Cerita di Balik Kolaborasi Musisi Lokal & Internasional di BRI Jazz Gunung Ijen
08 August 2025 |
20:33 WIB
Pekan ini, perhatian para pencinta musik jazz akan tertuju ke Banyuwangi. Sebab, pada Sabtu, 9 Agustus 2025 nanti, BRI Jazz Gunung Series 3: Ijen akan resmi digelar. Edisi ini sekaligus akan melengkapi trilogi dari dua gelaran sebelumnya, yakni BRI Jazz Gunung Series 1 dan BRI Jazz Gunung Series 2.
Gelaran ini akan berlangsung di Amfiteater Taman Gandrung Terakota (TGT). Venue ini terletak di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, tepat di kaki Gunung Ijen. Dikelilingi oleh hamparan sawah yang hijau dan subur, tempat ini menyuguhkan pemandangan luar biasa dengan latar gunung yang menjulang.
Suasana sejuk dan asri menjadikan venue ini menjanjikan pengalaman menikmati musik yang berbeda di alam terbuka. Suasana makin syahdu karena venue ini dikelilingi 1.000 patung penari gandrung berbahan terakota.
Baca juga: Daftar Lineup dan Jadwal Tampil Musisi di BRI Jazz Gunung Series 3: Ijen
Namun, tak hanya venue yang menarik, festival ini juga jadi sorotan karena sejumlah inisiasi kolaborasi musisi internasional dengan lokal. CEO Jazz Gunung Indonesia, Bagas Indyatmono, mengatakan kolaborasi musisi internasional dan lokal memang menjadi salah satu daya tarik di panggung Jazz Gunung.
"Ide kolaborasi selalu jadi hal menarik buat festival. Untuk siapa berkolaborasi dengan siapa, itu biasanya dinamis sih. Ada yang terjadi dari kami selaku penyelenggara festival, ada yang dari antar penyanyi langsung," ungkap Bagas kepada Hypeabis.id.
Saat lineup musisi sudah ada, pihaknya biasanya meminta masukan dari para penampil tentang siapa saja yang menarik untuk diajak berkolaborasi dari daftar tersebut. Tahun ini, kebetulan terdapat tiga musisi internasional yang turut bergabung di Jazz Gunung Ijen.
Setelah ditawarkan kesempatan, para musisi saling berdiskusi hingga akhirnya menemukan kecocokan. Jika demikian, diskusi mereka akan berjalan lebih dalam sampai tercipta satu konsep spesial yang akan dibawakan di panggung nantinya.
"Proses ini berlangsung alamiah aja sih, sehingga chemistry antarmusisi bisa terbentuk dengan baik," imbuhnya.
Hal menariknya, Bagas menyebut sering kali dampak dari kolaborasi ini tidak berhenti di atas panggung saja. Bagas mencontohkan Kevin Yosua Trio yang berkolaborasi dengan Fabien Mary dari Prancis. Mereka kini diketahui tengah menggarap komposisi dan aransemen baru yang kemungkinan akan dibawakan perdana di Jazz Gunung.
Menurutnya, momen-momen seperti ini memang biasanya menjadi pemicu lahirnya karya-karya segar. Dia berharap kolaborasi lintas negara ini membuat gelaran festival jadi lebih berwarna. Meski, dia menekankan, Jazz Gunung tidak akan kehilangan identitasnya.
"Jazz Gunung diharapkan menjadi ajang bagi penonton untuk menemukan hal baru, bukan sekadar menikmati sajian yang sudah familiar. Tahun ini, musisi dari Amerika, Polandia, dan Prancis hadir berdampingan dengan penampil lokal seperti Jazz Patrol Kawitan dan Suliyana," tegasnya.
Dia ingin festival ini juga menjadi ruang akulturasi budaya. Musisi internasional dapat mengenal kekayaan musik Indonesia, sementara musisi lokal bisa belajar bagaimana musisi jazz dunia menampilkan karya mereka. "Tahun ini, porsi jazz kami masih di angka 80 persen," tuturnya.
Sejumlah kolaborasi spesial siap memberi warna di Jazz Gunung Ijen. The Aartsen, band jazz keluarga yang terdiri dari Nita, Alexander, Brandon, dan Michael, akan tampil bersama drummer asal Polandia, Adam Zagorski. Kolaborasi lintas negara ini menjanjikan permainan yang memikat.
Kevin Yosua Trio, yang beranggotakan Kevin Yosua, Rio Manuel, dan Hansen Arief, juga akan tampil bersama Fabien Mary, trumpetist asal Prancis. Pertemuan dua gaya musik berbeda ini diperkirakan akan menghadirkan aransemen yang segar dan unik.
Suliyana, penyanyi tradisional Jawa dengan suara khas, akan berkolaborasi dengan Glam Orchestra. Pertunjukan mereka akan menjadi perpaduan menarik antara nuansa lokal yang kental dengan sentuhan orkestra modern.
Selain itu, ada penampilan dari Duo Dua Empat yang dikenal dengan harmoni musik hangat dan jazzy yang ringan tapi sarat makna. Energi panggung mereka selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.
Tak ketinggalan, Irsa Destiwi Trio akan memadukan jazz dengan musik klasik lewat permainan piano yang penuh emosi dan harmonisasi. Festival juga akan diramaikan oleh Jazz Patrol Kawitan dan Surabaya Pahlawan Jazz, memastikan penonton mendapatkan pengalaman musik yang beragam dan berkesan.
Baca juga: Jazz Gunung Bromo 2025 Padukan Musik Jaz & Seni Visual
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Gelaran ini akan berlangsung di Amfiteater Taman Gandrung Terakota (TGT). Venue ini terletak di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, tepat di kaki Gunung Ijen. Dikelilingi oleh hamparan sawah yang hijau dan subur, tempat ini menyuguhkan pemandangan luar biasa dengan latar gunung yang menjulang.
Suasana sejuk dan asri menjadikan venue ini menjanjikan pengalaman menikmati musik yang berbeda di alam terbuka. Suasana makin syahdu karena venue ini dikelilingi 1.000 patung penari gandrung berbahan terakota.
Baca juga: Daftar Lineup dan Jadwal Tampil Musisi di BRI Jazz Gunung Series 3: Ijen
Namun, tak hanya venue yang menarik, festival ini juga jadi sorotan karena sejumlah inisiasi kolaborasi musisi internasional dengan lokal. CEO Jazz Gunung Indonesia, Bagas Indyatmono, mengatakan kolaborasi musisi internasional dan lokal memang menjadi salah satu daya tarik di panggung Jazz Gunung.
"Ide kolaborasi selalu jadi hal menarik buat festival. Untuk siapa berkolaborasi dengan siapa, itu biasanya dinamis sih. Ada yang terjadi dari kami selaku penyelenggara festival, ada yang dari antar penyanyi langsung," ungkap Bagas kepada Hypeabis.id.
Saat lineup musisi sudah ada, pihaknya biasanya meminta masukan dari para penampil tentang siapa saja yang menarik untuk diajak berkolaborasi dari daftar tersebut. Tahun ini, kebetulan terdapat tiga musisi internasional yang turut bergabung di Jazz Gunung Ijen.
Setelah ditawarkan kesempatan, para musisi saling berdiskusi hingga akhirnya menemukan kecocokan. Jika demikian, diskusi mereka akan berjalan lebih dalam sampai tercipta satu konsep spesial yang akan dibawakan di panggung nantinya.
"Proses ini berlangsung alamiah aja sih, sehingga chemistry antarmusisi bisa terbentuk dengan baik," imbuhnya.
Hal menariknya, Bagas menyebut sering kali dampak dari kolaborasi ini tidak berhenti di atas panggung saja. Bagas mencontohkan Kevin Yosua Trio yang berkolaborasi dengan Fabien Mary dari Prancis. Mereka kini diketahui tengah menggarap komposisi dan aransemen baru yang kemungkinan akan dibawakan perdana di Jazz Gunung.
Menurutnya, momen-momen seperti ini memang biasanya menjadi pemicu lahirnya karya-karya segar. Dia berharap kolaborasi lintas negara ini membuat gelaran festival jadi lebih berwarna. Meski, dia menekankan, Jazz Gunung tidak akan kehilangan identitasnya.
"Jazz Gunung diharapkan menjadi ajang bagi penonton untuk menemukan hal baru, bukan sekadar menikmati sajian yang sudah familiar. Tahun ini, musisi dari Amerika, Polandia, dan Prancis hadir berdampingan dengan penampil lokal seperti Jazz Patrol Kawitan dan Suliyana," tegasnya.
Dia ingin festival ini juga menjadi ruang akulturasi budaya. Musisi internasional dapat mengenal kekayaan musik Indonesia, sementara musisi lokal bisa belajar bagaimana musisi jazz dunia menampilkan karya mereka. "Tahun ini, porsi jazz kami masih di angka 80 persen," tuturnya.
Sejumlah kolaborasi spesial siap memberi warna di Jazz Gunung Ijen. The Aartsen, band jazz keluarga yang terdiri dari Nita, Alexander, Brandon, dan Michael, akan tampil bersama drummer asal Polandia, Adam Zagorski. Kolaborasi lintas negara ini menjanjikan permainan yang memikat.
Kevin Yosua Trio, yang beranggotakan Kevin Yosua, Rio Manuel, dan Hansen Arief, juga akan tampil bersama Fabien Mary, trumpetist asal Prancis. Pertemuan dua gaya musik berbeda ini diperkirakan akan menghadirkan aransemen yang segar dan unik.
Suliyana, penyanyi tradisional Jawa dengan suara khas, akan berkolaborasi dengan Glam Orchestra. Pertunjukan mereka akan menjadi perpaduan menarik antara nuansa lokal yang kental dengan sentuhan orkestra modern.
Selain itu, ada penampilan dari Duo Dua Empat yang dikenal dengan harmoni musik hangat dan jazzy yang ringan tapi sarat makna. Energi panggung mereka selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.
Tak ketinggalan, Irsa Destiwi Trio akan memadukan jazz dengan musik klasik lewat permainan piano yang penuh emosi dan harmonisasi. Festival juga akan diramaikan oleh Jazz Patrol Kawitan dan Surabaya Pahlawan Jazz, memastikan penonton mendapatkan pengalaman musik yang beragam dan berkesan.
Baca juga: Jazz Gunung Bromo 2025 Padukan Musik Jaz & Seni Visual
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.