Penjarahan Uya Kuya Picu Perdebatan Breeding Kucing, Adopsi Jadi Solusi
01 September 2025 |
21:32 WIB
Penjarahan rumah Uya Kuya di Duren Sawit, Jakarta Timur, jadi sorotan pecinta kucing. Tak hanya barang berharga, setidaknya 13 ekor kucing yang dipelihara di rumah tersebut juga dibawa. Amarah netizen pun memuncak ketika aktris dan penyayi, Sherina Munaf, menemukan salah satunya dalam kondisi kurus, kusam, dan mata kotor.
"Salah satu kucing dari rumah Uya Kuya ada yang rescue dan semalaman saya dan Indira Diandra sudah koordinasi langsung dengan rescuer. Pagi ini dijemput dan sekarang kucing posisi aman, sedang saya foster," tulis Sherina Munaf lewat akun Threads pada Minggu (31/8/2025).
Baca juga: Kiat Rescue & Adopsi Kucing Liar yang Terdampak Aksi Demonstrasi
Kucing-kucing tersebut diduga merupakan hasil breeding. Melihat kasus ini, Sherina mengajak para pemilik hewan untuk lebih memilih mengadopsi daripada membeli. Ia juga menegaskan pentingnya mensterilkan hewan peliharaan, serta mengingatkan bahwa jika tidak mampu merawatnya, sebaiknya jangan memelihara sama sekali.
Breeding adalah praktik mengembangbiakkan hewan peliharaan, seperti kucing dan anjing, untuk menghasilkan keturunan dengan ciri khas ras tertentu. Tujuannya bisa memperbaiki penampilan ras atau bahkan menciptakan ras baru.
Meski populer sebagai hobi sekaligus bisnis, praktik ini kerap menuai perdebatan, sehingga banyak pecinta hewan lebih memilih mengadopsi daripada membeli hasil breeding. Selain menimbulkan masalah kesehatan, breeding kucing ras juga berkontribusi pada meningkatnya populasi kucing.
Apalagi kucing ras kerap dianggap lebih menarik sehingga banyak orang memilih membelinya dari breeder. Menurut Shelby Shelter, tren membeli kucing dari breeder mendorong pelaku bisnis ini terus berkembang dan menghasilkan semakin banyak kucing baru.
Semakin marak praktik breeding, semakin sedikit pula hewan yang diadopsi dari penampungan, sehingga populasi kucing kian membludak. Kondisi kelebihan populasi ini membuat banyak kucing akhirnya diakhiri hidupnya lewat euthanasia.
Merawat kucing ras sendiri membutuhkan tanggung jawab besar. Masalah muncul ketika pemilik tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut dan justru menelantarkan peliharaannya. Sayangnya, bisnis breeding sering tidak diimbangi dengan tanggung jawab yang memadai, sehingga kasus penelantaran kucing ras pun semakin banyak.
Padahal, kucing ras sangat rentan sakit jika dilepas di alam bebas karena pada dasarnya mereka disarankan hidup di dalam ruangan.
Selain memicu kelebihan populasi, sejumlah praktik breeding juga dinilai tidak etis karena membahayakan anak kucing yang dilahirkan. Contohnya ras Scottish Fold yang telinganya terlipat. Menurut Cats Protection, kondisi tersebut adalah cacat genetik yang bisa memicu pertumbuhan tulang abnormal. Akibatnya, kucing mengalami radang persendian yang menimbulkan rasa sakit berkepanjangan.
Radang persendian kerap dialami kucing hasil breeding dengan dwarfisme, seperti Munchkin, Bully, dan Dwelf, yang berdampak pada gangguan motorik seumur hidup. Ada juga kucing dengan wajah datar, misalnya Persia, yang rentan mengalami masalah pernapasan, gigi, dan mata akibat bentuk tengkoraknya.
Beberapa ras lain seperti kucing tanpa bulu, kucing tanpa ekor, hingga kucing hibrida eksotis hasil persilangan dengan kucing liar juga dianggap sebagai bentuk breeding yang kurang etis karena dapat mengganggu kualitas hidup hewan. Hal serupa juga terjadi pada praktik breeding anjing. Karena itu, pet lovers disarankan untuk lebih memilih mengadopsi hewan daripada membeli hasil breeding.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
"Salah satu kucing dari rumah Uya Kuya ada yang rescue dan semalaman saya dan Indira Diandra sudah koordinasi langsung dengan rescuer. Pagi ini dijemput dan sekarang kucing posisi aman, sedang saya foster," tulis Sherina Munaf lewat akun Threads pada Minggu (31/8/2025).
Baca juga: Kiat Rescue & Adopsi Kucing Liar yang Terdampak Aksi Demonstrasi
Kucing-kucing tersebut diduga merupakan hasil breeding. Melihat kasus ini, Sherina mengajak para pemilik hewan untuk lebih memilih mengadopsi daripada membeli. Ia juga menegaskan pentingnya mensterilkan hewan peliharaan, serta mengingatkan bahwa jika tidak mampu merawatnya, sebaiknya jangan memelihara sama sekali.
Breeding adalah praktik mengembangbiakkan hewan peliharaan, seperti kucing dan anjing, untuk menghasilkan keturunan dengan ciri khas ras tertentu. Tujuannya bisa memperbaiki penampilan ras atau bahkan menciptakan ras baru.
Meski populer sebagai hobi sekaligus bisnis, praktik ini kerap menuai perdebatan, sehingga banyak pecinta hewan lebih memilih mengadopsi daripada membeli hasil breeding. Selain menimbulkan masalah kesehatan, breeding kucing ras juga berkontribusi pada meningkatnya populasi kucing.
Apalagi kucing ras kerap dianggap lebih menarik sehingga banyak orang memilih membelinya dari breeder. Menurut Shelby Shelter, tren membeli kucing dari breeder mendorong pelaku bisnis ini terus berkembang dan menghasilkan semakin banyak kucing baru.
Semakin marak praktik breeding, semakin sedikit pula hewan yang diadopsi dari penampungan, sehingga populasi kucing kian membludak. Kondisi kelebihan populasi ini membuat banyak kucing akhirnya diakhiri hidupnya lewat euthanasia.
Merawat kucing ras sendiri membutuhkan tanggung jawab besar. Masalah muncul ketika pemilik tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut dan justru menelantarkan peliharaannya. Sayangnya, bisnis breeding sering tidak diimbangi dengan tanggung jawab yang memadai, sehingga kasus penelantaran kucing ras pun semakin banyak.
Padahal, kucing ras sangat rentan sakit jika dilepas di alam bebas karena pada dasarnya mereka disarankan hidup di dalam ruangan.
Selain memicu kelebihan populasi, sejumlah praktik breeding juga dinilai tidak etis karena membahayakan anak kucing yang dilahirkan. Contohnya ras Scottish Fold yang telinganya terlipat. Menurut Cats Protection, kondisi tersebut adalah cacat genetik yang bisa memicu pertumbuhan tulang abnormal. Akibatnya, kucing mengalami radang persendian yang menimbulkan rasa sakit berkepanjangan.
Radang persendian kerap dialami kucing hasil breeding dengan dwarfisme, seperti Munchkin, Bully, dan Dwelf, yang berdampak pada gangguan motorik seumur hidup. Ada juga kucing dengan wajah datar, misalnya Persia, yang rentan mengalami masalah pernapasan, gigi, dan mata akibat bentuk tengkoraknya.
Beberapa ras lain seperti kucing tanpa bulu, kucing tanpa ekor, hingga kucing hibrida eksotis hasil persilangan dengan kucing liar juga dianggap sebagai bentuk breeding yang kurang etis karena dapat mengganggu kualitas hidup hewan. Hal serupa juga terjadi pada praktik breeding anjing. Karena itu, pet lovers disarankan untuk lebih memilih mengadopsi hewan daripada membeli hasil breeding.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.