Jazz Patrol Kawitan Gemakan Musik Banyuwanyi di Jazz Gunung Ijen
09 August 2025 |
17:20 WIB
Jazz Patrol Kawitan, kelompok musik etnik asal Banyuwangi, membuka penampilan siang di BRI Jazz Gunung Series 3: Ijen, Sabtu 9 Agustus 2025. Dengan ciri bermusik yang khas, memadukan etnik dan modern, penampilan mereka langsung menarik perhatian penonton yang mulai memadati area Taman Gandrung Terakota, Jiwa Jawa Resort, Ijen.
Meski mendapat slot siang yang kerap luput dari sorotan, Jazz Patrol Kawitan justru tampil penuh percaya diri dan membuktikan kematangan musikal mereka. Kehadirannya memperluas makna jazz di panggung ini, memadukan akar budaya lokal dengan kekayaan warna improvisasi jazz.
Mereka memperlihatkan bahwa festival ini bukan sekadar ruang pertunjukan yang kaku, melainkan arena tempat ragam ekspresi musik dari latar berbeda bisa bersua dan dirayakan. Penampilan ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan yang menghidupkan panggung Jazz Gunung tanpa harus kehilangan akarnya.
Baca juga: Lebih Dekat dengan Lineup BRI Jazz Gunung Series 3: Ijen
Jazz Patrol mulai naik panggung pukul 13.30 WIB. Warna musik mereka memancarkan identitas Banyuwangi yang kuat. Patrol adalah seni musik yang ada di daerah Jawa Timur. Patrol sendiri dikenal sebagai seni memainkan alat musik yang terbuat dari bambu.
Ritme bambu yang repetitif menjadi dasar, sementara improvisasi seruling beberapa kali muncul, memberi kejutan unik dalam aksi panggungnya. Meski terkesan tak biasa, nyatanya perpaduan musik-musik patrol dengan instrumen lainnya begitu lebur.
Daya tarik mereka bukan hanya pada bunyi, tapi juga interaksi yang hidup. Pemain kentongan kerap melempar senyum dan gerakan tubuh ke arah drummer, seolah mengajak duel ritme.
Secara musikal, Jazz Patrol Kawitan pandai membangun dinamika. Mereka memulai dengan tempo sedang, lalu perlahan menaikkan intensitas hingga puncak lagu yang membuat sebagian penonton berdiri dan ikut bergoyang kecil.
Tatanan setlist mereka mengalir seperti satu cerita yang utuh. Dalam penampilan kali ini, mereka banyak membawakan lagu daerah Banyuwangi lama yang diaransemen ulang. "Masih dengan tembang lama Banyuwangi era 60-an. Tapi, kita ulik dengan nuansa berbeda," kata salah satu personel.
Penampilan ditutup dengan denting kentongan yang kembali mendominasi. Suara bambu yang khas itu seolah menjadi salam perpisahan, sebelum penonton beranjak ke panggung untuk menikmati banyak musisi lain di festival ini.
Penampilan Jazz Patrol Kawitan siang tadi itu membuktikan bahwa musik tradisi tak hanya hidup di malam ronda atau acara adat. Di tangan mereka, patrol Banyuwangi bisa menari bersama jazz di panggung terbuka.
BRI Jazz Gunung Ijen Series 3 menjadi penutup dari rangkaian trilogi Jazz Gunung tahun ini. Dua seri sebelumnya digelar lebih dulu di kawasan Bromo pada Juli lalu.
Tahun ini, Jazz Gunung Ijen memasuki usia ke-17 sejak pertama kali digelar. Perjalanan panjang tersebut telah menjadikannya salah satu festival musik jazz paling khas di Indonesia, memadukan keindahan alam, sentuhan budaya lokal, dan penampilan musisi dari dalam maupun luar negeri.
Baca juga: Jazz Gunung Indonesia Selalu Bayar Royalti, CEO: Bentuk Penghargaan untuk Musisi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Meski mendapat slot siang yang kerap luput dari sorotan, Jazz Patrol Kawitan justru tampil penuh percaya diri dan membuktikan kematangan musikal mereka. Kehadirannya memperluas makna jazz di panggung ini, memadukan akar budaya lokal dengan kekayaan warna improvisasi jazz.
Mereka memperlihatkan bahwa festival ini bukan sekadar ruang pertunjukan yang kaku, melainkan arena tempat ragam ekspresi musik dari latar berbeda bisa bersua dan dirayakan. Penampilan ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan yang menghidupkan panggung Jazz Gunung tanpa harus kehilangan akarnya.
Baca juga: Lebih Dekat dengan Lineup BRI Jazz Gunung Series 3: Ijen

Jazz Patrol Kawitan (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
Ritme bambu yang repetitif menjadi dasar, sementara improvisasi seruling beberapa kali muncul, memberi kejutan unik dalam aksi panggungnya. Meski terkesan tak biasa, nyatanya perpaduan musik-musik patrol dengan instrumen lainnya begitu lebur.
Daya tarik mereka bukan hanya pada bunyi, tapi juga interaksi yang hidup. Pemain kentongan kerap melempar senyum dan gerakan tubuh ke arah drummer, seolah mengajak duel ritme.
Secara musikal, Jazz Patrol Kawitan pandai membangun dinamika. Mereka memulai dengan tempo sedang, lalu perlahan menaikkan intensitas hingga puncak lagu yang membuat sebagian penonton berdiri dan ikut bergoyang kecil.
Tatanan setlist mereka mengalir seperti satu cerita yang utuh. Dalam penampilan kali ini, mereka banyak membawakan lagu daerah Banyuwangi lama yang diaransemen ulang. "Masih dengan tembang lama Banyuwangi era 60-an. Tapi, kita ulik dengan nuansa berbeda," kata salah satu personel.
Penampilan ditutup dengan denting kentongan yang kembali mendominasi. Suara bambu yang khas itu seolah menjadi salam perpisahan, sebelum penonton beranjak ke panggung untuk menikmati banyak musisi lain di festival ini.

Jazz Patrol Kawitan (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)
BRI Jazz Gunung Ijen Series 3 menjadi penutup dari rangkaian trilogi Jazz Gunung tahun ini. Dua seri sebelumnya digelar lebih dulu di kawasan Bromo pada Juli lalu.
Tahun ini, Jazz Gunung Ijen memasuki usia ke-17 sejak pertama kali digelar. Perjalanan panjang tersebut telah menjadikannya salah satu festival musik jazz paling khas di Indonesia, memadukan keindahan alam, sentuhan budaya lokal, dan penampilan musisi dari dalam maupun luar negeri.
Baca juga: Jazz Gunung Indonesia Selalu Bayar Royalti, CEO: Bentuk Penghargaan untuk Musisi
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.