JAFF Future Project dan JAFF Content Market Kembali Hadir, Catat Batas Waktu Pendaftarannya
26 August 2025 |
16:57 WIB
JAFF Future Project dan JAFF Content Market kembali hadir pada gelaran JAFF Market pada 29 November-1 Desember 2025 di Yogyakarta. Dibuka untuk mendukung pengembangan proyek film Asia Pasifik dan sirkulasi konten Indonesia internasional, para sineas dan pembuat hak kekayaan intelektual orisinal sudah bisa mengirimkan karya mereka.
Pengiriman karya dapat dilakukan melalui aplikasi online pada situs www.jaff-market.com mulai 1 Agustus hingga 1 September 2025. Baik JAFF Future Project dan JAFF Content Market dinilai memainkan peran kunci untuk mendorong pertumbuhan industri film Asia. Keduanya tidak hanya menyoroti sisi kreatif, tetapi juga memperkuat jalur distribusi, kemitraan, dan inovasi lintas sektor.
Baca juga: JAFF Market 2025 Usung 6 Program untuk Kenalkan Potensi Film Indonesia
JAFF Market Director Linda Gozali, mengatakan JAFF Market merupakan platform strategis untuk membangun konektivitas jangka panjang antar pelaku industri. “Lewat JAFF Future Project dan JAFF Content Market, kami ingin memperkuat posisi Indonesia dan Asia sebagai sumber narasi, inovasi, dan peluang pasar. Bukan sekedar kontennya atau pasarnya, tapi juga strateginya,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).
Pada tahun ini, JAFF Future Project kembali menjalin kemitraan dengan Adelaide Film Festival (AFF) melalui inisiatif AFF Festival Bridges yang didukung pemerintah Australia untuk membuka akses internasional lebih luas bagi peserta terpilih melalui peluang kolaborasi dan pitching lintas festival.
Program inkubasi proyek film panjang ini membuka pendaftaran dari kawasan Asia Pasifik yang masih dalam tahap In-Development, Pre-Production, atau Work-in-Progress baik fiksi maupun dokumenter. Melalui sesi pitching dan industry networking, JAFF Future Project menjadi batu loncatan bagi sineas emerging untuk membawa proyeknya ke tahap realisasi.
Sementara itu, JAFF Content Market berfokus pada karya IP orisinal yang berpotensi untuk diadaptasi seperti buku, komik, games, lagu, hingga konten digital. JAFF Content Market mendorong pemilik IP orisinal dari Indonesia untuk memperluas jangkauan distribusi dan membuka peluang adaptasi lintas format baik untuk layar lebar, platform digital, hingga potensi franchise.
Head of Program JAFF Market Gita Fara, menyampaikan bahwa JAFF Market memastikan setiap proyek terpilih mendapatkan dukungan yang relevan untuk memperluas jangkauan dan dampaknya. JAFF Content Market dan JAFF Future Project katanya hadir sebagai akselerator strategis untuk industri perfilman, tidak hanya untuk mempercepat pengembangan karya-karya baru, tetapi juga sebagai platform untuk memperkenalkan bakat-bakat baru dari Indonesia dan Asia secara luas.
“Melalui inisiatif ini, kami berkomitmen membuka akses kolaborasi, jaringan, dan peluang pendanaan yang mampu mendorong pertumbuhan kreatif sekaligus memperkuat posisi perfilman Indonesia dan Asia di panggung dunia,” terangnya.
Tahun ini peserta terpilih dari JAFF Future Project dan JAFF Content Market akan mendapatkan akses eksklusif untuk sesi pitching di hadapan buyer, produser, dan decision-makers dari Asia dan global. Kemudian, sesi 1-on-1 dengan mitra potensial, eksposur melalui materi promosi dan publikasi, serta akses penuh ke seluruh rangkaian JAFF Market.
Adapun pada edisi pertamanya di 2024, JAFF Market mendukung sejumlah sineas, studio, produser, dan proyek Indonesia yang berpartisipasi di Cannes. Salah satunya adalah Pangku, film drama coming-of-age berlatar krisis ekonomi Indonesia tahun 1998, yang juga menjadi debut penyutradaraan aktor ternama Indonesia Reza Rahadian.
Film ini pertama kali diperkenalkan melalui JAFF Future Project 2024, memenangkan White Light Post-Production Award, dan diputar dalam program HAF Goes to Cannes di 2025 Marché du Film sebagai representasi kekuatan cerita sinema Indonesia.
Tak hanya Pangku, tiga proyek IP orisinal dari JAFF Content Market 2024 juga dibawa ke program Spotlight Asia - Asian IP Showcase: Showbox Masterclass & Pitching Session di Marché du Film. Hal ini menegaskan upaya JAFF Market mendorong kekayaan kisah-kisah dan budaya Indonesia ke panggung dunia.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Pengiriman karya dapat dilakukan melalui aplikasi online pada situs www.jaff-market.com mulai 1 Agustus hingga 1 September 2025. Baik JAFF Future Project dan JAFF Content Market dinilai memainkan peran kunci untuk mendorong pertumbuhan industri film Asia. Keduanya tidak hanya menyoroti sisi kreatif, tetapi juga memperkuat jalur distribusi, kemitraan, dan inovasi lintas sektor.
Baca juga: JAFF Market 2025 Usung 6 Program untuk Kenalkan Potensi Film Indonesia
JAFF Market Director Linda Gozali, mengatakan JAFF Market merupakan platform strategis untuk membangun konektivitas jangka panjang antar pelaku industri. “Lewat JAFF Future Project dan JAFF Content Market, kami ingin memperkuat posisi Indonesia dan Asia sebagai sumber narasi, inovasi, dan peluang pasar. Bukan sekedar kontennya atau pasarnya, tapi juga strateginya,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).
Pada tahun ini, JAFF Future Project kembali menjalin kemitraan dengan Adelaide Film Festival (AFF) melalui inisiatif AFF Festival Bridges yang didukung pemerintah Australia untuk membuka akses internasional lebih luas bagi peserta terpilih melalui peluang kolaborasi dan pitching lintas festival.
Program inkubasi proyek film panjang ini membuka pendaftaran dari kawasan Asia Pasifik yang masih dalam tahap In-Development, Pre-Production, atau Work-in-Progress baik fiksi maupun dokumenter. Melalui sesi pitching dan industry networking, JAFF Future Project menjadi batu loncatan bagi sineas emerging untuk membawa proyeknya ke tahap realisasi.
Sementara itu, JAFF Content Market berfokus pada karya IP orisinal yang berpotensi untuk diadaptasi seperti buku, komik, games, lagu, hingga konten digital. JAFF Content Market mendorong pemilik IP orisinal dari Indonesia untuk memperluas jangkauan distribusi dan membuka peluang adaptasi lintas format baik untuk layar lebar, platform digital, hingga potensi franchise.
Head of Program JAFF Market Gita Fara, menyampaikan bahwa JAFF Market memastikan setiap proyek terpilih mendapatkan dukungan yang relevan untuk memperluas jangkauan dan dampaknya. JAFF Content Market dan JAFF Future Project katanya hadir sebagai akselerator strategis untuk industri perfilman, tidak hanya untuk mempercepat pengembangan karya-karya baru, tetapi juga sebagai platform untuk memperkenalkan bakat-bakat baru dari Indonesia dan Asia secara luas.
“Melalui inisiatif ini, kami berkomitmen membuka akses kolaborasi, jaringan, dan peluang pendanaan yang mampu mendorong pertumbuhan kreatif sekaligus memperkuat posisi perfilman Indonesia dan Asia di panggung dunia,” terangnya.
Tahun ini peserta terpilih dari JAFF Future Project dan JAFF Content Market akan mendapatkan akses eksklusif untuk sesi pitching di hadapan buyer, produser, dan decision-makers dari Asia dan global. Kemudian, sesi 1-on-1 dengan mitra potensial, eksposur melalui materi promosi dan publikasi, serta akses penuh ke seluruh rangkaian JAFF Market.
Adapun pada edisi pertamanya di 2024, JAFF Market mendukung sejumlah sineas, studio, produser, dan proyek Indonesia yang berpartisipasi di Cannes. Salah satunya adalah Pangku, film drama coming-of-age berlatar krisis ekonomi Indonesia tahun 1998, yang juga menjadi debut penyutradaraan aktor ternama Indonesia Reza Rahadian.
Film ini pertama kali diperkenalkan melalui JAFF Future Project 2024, memenangkan White Light Post-Production Award, dan diputar dalam program HAF Goes to Cannes di 2025 Marché du Film sebagai representasi kekuatan cerita sinema Indonesia.
Tak hanya Pangku, tiga proyek IP orisinal dari JAFF Content Market 2024 juga dibawa ke program Spotlight Asia - Asian IP Showcase: Showbox Masterclass & Pitching Session di Marché du Film. Hal ini menegaskan upaya JAFF Market mendorong kekayaan kisah-kisah dan budaya Indonesia ke panggung dunia.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.