Pakar Siber Ungkap Penyebab & Cara Mengetahui Ponsel Disadap
05 September 2025 |
10:08 WIB
Penyadapan ponsel bisa terjadi kepada siapa saja dan menjadi ancaman serius bagi privasi digital masyarakat. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, cara-cara penyadapan pun kian canggih dan mudah dilakukan, bahkan oleh individu tanpa keahlian teknis mendalam.
Menurut Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, seseorang disadap biasanya berkaitan dengan tiga faktor utama. Pertama adalah faktor personal, di mana target disadap karena motif pribadi, seperti kecemburuan, konflik internal, atau pengawasan ilegal oleh pihak tertentu.
Kedua adalah faktor kriminal, yakni penyadapan dilakukan oleh pelaku kejahatan siber. Mereka ingin mendapatkan informasi sensitif, misalnya data perbankan, kata sandi media sosial, atau identitas digital yang bisa dijual di pasar gelap.
Ketiga adalah faktor politik dan intelijen. Individu tertentu disadap karena aktivitasnya dianggap penting, baik oleh lembaga resmi maupun pihak swasta yang memiliki kepentingan.
“Dalam konteks ini, penyadapan bisa dilakukan dengan teknologi yang jauh lebih canggih dan sulit terdeteksi, misalnya penggunaan exploit zero-day yang hanya dimiliki oleh kelompok dengan sumber daya besar,” ujar Pratama kepada Hypeabis.id, Kamis (4/9/2025).
Baca juga: 5 Jurus Menangkal Hacker Penebar Phising Model Baru
Untuk mengetahui apakah sebuah ponsel sedang disadap bukanlah perkara sederhana. Pasalnya kata Pratama, teknik penyadapan modern semakin canggih dan sering kali bekerja secara tersembunyi tanpa meninggalkan jejak yang mudah terlihat oleh pemilik perangkat.
Kendati demikian, dari sudut pandang keamanan siber, ada beberapa indikasi yang dapat menjadi sinyal peringatan dini. Ponsel yang terasa lebih cepat panas meskipun tidak digunakan untuk aktivitas berat, baterai yang terkuras jauh lebih cepat daripada biasanya, serta munculnya peningkatan konsumsi data internet yang tidak wajar adalah gejala klasik yang patut dicurigai.
Selain itu, adanya aktivitas mencurigakan seperti SMS atau panggilan keluar yang tidak pernah dilakukan pemilik ponsel, suara aneh atau gangguan statis saat melakukan panggilan telepon, hingga keterlambatan dalam mengirim atau menerima pesan juga bisa menjadi tanda.
“Dalam beberapa kasus, aplikasi asing yang tiba-tiba muncul, atau permintaan izin akses dari aplikasi yang sebenarnya tidak membutuhkan izin sensitif, dapat menjadi pintu masuk bagi perangkat lunak penyadap,” jelas Pratama.
Dari sisi teknis, penyadapan dapat terjadi melalui beberapa jalur. Spyware yang dipasang secara diam-diam adalah metode paling umum. Perangkat lunak ini dapat masuk melalui unduhan aplikasi tidak resmi, tautan berbahaya yang diklik tanpa sadar, atau bahkan melalui lampiran email yang mengandung malware.
Selain itu, penyadapan juga bisa dilakukan melalui kelemahan jaringan, misalnya saat seseorang menggunakan Wi-Fi publik yang tidak aman. Dengan teknik man-in-the-middle, penyusup dapat menyusupkan lalu lintas data dan mengakses percakapan, pesan, maupun aktivitas internet pengguna.
Tidak kalah berbahaya, ada pula kemungkinan penyadapan melalui exploit sistem operasi yang belum diperbarui. “Jika ponsel tidak diperbarui secara rutin, celah keamanan yang ada dapat dimanfaatkan untuk menanamkan kode berbahaya yang berfungsi sebagai alat pengintai,” tuturnya.
Sementara itu, Pratama menilai, kesadaran digital menjadi kunci dalam menghadapi ancaman penyadapan. Menjaga keamanan ponsel melalui pembaruan sistem secara rutin, menghindari pemasangan aplikasi dari sumber tidak jelas, menggunakan jaringan aman, serta memperhatikan perilaku aneh pada perangkat merupakan langkah preventif penting.
Bagi sebagian orang, memasang aplikasi keamanan tambahan dengan kemampuan mendeteksi spyware juga bisa menjadi pilihan. “Walaupun tidak ada sistem yang benar-benar kebal terhadap penyadapan, pemahaman akan tanda-tanda dan penyebabnya membuat seseorang dapat lebih waspada serta mampu meminimalisir risiko kebocoran informasi pribadi,” tambah Pratama.
Baca juga: 7 Rekomendasi Film Bertema Hacker Yang Seru dan Menegangkan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Menurut Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, seseorang disadap biasanya berkaitan dengan tiga faktor utama. Pertama adalah faktor personal, di mana target disadap karena motif pribadi, seperti kecemburuan, konflik internal, atau pengawasan ilegal oleh pihak tertentu.
Kedua adalah faktor kriminal, yakni penyadapan dilakukan oleh pelaku kejahatan siber. Mereka ingin mendapatkan informasi sensitif, misalnya data perbankan, kata sandi media sosial, atau identitas digital yang bisa dijual di pasar gelap.
Ketiga adalah faktor politik dan intelijen. Individu tertentu disadap karena aktivitasnya dianggap penting, baik oleh lembaga resmi maupun pihak swasta yang memiliki kepentingan.
“Dalam konteks ini, penyadapan bisa dilakukan dengan teknologi yang jauh lebih canggih dan sulit terdeteksi, misalnya penggunaan exploit zero-day yang hanya dimiliki oleh kelompok dengan sumber daya besar,” ujar Pratama kepada Hypeabis.id, Kamis (4/9/2025).
Baca juga: 5 Jurus Menangkal Hacker Penebar Phising Model Baru
Untuk mengetahui apakah sebuah ponsel sedang disadap bukanlah perkara sederhana. Pasalnya kata Pratama, teknik penyadapan modern semakin canggih dan sering kali bekerja secara tersembunyi tanpa meninggalkan jejak yang mudah terlihat oleh pemilik perangkat.
Kendati demikian, dari sudut pandang keamanan siber, ada beberapa indikasi yang dapat menjadi sinyal peringatan dini. Ponsel yang terasa lebih cepat panas meskipun tidak digunakan untuk aktivitas berat, baterai yang terkuras jauh lebih cepat daripada biasanya, serta munculnya peningkatan konsumsi data internet yang tidak wajar adalah gejala klasik yang patut dicurigai.
Selain itu, adanya aktivitas mencurigakan seperti SMS atau panggilan keluar yang tidak pernah dilakukan pemilik ponsel, suara aneh atau gangguan statis saat melakukan panggilan telepon, hingga keterlambatan dalam mengirim atau menerima pesan juga bisa menjadi tanda.
“Dalam beberapa kasus, aplikasi asing yang tiba-tiba muncul, atau permintaan izin akses dari aplikasi yang sebenarnya tidak membutuhkan izin sensitif, dapat menjadi pintu masuk bagi perangkat lunak penyadap,” jelas Pratama.
Dari sisi teknis, penyadapan dapat terjadi melalui beberapa jalur. Spyware yang dipasang secara diam-diam adalah metode paling umum. Perangkat lunak ini dapat masuk melalui unduhan aplikasi tidak resmi, tautan berbahaya yang diklik tanpa sadar, atau bahkan melalui lampiran email yang mengandung malware.
Selain itu, penyadapan juga bisa dilakukan melalui kelemahan jaringan, misalnya saat seseorang menggunakan Wi-Fi publik yang tidak aman. Dengan teknik man-in-the-middle, penyusup dapat menyusupkan lalu lintas data dan mengakses percakapan, pesan, maupun aktivitas internet pengguna.
Tidak kalah berbahaya, ada pula kemungkinan penyadapan melalui exploit sistem operasi yang belum diperbarui. “Jika ponsel tidak diperbarui secara rutin, celah keamanan yang ada dapat dimanfaatkan untuk menanamkan kode berbahaya yang berfungsi sebagai alat pengintai,” tuturnya.
Sementara itu, Pratama menilai, kesadaran digital menjadi kunci dalam menghadapi ancaman penyadapan. Menjaga keamanan ponsel melalui pembaruan sistem secara rutin, menghindari pemasangan aplikasi dari sumber tidak jelas, menggunakan jaringan aman, serta memperhatikan perilaku aneh pada perangkat merupakan langkah preventif penting.
Bagi sebagian orang, memasang aplikasi keamanan tambahan dengan kemampuan mendeteksi spyware juga bisa menjadi pilihan. “Walaupun tidak ada sistem yang benar-benar kebal terhadap penyadapan, pemahaman akan tanda-tanda dan penyebabnya membuat seseorang dapat lebih waspada serta mampu meminimalisir risiko kebocoran informasi pribadi,” tambah Pratama.
Baca juga: 7 Rekomendasi Film Bertema Hacker Yang Seru dan Menegangkan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.