Indonesia Tak Lagi Peringkat 1 Destinasi Wisata Ramah Muslim, Begini Kata Pengamat Pariwisata
27 August 2025 |
10:41 WIB
Indonesia tercatat turun peringkat dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2025, dari posisi pertama menjadi kelima. Penurunan ini merupakan sinyal penting agar semua pihak lebih serius memperkuat layanan pariwisata ramah muslim, yang sejatinya berpotensi besar menarik kunjungan pelancong dan mendorong sektor pariwisata.
Data Global Muslim Travel Index (GMTI) 2025 yang rilis pada Juni mengungkapkan bahwa skor Indonesia sebagai negara destinasi ramah muslim mengalami stagnan. Skor Merah Putih dalam indeks tersebut masih sama jika dibandingkan dengan GMTI pada 2024, yakni 76.
Kondisi tersebut berbeda jika dibandingkan dengan negara lainnya, yakni Malaysia yang mempertahankan posisi di peringkat pertama. Negeri jiran ini seakan tidak tergoyahkan dan menunjukkan keseriusannya dengan peningkatan skor menjadi 79.
“Di sisi lain, penurunan peringkat Indonesia sebanyak empat tempat dalam GMTI 2025, meskipun skornya tetap sama, menunjukkan bahwa destinasi lain mengalami peningkatan lebih tinggi dibanding Indonesia,” demikian tertulis.
Baca juga: Hypereport: Potensi Indonesia Kembangkan Desa Wisata & Pariwisata Ramah Muslim
Pengamat pariwisata I Putu Anom menilai bahwa penurunan peringkat Indonesia dalam GMTI 2025 seharusnya tidak terjadi. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, layanan pariwisata ramah muslim bukan sesuatu yang sulit diterapkan.
“Kita ini negara mayoritas muslim. Sebenarnya paling gampang [Menerapkan layanan pariwisata ramah muslim],” ujarnya kepada Hypeabis.id pada Rabu (27/8/2025).
Putu menekankan bahwa layanan wisata ramah muslim bukanlah hal baru di Indonesia. Bahkan, di daerah dengan mayoritas non-muslim sekalipun, seperti Bali atau Manado, wisatawan muslim tetap dapat menemukan pelayanan yang memadai.
Di berbagai destinasi, seperti hotel, bandara, dan sebagainya, wisatawan muslim tidak akan kesulitan menemukan tempat untuk menjalankan ibadah salat. “Bahkan rumah sakit kecil saja sudah menyediakan mushola. Jadi ini sudah biasa,” tuturnya.
Tidak hanya itu, makanan halal juga banyak tersedia dan mudah didapatkan oleh wisatawan muslim. Menurutnya, pengusaha kuliner di berbagai destinasi wisata di Indonesia tentu tidak akan “bunuh diri” dengan mencampur makanan halal dengan yang tidak halal.
Meskipun begitu, ada detail yang mungkin sulit untuk dihindari terkait dengan layanan wisata ramah muslim ketika di hotel, seperti fasilitas kolam renang yang masih bercampur antara pria dan wanita.
Saat ini, lanjutnya, hal yang perlu menjadi perhatian adalah fokus pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah, tidak bisa tidak perlu meningkatkan promosi dan perhatiannya terhadap layanan yang ramah terhadap muslim.
Sementara dari sisi industri, sejatinya para pelaku usaha akan bergerak cepat memenuhi kebutuhan pasar. Hal ini dilakukan karena terkait dengan kinerja pendapatan mereka, sehingga penerapan layanan pariwisata ramah muslim juga pasti sudah dilakukan di banyak daerah.
Menurutnya, ketiadaan ajang tersebut berpengaruh terhadap penilaian Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata ramah muslim. IMTI adalah indeks pengukuran kesiapan provinsi yang berkorelasi langsung dengan standar Global Muslim Travel Index - acuan peringkat pariwisata ramah muslim global.
Dengan begitu, penyelenggaraan IMTI 2025 di 15 provinsi merupakan salah satu cara guna mengembalikan predikat Indonesia sebagai wisata ramah muslim nomor satu dunia. Provinsi itu adalah Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau.
Selain itu, IMTI juga diadakan di Sumatera Barat, Bengkulu, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan D.I. Yogyakarta.
Hariyanto berharap, Indonesia kembali meraih peringkat pertama sebagai destinasi wisata ramah muslim dalam GMTI 2026. “Kegiatan IMTI sendiri menjadi acuan GMTI yang otomatis akan menjadi faktor penentu penilaian pada peringkat Indonesia tahun 2026 nanti," ujarnya.
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pariwisata ramah muslim dunia, yang didukung dengan keindahan alam, keberagaman budaya, dan populasi muslim terbesar di dunia.
“Hal ini membuktikan bahwa kemajuan pariwisata ramah muslim di Indonesia menjadi salah satu pilihan dan strategi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan,” katanya. Dengan begitu, penyebaran informasi yang jelas terkait batas antara produk halal dan non halal perlu dilaksanakan untuk memberikan pilihan dan kenyamanan pengunjung.
Dia menekankan bahwa pariwisata yang ramah terhadap muslim bukan pariwisata dengan konsep eksklusif untuk wisatawan muslim saja. Namun, untuk meningkatkan pelayanan terhadap semua wisatawan, tanpa memandang latar belakang.
Konsep pariwisata ramah muslim, lanjut Hariyanto, adalah suatu layanan wisata yang mengedepankan kebersihan, kenyamanan, dan kemudahan yang dapat dinikmati oleh siapa saja.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Data Global Muslim Travel Index (GMTI) 2025 yang rilis pada Juni mengungkapkan bahwa skor Indonesia sebagai negara destinasi ramah muslim mengalami stagnan. Skor Merah Putih dalam indeks tersebut masih sama jika dibandingkan dengan GMTI pada 2024, yakni 76.
Kondisi tersebut berbeda jika dibandingkan dengan negara lainnya, yakni Malaysia yang mempertahankan posisi di peringkat pertama. Negeri jiran ini seakan tidak tergoyahkan dan menunjukkan keseriusannya dengan peningkatan skor menjadi 79.
“Di sisi lain, penurunan peringkat Indonesia sebanyak empat tempat dalam GMTI 2025, meskipun skornya tetap sama, menunjukkan bahwa destinasi lain mengalami peningkatan lebih tinggi dibanding Indonesia,” demikian tertulis.
Baca juga: Hypereport: Potensi Indonesia Kembangkan Desa Wisata & Pariwisata Ramah Muslim
Pengamat pariwisata I Putu Anom menilai bahwa penurunan peringkat Indonesia dalam GMTI 2025 seharusnya tidak terjadi. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, layanan pariwisata ramah muslim bukan sesuatu yang sulit diterapkan.
“Kita ini negara mayoritas muslim. Sebenarnya paling gampang [Menerapkan layanan pariwisata ramah muslim],” ujarnya kepada Hypeabis.id pada Rabu (27/8/2025).
Putu menekankan bahwa layanan wisata ramah muslim bukanlah hal baru di Indonesia. Bahkan, di daerah dengan mayoritas non-muslim sekalipun, seperti Bali atau Manado, wisatawan muslim tetap dapat menemukan pelayanan yang memadai.
Di berbagai destinasi, seperti hotel, bandara, dan sebagainya, wisatawan muslim tidak akan kesulitan menemukan tempat untuk menjalankan ibadah salat. “Bahkan rumah sakit kecil saja sudah menyediakan mushola. Jadi ini sudah biasa,” tuturnya.
Tidak hanya itu, makanan halal juga banyak tersedia dan mudah didapatkan oleh wisatawan muslim. Menurutnya, pengusaha kuliner di berbagai destinasi wisata di Indonesia tentu tidak akan “bunuh diri” dengan mencampur makanan halal dengan yang tidak halal.
Meskipun begitu, ada detail yang mungkin sulit untuk dihindari terkait dengan layanan wisata ramah muslim ketika di hotel, seperti fasilitas kolam renang yang masih bercampur antara pria dan wanita.
Saat ini, lanjutnya, hal yang perlu menjadi perhatian adalah fokus pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah, tidak bisa tidak perlu meningkatkan promosi dan perhatiannya terhadap layanan yang ramah terhadap muslim.
Sementara dari sisi industri, sejatinya para pelaku usaha akan bergerak cepat memenuhi kebutuhan pasar. Hal ini dilakukan karena terkait dengan kinerja pendapatan mereka, sehingga penerapan layanan pariwisata ramah muslim juga pasti sudah dilakukan di banyak daerah.
Indonesia Muslim Travel Index
Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar Hariyanto mengatakan bahwa salah satu penyebab penurunan peringkat dalam daftar Global Muslim Travel Index adalah absennya ajang Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2024.Menurutnya, ketiadaan ajang tersebut berpengaruh terhadap penilaian Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata ramah muslim. IMTI adalah indeks pengukuran kesiapan provinsi yang berkorelasi langsung dengan standar Global Muslim Travel Index - acuan peringkat pariwisata ramah muslim global.
Dengan begitu, penyelenggaraan IMTI 2025 di 15 provinsi merupakan salah satu cara guna mengembalikan predikat Indonesia sebagai wisata ramah muslim nomor satu dunia. Provinsi itu adalah Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau.
Selain itu, IMTI juga diadakan di Sumatera Barat, Bengkulu, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan D.I. Yogyakarta.
Hariyanto berharap, Indonesia kembali meraih peringkat pertama sebagai destinasi wisata ramah muslim dalam GMTI 2026. “Kegiatan IMTI sendiri menjadi acuan GMTI yang otomatis akan menjadi faktor penentu penilaian pada peringkat Indonesia tahun 2026 nanti," ujarnya.
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pariwisata ramah muslim dunia, yang didukung dengan keindahan alam, keberagaman budaya, dan populasi muslim terbesar di dunia.
“Hal ini membuktikan bahwa kemajuan pariwisata ramah muslim di Indonesia menjadi salah satu pilihan dan strategi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan,” katanya. Dengan begitu, penyebaran informasi yang jelas terkait batas antara produk halal dan non halal perlu dilaksanakan untuk memberikan pilihan dan kenyamanan pengunjung.
Dia menekankan bahwa pariwisata yang ramah terhadap muslim bukan pariwisata dengan konsep eksklusif untuk wisatawan muslim saja. Namun, untuk meningkatkan pelayanan terhadap semua wisatawan, tanpa memandang latar belakang.
Konsep pariwisata ramah muslim, lanjut Hariyanto, adalah suatu layanan wisata yang mengedepankan kebersihan, kenyamanan, dan kemudahan yang dapat dinikmati oleh siapa saja.
GMTI 2025 Rankings, Top 20 Destination
- Malaysia: 79
- Türkiye: 78
- Saudi Arabia: 78
- United Arab Emirates (UAE): 78
- Indonesia: 76
- Qatar: 76
- Oman: 74
- Kuwait: 74
- Jordan: 73
- Iran: 73
- Singapore: 71
- Egypt: 70
- Morocco: 70
- Bahrain: 70
- Maldives: 69
- Brunei: 69
- Uzbekistan: 67
- Pakistan: 66
- Tunisia: 65
- Azerbaijan: 64
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.