Ilustrasi Warga melintas di dekat rumah yang rusak pascagempa bumi di Desa Cibeureum, Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/9/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Rachman)

Mengenal Sesar Naik Busur Belakang yang Membuat Gempa di Bekasi

21 August 2025   |   07:21 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Gempa bermagnitudo 4,7 mengguncang wilayah Karawang dan Bekasi pada Rabu malam (20/8/2025) pukul 19.54 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di koordinat 6.52 LS dan 107.25 BT, sekitar 19 kilometer tenggara Kabupaten Bekasi di kedalaman 10 kilometer.

Gempa yang mengguncang tak hanya dirasakan oleh warga Bekasi, tetapi sejumlah wilayah di sekitarnya. Di wilayah Bekasi sendiri, getarannya tercatat pada skala intensitas III–IV MMI. Artinya, guncangan terasa jelas di dalam rumah, menyerupai getaran ketika truk besar melintas. Namun, sudah bisa membuat gerabah pecah, jendela serta pintu berderik, dan dinding ikut bergetar.

Baca juga: KRL dan Kereta Jarak Jauh Sempat Dihentikan Imbas Gempa Bekasi, Kini Kembali Normal

Sementara itu, di daerah Purwakarta, Cikarang, dan Depok, kekuatan gempa tercatat dengan intensitas III MMI. Getarannya terasa nyata di dalam rumah dan membuat penghuni merasakan seolah-olah bergetar akibat kendaraan berat yang lewat. Meski tidak menimbulkan kerusakan berarti, sensasi getarannya cukup membuat warga terkejut.

Di wilayah lain seperti Bandung, Jakarta, Tangerang Selatan, dan Bekasi Timur, gempa terasa dengan skala II–III MMI. Getarannya dirasakan sebagian orang, terutama di dalam rumah, dan benda-benda ringan yang digantung tampak bergoyang. 

Adapun di Tangerang, Pandeglang, Cianjur, Pelabuhanratu, dan Lebak, guncangan terukur pada skala II MMI yang membuatnya hanya dirasakan sebagian orang. Hingga kini, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan akibat gempa tersebut. Setelah gempa utama, BMKG mendeteksi adanya satu gempa susulan meski masih dengan magnitudo lebih kecil, yakni 2,1.

Menurut BMKG, gempa ini termasuk kategori gempa dangkal sehingga tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Gempa dangkal biasanya terjadi karena pergerakan kerak bumi di kedalaman rendah. Kondisi ini membuat getarannya lebih mudah dirasakan oleh masyarakat di permukaan meskipun kekuatannya tidak terlalu besar.

Dari analisa BMKG, penyebab gempa tersebut telah diketahui berasal dari aktivitas sesar aktif yang dikenal dengan nama Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat atau West Java Back Arc Thrust.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal yang dipicu oleh sumber gempa sesar naik busur belakang Jawa Barat (West Java back arc thrust)," tulis BMKG dalam laman resminya.
 

Ilustrasi Warga melintas di dekat rumah yang rusak pascagempa bumi di Desa Cibeureum, Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/9/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Rachman)

Ilustrasi Warga melintas di dekat rumah yang rusak pascagempa bumi di Desa Cibeureum, Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/9/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Rachman)


Sesar Naik Busur Belakang Jawa Barat merupakan sistem patahan aktif yang berada di belakang busur vulkanik wilayah ini. Patahan ini sering menjadi sumber gempa di kawasan Jawa Barat dan sekitarnya.

Sistem sesar tersebut terdiri dari dua sesar utama, yaitu Sesar Baribis dan Sesar Kendeng. Keduanya membentang dari barat hingga timur Pulau Jawa, tepat di bagian utara busur vulkanik.

"Dulu dikenal dengan Sesar Baribis, tetapi ternyata Sesar Baribis itu salah satu sergmen dari West Java back-arc thrust," kata dari Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, di laman resmi X-nya.

Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pernah melakukan riset terhadap sesar ini. Dalam penelitiannya, sesar ini diketahui melintasi beberapa daerah di Jawa Barat. Wilayah yang dilewati antara lain Cirebon, Indramayu, Majalengka, Subang, Purwakarta, Karawang, dan Bekasi.

Selain itu, ada indikasi bahwa sesar ini juga melewati wilayah selatan Jakarta, tepatnya di perbatasan dengan Depok, serta merambah hingga ke daerah Bogor. Hal ini membuat wilayah Jabodetabek masuk dalam area rawan guncangan gempa.

BRIN juga mencatat West Java back arc thrust adalah sistem sesar yang kompleks dan besar. Oleh karena itu, masyarakat di daerah-daerah yang dilalui sesar perlu memahami risiko bencana gempa bumi.
 

SEBELUMNYA

Cek Klasemen Terbaru & Jadwal Tanding Timnas Putri Indonesia di Piala AFF U-16

BERIKUTNYA

Film Horor Perempuan Pembawa Sial Angkat Mitos Bahu Laweyan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: