Ilustrasi pengguna internet. (Sumber gambar: Fauxels/Pexels)

Pengguna Internet di Indonesia Tembus 229 Juta, Ini Konten yang Paling Disukai

14 August 2025   |   22:00 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Jumlah pengguna internet di Indonesia terus meningkat. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet saat ini mencapai 229 juta jiwa pada 2025 atau sekitar 80,66 persen dari total jumlah penduduk di Tanah Air. Angka tersebut meningkat 1,16 persen dari tahun 2024 yakni 225 juta jiwa.

Berdasarkan laporan Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet 2025 yang dirilis APJII, generasi milenial adalah kelompok yang paling banyak menjadi pengguna internet di Indonesia mencapai 89,12 persen. Posisinya diikuti oleh Gen Z sebesar 87,80 persen, Gen Alpha 79,73 persen, dan Gen X 79,48 persen. 
Mengakses media sosial menjadi alasan utama masyarakat Indonesia menggunakan internet sebagaimana diakui oleh 24,80 persen. Alasan lainnya termasuk mengakses berita/informasi terkini (15,04 persen), melakukan transaksi online (14,95 persen), mengakses konten hiburan (14,68 persen), mengakses layanan publik (8,61 persen), dan mengakses layanan keuangan (5,84 persen).
 
Adapun, durasi sebagian besar pengguna internet di Indonesia yakni 4-6 jam sebagaimana diakui oleh 35,75 persen responden. Sisanya, mengakses internet selama 1-3 jam (33,90 persen), 7-10 jam (13,47 persen), dan ada 7,66 persen responden yang mengaksesnya dengan durasi cukup lama yakni lebih dari 10 jam.
 
Smartphone atau handphone menjadi perangkat yang paling banyak digunakan untuk mengakses internet oleh masyarakat Indonesia sebagaimana dipilih oleh 83,39 persen responden, disusul dengan laptop (11,42 persen), dan smart TV (2,52 persen).
 

Konten Internet yang Paling Disukai

Hasil survei yang melibatkan 8.700 responden dari 38 provinsi di Indonesia itu juga melaporkan konten internet hiburan yang paling disukai oleh masyarakat Indonesia. Video pendek online berada di puncak daftar sebagaimana diakui oleh 30,16 persen responden.
 
Disusul oleh konten yang ada di media sosial (28,67 persen), video panjang atau TV berbasis internet (17,61 persen), dan musik online (14,34 persen). 
 
Penemuan itu sejalan dengan aplikasi yang paling sering digunakan oleh pengguna internet di Indonesia yakni TikTok (35,17 persen). Seperti diketahui, aplikasi asal China itu memang menyediakan konten-konten video pendek dengan beragam topik gaya hidup, hiburan hingga isu-isu sosial, politik dan ekonomi.
 
Aplikasi lainnya yang juga sering digunakan yakni YouTube (23,76 persen), Facebook (21,58 persen) dan Instagram (15,94 persen). Adapun, rata-rata durasi masyarakat mengakses media sosial yakni 1-2 jam sebagaimana diakui 34,17 persen responden dan 2-3 jam (33,03 persen).
 
Selain untuk media sosial, masyarakat Indonesia juga menggunakan internet untuk mengakses berita/informasi terkini, dimana olahraga menjadi topik yang paling diminati sebagaimana dipilih oleh 15,62 responden. Disusul topik politik, sosial, hukum & HAM (14,90 persen) dan infotainment/gosip/hiburan (13,64 persen).
 
Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif Angga, mengatakan peningkatan tren pengguna internet di Indonesia bukan tanpa tantangan. Survei menyebutkan, 24,89 persen responden mengalami pencurian data pribadi, sementara 22,12 persen melaporkan perangkat terkena virus, dan 16,09 persen mengalami kasus phishing atau hacking.
 
"Tidak hanya itu, lebih dari 41 persen pengguna internet tidak tahu atau tidak pernah mengganti password, karena takut lupa kata sandi dan menganggap akunnya sudah cukup aman," katanya.
 
Tak hanya keamanan data, kesenjangan akses internet di Indonesia masih menjadi persoalan tersendiri. Di Indonesia Timur, kawasan seperti Maluku dan Papua baru mencatatkan angka penetrasi akses internet sebesar 69,26 persen. Jumlah ini sangat jauh jika dibandingkan dengan Pulau Jawa dengan tingkat penetrasinya yang mencapai 84,69 persen. 
 
"Kemajuan digital nasional tidak boleh meninggalkan satu daerah pun. Hal ini karena kunci kemajuan digital serta pengembangan teknologi seperti AI nasional bertumpu pada persebaran akses internet yang merata di seluruh daerah, termasuk di daerah yang termasuk dalam  3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar)," ujarnya.
 

SEBELUMNYA

Begini Tanggapan WAMI terkait Protes Royalti Ari Lasso

BERIKUTNYA

Bebek Ungkep & Aneka Sambal Sanrah Food Tembus Pasar Ekspor

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga