Melukis Rintik yang Menolak Kering, Refleksi Batin Ugo Untoro Lewat Kanvas
31 July 2025 |
07:00 WIB
Kepulangan Ugo Untoro ke kampung halaman di Purbalingga beberapa waktu terakhir tampaknya menjadi momen kalibrasi untuk meninjau kembali kerja artistiknya. Alasan yang mendasarinya cukup sederhana, yaitu kondisi ibunya yang semakin ringkih dan memintanya untuk ditemani.
Namun di balik alasan itu, tersembunyi juga kebutuhan pribadi akan pemulihan. Dia ingin sejenak menjauh dari hiruk pikuk seni rupa di Jogja, sekaligus menziarahi kenangan-kenangan yang selama ini terpendam.
Ugo pun menemukan kembali berbagai hal yang selama ini luput dari perhatiannya. Barang-barang lamanya yang masih disimpan rapi oleh sang ibu, seperti sarung, buku, hingga bokor tempat dia mandi semasa kecil, memantiknya berkarya lagi.
Baca Juga: PAMERAN TUNGGAL UGO UNTORO MELUKIS RINTIK YANG MENOLAK KERING
Hasilnya pun dituangkan dalam pameran tunggal di Nadi Gallery, Jakarta, dengan pemilihan tajuk yang puitis, Melukis Rintik yang Menolak Kering. Seteleng ini berlangsung pada 25 Juli--25 Agustus 2025.
Sebagian karyanya didominasi oleh medium cat minyak di kanvas. Ukuran karyanya pun bervariasi, meski banyak yang berdimensi besar, yang menyiratkan potensi komposisi yang imersif dan monumental.
Simak saja karya bertajuk Jalan Desa, dan Hujan Lagi. Bertarikh 2025, karya berdimensi 200 x 150 cm, dan 120 x 100 cm, itu menggambarkan genangan air di jalanan desa, serta teras rumah dengan nuansa yang gloomy.
Visual-visual tentang hujan juga muncul dalam karya berjudul Tumpukan Hujan (2025), Di Tengah Hujan (2025), Pagi Basah, Kamar Gelisah (2023), dan Morning Rain and The Blind Man #2 (2025) yang semuanya didominasi palet warna pastel.
Menariknya, hujan dalam karya Ugo bukan sekadar fenomena alam, tapi metafora emosional dan eksistensial. Dia seolah membasuh tubuh, memudarkan garis atau justru menguatkannya, yang membuat dunia jadi seperti kenangan yang remang.
Teknik Ugo juga kerap memperlihatkan sapuan yang “larut”, seperti cat minyak yang terbawa rintik. Objek-objek tampak mengambang, tak sepenuhnya selesai. Hujan hadir bukan sebagai latar, melainkan kondisi batin dari objek-objek itu.
"Saya memang suka hujan. Saat musim hujan saya banyak melukis hujan. Hujan juga bisa diibaratkan sebuah tangisan, kesedihan. Atau mungkin juga mencuci luka-luka di bumi manusia dan isinya," katanya.
Kurator Sudjud Dartanto mengatakan, bahwa mengapresiasi karya-karya Ugo tidak bisa hanya berhenti pada aspek visual, tetapi juga perlu menelisik kekuatan puitik dari judul-judul yang menyertainya, baik yang muncul saat proses melukis, atau bahkan mendahuluinya sebagai pemantik ide.
Dia menambahkan, judul bukan sekadar label, melainkan pintu masuk ke lapisan makna yang lebih dalam layaknya puisi yang padat namun terbuka terhadap banyak tafsir. “Kata dan rupa sama pentingnya. Ugo tak hanya kuat dalam bahasa visual, tetapi juga piawai merangkai puisi,” ujarnya.
Salah satunya terefleksi dalam lukisan bertajuk Bapak Telepon (2024), yang menampilkan sebuah ponsel menyala di atas meja dalam ruang temaram. Komposisinya didominasi warna merah kesumba, menghadirkan suasana seperti ingatan yang pekat namun perlahan memudar.
Ada pula Karena Hujan Lebat (2025), lukisan berdimensi 100 x 120 cm dengan medium cat minyak di atas kanvas. Karya ini menggambarkan meja makan pada malam yang murung, dengan lilin, kopi, dan segelas air putih, serta tangan sang ibu yang tampak duduk di bangku pojok.
Lewat kedua lukisan tersebut, Ugo menghadirkan benda sehari-hari sebagai saksi bisu kehidupan personalnya. Meski tanpa narasi verbal, objek-objek itu tampak ‘berbicara’, menciptakan atmosfer yang sendu dan melankolis.
Ada pula lukisan yang mengajak audiens untuk berdialog kembali dengan sejarah seni rupa dunia. Ini tampak dalam karyanya bertajuk Penunggang Kuda Arab Diserang Singa Setelah Eugene Delacroix (2025). Luksian ini seolah merespons karya Delacroix secara kreatif dan bebas.
Namun, berbeda dari versi aslinya, karya menggunakan cat minyak di atas kanvas, dengan gestur dramatik khas romantisisme ini diolah lagi dengan gaya yang khas. Sapuan gerak Delacroix tetap terasa, tapi disampaikan melalui goresan kasar dan distorsi yang emosional.
Selain itu, ada juga Potato Eater After Van Gogh (2025), Pieta Series (2025), dan Scream (2025). Karya terakhir ini bukan meniru Edvard Munch, melainkan mengolah kecemasan eksistensial menjadi ekspresi personal melalui visual yang terdistorsi.
Sudjud mengungkap, salah satu kekuatan Ugo dalam pameran ini adalah kemampuannya mengolah garis sebagai fondasi metaforis dari beragam objek. Garis, menurutnya juga menjadi medium untuk kembali pada bahasa rupa yang esensial, sekaligus sarana menggali spiritualitas dan keheningan.
“Garis penting bagi Ugo karena dia kerap memulai dari sketsa. Karena itu, jika kita naik ke atas, akan terlihat sejumlah karya yang menekankan kekuatan garis sebagai elemen utama,” imbuhnya.
Baca Juga: Eksplorasi Kenangan dan Hujan, Ugo Untoro Gelar Pameran Tunggal di Nadi Gallery
Namun di balik alasan itu, tersembunyi juga kebutuhan pribadi akan pemulihan. Dia ingin sejenak menjauh dari hiruk pikuk seni rupa di Jogja, sekaligus menziarahi kenangan-kenangan yang selama ini terpendam.
Ugo pun menemukan kembali berbagai hal yang selama ini luput dari perhatiannya. Barang-barang lamanya yang masih disimpan rapi oleh sang ibu, seperti sarung, buku, hingga bokor tempat dia mandi semasa kecil, memantiknya berkarya lagi.
Baca Juga: PAMERAN TUNGGAL UGO UNTORO MELUKIS RINTIK YANG MENOLAK KERING
Hasilnya pun dituangkan dalam pameran tunggal di Nadi Gallery, Jakarta, dengan pemilihan tajuk yang puitis, Melukis Rintik yang Menolak Kering. Seteleng ini berlangsung pada 25 Juli--25 Agustus 2025.
Sebagian karyanya didominasi oleh medium cat minyak di kanvas. Ukuran karyanya pun bervariasi, meski banyak yang berdimensi besar, yang menyiratkan potensi komposisi yang imersif dan monumental.

Seniman Ugo Untoro berdiri di antara dua karyanya Jalan Desa (2025), dan Dari Rumah Tetangga (2025) dalam pameran bertajuk Melukis Rintik yang Menolak Kering di Nadi Gallery, Jakarta, Kamis (24/7/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Visual-visual tentang hujan juga muncul dalam karya berjudul Tumpukan Hujan (2025), Di Tengah Hujan (2025), Pagi Basah, Kamar Gelisah (2023), dan Morning Rain and The Blind Man #2 (2025) yang semuanya didominasi palet warna pastel.
Menariknya, hujan dalam karya Ugo bukan sekadar fenomena alam, tapi metafora emosional dan eksistensial. Dia seolah membasuh tubuh, memudarkan garis atau justru menguatkannya, yang membuat dunia jadi seperti kenangan yang remang.
Teknik Ugo juga kerap memperlihatkan sapuan yang “larut”, seperti cat minyak yang terbawa rintik. Objek-objek tampak mengambang, tak sepenuhnya selesai. Hujan hadir bukan sebagai latar, melainkan kondisi batin dari objek-objek itu.
"Saya memang suka hujan. Saat musim hujan saya banyak melukis hujan. Hujan juga bisa diibaratkan sebuah tangisan, kesedihan. Atau mungkin juga mencuci luka-luka di bumi manusia dan isinya," katanya.
Kekuatan Puitik
Kurator Sudjud Dartanto mengatakan, bahwa mengapresiasi karya-karya Ugo tidak bisa hanya berhenti pada aspek visual, tetapi juga perlu menelisik kekuatan puitik dari judul-judul yang menyertainya, baik yang muncul saat proses melukis, atau bahkan mendahuluinya sebagai pemantik ide.
Dia menambahkan, judul bukan sekadar label, melainkan pintu masuk ke lapisan makna yang lebih dalam layaknya puisi yang padat namun terbuka terhadap banyak tafsir. “Kata dan rupa sama pentingnya. Ugo tak hanya kuat dalam bahasa visual, tetapi juga piawai merangkai puisi,” ujarnya.
Salah satunya terefleksi dalam lukisan bertajuk Bapak Telepon (2024), yang menampilkan sebuah ponsel menyala di atas meja dalam ruang temaram. Komposisinya didominasi warna merah kesumba, menghadirkan suasana seperti ingatan yang pekat namun perlahan memudar.
Ada pula Karena Hujan Lebat (2025), lukisan berdimensi 100 x 120 cm dengan medium cat minyak di atas kanvas. Karya ini menggambarkan meja makan pada malam yang murung, dengan lilin, kopi, dan segelas air putih, serta tangan sang ibu yang tampak duduk di bangku pojok.
Lewat kedua lukisan tersebut, Ugo menghadirkan benda sehari-hari sebagai saksi bisu kehidupan personalnya. Meski tanpa narasi verbal, objek-objek itu tampak ‘berbicara’, menciptakan atmosfer yang sendu dan melankolis.

karya Ugo Untoro berjudul Bapak Telepon dalam pameran bertajuk Melukis Rintik yang Menolak Kering di Nadi Gallery, Jakarta, Kamis (24/7/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Ada pula lukisan yang mengajak audiens untuk berdialog kembali dengan sejarah seni rupa dunia. Ini tampak dalam karyanya bertajuk Penunggang Kuda Arab Diserang Singa Setelah Eugene Delacroix (2025). Luksian ini seolah merespons karya Delacroix secara kreatif dan bebas.
Namun, berbeda dari versi aslinya, karya menggunakan cat minyak di atas kanvas, dengan gestur dramatik khas romantisisme ini diolah lagi dengan gaya yang khas. Sapuan gerak Delacroix tetap terasa, tapi disampaikan melalui goresan kasar dan distorsi yang emosional.
Selain itu, ada juga Potato Eater After Van Gogh (2025), Pieta Series (2025), dan Scream (2025). Karya terakhir ini bukan meniru Edvard Munch, melainkan mengolah kecemasan eksistensial menjadi ekspresi personal melalui visual yang terdistorsi.
Sudjud mengungkap, salah satu kekuatan Ugo dalam pameran ini adalah kemampuannya mengolah garis sebagai fondasi metaforis dari beragam objek. Garis, menurutnya juga menjadi medium untuk kembali pada bahasa rupa yang esensial, sekaligus sarana menggali spiritualitas dan keheningan.
“Garis penting bagi Ugo karena dia kerap memulai dari sketsa. Karena itu, jika kita naik ke atas, akan terlihat sejumlah karya yang menekankan kekuatan garis sebagai elemen utama,” imbuhnya.
Baca Juga: Eksplorasi Kenangan dan Hujan, Ugo Untoro Gelar Pameran Tunggal di Nadi Gallery
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.