Donald Trump (Sumber gambar: Unsplash)

Mengenal Insufisiensi Vena Kronis, Lebam yang Muncul di Tangan Donald Trump

01 September 2025   |   19:57 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Pada Juli 2025, Unit Medis Gedung Putih mengungkapkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump didiagnosis menderita insufisiensi vena kronis. Pengumuman yang disampaikan dalam jumpa pers pada Kamis (17/7/2025) itu terkait kondisi pembengkakan pada kedua kaki presiden berusia 79 tahun tersebut.

Belakangan, publik mempertanyakan absennya Trump dari sorotan. Dia sempat tidak muncul selama beberapa hari sebelum akhirnya terlihat bermain golf pada Minggu (31/8/2025). Isu kesehatan kembali mencuat setelah beredar foto yang memperlihatkan lebam pada punggung tangan kanannya.

Sebelumnya, Kepala Dokter Gedung Putih Sean Barbarella menegaskan bahwa penyakit yang dialami Trump merupakan masalah pembuluh darah yang umum terjadi pada lansia. Lantas, apa sebenarnya insufisiensi vena kronis itu?

Baca Juga: Wasapadai Gejala Kanker Sarkoma yang Agresif dan Menyerang Generasi Muda

Melansir Cleveland Clinic, insufisiensi vena kronis adalah kondisi ketika pembuluh darah vena di kaki mengalami kerusakan sehingga aliran darah tidak bisa kembali dengan baik ke jantung. Normalnya, vena memiliki katup kecil yang berfungsi menjaga aliran darah tetap satu arah yakni menuju jantung. Namun, pada CVI katup tersebut melemah atau rusak sehingga darah berbalik arah dan menumpuk di kaki.

Kondisi ini menyebabkan peningkatan tekanan dalam vena yang bisa berujung pada gejala ringan hingga serius, termasuk luka kronis yang sulit sembuh. Insufisiensi vena kronis dapat mengenai pembuluh vena dalam, vena superfisial yang dekat permukaan kulit, maupun vena perforator yang menghubungkan keduanya.

Dikatakan bahwa penyakit ini umumnya muncul setelah usia 50 tahun dan lebih banyak ditemukan pada orang yang memiliki riwayat deep vein thrombosis (DVT), varises, obesitas, atau kebiasaan duduk dan berdiri dalam waktu lama. Risiko lebih tinggi bisa terjadi pada wanita, orang dengan riwayat kehamilan, serta perokok.
 

Gejala Insufisiensi Vena Kronis

  1. Rasa pegal, berat, atau lelah pada kaki.
  2. Sensasi terbakar, kesemutan, atau rasa seperti ditusuk jarum.
  3. Kram pada malam hari.
  4. Pembengkakan (edema) pada pergelangan kaki dan betis terutama setelah lama berdiri atau di akhir hari.
  5. Perubahan warna kulit menjadi kemerahan hingga cokelat kehitaman.
  6. Kulit kaki menjadi kering, bersisik, atau terasa gatal.
  7. Varises (pembuluh darah menonjol di permukaan kulit).
  8. Luka terbuka di sekitar pergelangan kaki (ulkus vena) yang sulit sembuh dan bisa terinfeksi.
  9. Pada kasus berat, betis terasa keras akibat terbentuknya jaringan parut.
Dokter biasanya mendiagnosis insufisiensi vena kronis melalui pemeriksaan fisik untuk melihat tanda-tanda perubahan kulit, pembengkakan, atau adanya ulkus. Untuk memastikan pula, dilakukan USG Doppler guna mengevaluasi aliran darah dan fungsi katup vena. Pada beberapa kasus, pemeriksaan tambahan seperti MRI juga bisa dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.

Meski nampaknya tidak berbahaya, insufisiensi vena kronis tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Sebab, kerusakan pada katup vena bersifat permanen. Namun, kondisi ini bisa dikelola untuk mencegah perburukan dan mengurangi gejala.

Beberapa langkah penanganan antara lain mendorong gaya hidup dengan rutin berjalan kaki, mengurangi berat badan, menghindari duduk atau berdiri terlalu lama, serta mengangkat kaki di atas jantung beberapa kali sehari untuk memperbaiki aliran darah.

Dalam kasus berat, terapi kompresi dengan menggunakan stocking kompresi khusus mungkin dilakukan. Hal ini untuk membantu mengurangi pembengkakan dan memperbaiki sirkulasi. Pengobatan medis diberikan dengan antibiotik bila terdapat infeksi pada ulkus. Kemudian, antikoagulan atau pengencer darah untuk mencegah atau mengatasi pembekuan darah.

Prosedur medis dilakukan dengan sclerotherapy atau suntikan cairan atau foam pada vena yang rusak. Pasien juga bisa menjalani prosedur ablasi laser atau radiofrekuensi untuk menutup vena yang bermasalah. Phlebectomy atau pengangkatan varises kecil juga menjadi salah satu prosedur. Jika kasus sudah sangat berat, pasien akan menjalani operasi bypass vena. 

Jika tidak ditangani, insufisiensi vena kronis dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti luka kronis yang sulit sembuh dan mudah infeksi, perubahan permanen pada warna dan tekstur kulit, serta infeksi jaringan lunak yang bisa berbahaya bila menyebar.

Ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko insufisiensi vena kronis. Pertama, rutin berolahraga terutama jalan kaki, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok, mengatur pola makan sehat rendah garam, serta menghindari duduk atau berdiri terlalu lama tanpa bergerak.

Baca Juga: Waspada Cacingan, Begini Cara Aman Konsumsi Sayuran Mentah agar Tetap Sehat

SEBELUMNYA

Putri Kusuma Wardani Persembahkan Perunggu di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2025

BERIKUTNYA

43 Kereta Api Jarak Jauh Ini Berhenti Luar Biasa di Stasiun Lempuyungan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga