Desa Saba Baduy (Sumber gambar: Wonderful Kemenparekraf RI)

Merasakan Ketenangan di Desa Saba Budaya Baduy

01 August 2025   |   17:30 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba cepat, ada sebuah tempat di pelosok Banten yang mengajak untuk berhenti sejenak dan bertenang diri. Tempat itu adalah Desa Saba Budaya Baduy, sebuah destinasi yang bukan sekadar wisata, tapi perjalanan jiwa, keluar dari dunia maya. 

Terletak di Kabupaten Lebak, Banten, desa ini merupakan pintu masuk bagi mereka yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Baduy, salah satu komunitas adat paling otentik yang masih bertahan teguh menjaga tradisi leluhur mereka.

Desa Saba Budaya Baduy bukanlah tempat biasa. Begitu kaki menginjakkan di tanah ini, ada atmosfer yang terasa begitu berbeda. Di sini, segala bentuk teknologi modern dikesampingkan. Tidak ada listrik, tidak ada kendaraan bermotor, bahkan telepon genggam harus dimatikan saat memasuki wilayah Baduy Dalam.

Suku Baduy terbagi menjadi dua kelompok besar yakni Baduy Luar dan Baduy Dalam. Baduy Luar masih menerima sedikit pengaruh luar, tapi tetap menjaga nilai-nilai tradisional. Sementara Baduy Dalam hidup dalam aturan adat yang sangat ketat. Mereka berpakaian serba putih atau hitam polos, tidak menggunakan alas kaki, dan berjalan kaki ke mana pun mereka pergi. 

Baca juga: Panduan Wisata Budaya yang Otentik dan Berkesan ke Baduy Dalam
 

Desa Saba Baduy (Sumber gambar: Wonderful Kemenparekraf RI)

Desa Saba Baduy (Sumber gambar: Wonderful Kemenparekraf RI)

Di sana, anak-anak diajarkan kearifan lokal sejak dini mulai dari bertani tanpa bahan kimia, hidup berdampingan dengan alam, dan menjaga sungai serta hutan layaknya harus diwariskan dengan utuh.

Meski sederhana, masyarakat Baduy sangat kaya secara budaya. Wisatawan yang berkunjung bisa melihat kerajinan tangan seperti tenun ikat khas Baduy yang dibuat dengan tangan dan tanpa mesin sama sekali. Warnanya natural, berasal dari bahan pewarna alam seperti akar mengkudu dan dedaunan.

Seni musik pun hadir dalam bentuk angklung, karinding, dan kecapi. Biasanya, wisatawan bisa menikmati semua ini adalah saat upacara adat seperti Seba Baduy, ketika masyarakat Baduy Luar dan Dalam berjalan puluhan kilometer untuk menghadap pemerintah daerah untuk menyerahkan hasil bumi sebagai simbol hubungan harmonis antara rakyat dan pemimpin. 
 

Desa Saba Baduy (Sumber gambar: Wonderful Kemenparekraf RI)

Desa Saba Baduy (Sumber gambar: Wonderful Kemenparekraf RI)

Selain belajar budaya, pengunjung bisa melakukan banyak aktivitas menyenangkan dan mendalam. Wisatawan bisa melakukan trekking melewati jembatan bambu, menyusuri sungai jernih, dan menyeberang lembah hijau yang asri.

Lantaran tak cukup sehari, biasanya wisatawan juga kerap menginap di rumah warga seperti homestay untuk merasakan kehidupan sehari-hari ala masyarakat Baduy. Saat menginap, banyak juga yang belajar menenun, membuat kerajinan bambu, atau menumbuk padi bersama ibu-ibu Baduy.

Wisatawan bisa menikmati waktu sepenuhnya dengan cara menenangkan diri dan merefleksi diri. Sebab, minimnya gangguan teknologi membuat tempat ini sangat cocok untuk detoks digital dan meditasi alam.

Untuk mencapai Desa Saba Budaya Baduy, pengunjung bisa menempuh jalur darat dari Jakarta dengan KRL Commuter Line dari Tanah Abang ke Rangkasbitung yang memakan waktu sekitar 2 jam. Kemudian dari Stasiun Rangkasbitung, lanjut naik angkot atau elf ke arah gerbang utama menuju Baduy yakni Ciboleger dengan waktu 1,5 hingga 2 jam perjalanan. Dari Ciboleger, wisatawan akan berjalan kaki sekitar 1-2 jam untuk mencapai desa-desa Baduy Luar.

Secara resmi, tidak ada tiket masuk untuk ke wilayah Baduy, karena mereka menolak komersialisasi budaya. Akan tetapi, pengunjung biasanya memberi semacam sumbangan sukarela untuk warga sebagai bentuk penghargaan. Untuk menginap di homestay, tarifnya juga sangat terjangkau berkisar antara Rp50.000 - Rp100.000 per malam termasuk makan. 

Wisatawan juga untuk membawa oleh-oleh berupa tenun khas atau madu hutan yang hasilnya langsung dinikmati oleh warga. 

Baca juga: Tas Koja, Aksesoris Khas Suku Baduy dari Kulit Pohon Teureup 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Sound Horeg Bisa Bikin Telinga Rusak Permanen, Begini Penjelasan Dokter

BERIKUTNYA

TULOLA Gelar Kawan Nusantara “IDENTITAS”, Perayaan Jati Diri Lewat Perhiasan dan Seni

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: