Cybersickness: Mual, Pusing, hingga Sakit Kepala Akibat Dunia Digital
18 August 2025 |
14:30 WIB
Pernahkah Genhype merasa mual atau pusing setelah terlalu lama scroll media sosial? Atau merasakan dunia berputar meski hanya duduk diam bermain game seperti Roblox atau Minecraft? Jika iya, kemungkinan besar Genhype sedang mengalami cybersickness, kondisi yang kini makin sering muncul seiring gaya hidup digital.
Mengutip dari Healthline, cybersickness sebenarnya mirip dengan mabuk darat atau mabuk laut. Bedanya, jika mabuk perjalanan muncul karena tubuh benar-benar bergerak sementara mata melihat hal berbeda, cybersickness justru terjadi ketika tubuh tidak bergerak, tetapi mata menangkap sensasi gerakan dari layar. Kontradiksi sinyal ini membuat otak “bingung”, lalu memunculkan gejala fisik seperti mual, pusing, mata lelah, hingga sakit kepala.
Baca Juga: Praktik Judi Online Melalui Dompet Digital Makin Marak, Begini Cara Mencegahnya
Fenomena ini makin terasa seiring meningkatnya aktivitas dengan perangkat digital. Menonton drama berjam-jam di laptop, rapat daring dengan presentasi penuh animasi, bermain gim berbasis realitas virtual (VR), atau sekadar doomscrolling media sosial bisa memicu kondisi ini.
Sebuah penelitian di Australia pada 2018 bahkan membuktikan bahwa gejala akibat cybersickness nyaris sama dengan mabuk perjalanan. Para responden sama-sama mengalami mual hebat, baik ketika diputar di kursi berputar maupun saat memainkan simulasi rollercoaster di VR. Tak heran istilah “VR sickness” dan “cybersickness” sering digunakan secara bergantian.
Gejala yang muncul umumnya beragam. Rasa mual biasanya menjadi tanda paling awal. Kondisi ini bisa semakin parah bila perut dalam keadaan penuh, atau ketika ruangan pengap dan beraroma kuat. Pusing juga kerap muncul, membuat seseorang merasa seolah ruangan berputar dan sulit berkonsentrasi.
Selain itu, ada pula keluhan mata tegang karena terlalu lama menatap layar, pandangan buram, leher kaku, hingga sakit kepala. Beberapa orang bahkan merasa mengantuk berlebihan, wajah memerah, atau berkeringat dingin.
Secara medis, penyebab utamanya adalah “tabrakan sinyal” di tiga sistem penting tubuh, yakni sistem visual (apa yang dilihat mata), sistem vestibular (keseimbangan dari telinga bagian dalam), dan sistem proprioseptif (indra peraba tubuh). Misalnya, saat menonton video dengan banyak gerakan cepat, mata memberi sinyal adanya pergerakan, tetapi tubuh tetap diam. Otak yang menerima informasi bertentangan ini lalu kesulitan menyesuaikan, dan muncullah rasa tidak nyaman.
Meski begitu, cybersickness bukan kondisi tanpa solusi. Ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan, antara lain:
Meski terdengar sepele, cybersickness bisa mengganggu produktivitas hingga aktivitas sehari-hari bila diabaikan. Karena itu, penting untuk mengenali gejalanya sejak awal. Dunia digital memang sulit dilepaskan dari rutinitas modern, tetapi menjaga keseimbangan tubuh dan memberi waktu istirahat untuk indra kita sama pentingnya dengan terus terhubung secara daring.
Baca Juga: Riil, Ini Manfaat Detoks Media Sosial untuk Kesehatan Mental
Mengutip dari Healthline, cybersickness sebenarnya mirip dengan mabuk darat atau mabuk laut. Bedanya, jika mabuk perjalanan muncul karena tubuh benar-benar bergerak sementara mata melihat hal berbeda, cybersickness justru terjadi ketika tubuh tidak bergerak, tetapi mata menangkap sensasi gerakan dari layar. Kontradiksi sinyal ini membuat otak “bingung”, lalu memunculkan gejala fisik seperti mual, pusing, mata lelah, hingga sakit kepala.
Baca Juga: Praktik Judi Online Melalui Dompet Digital Makin Marak, Begini Cara Mencegahnya
Fenomena ini makin terasa seiring meningkatnya aktivitas dengan perangkat digital. Menonton drama berjam-jam di laptop, rapat daring dengan presentasi penuh animasi, bermain gim berbasis realitas virtual (VR), atau sekadar doomscrolling media sosial bisa memicu kondisi ini.
Sebuah penelitian di Australia pada 2018 bahkan membuktikan bahwa gejala akibat cybersickness nyaris sama dengan mabuk perjalanan. Para responden sama-sama mengalami mual hebat, baik ketika diputar di kursi berputar maupun saat memainkan simulasi rollercoaster di VR. Tak heran istilah “VR sickness” dan “cybersickness” sering digunakan secara bergantian.
Gejala yang muncul umumnya beragam. Rasa mual biasanya menjadi tanda paling awal. Kondisi ini bisa semakin parah bila perut dalam keadaan penuh, atau ketika ruangan pengap dan beraroma kuat. Pusing juga kerap muncul, membuat seseorang merasa seolah ruangan berputar dan sulit berkonsentrasi.
Selain itu, ada pula keluhan mata tegang karena terlalu lama menatap layar, pandangan buram, leher kaku, hingga sakit kepala. Beberapa orang bahkan merasa mengantuk berlebihan, wajah memerah, atau berkeringat dingin.
Secara medis, penyebab utamanya adalah “tabrakan sinyal” di tiga sistem penting tubuh, yakni sistem visual (apa yang dilihat mata), sistem vestibular (keseimbangan dari telinga bagian dalam), dan sistem proprioseptif (indra peraba tubuh). Misalnya, saat menonton video dengan banyak gerakan cepat, mata memberi sinyal adanya pergerakan, tetapi tubuh tetap diam. Otak yang menerima informasi bertentangan ini lalu kesulitan menyesuaikan, dan muncullah rasa tidak nyaman.
Meski begitu, cybersickness bukan kondisi tanpa solusi. Ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan, antara lain:
- Mengurangi durasi menatap layar
- Mengambil jeda untuk mengistirahatkan mata
- Memperlambat kecepatan scroll
- Alihkan pandangan ke benda yang stabil di sekitar sesekali agar mata kembali selaras dengan indra lainnya
- Membatasi penggunaan beberapa layar sekaligus
- Beralih ke buku cetak daripada e-book
- Mencatat dengan tangan ketimbang gawai
- Menjaga sirkulasi udara ruangan tetap segar dapat mencegah gejala semakin parah.
Meski terdengar sepele, cybersickness bisa mengganggu produktivitas hingga aktivitas sehari-hari bila diabaikan. Karena itu, penting untuk mengenali gejalanya sejak awal. Dunia digital memang sulit dilepaskan dari rutinitas modern, tetapi menjaga keseimbangan tubuh dan memberi waktu istirahat untuk indra kita sama pentingnya dengan terus terhubung secara daring.
Baca Juga: Riil, Ini Manfaat Detoks Media Sosial untuk Kesehatan Mental
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.