Tari Oleg Tamulilingan. (Sumber: GWK Cultural Park)

Oleg Tamulilingan, Simbol Slow Burn Romance dalam Tarian Klasik Bali

27 August 2025   |   19:30 WIB
Image
Luh Muni Wiraswari Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Apakah Genhype salah satu yang terobsesi dengan slow burn romance trope? Kisah cinta yang diceritakan dengan perkembangan koneksi antara dua karakter secara perlahan, membuat kita geregetan sendiri karena rasanya seperti naik roller coaster. Salah satu tarian klasik dari Bali juga menyimpan kisah semacam ini dalam lakonnya.

Tari yang dikenal dengan nama lengkap Oleg Tamulilingan telah populer di Bali sejak diciptakan oleh I Ketut Marya pada 1952 lalu. Sang maestro sebelumnya melahirkan tarian legendaris asal Bali lain, seperti Kecak. I Ketut Marya, atau juga biasa dikenal sebagai I Mario, memilih pasangan I Gusti Ayu Raka Rasmi dan I Sampih sebagai penari pertama untuk tarian ini.

Baca juga: Rangga Riantiarno Pertahankan Tradisi Lagu dan Tari di Pentas Teater Koma Mencari Semar

Oleg Tamulilingan ditarikan oleh seorang perempuan dan seorang laki-laki. Keduanya menampilkan gerakan-gerakan tari yang khas dengan lembut, tetapi juga lincah sehingga menciptakan nuansa romantis. Tarian ini diiringi oleh tabuh yang mengalunkan bunyi manis dan enerjik.

Oleg Tamulilingan sebenarnya menceritakan tentang dua pasang kumbang yang saling bercengkrama dan memadu kasih sembari menghisap sari bunga. Tarian dimulai dengan masuknya penari perempuan dengan manis, khas perempuan yang baru beranjak dewasa.

Sang perempuan menari beberapa menit di atas panggung sendirian sebelum penari laki-laki muncul dari balik panggung, berusaha menghampiri perempuan yang sedang duduk.

Penonton yang menghayati bisa terbawa suasana karena beberapa bagian dibuat dengan tensi yang lembut, gemulai, dan menenangkan. Namun kemudian, tensi bisa saja berganti dengan suasana yang enerjik, menggembirakan, khas api kasmaran ala anak muda. Hal ini semakin mengingatkan kita pada slow burn romance yang mengembangkan perasaan secara perlahan seiring waktu.

Menarikan tari Oleg Tamulilingan membutuhkan energi yang besar, serta kelenturan dan keluwesan tubuh yang baik. Tarian yang berlangsung selama kurang lebih 15 menit ini mengandung unsur gerakan yang cukup rumit. Meski perpindahan gerakannya cenderung halus, sang penari perempuan perlu menekuk lutut pendek dalam waktu yang cukup lama saat melakukan agem (sikap pokok).

Gerakan ikonik lainnya dari penari perempuan berada di akhir menit kelima, ketika sang penari melakukan gerakan nyeledet atau melirik bola mata ke samping kiri dan kanan, dengan cepat. Gerakan ini sulit untuk dilakukan karena membutuhkan latihan dan kontrol mata yang kuat.

Menurut Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, tari klasik yang berfungsi sebagai hiburan ini dinilai memiliki banyak puncak pencapaian gerakan yang tak dapat ditandingi oleh seniman masa kini.

Kostum yang dikenakan pun unik dan khas. Penari perempuan mengenakan gelungan atau mahkota dan bunga di kepala berwarna emas dengan hiasan srinata pada dahinya. Pakaian perempuan secara keseluruhan memadukan warna kuning dan hijau.

Sementara itu, penari laki-laki mengenakan ledeng sebagai penutup kepala. Pakaiannya pun mengandung lebih banyak warna, tetapi cenderung kemerahan. Properti yang dipakai, seperti kipas yang digunakan oleh penari laki-laki dan kancut pada pakaian penari perempuan menyatu dan saling melengkapi gerakan penari.

Hingga saat ini, Oleg Tamulilingan menjadi tarian legendaris yang masih populer dan perlu dilestarikan. Selain menceritakan sebuah kisah kasih, tarian ini juga merupakan simbol dari keseimbangan dalam kehidupan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Jennie BLACKPINK Jadi Solois K-Pop Pertama Raih 3 Sertifikasi Emas RIAA

BERIKUTNYA

Animasi Panji Tengkorak Tawarkan Gaya 2D dengan Teknik Matte Painting

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga