Dibesarkan dalam lingkungan keluarga musisi jazz membuat Barry Likumahuwa memiliki kedekatan yang erat terhadap genre tersebut. Anak dari legenda Benny Likumahuwa itu sudah sejak kecil dicekoki musik yang kelahirannya di Amerika Serikat ini identik dengan semangat perlawanan.
Namun, jazz bukan semata bentuk perlawanan. Bagi Barry, musik ini justru punya makna yang lebih personal. Jazz ialah medium ajaib yang mampu menuntunnya berdialog dengan diri sendiri, juga kepada sang ayah dengan berbagai legacy besar yang ditinggalkannya.
Meski di awal perjalanan kariernya Barry pernah merasa canggung membawa nama belakang Likumahuwa, perlahan ia mulai berdamai dan tampil bersama sang ayah di berbagai festival musik. Setelah kepergian sang legenda, Barry justru semakin aktif membawakan kembali karya-karya yang ditinggalkan ayahnya.
Ketika berbincang dengan Hypeabis.id di sebuah kedai kopi kawasan Jakarta Selatan, Barry mengenang betapa besar peran sang ayah dalam membentuk referensi musiknya sejak kecil. Barry menyebut, rumahnya waktu itu nyaris tak pernah sepi. Sebab, ayahnya, kerap kali menyalakan musik di radio.
"Musik di rumah saya itu 24 jam non-stop. Bunyi terus karena papa memang suka banget sama radio," ujar Barry
Musisi Barry Likumahuwa and The Rhythm Service tampil dalam acara BNI Java Jazz Festival 2024 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (24/5/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)
Menurut Barry, sang ayah adalah penggemar berat radio sejak muda. Di rumah, radio menjadi benda wajib yang tak pernah mati. Bahkan pada satu masa, ketika Barry masih duduk di bangku SD. ayahnya membeli radio satelit yang bisa menangkap siaran luar negeri, hanya untuk mendengar musik-musik yang diputar di stasiun jazz dari Amerika yang mengudara sepanjang hari.
"Segitu cintanya dia sama radio. Dulu waktu dia belajar musik di Ambon, semua referensinya ya dari radio," jelas Barry.
Disadari atau tidak, radio pulalah yang membentuk referensi musik anaknya. Barry mengakui bahwa ia pun tumbuh dengan cara yang hampir sama, yakni mendengarkan, menyerap, dan menjadikan suara dari radio sebagai pintu masuk ke dunia musik.
Referensi musik pertamanya bukan datang dari pelajaran formal, tapi dari apa yang mengalun di rumah setiap hari. Kebiasaan itu secara tidak langsung membentuk selera musik Barry sejak dini.
Barry tumbuh jadi remaja yang menyukai jazz, sesuatu yang mungkin masih asing bagi anak seusianya. Dia bercerita, kala itu anak-anak SMP pada generasinya sedang gandrung-gandrungnya dengan Green Day atau band punk lain.
"Jadi pas masuk SMP, saya tuh kayak aneh sendiri. Yang lain dengerin musik apa, saya malah senangnya jazz dari dulu," katanya.
Namun, karena jazz bukanlah genre yang umum didengarkan anak-anak seusianya, Barry pun mulai membuka diri pada musik yang lebih populer di kalangan teman-temannya saat itu. Dia mulai mendengarkan punk.
Seperti kebanyakan anak sekolah pada zamannya, dirinya dan teman-teman juga membentuk band ala-ala dan mencoba membawakan lagu-lagu yang sedang tren. Barry sudah mulai memegang bass saat itu.
Ketika membawakan lagu-lagu punk, bukannya memainkan nada statis khas genre tersebut, Barry justru mengalirkan bassline dengan gaya walking bass, teknik yang biasa digunakan dalam musik jazz. Momen itu menjadi titik balik. Barry mulai menyadari bahwa jazz bukan sekadar musik yang ia dengar dari radio masa kecil, tapi sesuatu yang telah membentuk cara mainnya secara naluriah.
Panggung Pertama
Musisi Barry Likumahuwa and The Rhythm Service tampil dalam acara BNI Java Jazz Festival 2024 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (24/5/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)
Barry bercerita setelah masa SMP, masa SMA juga dihabiskan dengan membentuk band hingga dirinya dewasa. Dari band-band amatir itu mereka tampil di banyak panggung pensi dan segala macamnya.
Namun, dia ingat, panggung komersil pertama bandnya ialah saat manggung di Friday Jazz Night di Pasar Seni Ancol sekitar 1996-1997. Kala itu, sang ayah bersama band-nya sedang tampil. Namun, biasanya, di tengah penampilan itu ada jeda 30 menit.
Di jeda itu, biasanya akan diisi oleh band lokal atau band baru. Waktu itu, Barry ditawari untuk tampil bersama band sekolahnya. Meski musik yang mereka mainkan bukan jazz, melainkan lagu-lagu Green Day, panitia tetap memperbolehkan mereka tampil untuk sekadar mengisi waktu.
"Honor yang diterima saat itu adalah Rp25 ribu per orang. Itu momen seru banget sih. Setelah itu, gue manggung beberapa kali lagi dan terkumpul Rp50.000. Hal pertama yang gue beli adalah kamera Fujifilm MDL5," kenangnya.
Di panggung pertama ini, Barry menyadari kalau tampil 15-30 menit itu rupanya butuh persiapan yang panjang. Awalnya dia mengira cukup latihan, lalu langsung main saja. Tapi begitu naik ke atas panggung, ternyata suasananya beda banget dari latihan.
Dia masih ingat waktu itu teman-temannya panik, sepupunya dan pemain gitarnya deg-degan sampai bilang gak sanggup main. Barry sendiri berusaha tetap tenang dan malah harus menenangkan teman-temannya.
Namun, dari hal ini dirinya justru belajar. Barry bahkan mulai bikin semacam “contekan pribadi” sebagai panduan sebelum tampil. Isinya hal-hal simpel tapi penting, seperti jangan makan dulu sebelum manggung karena bisa bikin mules, jangan minum air putih terlalu banyak biar gak bolak-balik ke toilet, cek peralatan, stamp bus, sampai siapin pakaian sebelum naik panggung.
"Dari situ gue terus ngeband dan makin fokus ke jazz. Salah satu turning point-nya buat gue sih sebenernya ketika mulai main sama Almarhum Papa, ya. Main sama Almarhum Papa tuh mengubah mindset banget, karena dia orangnya saklek, gitu ya. Dia tuh biarpun anak, mungkin justru karena anak, malah dia keras banget. Kayak, ya lo latihan dong. Tadi lo main bass-nya gak enak, gitu. Dia bener-bener memberi wejangan," tuturnya.
Barry mengatakan bahwa momen yang benar-benar mengubah hidupnya adalah ketika mulai tampil secara reguleran. Dia pertama kali bermain reguler di Pisa Café Karawaci, awalnya hanya sebagai pengganti pemain bass utama. Dia main di sana selama setahun penuh.
Pada 2003, band-nya pindah reguleran ke Cilandak Town Square. Di situlah titik balik kariernya menemukan jalan yang lebih luas. Karena di tempat itulah, dia bertemu dengan mendiang Glenn Fredly. Glenn menonton penampilannya pada Desember 2003 dan langsung tertarik.
Begitu Barry selesai main, manajer Glenn mendatanginya dan meminta kartu nama. Malam itu juga Barry langsung ditelepon. Esok harinya, hari Senin, dia latihan, dan seminggu kemudian langsung manggung bersama Glenn. Sejak saat itu, Barry resmi menjadi pemain bass Glenn Fredly.
Barry bercerita bahwa pada September 2007, ia memutuskan mengundurkan diri dari band Glenn Fredly untuk fokus mengerjakan album solonya. Album pertamanya yang berjudul Good Spell dirilis pada April 2008.
Namun sebelum itu, pada 2006, ia sempat terlibat dalam proyek album kompilasi Bass Heroes, yang membuat namanya mulai dikenal lebih luas. Popularitasnya pun terus naik, hingga ia diminta menjadi endorser untuk merek Bass Cort.
Setelah album Good Spell rilis, namanya semakin dikenal. Dari situ, Barry kemudian membentuk Barry Likumahuwa Project (BLP) pada 2011, meski sebenarnya kemucnulan band ini sudah sejak 2006.
Barry sudah tampil di banyak festival jazz terkenal, baik di Indonesia maupun luar negeri. Beberapa di antaranya adalah JakJazz Festival ke-8 dan ke-9, serta Java Jazz Festival ke-3, ke-4, dan ke-5.
Selain itu, Barry juga tampil di Soul for Indonesian Earth, Jazz at the Bimasena, dan Ambon Jazz Plus Festival. Di luar negeri, ia pernah manggung di Taichung International Jazz Festival di Taiwan, Bangkok Jazz Festival, serta Publika dan Iskandar Puteri Jazz Festival di Malaysia dan masih banyak lagi. Dia juga membentuk band Barry Likumahuwa & The Rhythm Service.
Tradisi Tribute
Musisi Barry Likumahuwa and The Rhythm Service tampil dalam acara BNI Java Jazz Festival 2024 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Jumat (24/5/2024). (Sumber gambar: JIBI/Bisnis/Himawan L Nugraha)
Bagi Barry, musik yang kita nikmati sekarang tidak datang dari ruang hampa. Lantunan nada maupun lirik di dalam musik sekarang merupakan satu proses kebudayaan yang berjalan terus menerus. Dirinya percaya musik yang diciptakan di masa lalu punya koneksi dengan musik yang diciptakan sekarang.
Alasan itu yang membuatnya dalam beberapa tahun terakhir kerap menyajikan konsep tribute di dalam panggung-panggungnya. Namun, menurutnya, konsep ini bukanlah hal yang baru. Sebab, dirinya sudah melakukannya dalam satu dekade terakhir.
Dua penampilan terakhir Barry di Java Jazz Festival dikemas dalam format tribute. Pada tahun 2023, ia membawakan pertunjukan bertajuk Salute to The Rollies, sebagai penghormatan untuk band legendaris Indonesia yang menggabungkan unsur rock, soul, dan jazz sejak era 1970-an. The Rollies bukan hanya berpengaruh dalam dunia musik, tapi juga punya kedekatan personal dengan Barry, karena ayahnya, Benny Likumahuwa, pernah menjadi bagian dari band tersebut.
Setahun berikutnya, di Java Jazz Festival 2024, Barry mempersembahkan Ambon Jazz Rock, album kompilasi yang dirilis pada tahun 1980-an yang menampilkan musik jazz dan pop Ambon yang dipengaruhi oleh musik jazz. Album dari Yopie Latul ini menjadi penting untuk terus dirayakan karena berhasil memadukan musik berbahasa daerah dengan genre jazz dan diterima oleh khalayak luas.
Namun, sebenarnya bukan dua tahun terakhir saja, Barry sebenarnya sudah lama mengangkat konsep tribute di atas panggung. Sebelum pandemi, dia pernah membawakan Tribute to Weather Report, band fusion ikonik dari Amerika, serta Tribute to Miles Davis, sang legenda jazz dunia. Konsep tribute ini menjadi cara Barry untuk memberi penghormatan pada tokoh-tokoh yang telah membentuk dan menginspirasi dunia musik yang ia jalani.
"Bagi gue, ini adalah bentuk penghargaan kepada para pendahulu, karena tanpa mereka, musik Indonesia tidak akan seperti sekarang," imbuhnya.
Barry menyadari banyak musisi lama yang sudah berhenti main musik, beralih ke bidang lain, atau bahkan sedang dalam kondisi sulit tanpa ada yang memperhatikan. Oleh karena itu, Barry merasa punya tanggung jawab untuk terus mengingat dan memberi penghormatan kepada mereka yang pernah menulis sejarah dalam musik Indonesia.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.