Review Film Siapa Dia, Sebuah Surat Cinta Sekaligus Kegelisahan Garin Nugroho
29 August 2025 |
16:00 WIB
1
Like
Like
Like
Menonton film Siapa Dia yang digarap sutradara kawakan Garin Nugroho itu ibarat memasuki mesin waktu. Selama 1 jam 42 menit, penonton akan diajak menjelajahi masa lalu dengan menelusuri kembali momen-momen penting dalam perfilman Indonesia, sekaligus budaya pop yang berkelindan di antaranya.
Film Siapa Dia terasa seperti sebuah surat cinta dari Garin untuk perfilman Indonesia. Namun, tak hanya berisi kata-kata puitis, surat ini juga menunjukkan kegelisahan-kegelisahan sineas asal Yogyakarta tersebut pada situasi yang terjadi sekarang.
Baca juga: Aktor Nicholas Saputra Hidupkan Empat Karakter Sekaligus di Film Siapa Dia
Di tengah gilang gemilangnya kebangkitan industri perfilman Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, Garin layaknya seorang bapak mencoba menjadi pengingat.
Sebab, 'kebangkitan' perfilman Indonesia bukan hanya terjadi belakangan ini saja. Sepanjang sejarah, film Indonesia telah beberapa kali disebut sedang mengalami masa kebangkitan, kemudian meredup, muncul lagi era kebangkitan berikutnya, lalu lenyap lagi, seolah seperti siklus yang tiada henti.
Di era 'kebangkitan' baru ini, lewat Siapa Dia, Garin mencoba menengok ke belakang. Membaca sejarah, membaca tanda, agar yang sudah bangkit lalu tak begitu saja redup dan perfilman Indonesia tak kembali terjebak dalam fenomena Sisifus.
Film Siapa Dia mengisahkan seorang sutradara bernama Layar (Nicholas Saputra). Karakternya menarik karena digambarkan sebagai sutradara muda yang sukses besar dengan film pertamanya, tetapi kemudian bingung menentukan arah untuk film keduanya.
Layar tampak menjadi simbol regenerasi sekaligus kegamangan, seolah terjebak oleh beban dan ekspektasi yang membayangi langkahnya. Dalam upaya mencari inspirasi, Layar pergi ke rumah buyutnya dan secara tak terduga menemukan sebuah koper berisi surat serta catatan harian lengkap dari leluhurnya, mulai dari ayah, kakek, hingga buyutnya.
Dari situ, kisah berkembang. Layar bertekad merangkai catatan-catatan tersebut menjadi sebuah film musikal. Namun, saat menulis naskah, dirinya sering merasakan perjalanan magis masuk ke dalam kehidupan penuh romansa sekaligus tragedi yang dialami buyut, kakek, dan ayahnya.
Perjalanan menyusuri ruang dan waktu diawali dari kisah buyut Layar yang masih berada di periode zaman penjajahan. Meski berada di cengkeraman kolonialisme, budaya pop Indonesia rupanya sudah berkembang lewat kemunculan Komedi Stamboel. Ini adalah seni pertunjukan teater keliling yang populer di Hindia Belanda sejak akhir abad ke-19.
Komedi Stamboel menyerupai teater musikal karena menggabungkan drama, narasi, lagu, dan tarian di setiap pertunjukannya. Namun, uniknya, bentuk musikal ini tampaknya jarang mengalami perkembangan signifikan dibandingkan dengan film fiksi yang terus berevolusi.
Secara bertahap, alur film bergerak maju dan mundur, bergantian antara kisah Layar dan cerita leluhurnya. Cerita mencakup mulai dari film Indonesia pertama Loetoeng Kasaroeng, perkembangan bioskop, poster lukis, persewaan komik, hingga majalah.
Dalam film ini, setiap era dipenuhi dengan konflik yang mencerminkan dinamika zamannya, mulai dari tekanan kekuasaan yang membatasi kebebasan, sensor yang mengekang ekspresi, hingga insiden penembakan misterius yang sarat ketegangan.
Setiap peristiwa tidak hanya menjadi latar, tetapi juga memberi gambaran bagaimana masyarakat dan seniman menghadapi tantangan yang unik di masa itu.
Hubungan antar elemen ini membentuk narasi kreatif yang kompleks, memperlihatkan bagaimana kondisi sosial dan politik membentuk proses berkarya para seniman. Garin seolah ingin mengatakan bahwa penciptaan seni selalu lahir dari interaksi antara kebebasan, batasan, dan pergulatan personal, sehingga setiap karya menjadi cermin zaman sekaligus ekspresi para senimannya.
Salah satu daya tarik utama film ini terletak pada cara kamera sering ditempatkan secara statis, hanya mengambil satu sudut untuk menyorot ekspresi para tokohnya. Garin tampak menyulap layar bioskop menjadi panggung musikal sungguhan, seolah bentuk penghormatan Komedi Stamboel yang telah babad alas untuk perkembangan budaya pop, tetapi kemudian seolah dilupakan.
Teknik ini terasa unik karena menghadirkan sensasi menonton pertunjukan teater di dalam film. Penonton seakan hanya memiliki satu perspektif dari depan panggung saja. Sejalan dengan itu, para aktor pun berupaya menguasai ruang panggung secara lahiriah.
Meski asyik di beberapa bagian, di sisi lain, gaya ini terkadang membuat adegan tampak kaku, terutama saat lagu dan tarian mulai begitu ekspresif, tetapi tak didukung pergerakan kamera yang dinamis.
Daya tarik lain film ini muncul dari tim artistik yang berhasil menghadirkan busana dan riasan nyentrik khas tiap zaman. Setiap kostum dan make-up tidak hanya memperkuat karakter, tetapi juga menambah warna dan keaslian era yang digambarkan.
World building film ini juga tersaji dengan cermat melalui set lokasi dan properti yang mendukung. Salah satu sorotan penting adalah poster film dan berbagai bahan pemasaran yang menampilkan semangat seni di tiap zamannya, mulai dari poster Badai Pasti Berlalu yang dilukis dan dibawa keliling, hingga Janji Joni, Brownies, Dilan 1990, Laskar Pelangi, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, Yuni, serta KKN di Desa Penari.
Dua poster terakhir bahkan ditempel berdekatan, seolah sebuah pernyataan bahwa film estetika dan komersil sama pentingnya. Garin berhasil merangkum suasana dan menghormati seluruh karya sebagai bagian perjalanan perfilman Indonesia. Dia menghadirkan setiap era dengan penuh penghargaan, tanpa membeda-bedakan, sehingga penonton merasakan sejarah perfilman secara utuh dan menyeluruh.
Dalam hal akting, penampilan Nicholas Saputra layak mendapat sorotan khusus. Dalam film ini, ia memerankan empat karakter sekaligus: Layar, buyut Layar, kakek Layar, dan ayah Layar, dengan setiap karakter menghadirkan dimensi berbeda yang menarik untuk ditelusuri.
Lebih dari sekadar kemampuan akting, keputusan menampilkan satu aktor untuk seluruh leluhur menghadirkan perspektif yang menarik. Hal ini seakan menegaskan bahwa apa yang membentuk kita saat ini merupakan kelanjutan atau estafet dari tindakan dan kerja-kerja para pendahulu kita.
Penampilan yang memikat juga ditunjukkan oleh Amanda Rawles, Widi Mulia, Ariel Tatum, Monita Tahalea, Happy Salma, Joanna Alexandra, Dira Sugandi, Cindy Nirmala, dan Gisella Anastasia. Mereka berhasil menghidupkan karakter-karakter perempuan yang mewakili berbagai generasi, menghadirkan kekayaan emosi dan keberagaman dalam film.
Namun, salah satu kritik terhadap film ini terletak pada pengembangan emosi dan karakter para tokohnya. Film tampak lebih menekankan penyajian informasi sejarah melalui tokoh-tokohnya, tanpa eksplorasi emosional yang mendalam. Meski ada benang merah berupa wujud cinta di setiap era, hal tersebut nyatanya kurang mampu menjadi jangkar emosional yang kuat bagi penonton.
Kendati demikian, Garin sukses menyoroti bahwa pencapaian perfilman dan budaya pop Indonesia saat ini bukanlah hasil instan, melainkan akumulasi dari perjalanan panjang yang dipenuhi dinamika berbeda di setiap zamannya.
Film dan budaya pop terbukti mampu bertahan, saling dipengaruhi, dan memengaruhi zaman, sehingga setiap era menghadirkan kebangkitan tersendiri.
Namun, dari perjalanan sejarah perfilman, kegelisahan Garin terlihat jelas karena absennya keberlanjutan. Setiap masa-masa kebangkitan seolah dibiarkan berlalu begitu saja.
Kebangkitan yang hanya disambut dengan sukacita tanpa adanya sistem atau kesinambungan berisiko membuat perfilman Indonesia mengulang siklus yang sama seperti leluhur dan pendahulu sebelumnya.
Film ini seolah menjadi pengingat bahwa tanpa strategi dan kesinambungan, momentum yang ada saat ini bisa cepat memudar, meninggalkan potensi yang belum sepenuhnya terwujud.
Baca juga: Produser Faizal Lubis: Film Siapa Dia Dibuat Sebagai Catatan Kaki Sejarah Budaya Pop
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Film Siapa Dia terasa seperti sebuah surat cinta dari Garin untuk perfilman Indonesia. Namun, tak hanya berisi kata-kata puitis, surat ini juga menunjukkan kegelisahan-kegelisahan sineas asal Yogyakarta tersebut pada situasi yang terjadi sekarang.
Baca juga: Aktor Nicholas Saputra Hidupkan Empat Karakter Sekaligus di Film Siapa Dia
Di tengah gilang gemilangnya kebangkitan industri perfilman Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, Garin layaknya seorang bapak mencoba menjadi pengingat.
Sebab, 'kebangkitan' perfilman Indonesia bukan hanya terjadi belakangan ini saja. Sepanjang sejarah, film Indonesia telah beberapa kali disebut sedang mengalami masa kebangkitan, kemudian meredup, muncul lagi era kebangkitan berikutnya, lalu lenyap lagi, seolah seperti siklus yang tiada henti.

Still photo film Siapa Dia (Sumber gambar: IMDb)
Di era 'kebangkitan' baru ini, lewat Siapa Dia, Garin mencoba menengok ke belakang. Membaca sejarah, membaca tanda, agar yang sudah bangkit lalu tak begitu saja redup dan perfilman Indonesia tak kembali terjebak dalam fenomena Sisifus.
Film Siapa Dia mengisahkan seorang sutradara bernama Layar (Nicholas Saputra). Karakternya menarik karena digambarkan sebagai sutradara muda yang sukses besar dengan film pertamanya, tetapi kemudian bingung menentukan arah untuk film keduanya.
Layar tampak menjadi simbol regenerasi sekaligus kegamangan, seolah terjebak oleh beban dan ekspektasi yang membayangi langkahnya. Dalam upaya mencari inspirasi, Layar pergi ke rumah buyutnya dan secara tak terduga menemukan sebuah koper berisi surat serta catatan harian lengkap dari leluhurnya, mulai dari ayah, kakek, hingga buyutnya.
Dari situ, kisah berkembang. Layar bertekad merangkai catatan-catatan tersebut menjadi sebuah film musikal. Namun, saat menulis naskah, dirinya sering merasakan perjalanan magis masuk ke dalam kehidupan penuh romansa sekaligus tragedi yang dialami buyut, kakek, dan ayahnya.

Still photo film Siapa Dia (Sumber gambar: IMDb)
Perjalanan menyusuri ruang dan waktu diawali dari kisah buyut Layar yang masih berada di periode zaman penjajahan. Meski berada di cengkeraman kolonialisme, budaya pop Indonesia rupanya sudah berkembang lewat kemunculan Komedi Stamboel. Ini adalah seni pertunjukan teater keliling yang populer di Hindia Belanda sejak akhir abad ke-19.
Komedi Stamboel menyerupai teater musikal karena menggabungkan drama, narasi, lagu, dan tarian di setiap pertunjukannya. Namun, uniknya, bentuk musikal ini tampaknya jarang mengalami perkembangan signifikan dibandingkan dengan film fiksi yang terus berevolusi.
Secara bertahap, alur film bergerak maju dan mundur, bergantian antara kisah Layar dan cerita leluhurnya. Cerita mencakup mulai dari film Indonesia pertama Loetoeng Kasaroeng, perkembangan bioskop, poster lukis, persewaan komik, hingga majalah.
Dalam film ini, setiap era dipenuhi dengan konflik yang mencerminkan dinamika zamannya, mulai dari tekanan kekuasaan yang membatasi kebebasan, sensor yang mengekang ekspresi, hingga insiden penembakan misterius yang sarat ketegangan.
Setiap peristiwa tidak hanya menjadi latar, tetapi juga memberi gambaran bagaimana masyarakat dan seniman menghadapi tantangan yang unik di masa itu.
Hubungan antar elemen ini membentuk narasi kreatif yang kompleks, memperlihatkan bagaimana kondisi sosial dan politik membentuk proses berkarya para seniman. Garin seolah ingin mengatakan bahwa penciptaan seni selalu lahir dari interaksi antara kebebasan, batasan, dan pergulatan personal, sehingga setiap karya menjadi cermin zaman sekaligus ekspresi para senimannya.

Still photo film Siapa Dia (Sumber gambar: IMDb)
Salah satu daya tarik utama film ini terletak pada cara kamera sering ditempatkan secara statis, hanya mengambil satu sudut untuk menyorot ekspresi para tokohnya. Garin tampak menyulap layar bioskop menjadi panggung musikal sungguhan, seolah bentuk penghormatan Komedi Stamboel yang telah babad alas untuk perkembangan budaya pop, tetapi kemudian seolah dilupakan.
Teknik ini terasa unik karena menghadirkan sensasi menonton pertunjukan teater di dalam film. Penonton seakan hanya memiliki satu perspektif dari depan panggung saja. Sejalan dengan itu, para aktor pun berupaya menguasai ruang panggung secara lahiriah.
Meski asyik di beberapa bagian, di sisi lain, gaya ini terkadang membuat adegan tampak kaku, terutama saat lagu dan tarian mulai begitu ekspresif, tetapi tak didukung pergerakan kamera yang dinamis.
Daya tarik lain film ini muncul dari tim artistik yang berhasil menghadirkan busana dan riasan nyentrik khas tiap zaman. Setiap kostum dan make-up tidak hanya memperkuat karakter, tetapi juga menambah warna dan keaslian era yang digambarkan.
World building film ini juga tersaji dengan cermat melalui set lokasi dan properti yang mendukung. Salah satu sorotan penting adalah poster film dan berbagai bahan pemasaran yang menampilkan semangat seni di tiap zamannya, mulai dari poster Badai Pasti Berlalu yang dilukis dan dibawa keliling, hingga Janji Joni, Brownies, Dilan 1990, Laskar Pelangi, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, Yuni, serta KKN di Desa Penari.
Dua poster terakhir bahkan ditempel berdekatan, seolah sebuah pernyataan bahwa film estetika dan komersil sama pentingnya. Garin berhasil merangkum suasana dan menghormati seluruh karya sebagai bagian perjalanan perfilman Indonesia. Dia menghadirkan setiap era dengan penuh penghargaan, tanpa membeda-bedakan, sehingga penonton merasakan sejarah perfilman secara utuh dan menyeluruh.
Dalam hal akting, penampilan Nicholas Saputra layak mendapat sorotan khusus. Dalam film ini, ia memerankan empat karakter sekaligus: Layar, buyut Layar, kakek Layar, dan ayah Layar, dengan setiap karakter menghadirkan dimensi berbeda yang menarik untuk ditelusuri.
Lebih dari sekadar kemampuan akting, keputusan menampilkan satu aktor untuk seluruh leluhur menghadirkan perspektif yang menarik. Hal ini seakan menegaskan bahwa apa yang membentuk kita saat ini merupakan kelanjutan atau estafet dari tindakan dan kerja-kerja para pendahulu kita.

Still photo film Siapa Dia (Sumber gambar: IMDb)
Penampilan yang memikat juga ditunjukkan oleh Amanda Rawles, Widi Mulia, Ariel Tatum, Monita Tahalea, Happy Salma, Joanna Alexandra, Dira Sugandi, Cindy Nirmala, dan Gisella Anastasia. Mereka berhasil menghidupkan karakter-karakter perempuan yang mewakili berbagai generasi, menghadirkan kekayaan emosi dan keberagaman dalam film.
Namun, salah satu kritik terhadap film ini terletak pada pengembangan emosi dan karakter para tokohnya. Film tampak lebih menekankan penyajian informasi sejarah melalui tokoh-tokohnya, tanpa eksplorasi emosional yang mendalam. Meski ada benang merah berupa wujud cinta di setiap era, hal tersebut nyatanya kurang mampu menjadi jangkar emosional yang kuat bagi penonton.
Kendati demikian, Garin sukses menyoroti bahwa pencapaian perfilman dan budaya pop Indonesia saat ini bukanlah hasil instan, melainkan akumulasi dari perjalanan panjang yang dipenuhi dinamika berbeda di setiap zamannya.
Film dan budaya pop terbukti mampu bertahan, saling dipengaruhi, dan memengaruhi zaman, sehingga setiap era menghadirkan kebangkitan tersendiri.
Namun, dari perjalanan sejarah perfilman, kegelisahan Garin terlihat jelas karena absennya keberlanjutan. Setiap masa-masa kebangkitan seolah dibiarkan berlalu begitu saja.
Kebangkitan yang hanya disambut dengan sukacita tanpa adanya sistem atau kesinambungan berisiko membuat perfilman Indonesia mengulang siklus yang sama seperti leluhur dan pendahulu sebelumnya.
Film ini seolah menjadi pengingat bahwa tanpa strategi dan kesinambungan, momentum yang ada saat ini bisa cepat memudar, meninggalkan potensi yang belum sepenuhnya terwujud.
Baca juga: Produser Faizal Lubis: Film Siapa Dia Dibuat Sebagai Catatan Kaki Sejarah Budaya Pop
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.