Siap Dihelat, MIFF 2025 Angkat Isu Kemanusiaan Lewat Cahaya Sinema
04 August 2025 |
21:00 WIB
Genhype penikmat film, ada kabar gembira. Madani International Film Festival (MIFF) 2025 bakal kembali digelar dengan mengambil tajuk Misykat pada 8–12 Oktober 2025. Pada pelaksanaannya yang kedelapan kali ini, MIFF 2025 juga hadir dengan berbagai program baru.
Direktur Festival Ahmad Rifki mengatakan, sebagaimana tema-tema Madani Film Festival sebelumnya yang menyoroti berbagai isu di dunia Muslim, tahun ini pihaknya kembali mengangkat kondisi dunia yang tengah mengalami kegelapan kemanusiaan akibat konflik dan perang.
Baca juga: Film Madani Makin Sering Dieksplorasi dalam Bentuk yang Asyik oleh Sineas Lokal
Rifki menyebut akan ada sekitar 50 film, tiga masterclass dengan pembicara internasional, hingga panggung terbuka Misbar yang akan menampilkan berbagai pertunjukan. “Selain itu, MIFF juga akan menampilkan Program Retrospeksi 44 Tahun Perjalanan Berkarya Garin Nugroho,” katanya.
Merinci kegelapan yang mencetuskan tema Misykat, pengamat budaya pop dan kritikus film Hikmat Darmawan menyebut antara lain genosida di Gaza. Kekejaman yang terjadi di Tanah Palestina menunjukkan dengan jelas bahwa dunia saat ini sedang diliputi oleh kegelapan.
Hikmat juga menyinggung kegelapan yang—meski tak sama—juga terjadi di dalam negeri Indonesia, hingga memunculkan tagar #IndonesiaGelap. Bagaimanapun, baik terhadap fenomena global maupun domestik, Hikmat melihat bahwa kegelapan tersebut justru turut memunculkan harapan.
“Melalui hadirnya berbagai gerakan perlawanan lewat film, Madani ingin menjadi Misykat, atau ceruk cahaya yang mengumpulkan dan membagikan cahaya-cahaya gerakan itu hingga kegelapan sirna,” imbuhnya.
Sementara itu, sutradara Garin Nugroho kembali mengingatkan bahwa membuat film adalah ibarat melukis dengan cahaya, sebuah aktivitas yang sangat terkait dengan tema Misykat. Dia juga menekankan bahwa dalam Misykat ada unsur diseminasi atau penyebaran yang sangat penting di era industri media baru.
Mengaitkan dengan isu santer mengenai hilangnya kepakaran, Garin berpendapat bahwa sebenarnya bukan kepakaran yang hilang, melainkan kemampuan diseminasinya yang kini dilahap oleh bentuk-bentuk validasi baru, seperti keviralan di media sosial.
“Pada era isu hilangnya kepakaran, Madani menjadi ruang bersama untuk penyebaran, sekaligus memunculkan kepakaran, dan membangkitkan kemampuan imajinasi masyarakat luas,” katanya.
Menyongsong gelaran, MIFF 2025 juga memilih Dataran Sahel, sebuah kawasan pesisir di sepanjang Afrika Barat, sebagai focus country. Menurut Board Yayasan Madani, Putut Widjanarko, wilayah ini termasuk salah satu pusat peradaban besar Islam yang patut mendapat perhatian lebih.
Selain itu, Festival Film Madani yang tahun ini mendapat dukungan utama dari Dinas Kebudayaan DKI, juga berkolaborasi menyelenggarakan program Jakarta 500 menjelang ulang tahun Jakarta ke-500 tahun depan, serta program Jakarta Banget yang berupaya mengumpulkan seniman dan/atau karya yang berkaitan dengan kota ini.
Lain dari itu, juga akan digelar kegiatan bincang-bincang daring bertajuk Road to Madani International Film Festival, dengan menampilkan komedian Indonesia Sakdiyah Ma’ruf yang membacakan puisi karya sastrawan Danarto berjudul Allah: Menuju Pemerataan Ketuhanan.
Puisi ini dipilih karena merefleksikan kegelisahan spiritual sekaligus harapan akan cahaya di tengah gelapnya realita. Sebagai seniman lintas medium yang kerap mengolah tema spiritualitas dan sufisme, Danarto dianggap sebagai sosok yang relevan untuk merepresentasikan situasi tersebut.
Ketua Yayasan Madani, Ekky Imanjaya, mengatakan Festival Film Madani akan tetap tampil sebagai festival inklusif yang melibatkan berbagai pihak. Sebab, film sebagai salah satu medium seni juga dapat menjadi ceruk cahaya bagi berbagai gagasan dan pemikiran yang menggugah.
“Film juga harus mendisrupsi, membentuk [shaping], membawa semua stakeholder-nya ke titik-titik kemanusiaan yang lebih tinggi,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Direktur Festival Ahmad Rifki mengatakan, sebagaimana tema-tema Madani Film Festival sebelumnya yang menyoroti berbagai isu di dunia Muslim, tahun ini pihaknya kembali mengangkat kondisi dunia yang tengah mengalami kegelapan kemanusiaan akibat konflik dan perang.
Baca juga: Film Madani Makin Sering Dieksplorasi dalam Bentuk yang Asyik oleh Sineas Lokal
Rifki menyebut akan ada sekitar 50 film, tiga masterclass dengan pembicara internasional, hingga panggung terbuka Misbar yang akan menampilkan berbagai pertunjukan. “Selain itu, MIFF juga akan menampilkan Program Retrospeksi 44 Tahun Perjalanan Berkarya Garin Nugroho,” katanya.
Merinci kegelapan yang mencetuskan tema Misykat, pengamat budaya pop dan kritikus film Hikmat Darmawan menyebut antara lain genosida di Gaza. Kekejaman yang terjadi di Tanah Palestina menunjukkan dengan jelas bahwa dunia saat ini sedang diliputi oleh kegelapan.
Hikmat juga menyinggung kegelapan yang—meski tak sama—juga terjadi di dalam negeri Indonesia, hingga memunculkan tagar #IndonesiaGelap. Bagaimanapun, baik terhadap fenomena global maupun domestik, Hikmat melihat bahwa kegelapan tersebut justru turut memunculkan harapan.
“Melalui hadirnya berbagai gerakan perlawanan lewat film, Madani ingin menjadi Misykat, atau ceruk cahaya yang mengumpulkan dan membagikan cahaya-cahaya gerakan itu hingga kegelapan sirna,” imbuhnya.
Sementara itu, sutradara Garin Nugroho kembali mengingatkan bahwa membuat film adalah ibarat melukis dengan cahaya, sebuah aktivitas yang sangat terkait dengan tema Misykat. Dia juga menekankan bahwa dalam Misykat ada unsur diseminasi atau penyebaran yang sangat penting di era industri media baru.
Mengaitkan dengan isu santer mengenai hilangnya kepakaran, Garin berpendapat bahwa sebenarnya bukan kepakaran yang hilang, melainkan kemampuan diseminasinya yang kini dilahap oleh bentuk-bentuk validasi baru, seperti keviralan di media sosial.
“Pada era isu hilangnya kepakaran, Madani menjadi ruang bersama untuk penyebaran, sekaligus memunculkan kepakaran, dan membangkitkan kemampuan imajinasi masyarakat luas,” katanya.
Menyongsong gelaran, MIFF 2025 juga memilih Dataran Sahel, sebuah kawasan pesisir di sepanjang Afrika Barat, sebagai focus country. Menurut Board Yayasan Madani, Putut Widjanarko, wilayah ini termasuk salah satu pusat peradaban besar Islam yang patut mendapat perhatian lebih.
Selain itu, Festival Film Madani yang tahun ini mendapat dukungan utama dari Dinas Kebudayaan DKI, juga berkolaborasi menyelenggarakan program Jakarta 500 menjelang ulang tahun Jakarta ke-500 tahun depan, serta program Jakarta Banget yang berupaya mengumpulkan seniman dan/atau karya yang berkaitan dengan kota ini.
Lain dari itu, juga akan digelar kegiatan bincang-bincang daring bertajuk Road to Madani International Film Festival, dengan menampilkan komedian Indonesia Sakdiyah Ma’ruf yang membacakan puisi karya sastrawan Danarto berjudul Allah: Menuju Pemerataan Ketuhanan.
Puisi ini dipilih karena merefleksikan kegelisahan spiritual sekaligus harapan akan cahaya di tengah gelapnya realita. Sebagai seniman lintas medium yang kerap mengolah tema spiritualitas dan sufisme, Danarto dianggap sebagai sosok yang relevan untuk merepresentasikan situasi tersebut.
Ketua Yayasan Madani, Ekky Imanjaya, mengatakan Festival Film Madani akan tetap tampil sebagai festival inklusif yang melibatkan berbagai pihak. Sebab, film sebagai salah satu medium seni juga dapat menjadi ceruk cahaya bagi berbagai gagasan dan pemikiran yang menggugah.
“Film juga harus mendisrupsi, membentuk [shaping], membawa semua stakeholder-nya ke titik-titik kemanusiaan yang lebih tinggi,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.