Duo Produser Pencetak Rekor Kembali Bersatu, Kolaborasi Garap Film Panggil Aku Ayah
28 July 2025 |
15:30 WIB
Duo produser Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari kembali berkolaborasi setelah kesuksesan film animasi Jumbo. Kali ini, mereka bekerja sama dalam produksi film Panggil Aku Ayah, sebuah adaptasi dari film Korea berjudul Pawn. Proyek ini melanjutkan kesuksesan keduanya setelah Jumbo ditonton lebih dari 10 juta penonton.
Kesuksesan Jumbo menjadi film produksi Indonesia terlaris pertama yang menjadi catatan penting karena dikerjakan oleh dua perempuan di tengah dominasi laki-laki di industri film. Kembalinya kolaborasi keduanya tidak terjadi secara kebetulan. Baik Anggia maupun Novia berasal dari Visinema Studios, sebuah rumah produksi yang selama ini fokus menggarap konten anak dan keluarga.
Baca juga: 13 Film Indonesia Tayang Agustus 2025 di Bioskop, Beragam Genre!
Rekam jejak mereka juga memperlihatkan konsistensi pada genre tersebut. Kolaborasi keduanya telah mulai dari Keluarga Cemara 2, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), hingga yang terbaru kemarin adalah Jumbo. “Kami berkolaborasi lagi karena saya dan Anggia memang berasal dari Visinema Studios. Fokus kami sejak awal memang pada konten keluarga,” ujar Novia.
Proses pengembangan Panggil Aku Ayah tidak instan. Ide adaptasi ini sudah dikerjakan sejak tahun lalu, sementara tahap produksi berlangsung sepanjang tahun ini. Dengan demikian, total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan film ini hampir 2 tahun.
Menariknya, periode produksi Panggil Aku Ayah berjalan berdekatan dengan penyelesaian Jumbo. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim, tetapi mereka tetap menjaga fokus pada masing-masing proyek.
“Produksi film ini sebenarnya dari pengembangan naskah sudah dimulai tahun lalu. Jadi total prosesnya hampir dua tahun, bersamaan juga dengan penyelesaian Jumbo,” jelasnya.
Novia mengatakan ketertarikan untuk mengadaptasi Pawn berawal dari kesan mendalam saat menonton film aslinya. Baginya, cerita tersebut memiliki nilai-nilai kekeluargaan yang universal. Meski film aslinya dari Korea, karya ini tetap dekat dengan penonton Indonesia.
Selain itu, latar belakang mereka yang memang fokus pada genre keluarga membuat cerita Pawn terasa selaras dengan visi kreatif tim. Adaptasi ini diharapkan tidak hanya mempertahankan pesan utama film aslinya, tetapi juga menghadirkan relevansi budaya lokal.
“Kami suka sekali dengan film aslinya. Nilai yang dibawa terasa sangat relevan dengan penonton Indonesia, apalagi kami memang fokus pada konten keluarga,” kata Novia.
Novia mengatakan untuk memastikan film ini terasa lebih dekat dengan penonton lokal, tim juga melakukan banyak penyesuaian. Mulai dari penggunaan bahasa, latar tempat, hingga elemen budaya diubah agar sesuai dengan konteks Indonesia. Salah satu keputusan kreatif yang diambil adalah menjadikan Jawa Barat sebagai lokasi cerita dan penggunaan bahasa Sunda.
Beberapa elemen khas Korea di film aslinya diganti dengan budaya lokal agar lebih mudah diterima penonton. Dengan begitu, adaptasi ini diharapkan bukan hanya sekadar terjemahan, melainkan benar-benar menjadi karya Indonesia.
“Kami banyak melakukan proses lokalisasi, misalnya memilih Jawa Barat sebagai latar dan menggunakan bahasa Sunda. Banyak elemen budaya yang kami sesuaikan agar terasa Indonesia,” jelasnya.
Sebagai pemilik hak cipta asli, CJ Entertainment juga terlibat dalam proses produksi. Namun, kerja sama ini berlangsung lancar karena pihak CJ memberikan keleluasaan kepada rumah produksinya untuk menyesuaikan konten.
Tantangan terbesar justru muncul saat proses syuting. Menurut Novia, seluruh pengambilan gambar dilakukan di Sukabumi, Jawa Barat, yang memaksa kru bekerja cukup jauh dari keluarga dalam waktu lama. Selain itu, mereka juga harus menghadapi kondisi cuaca setempat yang kerap berubah-ubah.
“Prosesnya menyenangkan karena CJ terbuka untuk penyesuaian. Tantangan terbesar justru karena syuting di luar kota, kami semua harus cukup lama meninggalkan keluarga,” ungkapnya.
Selain aspek teknis, Panggil Aku Ayah juga menyentuh isu yang lebih emosional. Ceritanya berkaitan dengan fenomena “fatherless” yang sering disebut terjadi di Indonesia. Namun, film ini ingin menyampaikan pesan berbeda, yakni keluarga tidak selalu harus terikat oleh darah.
“Banyak orang bilang Indonesia negara fatherless. Tapi film ini ingin menunjukkan bahwa cinta dan kasih sayang bisa datang dari mana saja, tidak harus dari ikatan darah,” tutup Novia.
Film Panggil Aku Ayah mengisahkan dua penagih utang yang bekerja keras mengejar target mereka dalam menagih utang-utang yang macet. Kehidupan mereka yang kasar dan tanpa perasaan tiba-tiba mesti berubah ketika mereka harus mengambil seorang anak kecil sebagai jaminan dari seorang ibu yang tidak mampu membayar utangnya.
Baca juga: Sutradara Lucky Kuswandi Bangun Set Rumah di Film A Normal Woman dari Nol di Studio
Awalnya, mereka menganggap anak tersebut sebagai beban dan hanya digunakan untuk memaksa ibunya melunasi utang dengan cepat. Namun, seiring berjalannya waktu, kedua pria keras kepala ini mulai peduli dan memberikan kasih sayang terhadap anak kecil yang polos dan ceria tersebut.
Film yang disutradarai oleh Benni Setiawan ini direncanakan akan tayang di bioskop mulai 7 Agustus 2025
Kesuksesan Jumbo menjadi film produksi Indonesia terlaris pertama yang menjadi catatan penting karena dikerjakan oleh dua perempuan di tengah dominasi laki-laki di industri film. Kembalinya kolaborasi keduanya tidak terjadi secara kebetulan. Baik Anggia maupun Novia berasal dari Visinema Studios, sebuah rumah produksi yang selama ini fokus menggarap konten anak dan keluarga.
Baca juga: 13 Film Indonesia Tayang Agustus 2025 di Bioskop, Beragam Genre!
Rekam jejak mereka juga memperlihatkan konsistensi pada genre tersebut. Kolaborasi keduanya telah mulai dari Keluarga Cemara 2, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), hingga yang terbaru kemarin adalah Jumbo. “Kami berkolaborasi lagi karena saya dan Anggia memang berasal dari Visinema Studios. Fokus kami sejak awal memang pada konten keluarga,” ujar Novia.
Proses pengembangan Panggil Aku Ayah tidak instan. Ide adaptasi ini sudah dikerjakan sejak tahun lalu, sementara tahap produksi berlangsung sepanjang tahun ini. Dengan demikian, total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan film ini hampir 2 tahun.
Menariknya, periode produksi Panggil Aku Ayah berjalan berdekatan dengan penyelesaian Jumbo. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim, tetapi mereka tetap menjaga fokus pada masing-masing proyek.
“Produksi film ini sebenarnya dari pengembangan naskah sudah dimulai tahun lalu. Jadi total prosesnya hampir dua tahun, bersamaan juga dengan penyelesaian Jumbo,” jelasnya.
Novia mengatakan ketertarikan untuk mengadaptasi Pawn berawal dari kesan mendalam saat menonton film aslinya. Baginya, cerita tersebut memiliki nilai-nilai kekeluargaan yang universal. Meski film aslinya dari Korea, karya ini tetap dekat dengan penonton Indonesia.
Selain itu, latar belakang mereka yang memang fokus pada genre keluarga membuat cerita Pawn terasa selaras dengan visi kreatif tim. Adaptasi ini diharapkan tidak hanya mempertahankan pesan utama film aslinya, tetapi juga menghadirkan relevansi budaya lokal.
“Kami suka sekali dengan film aslinya. Nilai yang dibawa terasa sangat relevan dengan penonton Indonesia, apalagi kami memang fokus pada konten keluarga,” kata Novia.
Novia mengatakan untuk memastikan film ini terasa lebih dekat dengan penonton lokal, tim juga melakukan banyak penyesuaian. Mulai dari penggunaan bahasa, latar tempat, hingga elemen budaya diubah agar sesuai dengan konteks Indonesia. Salah satu keputusan kreatif yang diambil adalah menjadikan Jawa Barat sebagai lokasi cerita dan penggunaan bahasa Sunda.
Beberapa elemen khas Korea di film aslinya diganti dengan budaya lokal agar lebih mudah diterima penonton. Dengan begitu, adaptasi ini diharapkan bukan hanya sekadar terjemahan, melainkan benar-benar menjadi karya Indonesia.
“Kami banyak melakukan proses lokalisasi, misalnya memilih Jawa Barat sebagai latar dan menggunakan bahasa Sunda. Banyak elemen budaya yang kami sesuaikan agar terasa Indonesia,” jelasnya.
Sebagai pemilik hak cipta asli, CJ Entertainment juga terlibat dalam proses produksi. Namun, kerja sama ini berlangsung lancar karena pihak CJ memberikan keleluasaan kepada rumah produksinya untuk menyesuaikan konten.
Tantangan terbesar justru muncul saat proses syuting. Menurut Novia, seluruh pengambilan gambar dilakukan di Sukabumi, Jawa Barat, yang memaksa kru bekerja cukup jauh dari keluarga dalam waktu lama. Selain itu, mereka juga harus menghadapi kondisi cuaca setempat yang kerap berubah-ubah.
“Prosesnya menyenangkan karena CJ terbuka untuk penyesuaian. Tantangan terbesar justru karena syuting di luar kota, kami semua harus cukup lama meninggalkan keluarga,” ungkapnya.
Selain aspek teknis, Panggil Aku Ayah juga menyentuh isu yang lebih emosional. Ceritanya berkaitan dengan fenomena “fatherless” yang sering disebut terjadi di Indonesia. Namun, film ini ingin menyampaikan pesan berbeda, yakni keluarga tidak selalu harus terikat oleh darah.
“Banyak orang bilang Indonesia negara fatherless. Tapi film ini ingin menunjukkan bahwa cinta dan kasih sayang bisa datang dari mana saja, tidak harus dari ikatan darah,” tutup Novia.
Film Panggil Aku Ayah mengisahkan dua penagih utang yang bekerja keras mengejar target mereka dalam menagih utang-utang yang macet. Kehidupan mereka yang kasar dan tanpa perasaan tiba-tiba mesti berubah ketika mereka harus mengambil seorang anak kecil sebagai jaminan dari seorang ibu yang tidak mampu membayar utangnya.
Baca juga: Sutradara Lucky Kuswandi Bangun Set Rumah di Film A Normal Woman dari Nol di Studio
Awalnya, mereka menganggap anak tersebut sebagai beban dan hanya digunakan untuk memaksa ibunya melunasi utang dengan cepat. Namun, seiring berjalannya waktu, kedua pria keras kepala ini mulai peduli dan memberikan kasih sayang terhadap anak kecil yang polos dan ceria tersebut.
Film yang disutradarai oleh Benni Setiawan ini direncanakan akan tayang di bioskop mulai 7 Agustus 2025
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.