Sering Ngidam Makanan Manis? Mungkin Ini Penyebabnya
30 August 2025 |
16:00 WIB
Gula adalah salah satu zat yang paling mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua jenis makanan dan minuman olahan mengandung gula, bahkan sering dijadikan hidangan sederhana saat bersantai. Tak heran, konsumsi gula seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern.
Penelitian pada 2018 menunjukkan bahwa keinginan masyarakat untuk mengonsumsi makanan manis terus meningkat. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan menarik: mengapa hasrat untuk menikmati makanan manis begitu kuat, bahkan berkembang hingga menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihindari?
Dilansir dari Healthline, rasa ngidam terhadap makanan manis bisa dipicu oleh berbagai faktor, baik fisiologis maupun psikologis. Mulai dari kebutuhan energi tubuh, fluktuasi hormon, hingga aspek emosional seperti stres atau kebiasaan mencari kenyamanan, semuanya dapat mendorong seseorang untuk lebih sering mengonsumsi makanan manis.
Baca juga: Kecanduan Minuman Manis, Masyarakat Indonesia Rentan Diabetes dan Gagal Ginjal
Jenis makanan yang kita makan, waktu makan, dan jumlah banyaknya jenis makanan yang dikonsumsi, lama kelamaan akan membentuk pola perilaku atau kebiasaan konsumsi. Sederhananya, berbagai kebiasaan mengonsumsi makanan manis secara rutin membuat pikiran dan tubuh terlatih untuk terus menginginkannya. Keinginan yang kuat ini juga dapat terasa seperti suatu paksaan yang membentuk kebiasaan. Bahkan, sebuah penelitian tahun 2016 menemukan bahwa makanan olahan dengan kandungan gula tambahan dapat menimbulkan perilaku pembentukan kebiasaan pada manusia.
Meskipun belum ada penelitian yang menyebut bahwa makanan manis memiliki rasa kecanduang yang sama dengan zat berbahaya narkoba, namun makanan olahan yang mengandung gula dapat memicu pelepasan dopamin neurokimia atau “pemberi rasa senang” pada pusat reward otak manusia. Dengan banyak zat dopamin, semakin menyebabkan keinginan terus meningkat.
Tidak semua makanan manis terbuat dari bahan pemanis alami. Penggunaan pemanis buatan kemudia menyebabkan perubahan preferensi rasa manis yang dimiliki seseorang seiring berjalannya waktu. Beberapa peneliti mengemukakan, bahwa kebiasaan seseorang mengonsumsi produk dengan pemanis buatan yang terasa sangat manis dapat membuat keinginan mereka terhadap makanan manis semakin kuat.
Tubuh manusia terkadang merespon stres dengan mengeluarkan hormon yang berkaitan dengan rasa ingin makan. Dalam sebuah studi yang dilakukan pada 2019, hormon stres kortisol dapat berkaitan dengan keinginan kuat untuk makan makanan manis. Jika anda mengalami stres dalam jangka waktu yang panjang, maka anda menjadi rentan terhadap peningkatan keinginan untuk mengkonsumsi makanan lezat yang mengandung kadar lemak dan gula berlebihan.
Hubungan makanan yang dikonsumsi dengan pola tidur sebenarnya sangat kompleks. Sebuah penelitian pada 2013 menjelaskan bahwa orang yang kurang tidur memiliki kecenderungan untuk ngidam makanan yang manis, asin, serta bertepung.
Terdapat kepercayaan umum di masyarakat Amerika Serikat bahwa keinginan makan cokelat dan menstruasi memiliki keterkaitan. Pada awalnya, beberapa peneliti berpikir bahwa orang yang menginginkan cokelat karena ingin melepaskan zat endorfin, yang membuat dapat memperbaiki suasana hati seseorang.
Namun, pada 2017 beberapa peneliti justru menemukan bahwa pendapat seseorang yang menginginkan cokelat saat menstruasi hanya dikenal di Amerika Serikat. Perbedaan tersebut membuat peneliti berpikir bahwa keinginan mengonsumsi makanan manis terjadi karena kebiasaan atau budaya, bukan faktor biologis seseorang.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Penelitian pada 2018 menunjukkan bahwa keinginan masyarakat untuk mengonsumsi makanan manis terus meningkat. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan menarik: mengapa hasrat untuk menikmati makanan manis begitu kuat, bahkan berkembang hingga menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihindari?
Dilansir dari Healthline, rasa ngidam terhadap makanan manis bisa dipicu oleh berbagai faktor, baik fisiologis maupun psikologis. Mulai dari kebutuhan energi tubuh, fluktuasi hormon, hingga aspek emosional seperti stres atau kebiasaan mencari kenyamanan, semuanya dapat mendorong seseorang untuk lebih sering mengonsumsi makanan manis.
Baca juga: Kecanduan Minuman Manis, Masyarakat Indonesia Rentan Diabetes dan Gagal Ginjal
Kebiasaan
Jenis makanan yang kita makan, waktu makan, dan jumlah banyaknya jenis makanan yang dikonsumsi, lama kelamaan akan membentuk pola perilaku atau kebiasaan konsumsi. Sederhananya, berbagai kebiasaan mengonsumsi makanan manis secara rutin membuat pikiran dan tubuh terlatih untuk terus menginginkannya. Keinginan yang kuat ini juga dapat terasa seperti suatu paksaan yang membentuk kebiasaan. Bahkan, sebuah penelitian tahun 2016 menemukan bahwa makanan olahan dengan kandungan gula tambahan dapat menimbulkan perilaku pembentukan kebiasaan pada manusia.
Kecanduan makanan manis
Meskipun belum ada penelitian yang menyebut bahwa makanan manis memiliki rasa kecanduang yang sama dengan zat berbahaya narkoba, namun makanan olahan yang mengandung gula dapat memicu pelepasan dopamin neurokimia atau “pemberi rasa senang” pada pusat reward otak manusia. Dengan banyak zat dopamin, semakin menyebabkan keinginan terus meningkat.
Pemanis buatan
Tidak semua makanan manis terbuat dari bahan pemanis alami. Penggunaan pemanis buatan kemudia menyebabkan perubahan preferensi rasa manis yang dimiliki seseorang seiring berjalannya waktu. Beberapa peneliti mengemukakan, bahwa kebiasaan seseorang mengonsumsi produk dengan pemanis buatan yang terasa sangat manis dapat membuat keinginan mereka terhadap makanan manis semakin kuat.
Stres
Tubuh manusia terkadang merespon stres dengan mengeluarkan hormon yang berkaitan dengan rasa ingin makan. Dalam sebuah studi yang dilakukan pada 2019, hormon stres kortisol dapat berkaitan dengan keinginan kuat untuk makan makanan manis. Jika anda mengalami stres dalam jangka waktu yang panjang, maka anda menjadi rentan terhadap peningkatan keinginan untuk mengkonsumsi makanan lezat yang mengandung kadar lemak dan gula berlebihan.
Tidur
Hubungan makanan yang dikonsumsi dengan pola tidur sebenarnya sangat kompleks. Sebuah penelitian pada 2013 menjelaskan bahwa orang yang kurang tidur memiliki kecenderungan untuk ngidam makanan yang manis, asin, serta bertepung.
Menstruasi
Terdapat kepercayaan umum di masyarakat Amerika Serikat bahwa keinginan makan cokelat dan menstruasi memiliki keterkaitan. Pada awalnya, beberapa peneliti berpikir bahwa orang yang menginginkan cokelat karena ingin melepaskan zat endorfin, yang membuat dapat memperbaiki suasana hati seseorang.Namun, pada 2017 beberapa peneliti justru menemukan bahwa pendapat seseorang yang menginginkan cokelat saat menstruasi hanya dikenal di Amerika Serikat. Perbedaan tersebut membuat peneliti berpikir bahwa keinginan mengonsumsi makanan manis terjadi karena kebiasaan atau budaya, bukan faktor biologis seseorang.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.