Latihan PSM 2025 di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta (Sumber gambar: dok Pagelaran Sabang Merauke)

Komposer Elwin Hendrijanto Ramu Nada Nusantara di Pagelaran Sabang Merauke

16 August 2025   |   06:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Setelah sukses menyuguhkan pertunjukan spektakuler pada tahun lalu, Pagelaran Sabang Merauke (PSM) bakal kembali digelar tahun ini. PSM yang kerap disebut-sebut sebagai The Indonesian Broadway ini akan menampilkan pertunjukan kolosal dengan tema Hikayat Nusantara.

Edisi keenam Pagelaran Sabang Merauke tahun ini akan berlangsung pada 23 dan 24 Agustus 2025 di Indonesia Arena Senayan. Setiap harinya akan digelar dua pertunjukan, sehingga total akan ada empat kali pentas.

Baca juga: Alasan Pagelaran Sabang Merauke 2025 Angkat Tema Hikayat Nusantara

Sebagai nyawa pertunjukan, musik dalam pertunjukan ini akan ditangani oleh sosok-sosok berpengalaman di panggung nasional dan internasional. Komposer internasional Elwin Hendrijanto, yang dikenal lewat karya-karyanya di film-film Hollywood, telah ditunjuk sebagai music director.

Dia akan berkolaborasi dengan Avip Priatna selaku konduktor yang memimpin Jakarta Concert Orchestra, Batavia Madrigal Singers, dan The Resonanz Children’s Choir, serta Dunung Basuki sebagai pemimpin tim musisi tradisional.
 

Latihan PSM 2025 di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta (Sumber gambar: dok Pagelaran Sabang Merauke)

Latihan PSM 2025 di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta (Sumber gambar: dok Pagelaran Sabang Merauke)


Elwin Hendrijanto menjelaskan bahwa proses penciptaan musik untuk Pagelaran Sabang Merauke 2025 dimulai dari tahap kurasi lagu. Pemilihan lagu dilakukan secara kolaboratif oleh executive producer, sutradara, music director, dan konduktor. Lagu-lagu tersebut dipilih secara matang agar dapat menyatu dengan alur cerita yang diangkat, sekaligus mewakili identitas budaya daerah asalnya.

Setiap lagu yang masuk dalam pagelaran tidak hanya dipertimbangkan dari segi tematik, tetapi juga dilihat potensinya untuk dikembangkan secara musikal dan koreografis. Dengan pendekatan ini, musik tidak hanya menjadi latar, tetapi ikut membangun emosi, dinamika, dan kesinambungan narasi di atas panggung.

Dalam edisi tahun ini, Elwin menyebut total ada 31 karya musik yang akan ditampilkan. Dari jumlah tersebut, 28 merupakan lagu-lagu nasional dan daerah, sedangkan sisanya adalah komposisi instrumental yang difungsikan sebagai penghubung antar babak dalam pertunjukan.

Menurutnya, salah satu aspek menarik dari proses kreatif ini ialah bagaimana dirinya menggunakan musik untuk menghidupkan karakter dalam cerita. Elwin mencontohkan karakter Yuyu Kangkang, yang musiknya disusun dari gabungan motif dangdut, sentuhan elektronik, dan paduan suara dramatik.

Pendekatan ini rupanya menghasilkan atmosfer yang gelap sekaligus dinamis. Dengan ritme yang kuat dan beat modern, musik untuk karakter Yuyu Kangkang menciptakan kesan antagonis yang menarik di panggung.

Perpaduan elemen tersebut memberikan kedalaman karakter sekaligus menjadikan musik sebagai alat pencerita yang efektif dalam keseluruhan pertunjukan. "Prosesnya menarik, kita banyak berdikusi untuk menentukan mana komposisi yang tepat untuk meramu ini semua," ungkapnya.

Selain itu, menurutnya, salah satu tantangan besar dalam proses kreatif Pagelaran Sabang Merauke 2025 adalah menyatukan musik tradisional dari berbagai daerah. Elwin menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Dunung Basuki sebagai pemimpin tim musik tradisional menjadi kunci untuk menjaga keaslian musikalitas lokal.

Sebab, menurutnya, setiap daerah memiliki pakem dan karakter musik yang khas, sehingga penyelarasan aransemen lintas wilayah harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak menghilangkan identitas masing-masing.

Bagi Elwin, di sinilah letak kekuatan kolaborasi sesungguhnya. Ketika keragaman latar budaya dan kekayaan tradisi dipadukan secara harmonis, maka lahirlah karya yang tak hanya indah secara estetis, tapi juga menyentuh secara emosional dan inspiratif.

"Namun, di titik inilah kolaborasi menemukan maknanya, ketika perbedaan latar belakang dan kekayaan tradisi dari berbagai wilayah dipertemukan, lahirlah sesuatu yang bukan hanya indah namun juga sangat menginspirasi," jelasnya.
 

Latihan PSM 2025 di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta (Sumber gambar: dok Pagelaran Sabang Merauke)

Latihan PSM 2025 di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta (Sumber gambar: dok Pagelaran Sabang Merauke)


Dia mencontohkan pengolahan musik Karungut dari Kalimantan yang dipadukan dengan nuansa orkestra tanpa menghilangkan akar tradisinya. Begitu pula dengan lagu Rambadia dan irama khas Sumatera lainnya yang diaransemen ulang agar tetap memancarkan warna lokal, tetapi bisa selaras dengan format pertunjukan modern.

Salah satu momen magis juga tercipta saat aransemen lagu Mahadewi dibentuk secara spontan, yang mana terinspirasi dari konsep sutradara dan gerakan tari dari Sandhidea, koreografer utama. Sementara itu, lagu Benggong dari NTT dan Bungong Jeumpa dari Aceh juga dihadirkan dengan nuansa yang tak kalah menarik.

Pagelaran Sabang Merauke 2025 mengusung tema Hikayat Nusantara sebagai benang merah pertunjukan. Tema ini dipilih untuk menyoroti kekayaan tradisi lisan dari berbagai penjuru Indonesia, sekaligus mengenalkannya kembali kepada generasi muda.

Pertunjukan yang diinisiasi oleh iForte dan BCA ini akan melibatkan lebih dari 1.500 seniman, termasuk 351 penari profesional, serta sederet musisi ternama seperti Yura Yunita, grup Padi Reborn, dan Mirabeth Sonia. Keterlibatan banyak seniman lintas disiplin menjadi kekuatan utama dari pagelaran ini.

Baca juga: Cek Daftar Harga & Cara Beli Tiket Presale Pagelaran Sabang Merauke 2025

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
 

SEBELUMNYA

Vokalis Fadly Merasa Kembali Jadi Anak Kecil saat Ulik Musik di Pagelaran Sabang Merauke

BERIKUTNYA

4 Cara Menuju Venue BRI Jazz Gunung Series 3 Ijen di Taman Gandrung Terakota

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga