Menyusuri Pesta Seni Kebudayaan di BRI Jazz Gunung Ijen 2025
09 August 2025 |
21:51 WIB
1
Like
Like
Like
BRI Jazz Gunung 2025 menutup rangkaian trilogi festivalnya dengan semarak di Ijen. Berlangsung di amfiteater Taman Gandrung Terakota, ajang ini hadir tidak hanya menawarkan panggung musik semata, tetapi juga sebagai perayaan seni dan kebudayaan.
Founder Jazz Gunung Indonesia Sigit Pramono mengatakan bahwa gelaran Jazz Gunung Ijen kali ini memang cukup spesial. Selain ada dua panggung, festival juga ingin memperluas cakupan pengalaman penonton yang hadir dengan memberikan sentuhan seni dan budaya di dalamnya.
Dengan demikian, penonton yang hadir tak sekadar menikmati musik jazz, tapi juga pesta seni dan kebudayaan. Tak tanggung-tanggung, di dalam area festival, pihaknya menggelar dua pameran sekaligus, yakni pameran seni visual ruang terbuka bertajuk Fora Fauna: Kebun Binatang Seni dan pameran batik bertajuk Beta Jemur.
"Kali ini, Jazz Gunung hadir tak hanya panggung musik, tapi juga acara kebudayaan," kata Sigit.
Baca juga: Dua Empat Hangatkan Sore di BRI Jazz Gunung Ijen 2025
Kurator Mikke Susanto menjelaskan pameran Fora Fauna: Kebun Binatang Seni di BRI Jazz Gunung Ijen 2025 adalah kelanjutan dari pameran yang digelar di Jazz Gunung Bromo pada Juli lalu. Meski masih mengangkat tema fauna, kali ini konsep dan penataannya dibuat berbeda.
Dalam pameran ini, para pematung diundang untuk menampilkan karya luar ruang yang menggambarkan bentuk, gerak, dan karakter berbagai jenis hewan. Beberapa seniman yang terlibat adalah Arlan Kamil, Arif Suharson, Albertho Wanma, Budi Hartono, Butet Kartaredjasa, Dunadi, Daruslan, Endro Tri Susanto, Heru Siswanto, Hedi Hariyanto, Komroden Haro, Nor Jayadi, Lutse Lambert DM, Dwita Anja Asmara, M. Sholahuddin (dkk)
Karya-karya mereka ada yang dibuat realistis, ada pula yang imajinatif, yang mencoba menyimbolkan kekayaan hayati yang hidup berdampingan dengan manusia.
Patung-patung karya dosen dan alumni ISI Yogyakarta ini dipasang di sejumlah titik di taman terbuka Taman Gandrung Terakota, Jiwa Jawa Resort Ijen. karya karya tersebut kemudian berpadu apik dengan sebuah lanskap alami di lereng Gunung Ijen ini.
"Secara makna, pameran ini tidak hanya menampilkan wujud hewan, tetapi juga mengajak pengunjung merenungkan ancaman terhadap ekosistem, hubungan manusia dengan satwa, serta pesan-pesan yang bisa menjadi cermin kehidupan atau kritik sosial," katanya.
Sebagai “kebun binatang seni”, kata Mikke, pameran ini ingin menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kelestarian hutan dan isinya. Menurutnya, setiap patung menjadi pengingat akan keberadaan hewan-hewan yang mungkin jarang terlihat, terabaikan, atau bahkan terancam punah pada era sekarang.
"Pameran ini menjadi ruang untuk berimajinasi sekaligus ruang harapan, bahwa seni bisa menjadi jembatan kepedulian dan membantu menjaga keseimbangan alam," imbuhnya.
Salah satu yang cukup menjadi sorotan ialah karya patung Gajah ciptaan seniman Komroden Haro. Visual gajah-nya ini tidak utuh, hanya bagian kepalanya yang tampak. Akan tetapi, pesan yang dibawanya terasa penuh.
Menurut kurator Mikke Susanto, gajah ini adalah lambang induk yang menaungi kehidupan lain. Bentuk parsialnya mengajak penonton membayangkan tubuh yang tak terlihat, seperti alam yang menyembunyikan rahasia di balik harmoni ekosistem.
Berjalan lebih dalam, warna merah menyala memecah dominasi hijau taman. Seekor laba-laba raksasa karya Lutse Lambert DM berdiri dengan perutnya yang menyerupai tabung gas. Bentuknya menggabungkan citra makhluk hidup dan benda buatan manusia.
Mikke melihat visual laba-laba ini sebagai simbol ancaman. Namun, dia membiarkan tafsir terbuka kepada para pengunjung, apakah yang dimaksud kita yang diserang oleh mereka, atau kitalah yang menyerang? Laba-laba ini tak tunggal, karyanya hadir di berbagai sudut lain di taman membentuk semacam “koloni” yang tersebar.
Di area lain, tiga patung celeng karya Butet Kartaredjasa yang menghadirkan nuansa satir juga jadi sorotan. Ada celeng berbulu loreng, celeng berburu beringin, dan celeng berburu cokelat. Nama-nama itu tampak sarat sindiran.
"Hari ini ketiga-tiganya sedang kompak. Inilah satir yang entah mengapa bisa saya imajinasikan sejak 2017," katanya.
Sementara itu, Pameran instalasi batik Beta Jemur menampilkan 50 kain batik karya maestro asal Pekalongan, Dudung Áliesyahbana, di arboretum bambu Taman Gandrung Terakota, Banyuwangi. Terinspirasi dari kebiasaan menjemur pakaian di halaman rumah desa, karya ini pun dikondisikan sedemikian rupa seperti sedang menjemur.
Melalui permainan instalasi, pameran ini mencoba membangkitkan ingatan kolektif masyarakat Indonesia akan batik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dudung, maestro batik ini, memang karya-karyanya dikenal tidak hanya memandang batik sebagai benda indah, tetapi juga sebagai wujud kebudayaan yang terus hidup dan berkembang.
"Dalam karya-karyanya, Dudung memang dikenal berani mendekonstruksi motif klasik seperti parang dan menciptakan bentuk baru yang dinamis, seperti dalam Motif Parang Indonesia Raya. Estetika batiknya juga melampaui media kain, menyentuh kayu dan kulit, memperluas makna batik dalam narasi seni kontemporer," ungkap Sigit Pramono, founder Jazz Gunung sekaligus kurator pameran ini.
BRI Jazz Gunung Ijen Series 3 menjadi penutup dari rangkaian trilogi Jazz Gunung tahun ini. Dua seri sebelumnya digelar lebih dulu di kawasan Bromo pada Juli lalu.
Tahun ini, Jazz Gunung Ijen memasuki usia ke-17 sejak pertama kali digelar. Perjalanan panjang tersebut telah menjadikannya salah satu festival musik jazz paling khas di Indonesia, memadukan keindahan alam, sentuhan budaya lokal, dan penampilan musisi dari dalam maupun luar negeri.
Baca juga: BRI Jazz Gunung Ijen Bidik Turis Asing di Banyuwangi
Founder Jazz Gunung Indonesia Sigit Pramono mengatakan bahwa gelaran Jazz Gunung Ijen kali ini memang cukup spesial. Selain ada dua panggung, festival juga ingin memperluas cakupan pengalaman penonton yang hadir dengan memberikan sentuhan seni dan budaya di dalamnya.
Dengan demikian, penonton yang hadir tak sekadar menikmati musik jazz, tapi juga pesta seni dan kebudayaan. Tak tanggung-tanggung, di dalam area festival, pihaknya menggelar dua pameran sekaligus, yakni pameran seni visual ruang terbuka bertajuk Fora Fauna: Kebun Binatang Seni dan pameran batik bertajuk Beta Jemur.
"Kali ini, Jazz Gunung hadir tak hanya panggung musik, tapi juga acara kebudayaan," kata Sigit.
Baca juga: Dua Empat Hangatkan Sore di BRI Jazz Gunung Ijen 2025

Gajah ciptaan seniman Komroden Haro di BRI Jazz Gunung Series 3: Ijen (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Dalam pameran ini, para pematung diundang untuk menampilkan karya luar ruang yang menggambarkan bentuk, gerak, dan karakter berbagai jenis hewan. Beberapa seniman yang terlibat adalah Arlan Kamil, Arif Suharson, Albertho Wanma, Budi Hartono, Butet Kartaredjasa, Dunadi, Daruslan, Endro Tri Susanto, Heru Siswanto, Hedi Hariyanto, Komroden Haro, Nor Jayadi, Lutse Lambert DM, Dwita Anja Asmara, M. Sholahuddin (dkk)
Karya-karya mereka ada yang dibuat realistis, ada pula yang imajinatif, yang mencoba menyimbolkan kekayaan hayati yang hidup berdampingan dengan manusia.
Patung-patung karya dosen dan alumni ISI Yogyakarta ini dipasang di sejumlah titik di taman terbuka Taman Gandrung Terakota, Jiwa Jawa Resort Ijen. karya karya tersebut kemudian berpadu apik dengan sebuah lanskap alami di lereng Gunung Ijen ini.
"Secara makna, pameran ini tidak hanya menampilkan wujud hewan, tetapi juga mengajak pengunjung merenungkan ancaman terhadap ekosistem, hubungan manusia dengan satwa, serta pesan-pesan yang bisa menjadi cermin kehidupan atau kritik sosial," katanya.

Kurator Mikke Susanto berpose dengan Badak ciptaan seniman Komroden Haro di Jazz Gunung Series 3: Ijen (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
"Pameran ini menjadi ruang untuk berimajinasi sekaligus ruang harapan, bahwa seni bisa menjadi jembatan kepedulian dan membantu menjaga keseimbangan alam," imbuhnya.
Salah satu yang cukup menjadi sorotan ialah karya patung Gajah ciptaan seniman Komroden Haro. Visual gajah-nya ini tidak utuh, hanya bagian kepalanya yang tampak. Akan tetapi, pesan yang dibawanya terasa penuh.
Menurut kurator Mikke Susanto, gajah ini adalah lambang induk yang menaungi kehidupan lain. Bentuk parsialnya mengajak penonton membayangkan tubuh yang tak terlihat, seperti alam yang menyembunyikan rahasia di balik harmoni ekosistem.
_crop.jpg)
Laba-laba raksasa karya Lutse Lambert DM di BRI Jazz Gunung Series 3: Ijen (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Mikke melihat visual laba-laba ini sebagai simbol ancaman. Namun, dia membiarkan tafsir terbuka kepada para pengunjung, apakah yang dimaksud kita yang diserang oleh mereka, atau kitalah yang menyerang? Laba-laba ini tak tunggal, karyanya hadir di berbagai sudut lain di taman membentuk semacam “koloni” yang tersebar.
Di area lain, tiga patung celeng karya Butet Kartaredjasa yang menghadirkan nuansa satir juga jadi sorotan. Ada celeng berbulu loreng, celeng berburu beringin, dan celeng berburu cokelat. Nama-nama itu tampak sarat sindiran.
"Hari ini ketiga-tiganya sedang kompak. Inilah satir yang entah mengapa bisa saya imajinasikan sejak 2017," katanya.

Celeng Berburu Beringin (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Melalui permainan instalasi, pameran ini mencoba membangkitkan ingatan kolektif masyarakat Indonesia akan batik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dudung, maestro batik ini, memang karya-karyanya dikenal tidak hanya memandang batik sebagai benda indah, tetapi juga sebagai wujud kebudayaan yang terus hidup dan berkembang.
"Dalam karya-karyanya, Dudung memang dikenal berani mendekonstruksi motif klasik seperti parang dan menciptakan bentuk baru yang dinamis, seperti dalam Motif Parang Indonesia Raya. Estetika batiknya juga melampaui media kain, menyentuh kayu dan kulit, memperluas makna batik dalam narasi seni kontemporer," ungkap Sigit Pramono, founder Jazz Gunung sekaligus kurator pameran ini.

Instalasi Batik Jemur (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Tahun ini, Jazz Gunung Ijen memasuki usia ke-17 sejak pertama kali digelar. Perjalanan panjang tersebut telah menjadikannya salah satu festival musik jazz paling khas di Indonesia, memadukan keindahan alam, sentuhan budaya lokal, dan penampilan musisi dari dalam maupun luar negeri.
Baca juga: BRI Jazz Gunung Ijen Bidik Turis Asing di Banyuwangi
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.