Sutradara Benni Setiawan (Sumber gambar: Poplicist)

Ramuan Drama Sutradara Benni Setiawan di Film Adaptasi Panggil Aku Ayah

02 August 2025   |   13:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Sutradara Benni Setiawan menghadirkan sentuhan baru ketika menggarap film Panggil Aku Ayah, yang merupakan adaptasi dari film berjudul Pawn. Dalam versi Indonesia, Benni tak hanya menerjemahkan cerita, tapi juga menyesuaikannya dengan realitas sosial dan budaya lokal.

Pawn merupakan film populer produksi Korea Selatan yang dirilis pada 2020 lalu. Film ini mencatat kesuksesan besar di Korea Selatan dengan perolehan lebih dari 1,7 juta penonton dan pendapatan mencapai 13 juta dolar AS di box office.

Baca juga: Sutradara Joko Anwar Kembali Garap Genre Komedi Lewat Ghost in The Cell

Film ini menjadi satu dari hanya beberapa film Korea lain yang berhasil menjual 1 juta tiket kala pandemi. Pawn adalah tipikal film yang memiliki daya tarik utama pada kisah drama keluarga yang menyentuh hati. Film ini mencoba mengangkat tema tentang ikatan kekeluargaan yang terbentuk bukan dari hubungan darah.

“Di film ini, saya tetap mempertahankan apa yang menjadi kekuatan dari film aslinya. Namun, saya juga tidak lepas dari konteks budaya lokal, dengan menampilkan sesuatu yang khas Indonesia,” ujar Benni.

Benni mengatakan bahwa unsur lokal hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari latar tempat hingga karakter-karakter yang dekat dengan keseharian penonton Indonesia. Sentuhan ini ditujukan agar penonton merasa lebih terhubung secara emosional dengan cerita yang dihadirkan.

Benni juga memilih untuk menggunakan bahasa Sunda dalam beberapa dialog film, yang secara langsung mengindikasikan latar sosial cerita berada di wilayah Jawa Barat. Pilihan ini memperkuat kesan lokal dan memberikan warna tersendiri pada adaptasi tersebut.

“Melalui film ini, kami ingin mengangkat tentang elemen-elemen yang hadir di kehidupan sehari-hari. Harapannya cerita ini dapat diresapi oleh makin banyak kalangan,” tambah Benni.

Dengan pendekatan ini, Benni berharap Panggil Aku Ayah bukan hanya sekadar remake, melainkan interpretasi ulang yang membaurkan kehangatan cerita aslinya dengan konteks lokal.

Panggil Aku Ayah sendiri merupakan produksi bersama Visinema Studios dan CJ ENM. Film ini diproduseri oleh duo perempuan, yakni Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari, yang sebelummya sukses dengan film animasi Jumbo. Selain itu, Justin Kim dari CJ ENM juga turut memproduseri film ini.

Produser Anggia mengatakan film ini menjadi kelanjutan Visinema Studios untuk terus memberikan ruang yang dapat menyuarakan cerita yang relevan sekaligus refleksi tentang keluarga, kasih sayang, ketulusan cinta, dan makna keterhubungan manusia. 

Melalui film Panggil Aku Ayah, pihaknya ingin mengajak penonton merasakan hangatnya cinta tanpa syarat yang datang dari tempat yang tak terduga, tentang seseorang yang tidak sedarah, namun mampu mencintai dan dicintai dengan layak seperti keluarga dan buah hatinya sendiri.

"Kami percaya, film yang baik bukan hanya menghibur, tetapi juga menggugah hati dan membuka percakapan penting dengan diri kita sendiri, anak-anak kita, dan keluarga,” ujarnya.

Anggia juga mengatakan film ini digarap dengan mempertimbangkan banyak elemen pendukung. Selain memiliki premis cerita yang kuat, sisi emosional film ini juga turut ditopang melalui kehadiran lagu “Tegar” sebagai soundtrack utama. Lagu yang pernah dipopulerkan oleh Rossa ini dibawakan ulang oleh Sita Nursanti bersama Tissa Biani dengan aransemen baru yang sejalan dengan pesan film.

Lagu “Tegar”, katanya, menjadi lambang dari perjalanan emosional karakter utama di film ini, yakni Rossa, Intan, dan Dedi, dalam menghadapi dinamika kasih sayang, pengorbanan, dan keteguhan hati. Lagu ini menggambarkan hubungan antara ibu dan anak yang diuji oleh keadaan, serta ikatan tak terduga antara Intan dan Dedi yang perlahan tumbuh menjadi keluarga.
 

Film ini mengisahkan Intan (Myesha Lin; versi kecil dan Tissa Biani; versi dewasa), seorang gadis cilik yang dititipkan ibunya kepada dua penagih utang, Dedi (Ringgo Agus Rahman) dan Tatang (Boris Bokir). Awalnya, mereka hanya berniat membantu sementara dan menjadikan sang anak jaminan. Namun, keadaan berubah saat sang ibu menghilang dan tak kunjung kembali.

Baca juga: Cerita Sutradara Pritagita Visualisasikan Proses Bayi Tabung di Film Lyora: Penantian Buah Hati

Tanpa rencana, Dedi dan Tatang pun terjebak dalam peran sebagai pengasuh anak. Dua pria yang awalnya asing dengan dunia anak-anak itu perlahan menghadapi perubahan hidup yang tak mereka duga, hingga tumbuh ikatan emosional yang kuat dengan Intan.

Film persembahan terbaru dari Visinema Studios ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 7 Agustus 2025.

SEBELUMNYA

5 Rekomendasi Wisata Curug di Sukabumi yang Sejuk dan Asri

BERIKUTNYA

Hypeprofil Musisi Barry Likumahuwa: Dari Radio Ayah, Jazz Masuk ke Dalam Dada

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga