Ilustrasi mobile malware (Securelist by Kaspersky)

Hati-hati, Serangan Mobile Malware di Asia Tenggara Meningkat

23 August 2021   |   11:36 WIB

Kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung membuat banyak orang bekerja secara jarak jauh dan virtual. Tren ini membuat populasi lebih aman secara fisik, tetapi membuka kerentanan terhadap berbagai risiko di dunia maya. Sebuah survei yang dilakukan oleh perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkapkan bahwa lebih dari dua per tiga responden menggunakan perangkat pribadi untuk bekerja dari rumah.

Selain itu, karyawan juga menggunakan perangkat kerja mereka untuk aktivitas pribadi seperti menonton video dan konten pendidikan, hingga bermain video gim. Kondisi ini tak ayal menimbulkan celah keamanan yang seringkali tidak disadari.

Dalam laporan terbarunya, Kaspersky telah mendeteksi dan memblokir setidaknya 382.578 serangan seluler terhadap pengguna di Asia Tenggara selama paruh pertama tahun ini. Angka tersebut meningkat 14 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Malware seluler (mobile malware) mengacu pada perangkat lunak berbahaya yang secara khusus ditargetkan untuk menginfeksi perangkat seluler. Ini termasuk perangkat seperti smartphone, tablet, dan perangkat pintar lainnya.

Sementara malware seluler belum cukup kuat untuk menyerang perangkat seperti komputer personal dalam hal volume dan kompleksitas, ahli keamanan melihat lebih banyak malware khusus seluler yang dirancang untuk menargetkan perangkat sehari-hari masyarakat.

Pada era yang serba digital seperti sekarang, mobile malware bisa menjadi ancaman besar karena penjahat siber tidak hanya bisa mencuri data pribadi individu tapi juga menargetkan perusahaan tempat mereka bekerja.

Sejak 2020, telemetri Kaspersky telah memantau dan memblokir tidak kurang dari seratus ribu serangan mobile malware di wilayah Asia Tenggara per kuartal. Berikut ini adalah data lengkapnya:
 
(Dok. Kaspersky)

 
Kaspersky mengungkap bahwa Indonesia mencatatkan jumlah tertinggi serangan ponsel yang digagalkan dari Januari 2020 hingga Juni 2021. Hal ini juga berarti ada lebih banyak serangan yang terjadi di Tanah Air ketimbang negara lainnya.

Laporan juga menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-3 dalam hal mobile malware yang terdeteksi pada kuartal pertama tahun ini. Rusia dan Ukraina menempati posisi pertama dan kedua secara global.

Adapun, tiga ancaman seluler paling umum yang terjadi di kawasan Asia Tenggara termasuk di Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Trojan: program berbahaya yang melakukan aktivitas tidak diizinkan oleh pengguna. Ini biasanya menghapus, memblokir, mengubah, atau menyalin data, hingga menggangu kinerja dan jaringan

2. Trojan-Downloader: malware yang mengunduh dan menginstal versi baru dari program berbahaya. Setelahnya, program akan masuk ke dalam sistem dan melakukan berbagai hal yang diperintahkan.

3. Trojan-Dropper: program yang dirancang untuk diam-diam menginstal program berbahaya ke komputer korban. Jenis program berbahaya ini biasanya menyimpan berbagai fail dan meluncurkannya tanpa pemberitahuan apa pun.


Editor: Avicenna
SEBELUMNYA

Sering Overthinking? Berikut 4 Cara Menenangkan Hati dan Pikiran

BERIKUTNYA

Segera Rilis Album, SEVENTEEN Akan Jalani Comeback Keduanya Tahun Ini

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: