Bentara Budaya Memaknai Kemerdekaan Lewat Pameran Wajah Kita Dalam Rupa
21 August 2025 |
15:00 WIB
Delapan dekade setelah Republik Indonesia diproklamasikan, Bentara Budaya kembali mengetuk ingatan kolektif lewat pameran bertajuk Wajah Kita dalam Rupa. Pameran ini menjadi upaya menafsir ulang imajinasi tentang kebangsaan melalui karya seni. Kali ini, pameran digelar di Bentara Budaya Art Center Gallery, Menara Kompas, Jakarta.
Dibuka oleh cendekiawan Yudi Latif pada Selasa (19/8/25), pameran ini akan berlangsung hingga 18 September 2025. Total, pameran menghadirkan 36 karya koleksi Bentara Budaya dan 17 karya dari sembilan seniman undangan. Seperti tajuknya, pameran ini menampilkan ragam bentuk 'wajah' kekayaan budaya Indonesia, yang dikuratori oleh Efix Mulyadi dan Frans Sartono.
Baca juga: Sambut Pengakuan UNESCO, ANRI Gelar Pameran Arsip Surat-Surat Kartini
Koleksi Bentara Budaya yang dipamerkan antara lain karya Abbas Albasyah, Agus Djaja, Basuki Resobowo, Barara Lubis, But Muchtar, Hendra Gunawan, Nasirun, dan Rastika. Seniman undangan meliputi Afriani, Galuh Tajimalela, Sarnadi Adam, dan Tato Kastareja.
Kurator Frans Sartono menjelaskan bahwa kata "Wajah" merujuk pada beragam kekayaan budaya yang tumbuh di pelosok Nusantara. Serpihan-serpihan budaya itulah yang membentuk wajah Indonesia, lalu dilukis oleh seniman dari masa ke masa dengan beragam bahasa ungkap.
Karya-karya yang ditampilkan juga menunjukkan bahwa budaya tidak hanya dimiliki oleh kelompok tertentu. Beberapa koleksi mengangkat kebudayaan asli masyarakat dari beragam latar belakang, menghadirkan karya dengan nuansa tradisi yang kuat.
"Segenap warga negara merupakan pemilik negeri yang tersusun dari serpihan-serpihan budaya dengan berbagai jenis dan wujudnya," katanya.
Yudi Latif menambahkan bahwa keragaman kultural dan bahasa di Indonesia dapat menjadi pemantik lahirnya karya seni rupa, sastra, dan karya kreatif lainnya. Dia juga menekankan bahwa para seniman telah berperan dalam sejarah perjuangan bangsa sejak masa revolusi.
Pada masa itu, seniman turun ke jalan dengan caranya masing-masing. Mereka melukis mural di gerbong kereta atau membuat poster perjuangan, sementara penyair menulis karya patriotik dan lagu-lagu kebangsaan.
"Jadi seni, termasuk seni rupa, merupakan bagian dari perjalanan Indonesia dan perjuangan patriotisme bangsa," ujarnya.
Secara keseluruhan, pameran menampilkan karya-karya dari perupa lintas zaman yang merepresentasikan wajah Indonesia. Karya-karya ini menggambarkan negeri dari berbagai sisi, mulai dari pemandangan alam, kekayaan flora-fauna, hingga adat budaya yang beragam.
Kehidupan sehari-hari warga di berbagai daerah juga menjadi fokus seniman. Koentjaraningrat, misalnya, menggambarkan anak-anak suku Sasak di Lombok dalam karya Anak-anak Sasak (1990). Lukisan ini menampilkan anak-anak bermain dengan latar rumah adat Sasak, merekam pengalaman batin sang perupa.
Ada pula Afriani, yang menampilkan kehidupan pesisir komunitas nelayan dalam karya Kedatangan yang Dinanti dan Bahagia Itu Sederhana. Bermedium cat minyak di atas kanvas, karya-karyanya mengeksplorasi sisi humanisme dan kebahagiaan dari hal-hal sederhana.
"karya ini mengeksplorasi tentang negara maritim yang kerap terbaikan, saya memang ingin menyentuh sisi-sisi humanisme dari kalangan kar rumput," katanya.
Oegeng Heru Supono juga memperlihatkan keahliannya dalam melukis Upacara Ritual di Bali. Warna-warna yang dipakai seperticoklat tua, merah, biru, kuning, dan hijau, mengisi kanvas dengan garis dan komposisi yang kaya, menghadirkan suasana ritual yang hidup.
Kekayaan budaya juga tercermin dalam karya batik yang dieksplorasi sebagai media ekspresi. Bambang Oetoro menampilkan Kuda Lumping (1971), Bagong Kussudiardjo menampilkan Figur Wayang Menari (1971), dan Abbas Albasyah menghadirkan Tiga Rupa (1977).
Dibuka oleh cendekiawan Yudi Latif pada Selasa (19/8/25), pameran ini akan berlangsung hingga 18 September 2025. Total, pameran menghadirkan 36 karya koleksi Bentara Budaya dan 17 karya dari sembilan seniman undangan. Seperti tajuknya, pameran ini menampilkan ragam bentuk 'wajah' kekayaan budaya Indonesia, yang dikuratori oleh Efix Mulyadi dan Frans Sartono.
Baca juga: Sambut Pengakuan UNESCO, ANRI Gelar Pameran Arsip Surat-Surat Kartini
Koleksi Bentara Budaya yang dipamerkan antara lain karya Abbas Albasyah, Agus Djaja, Basuki Resobowo, Barara Lubis, But Muchtar, Hendra Gunawan, Nasirun, dan Rastika. Seniman undangan meliputi Afriani, Galuh Tajimalela, Sarnadi Adam, dan Tato Kastareja.
Kurator Frans Sartono menjelaskan bahwa kata "Wajah" merujuk pada beragam kekayaan budaya yang tumbuh di pelosok Nusantara. Serpihan-serpihan budaya itulah yang membentuk wajah Indonesia, lalu dilukis oleh seniman dari masa ke masa dengan beragam bahasa ungkap.
Karya-karya yang ditampilkan juga menunjukkan bahwa budaya tidak hanya dimiliki oleh kelompok tertentu. Beberapa koleksi mengangkat kebudayaan asli masyarakat dari beragam latar belakang, menghadirkan karya dengan nuansa tradisi yang kuat.
"Segenap warga negara merupakan pemilik negeri yang tersusun dari serpihan-serpihan budaya dengan berbagai jenis dan wujudnya," katanya.

Pengunjung menikmati sejumlah karya dalam pameran Wajah Kita dalam Rupa di Bentara Budaya Art Center Gallery, Menara Kompas, Jakarta (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Yudi Latif menambahkan bahwa keragaman kultural dan bahasa di Indonesia dapat menjadi pemantik lahirnya karya seni rupa, sastra, dan karya kreatif lainnya. Dia juga menekankan bahwa para seniman telah berperan dalam sejarah perjuangan bangsa sejak masa revolusi.
Pada masa itu, seniman turun ke jalan dengan caranya masing-masing. Mereka melukis mural di gerbong kereta atau membuat poster perjuangan, sementara penyair menulis karya patriotik dan lagu-lagu kebangsaan.
"Jadi seni, termasuk seni rupa, merupakan bagian dari perjalanan Indonesia dan perjuangan patriotisme bangsa," ujarnya.
Tema Keseharian hingga Tradisi
Secara keseluruhan, pameran menampilkan karya-karya dari perupa lintas zaman yang merepresentasikan wajah Indonesia. Karya-karya ini menggambarkan negeri dari berbagai sisi, mulai dari pemandangan alam, kekayaan flora-fauna, hingga adat budaya yang beragam.Kehidupan sehari-hari warga di berbagai daerah juga menjadi fokus seniman. Koentjaraningrat, misalnya, menggambarkan anak-anak suku Sasak di Lombok dalam karya Anak-anak Sasak (1990). Lukisan ini menampilkan anak-anak bermain dengan latar rumah adat Sasak, merekam pengalaman batin sang perupa.
Ada pula Afriani, yang menampilkan kehidupan pesisir komunitas nelayan dalam karya Kedatangan yang Dinanti dan Bahagia Itu Sederhana. Bermedium cat minyak di atas kanvas, karya-karyanya mengeksplorasi sisi humanisme dan kebahagiaan dari hal-hal sederhana.
"karya ini mengeksplorasi tentang negara maritim yang kerap terbaikan, saya memang ingin menyentuh sisi-sisi humanisme dari kalangan kar rumput," katanya.

Karya Afriani berjudul Kedatangan yang Dinanti dalam pameran Wajah Kita dalam Rupa di Bentara Budaya Art Center Gallery, Menara Kompas, Jakarta (Sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Oegeng Heru Supono juga memperlihatkan keahliannya dalam melukis Upacara Ritual di Bali. Warna-warna yang dipakai seperticoklat tua, merah, biru, kuning, dan hijau, mengisi kanvas dengan garis dan komposisi yang kaya, menghadirkan suasana ritual yang hidup.
Kekayaan budaya juga tercermin dalam karya batik yang dieksplorasi sebagai media ekspresi. Bambang Oetoro menampilkan Kuda Lumping (1971), Bagong Kussudiardjo menampilkan Figur Wayang Menari (1971), dan Abbas Albasyah menghadirkan Tiga Rupa (1977).
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.