survei manual di lapangan, tarik-menarik regulasi, hingga drama pembebasan lahan, semuanya terangkum dalam 252 halaman yang ditulis dengan gaya naratif-informatif.
Hilman mengaku, perjalanan ini hanya bisa ditempuh dengan kesabaran dan tekad panjang. “Kalau tidak punya napas panjang, bahaya. Karena membangun infrastruktur sebesar ini butuh waktu, kesabaran, dan perencanaan yang matang. Sama seperti hidup, kalau tidak dipersiapkan, kita bisa tersandung di tengah jalan,” ucapnya.
Gramedia sebagai penerbit berharap buku ini menjadi referensi penting, bukan hanya bagi kalangan akademisi atau praktisi bisnis, tetapi juga masyarakat luas yang ingin memahami bagaimana sebuah proyek infrastruktur strategis dilahirkan.
Kini, dari dua garis di atas peta, Cijago telah menjadi urat nadi baru transportasi di selatan Jakarta. Sebuah pelajaran tentang mimpi, konsistensi, dan napas panjang dalam membangun peradaban.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Buku ini diluncurkan di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Selasa (9/9/2025), yang dikemas dalam format bedah buku. Menghadirkan tokoh-tokoh infrastruktur, mahasiswa, hingga praktisi transportasi, hasil kerjasama antara UMN, bersama TLKJ, dan Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Buku itu merekam proses pembangunan Tol Cinere–Jagorawi (Cijago), salah satu proyek strategis yang memperkuat konektivitas Jabodetabek. Isinya menyoroti perjalanan historis, tantangan perencanaan, hingga implementasi proyek, sekaligus menegaskan peran infrastruktur dalam memperlancar mobilitas, mengurai kemacetan, dan membuka peluang ekonomi.
“Jalan tol bukan sekadar konstruksi fisik, melainkan integrasi aspek teknis, finansial, hukum, hingga sosial. Cijago menjadi bukti bagaimana pembangunan infrastruktur bisa menghadirkan nilai strategis jangka panjang bagi masyarakat,” ujar Hilman Muchsin.
Baca juga: Rayakan 750 Tahun, Amsterdam Gelar Rave Terbuka di Tengah Jalan Tol
Sekretaris Jenderal Asosiasi Jalan Tol Indonesia, Dr. Ir. Krist Ade Sudiyono, M.M., yang juga hadir dalam diskusi peluncuran, menyoroti bahwa pembangunan infrastruktur jalan tol masih menghadapi tantangan serius.
“Banyak pelaku bisnis sebenarnya siap bergerak, tetapi kerap tertahan oleh tarik-ulur regulasi dan hambatan kebijakan. Situasi ini menciptakan semacam inersia. Tanpa kepastian dan dukungan fiskal, sulit bagi swasta untuk berani mengambil risiko,” ujarnya.
Krist menegaskan ada tiga persoalan utama yang memengaruhi minat investor, yaitu kemampuan pendanaan, kepastian tingkat keuntungan, dan daya tarik proyek. Dia juga menyoroti kebijakan clawback, yang memungkinkan negara menarik kembali kelebihan keuntungan proyek tol sebagai salah satu hambatan.
“Pertanyaannya, mengapa negara harus berbisnis dengan cara seperti itu? Yang kita butuhkan justru insentif fiskal, bukan hambatan tambahan,” tegasnya.
Buku CIJAGO tidak hanya berisi catatan teknis pembangunan, tetapi juga kisah jatuh-bangun yang dialami sejak 1998, di tengah krisis moneter, saat ide ini pertama kali digagas. Dari survei manual di lapangan, tarik-menarik regulasi, hingga drama pembebasan lahan, semuanya terangkum dalam 252 halaman yang ditulis dengan gaya naratif-informatif.
Hilman mengaku, perjalanan ini hanya bisa ditempuh dengan kesabaran dan tekad panjang. “Kalau tidak punya napas panjang, bahaya. Karena membangun infrastruktur sebesar ini butuh waktu, kesabaran, dan perencanaan yang matang. Sama seperti hidup, kalau tidak dipersiapkan, kita bisa tersandung di tengah jalan,” ucapnya.
Gramedia sebagai penerbit berharap buku ini menjadi referensi penting, bukan hanya bagi kalangan akademisi atau praktisi bisnis, tetapi juga masyarakat luas yang ingin memahami bagaimana sebuah proyek infrastruktur strategis dilahirkan.
Kini, dari dua garis di atas peta, Cijago telah menjadi urat nadi baru transportasi di selatan Jakarta. Sebuah pelajaran tentang mimpi, konsistensi, dan napas panjang dalam membangun peradaban.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.