Redupnya Jumlah Penonton Film Horor di Indonesia Sepanjang 2025
03 September 2025 |
12:51 WIB
1
Like
Like
Like
Film horor yang selama beberapa tahun terakhir menjadi primadona bioskop Indonesia kini tengah menghadapi kenyataan pahit. Sebab, angka penjualan tiket dari genre yang tadinya begitu disukai penonton Indonesia ini, kini justru merosot tajam.
Horor seolah kehilangan daya magisnya tahun ini, setidaknya sampai September 2025. Dari posisi sebagai penggerak utama box office, film horor mendadak berubah menjadi sumber kekhawatiran baru bagi industri perfilman Tanah Air.
Padahal, dari tahun ke tahun, genre horor biasanya menjadi lokomotif pendorong jumlah penonton Indonesia. Barang kali, di posisi sekarang, horor tidak lagi menakuti penonton, tetapi menakuti industrinya sendiri.
Baca juga: Film Tumbal Darah, Horor Terbaru Charles Gozali Tayang di Bioskop 23 Oktober 2025
Sepanjang 2025 ini (September, data diambil dari Cinepoint), tercatat baru ada empat film horor di Indonesia yang menembus 1 juta penonton. Keempat film tersebut adalah Pabrik Gula dengan raihan 4.726.760, Petaka Gunung Gede 3.242.843, Jalan Pulang 2.808.689, dan Qodrat 2 2.214.441 penonton.
Menariknya, dua dari empat film yang berhasil menembus lebih dari 1 juta penonton merupakan film yang tayang saat Lebaran. Satu periode langganan yang sudah lama dianggap sebagai ladang subur perolehan tiket.
Di luar itu, banyak film horor lain yang tampak kesulitan untuk menembus 1 juta penonton. Untuk film horor yang berhasil meraih 500.000-1.000.000 penonton pun hanya ada tujuh judul, yakni Waktu Maghrib 2, Pengantin Setan, Pembantaian Dukun Santet, Almarhum, Pengantin Iblis, Sihir Pelakor, dan Kitab Sijjin & Illiyyin.
Capaian ini berbanding terbalik dengan performa horor pada 2024. Pada tahun lalu, tercatat ada 10 film horor yang berhasil menembus angka satu juta penonton, di antaranya adalah Vina: Sebelum 7 Hari, Badarawuhi di Desa Penari, Siksa Kubur, Lembayung, Pemandi Jenazah, Kuasa Gelap, Sumala, Santet Segoro Pitu, Panggonan Wingit 2, Kereta Berdarah. Jumlah ini masih bisa bertambah jika genre komedi-horor, seperti Agak Laen, Kang Mak, atau Sekawan Limo turut dimasukkan.
Di angka 500.000-1.000.000 penonton, tahun 2024 pun lebih unggul dengan raihan 14 judul. Di antaranya ialah Thaghut, Kemah Terlarang Kesurupan Massal, Jurnal Risa by Risa Saraswati, Trinil: Kembalikan Tubuhku, Munkar, Menjelang Ajal, Hutang Nyawa, Sorop, Perewangan, Jagat Alam Gaib: SInden Gaib, Racun Sangga, Sengkolo Malam Satu Suro, dan Do You See What I See.
Pada 2023, situasinya juga tak jauh berbeda dengan raihan 13 judul horor yang tembus 1 juta penonton. Judul-judul tersebut di antaranya ialah Sewu Dino, Di Ambang Kematian, Siksa Neraka, Waktu Maghrib, Suzzanna: Malam Jumat Kliwon, Sijjin, Panggonan Wingit, Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul, Pamali: Dusun Pocong, Saranjana: Kota Ghaib, Khanzab, Sosok Ketiga, dan Indigo. Adapun untuk penonton 500.000-1.000.000 tentu akan lebih banyak lagi.
Dengan capaian gemilang dalam dua tahun terakhir, muncul pertanyaan besar, yakni mengapa film horor kini justru mengalami kontraksi? CEO Paragon Pictures sekaligus sutradara, Robert Ronny, menilai kondisi ini seperti sebuah siklus.
Walau horor selalu diminati publik, eksploitasi yang terlalu masif justru membuat penonton kehilangan antusiasme. Pada akhirnya, katanya, genre ini sampai pada titik jenuh. Akan tetapi, pola ini tidak serta menyudutkan sebuah genre. Genre di dalam film tentu tak pernah salah.
Menurutnya, persoalan bukan pada horor itu sendiri, melainkan pada pola produksi yang berulang. Ronny mengatakan saat ini sudah terlalu banyak film horor diproduksi dengan premis serupa, bahkan sampai judul, poster, font, hingga deretan pemainnya terasa mirip. Akibatnya, penonton mudah merasa jenuh.
"Sekali lagi bukan masalah genre horornya. Tapi jika tidak ada terobosan baru, atau fresh take dari genre horor, penonton tidak akan datang, karena bosan," ungkapnya kepada Hypeabis.id.
Namun, dirinya percaya genre horor sebenarnya tetap memiliki potensi besar. Akan tetapi, tanpa adanya terobosan baru atau sudut pandang segar, penonton enggan datang ke bioskop karena merasa ditawarkan hal yang sama terus-menerus. Dalam hal ini, inovasi kreatif menjadi kunci, bukan sekadar mengulang formula lama yang pernah berhasil.
“Penonton sekarang makin cerdas dalam memilih tontonan,” ujarnya
Di luar itu, faktor lain yang bisa memengaruhi performa film adalah jadwal tayang. Tak jarang, film yang diproyeksikan sukses justru sepi karena harus bersaing dengan judul-judul lain yang menyasar penonton yang sama dalam waktu bersamaan.
Persaingan antarfilm dengan target audiens mirip yang tayang bersamaan membuat penonton terpecah. Kondisi ini semakin rumit karena produksi film Indonesia terus meningkat, sementara jumlah layar bioskop belum bertambah signifikan.
Pengamat film Hikmat menilai penurunan performa genre horor tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor. Salah satunya kemungkinan adanya kebosanan penonton terhadap film yang terus-menerus menggunakan formula serupa, termasuk di genre horor.
Situasi ini makin jelas terlihat jika melihat fakta bahwa hanya dua film horor yang menembus angka di atas satu juta penonton, itupun karena rilis di Lebaran, periode yang memang dikenal premium dan memiliki daya tawar tinggi. Meski begitu, di Lebaran pun, tahun ini dominasi tetap dipegang film animasi, menandakan horor bukan lagi satu-satunya “raja” di momen emas tersebut.
Lebih jauh, Hikmat menekankan bahwa persoalan utama tidak hanya soal genre. Faktor yang justru lebih krusial adalah kesempatan tayang. Penjadwalan dan strategi programming yang kurang tepat sering kali membuat sebuah film tidak mendapat ruang optimal untuk menjaring penonton.
Dia menambahkan, ketimpangan ini berakar dari meningkatnya jumlah produksi film Indonesia yang belum diimbangi dengan pertumbuhan layar bioskop. Akibatnya, persaingan menjadi semakin ketat, dan banyak film, termasuk horor, kehilangan momentum hanya karena tidak mendapat layar dan penayangan yang strategis.
Lantas, dengan sisa waktu empat bulan ke depan, mampukah horor memperbaiki performanya? Memasuki September 2025, bioskop Indonesia juga masih akan diwarnai genre horor. Dari 13-14 film lokal yang tayang, Mayoritasnya masih horor.
Line up horor bulan ini ialah Menjelang Maghrib 2: Wanita yang Dirantai (4 September), Mama: Pesan dari Neraka (11 September), Gereja Setan (11 September), Sukma (11 September), Lintrik Ilmu Pemikat (11 September), Maryam: Janji dan Jiwa yang Terikat (18 September), Perempuan Pembawa Sial (19 September).
Baca juga: Film Horor Perempuan Pembawa Sial Angkat Mitos Bahu Laweyan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Horor seolah kehilangan daya magisnya tahun ini, setidaknya sampai September 2025. Dari posisi sebagai penggerak utama box office, film horor mendadak berubah menjadi sumber kekhawatiran baru bagi industri perfilman Tanah Air.
Padahal, dari tahun ke tahun, genre horor biasanya menjadi lokomotif pendorong jumlah penonton Indonesia. Barang kali, di posisi sekarang, horor tidak lagi menakuti penonton, tetapi menakuti industrinya sendiri.
Baca juga: Film Tumbal Darah, Horor Terbaru Charles Gozali Tayang di Bioskop 23 Oktober 2025

Ilustrasi film horor (Sumber gambar: Pexels/Nathan J Hilton)
Menariknya, dua dari empat film yang berhasil menembus lebih dari 1 juta penonton merupakan film yang tayang saat Lebaran. Satu periode langganan yang sudah lama dianggap sebagai ladang subur perolehan tiket.
Di luar itu, banyak film horor lain yang tampak kesulitan untuk menembus 1 juta penonton. Untuk film horor yang berhasil meraih 500.000-1.000.000 penonton pun hanya ada tujuh judul, yakni Waktu Maghrib 2, Pengantin Setan, Pembantaian Dukun Santet, Almarhum, Pengantin Iblis, Sihir Pelakor, dan Kitab Sijjin & Illiyyin.
Capaian ini berbanding terbalik dengan performa horor pada 2024. Pada tahun lalu, tercatat ada 10 film horor yang berhasil menembus angka satu juta penonton, di antaranya adalah Vina: Sebelum 7 Hari, Badarawuhi di Desa Penari, Siksa Kubur, Lembayung, Pemandi Jenazah, Kuasa Gelap, Sumala, Santet Segoro Pitu, Panggonan Wingit 2, Kereta Berdarah. Jumlah ini masih bisa bertambah jika genre komedi-horor, seperti Agak Laen, Kang Mak, atau Sekawan Limo turut dimasukkan.
Di angka 500.000-1.000.000 penonton, tahun 2024 pun lebih unggul dengan raihan 14 judul. Di antaranya ialah Thaghut, Kemah Terlarang Kesurupan Massal, Jurnal Risa by Risa Saraswati, Trinil: Kembalikan Tubuhku, Munkar, Menjelang Ajal, Hutang Nyawa, Sorop, Perewangan, Jagat Alam Gaib: SInden Gaib, Racun Sangga, Sengkolo Malam Satu Suro, dan Do You See What I See.
Pada 2023, situasinya juga tak jauh berbeda dengan raihan 13 judul horor yang tembus 1 juta penonton. Judul-judul tersebut di antaranya ialah Sewu Dino, Di Ambang Kematian, Siksa Neraka, Waktu Maghrib, Suzzanna: Malam Jumat Kliwon, Sijjin, Panggonan Wingit, Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul, Pamali: Dusun Pocong, Saranjana: Kota Ghaib, Khanzab, Sosok Ketiga, dan Indigo. Adapun untuk penonton 500.000-1.000.000 tentu akan lebih banyak lagi.
Dengan capaian gemilang dalam dua tahun terakhir, muncul pertanyaan besar, yakni mengapa film horor kini justru mengalami kontraksi? CEO Paragon Pictures sekaligus sutradara, Robert Ronny, menilai kondisi ini seperti sebuah siklus.
Walau horor selalu diminati publik, eksploitasi yang terlalu masif justru membuat penonton kehilangan antusiasme. Pada akhirnya, katanya, genre ini sampai pada titik jenuh. Akan tetapi, pola ini tidak serta menyudutkan sebuah genre. Genre di dalam film tentu tak pernah salah.
Menurutnya, persoalan bukan pada horor itu sendiri, melainkan pada pola produksi yang berulang. Ronny mengatakan saat ini sudah terlalu banyak film horor diproduksi dengan premis serupa, bahkan sampai judul, poster, font, hingga deretan pemainnya terasa mirip. Akibatnya, penonton mudah merasa jenuh.
"Sekali lagi bukan masalah genre horornya. Tapi jika tidak ada terobosan baru, atau fresh take dari genre horor, penonton tidak akan datang, karena bosan," ungkapnya kepada Hypeabis.id.
Namun, dirinya percaya genre horor sebenarnya tetap memiliki potensi besar. Akan tetapi, tanpa adanya terobosan baru atau sudut pandang segar, penonton enggan datang ke bioskop karena merasa ditawarkan hal yang sama terus-menerus. Dalam hal ini, inovasi kreatif menjadi kunci, bukan sekadar mengulang formula lama yang pernah berhasil.
“Penonton sekarang makin cerdas dalam memilih tontonan,” ujarnya
Di luar itu, faktor lain yang bisa memengaruhi performa film adalah jadwal tayang. Tak jarang, film yang diproyeksikan sukses justru sepi karena harus bersaing dengan judul-judul lain yang menyasar penonton yang sama dalam waktu bersamaan.
Persaingan antarfilm dengan target audiens mirip yang tayang bersamaan membuat penonton terpecah. Kondisi ini semakin rumit karena produksi film Indonesia terus meningkat, sementara jumlah layar bioskop belum bertambah signifikan.

Ilustrasi film horor (Sumber gambar: Pexels/cottonbro studio)
Situasi ini makin jelas terlihat jika melihat fakta bahwa hanya dua film horor yang menembus angka di atas satu juta penonton, itupun karena rilis di Lebaran, periode yang memang dikenal premium dan memiliki daya tawar tinggi. Meski begitu, di Lebaran pun, tahun ini dominasi tetap dipegang film animasi, menandakan horor bukan lagi satu-satunya “raja” di momen emas tersebut.
Lebih jauh, Hikmat menekankan bahwa persoalan utama tidak hanya soal genre. Faktor yang justru lebih krusial adalah kesempatan tayang. Penjadwalan dan strategi programming yang kurang tepat sering kali membuat sebuah film tidak mendapat ruang optimal untuk menjaring penonton.
Dia menambahkan, ketimpangan ini berakar dari meningkatnya jumlah produksi film Indonesia yang belum diimbangi dengan pertumbuhan layar bioskop. Akibatnya, persaingan menjadi semakin ketat, dan banyak film, termasuk horor, kehilangan momentum hanya karena tidak mendapat layar dan penayangan yang strategis.
Lantas, dengan sisa waktu empat bulan ke depan, mampukah horor memperbaiki performanya? Memasuki September 2025, bioskop Indonesia juga masih akan diwarnai genre horor. Dari 13-14 film lokal yang tayang, Mayoritasnya masih horor.
Line up horor bulan ini ialah Menjelang Maghrib 2: Wanita yang Dirantai (4 September), Mama: Pesan dari Neraka (11 September), Gereja Setan (11 September), Sukma (11 September), Lintrik Ilmu Pemikat (11 September), Maryam: Janji dan Jiwa yang Terikat (18 September), Perempuan Pembawa Sial (19 September).
Baca juga: Film Horor Perempuan Pembawa Sial Angkat Mitos Bahu Laweyan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.