ChatGPT Bisa Bantu Menulis Novel, Apakah Publik Siap Menghargai Hasil Karyanya?
30 July 2025 |
19:26 WIB
Dalam satu tahun terakhir ini, sastrawan Hasan Aspahani tengah gelisah. Musababnya adalah kemunculan ChatGPT. Model bahasa artificial inteligence (AI) yang dikembangkan oleh OpenAI ini berpotensi menciptakan disrupsi besar dalam dunia tulis-menulis, termasuk sastra.
Bayangkan, katanya, menulis karya sastra, sebutlah cerita pendek, yang biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama, lengkap dengan proses riset dan perenungan panjang, kini bisa dilakukan dalam hitungan detik.
Hasan membayangkan, jangan-jangan sastrawan di masa depan akan tergantikan oleh mesin, atau hanya berdampingan, atau justru akan memunggunginya. Dia belum yakin jawabannya. Namun, ada satu hal yang kini ada di dalam kepalanya. Dia penasaran dengan 'mainan' baru itu. Dia pun bereksperimen.
Baca juga: Studi Terbaru: Pekerjaan Manusia Tidak Akan Tergantikan AI Secara Masif
Hasan kemudian mengunduh aplikasi tersebut. Dia mulai mencoba memerintahkan akal imitasi itu untuk membuat cerpen. Setahun berlalu dan cerpen itu tak kunjung selesai. Cerpen itu rampung sebenarnya, tapi hasilnya jauh dari kata puas.
"Setelah setahun mencoba, benar-benar enggak berbuah apa-apa. Tidak ada cerpen yang berhasil saya tulis dari sini. Maksudnya, cerpen yang saya anggap bagus dan selesai gitu. Ini baru cerpen, apalagi novel," ucap Hasan dalam diskusi Seni di Era Matinya Kepakaran di Taman Ismail Marzuki.
Hasan mulai ragu dengan teknologi ini. Namun, dia terus menguliknya sampai kemudian menemukan istilah prompting, yakni permainan instruksi kepada model AI untuk menghasilkan output yang lebih diinginkan.
Dalam konteks kecerdasan buatan, prompting adalah cara untuk berkomunikasi dengan AI, memberikan petunjuk dan konteks agar AI dapat memahami tugas yang diberikan dan menghasilkan respons yang sesuai.
Hasan mulai bereksperimen dengan memberikan instruksi yang lebih terarah kepada ChatGPT. Dia menyusun prompt secara sistematis, bahkan menyisipkan kerangka teori penulisan seperti 8 sequence yang selama ini dipakainya.
Menurutnya, dengan basis data yang luas, AI seharusnya mampu mengolah pendekatan itu dengan efektif. Namun, hasilnya tetap mengecewakan. Hasan belum menyerah. Dia kemudian mulai memperlengkap data yang diberikan kepada AI, dari karakternya siapa saja, plot yang dimau seperti apa, dan titik permasalahannya seperti apa, lalu membiarkan AI menyambungkan dan menyusun itu semua.
"Belakangan itu ternyata bisa membantu menyelesaikan novel yang saya anggap selesai gitu. Artinya, saya suka dan bagus," imbuhnya.
Hasan mulai mengontak beberapa penerbit dan mengirimkan naskah tersebut. Di naskah itu, Hasan sengaja menuliskan bahwa karya ini ditulis with (dengan) AI. Hal tersebut dilakukan untuk penegasan bahwa ini bukan karya yang ditulis by (oleh) AI.
Sebab, semua plot dan karakter adalah rekaannya. Dia pun menulis promp dengan susah payah dan baru selesai selama dua bulan.
Hasan mengatakan respons penerbit berbeda-beda. Ada satu penerbit yang membalasnya dan dengan tegas menyebut tidak akan menerbitkan karya yang dibantu dengan AI. Lalu, ada penerbit lain yang ingin membaca keseluruhan terlebih dahulu. Selanjutnya, ada penerbit berikutnya yang tertarik, tetapi meminta dirinya untuk menghapus pernyataan bahwa novel ini ditulis dengan AI.
"Saya tanya, kenapa harus dihapus? mereka bilang enggak ketahuan kok pakai AI. Saya bilang enggak mau, saya mau jujur. Bayangannya mungkin menggunakan AI itu mudah, kasih prompt terus jadi, ternyata enggak juga. Dua bulan saya baru selesai satu novel," ucapnya
Eksperimen ini kemudian membawa Hasan ke satu perenungan panjang. Dia membayangkan apakah di masa depan penulisan sastra yang berbasis AI akan semakin lazim atau justru karya tersebut akan ditolak mentah-mentah.
Sebab, dari eksperimen tersebut, ada penerbit yang menolak, tetapi ada pula yang mulai menunjukkan ketertarikan. Lebih jauh lagi, dirinya pun mempertanyakan apakah publik akan siap dengan karya-karya seni berbasis AI.
Hasan menyebut dinamika AI di dunia seni, khususnya sastra memang menarik belakangan ini di Indonesia. Belum lama ini, kata dia, ada penerbit besar yang kena semprot warganet karena diduga cover novelnya dibuat dengan AI.
"Ini baru cover loh, sudah segitunya. Bayangkan, kalau isinya juga," katanya.
Namun, di luar itu, penerbit Indonesia Tera justru mengambil langkah berbeda dengan menantang salah satu penulisnya, Dadang Ari Murtono, untuk menulis buku dengan bantuan AI. Tantangan itu kemudian melahirkan Buku Pegangan Mencari Kerja, yang terbit pada 2024. Menariknya, buku tersebut tak sekadar dirilis, tetapi juga berhasil masuk sebagai nomine Buku Sastra Pilihan Tempo 2024 untuk kategori prosa.
Budayawan Hilmar Farid melihat kemunculan AI di dunia seni, termasuk sastra, merupakan fenomena yang menarik sekaligus kompleks. Dia menyebut bahwa kalau konteksnya adalah bekerja dengan teknologi, sejatinya manusia sudah lama bekerja dibantu teknologi.
Dalam menulis, misalnya, orang sudah terbiasa menggunakan alat bantu seperti tesaurus digital atau aplikasi pengecekan tata bahasa seperti Grammarly.
Begitu juga dalam bidang desain, kini banyak orang mengandalkan Canva atau aplikasi sejenis yang berbasis komputasi. Semua alat ini, menurutnya, menggunakan logika kecerdasan buatan untuk meningkatkan kemampuan manusia.
"Namun, pertanyaan yang lebih besar kemudian adalah sampai di mana batasnya? Sampai saat ini, batas etis penggunaan teknologi seperti AI masih belum benar-benar jelas," tuturnya.
Sebagian orang menganggap penggunaan AI dalam berkarya tidak etis, sementara sebagian lainnya mulai menerimanya sebagai bagian dari proses kreatif. Hilmar berpendapat, dalam konteks ini, hanya waktu yang akan menjawab, apakah masyarakat nantinya akan terbiasa atau justru menolak sepenuhnya.
Dia lalu mengingatkan, perdebatan ini bukan hal baru dan terus terjadi ketika ada disrupsi teknologi. Namun, saat ini, persoalannya tidak hanya soal kreatif, tetapi juga menyangkut hukum. Jika nanti ini dilazimkan, siapa pemilik karya yang dibuat bersama AI?
Sebab, menurutnya, AI menjadi pintar karena dilatih dari jutaan data yang dikumpulkan, termasuk kalau di bidang penulisan ialah dari buku-buku sastra yang pernah ada. Hilmar menyebut AI hanyalah model bahasa yang bekerja berdasarkan pola-pola teks yang sudah tersedia.
Oleh karena itu, diskusi tentang legalitas karya AI saat ini sebenarnya sama pentingnya dengan diskusi tentang kreativitasnya. Hilmar pun mencatat fenomena menarik. Di kalangan anak muda, sebagian justru mulai menunjukkan sikap antipati terhadap karya berbasis AI.
Mereka merasa bosan karena banyak karya AI, terutama dalam bidang visual yang terlihat mirip satu sama lain. Dalam artian, publik mulai bisa mengenali karya yang memakai AI atau tidak. Pada akhirnya, kata Hilmar, ketika hasil karya yang mirip terlalu banyak, akan hilang keunikannya dan orang akan rindu hal yang lebih autentik.
"Enggak usah terlalu khawatir, karena akan ada respons publik yang menyeimbangkan itu. Yang paling penting adalah mencari cara untuk menggunakan AI secara bijak, jelasnya.
Pendapat menarik disampaikan akademisi Nan Achnas. Dia menyebut bahwa kehadiran AI dalam dunia seni memang akan menciptakan evolusi nilai. Menurutnya, akan selalu ada pergeseran dalam cara kita memandang dan memaknai proses penciptaan, dan perubahan ini bisa dilihat sebagai peluang, bukan sekadar ancaman.
Baca juga: Hypereport: Tantangan Seniman & Desainer pada Era AI, Akankah Posisi Mereka Tergantikan?
Dia mencontohkan tren di platform YouTube, yang mana kini banyak beredar cerita-cerita fiksi seperti Revenge Story yang dibuat oleh generator AI. Meski penonton tahu bahwa karya itu bukan hasil manusia, jumlah pemirsanya bisa mencapai ratusan ribu bahkan lebih.
Hal ini, katanya, menunjukkan bahwa masyarakat mulai terbuka dan bisa menikmati karya AI dan akan sangat mungkin menandakan pergeseran nilai yang sedang berlangsung secara global.
Sementara itu, Yola Yulfiyanti melihat peran teknologi dari sudut pandang pendidikan seni. Menurutnya, kecepatan teknologi tak perlu selalu diimbangi dengan kecepatan seni. Sebab, selama teknologi masih diciptakan manusia, semestinya manusia tetap punya kendali atasnya.
"Jangan-jangan, di dunia yang serba cepat, seni memang perlu bergerak melambat," pungkasnya.
Bayangkan, katanya, menulis karya sastra, sebutlah cerita pendek, yang biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama, lengkap dengan proses riset dan perenungan panjang, kini bisa dilakukan dalam hitungan detik.
Hasan membayangkan, jangan-jangan sastrawan di masa depan akan tergantikan oleh mesin, atau hanya berdampingan, atau justru akan memunggunginya. Dia belum yakin jawabannya. Namun, ada satu hal yang kini ada di dalam kepalanya. Dia penasaran dengan 'mainan' baru itu. Dia pun bereksperimen.
Baca juga: Studi Terbaru: Pekerjaan Manusia Tidak Akan Tergantikan AI Secara Masif
Hasan kemudian mengunduh aplikasi tersebut. Dia mulai mencoba memerintahkan akal imitasi itu untuk membuat cerpen. Setahun berlalu dan cerpen itu tak kunjung selesai. Cerpen itu rampung sebenarnya, tapi hasilnya jauh dari kata puas.
"Setelah setahun mencoba, benar-benar enggak berbuah apa-apa. Tidak ada cerpen yang berhasil saya tulis dari sini. Maksudnya, cerpen yang saya anggap bagus dan selesai gitu. Ini baru cerpen, apalagi novel," ucap Hasan dalam diskusi Seni di Era Matinya Kepakaran di Taman Ismail Marzuki.
Hasan mulai ragu dengan teknologi ini. Namun, dia terus menguliknya sampai kemudian menemukan istilah prompting, yakni permainan instruksi kepada model AI untuk menghasilkan output yang lebih diinginkan.
Dalam konteks kecerdasan buatan, prompting adalah cara untuk berkomunikasi dengan AI, memberikan petunjuk dan konteks agar AI dapat memahami tugas yang diberikan dan menghasilkan respons yang sesuai.
Hasan mulai bereksperimen dengan memberikan instruksi yang lebih terarah kepada ChatGPT. Dia menyusun prompt secara sistematis, bahkan menyisipkan kerangka teori penulisan seperti 8 sequence yang selama ini dipakainya.
Menurutnya, dengan basis data yang luas, AI seharusnya mampu mengolah pendekatan itu dengan efektif. Namun, hasilnya tetap mengecewakan. Hasan belum menyerah. Dia kemudian mulai memperlengkap data yang diberikan kepada AI, dari karakternya siapa saja, plot yang dimau seperti apa, dan titik permasalahannya seperti apa, lalu membiarkan AI menyambungkan dan menyusun itu semua.
"Belakangan itu ternyata bisa membantu menyelesaikan novel yang saya anggap selesai gitu. Artinya, saya suka dan bagus," imbuhnya.
Hasan mulai mengontak beberapa penerbit dan mengirimkan naskah tersebut. Di naskah itu, Hasan sengaja menuliskan bahwa karya ini ditulis with (dengan) AI. Hal tersebut dilakukan untuk penegasan bahwa ini bukan karya yang ditulis by (oleh) AI.
Sebab, semua plot dan karakter adalah rekaannya. Dia pun menulis promp dengan susah payah dan baru selesai selama dua bulan.
Hasan mengatakan respons penerbit berbeda-beda. Ada satu penerbit yang membalasnya dan dengan tegas menyebut tidak akan menerbitkan karya yang dibantu dengan AI. Lalu, ada penerbit lain yang ingin membaca keseluruhan terlebih dahulu. Selanjutnya, ada penerbit berikutnya yang tertarik, tetapi meminta dirinya untuk menghapus pernyataan bahwa novel ini ditulis dengan AI.
"Saya tanya, kenapa harus dihapus? mereka bilang enggak ketahuan kok pakai AI. Saya bilang enggak mau, saya mau jujur. Bayangannya mungkin menggunakan AI itu mudah, kasih prompt terus jadi, ternyata enggak juga. Dua bulan saya baru selesai satu novel," ucapnya
Eksperimen ini kemudian membawa Hasan ke satu perenungan panjang. Dia membayangkan apakah di masa depan penulisan sastra yang berbasis AI akan semakin lazim atau justru karya tersebut akan ditolak mentah-mentah.
Sebab, dari eksperimen tersebut, ada penerbit yang menolak, tetapi ada pula yang mulai menunjukkan ketertarikan. Lebih jauh lagi, dirinya pun mempertanyakan apakah publik akan siap dengan karya-karya seni berbasis AI.
Hasan menyebut dinamika AI di dunia seni, khususnya sastra memang menarik belakangan ini di Indonesia. Belum lama ini, kata dia, ada penerbit besar yang kena semprot warganet karena diduga cover novelnya dibuat dengan AI.
"Ini baru cover loh, sudah segitunya. Bayangkan, kalau isinya juga," katanya.
Namun, di luar itu, penerbit Indonesia Tera justru mengambil langkah berbeda dengan menantang salah satu penulisnya, Dadang Ari Murtono, untuk menulis buku dengan bantuan AI. Tantangan itu kemudian melahirkan Buku Pegangan Mencari Kerja, yang terbit pada 2024. Menariknya, buku tersebut tak sekadar dirilis, tetapi juga berhasil masuk sebagai nomine Buku Sastra Pilihan Tempo 2024 untuk kategori prosa.
Pandangan Pakar
Budayawan Hilmar Farid melihat kemunculan AI di dunia seni, termasuk sastra, merupakan fenomena yang menarik sekaligus kompleks. Dia menyebut bahwa kalau konteksnya adalah bekerja dengan teknologi, sejatinya manusia sudah lama bekerja dibantu teknologi.Dalam menulis, misalnya, orang sudah terbiasa menggunakan alat bantu seperti tesaurus digital atau aplikasi pengecekan tata bahasa seperti Grammarly.
Begitu juga dalam bidang desain, kini banyak orang mengandalkan Canva atau aplikasi sejenis yang berbasis komputasi. Semua alat ini, menurutnya, menggunakan logika kecerdasan buatan untuk meningkatkan kemampuan manusia.
"Namun, pertanyaan yang lebih besar kemudian adalah sampai di mana batasnya? Sampai saat ini, batas etis penggunaan teknologi seperti AI masih belum benar-benar jelas," tuturnya.
Sebagian orang menganggap penggunaan AI dalam berkarya tidak etis, sementara sebagian lainnya mulai menerimanya sebagai bagian dari proses kreatif. Hilmar berpendapat, dalam konteks ini, hanya waktu yang akan menjawab, apakah masyarakat nantinya akan terbiasa atau justru menolak sepenuhnya.
Dia lalu mengingatkan, perdebatan ini bukan hal baru dan terus terjadi ketika ada disrupsi teknologi. Namun, saat ini, persoalannya tidak hanya soal kreatif, tetapi juga menyangkut hukum. Jika nanti ini dilazimkan, siapa pemilik karya yang dibuat bersama AI?
Sebab, menurutnya, AI menjadi pintar karena dilatih dari jutaan data yang dikumpulkan, termasuk kalau di bidang penulisan ialah dari buku-buku sastra yang pernah ada. Hilmar menyebut AI hanyalah model bahasa yang bekerja berdasarkan pola-pola teks yang sudah tersedia.
Oleh karena itu, diskusi tentang legalitas karya AI saat ini sebenarnya sama pentingnya dengan diskusi tentang kreativitasnya. Hilmar pun mencatat fenomena menarik. Di kalangan anak muda, sebagian justru mulai menunjukkan sikap antipati terhadap karya berbasis AI.
Mereka merasa bosan karena banyak karya AI, terutama dalam bidang visual yang terlihat mirip satu sama lain. Dalam artian, publik mulai bisa mengenali karya yang memakai AI atau tidak. Pada akhirnya, kata Hilmar, ketika hasil karya yang mirip terlalu banyak, akan hilang keunikannya dan orang akan rindu hal yang lebih autentik.
"Enggak usah terlalu khawatir, karena akan ada respons publik yang menyeimbangkan itu. Yang paling penting adalah mencari cara untuk menggunakan AI secara bijak, jelasnya.
Pendapat menarik disampaikan akademisi Nan Achnas. Dia menyebut bahwa kehadiran AI dalam dunia seni memang akan menciptakan evolusi nilai. Menurutnya, akan selalu ada pergeseran dalam cara kita memandang dan memaknai proses penciptaan, dan perubahan ini bisa dilihat sebagai peluang, bukan sekadar ancaman.
Baca juga: Hypereport: Tantangan Seniman & Desainer pada Era AI, Akankah Posisi Mereka Tergantikan?
Dia mencontohkan tren di platform YouTube, yang mana kini banyak beredar cerita-cerita fiksi seperti Revenge Story yang dibuat oleh generator AI. Meski penonton tahu bahwa karya itu bukan hasil manusia, jumlah pemirsanya bisa mencapai ratusan ribu bahkan lebih.
Hal ini, katanya, menunjukkan bahwa masyarakat mulai terbuka dan bisa menikmati karya AI dan akan sangat mungkin menandakan pergeseran nilai yang sedang berlangsung secara global.
Sementara itu, Yola Yulfiyanti melihat peran teknologi dari sudut pandang pendidikan seni. Menurutnya, kecepatan teknologi tak perlu selalu diimbangi dengan kecepatan seni. Sebab, selama teknologi masih diciptakan manusia, semestinya manusia tetap punya kendali atasnya.
"Jangan-jangan, di dunia yang serba cepat, seni memang perlu bergerak melambat," pungkasnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.