Cottonink Tanggapi Dugaan Plagiarisme Motif Sejauh Mata Memandang
30 July 2025 |
14:06 WIB
Merek fesyen lokal Cottonink tengah jadi sorotan setelah motif "Rekah" dalam koleksi terbaru mereka bertajuk Archipelago disebut-sebut memiliki kemiripan dengan motif "Tambal" dari jenama Sejauh Mata Memandang. Isu ini ramai karena kedua motif dinilai mirip dan memicu perbincangan di media sosial.
Koleksi Archipelago sendiri merupakan lini khusus yang dirancang untuk merayakan kekayaan budaya dan estetika Indonesia. Desain busananya berfokus pada pengangkatan motif-motif tradisional ke dalam konsep yang lebih modern. Salah satu seri andalannya, Rekah Merona, dirilis pada 2025 dan hadir dalam dua edisi, yaitu Volume I dan Volume II.
Baca juga: Di Antara Lilin dan Canting, Menjaga Batik Tetap Berkelanjutan di Tengah Globalisasi
Isu plagiarisme terhadap Sejauh Mata Memandang (SJMM) mencuat di media sosial setelah sejumlah warganet berkomentar dan membandingkan visual kedua desain yang dianggap terlalu serupa sampai menimbulkan dugaan penjiplakan.
Menanggapi isu tersebut, Cottonink merilis pernyataan resmi yang menegaskan bahwa motif Rekah merupakan hasil eksplorasi kreatif tim internal. Mereka menyatakan bahwa, desain tersebut tidak dimaksudkan untuk meniru atau mereplikasi karya pihak lain.
"Kami menyadari adanya respons yang muncul mengenai pola motif Rekah dari koleksi Cottonink Archipelago dengan salah satu koleksi dari Sejauh Mata Memandang," tulis pernyataan Cottonink, melalui laman media sosial resminya, dikutip Rabu (30/7/2025).
Menanggapi diskusi terkait desain lini Archipelago, Cottonink menegaskan bahwa desain yang mereka tampilkan merupakan hasil eksplorasi dari tim kreatif internal yang menghasilkan motif dengan elemen-elemen desain yang berbeda.
Motif Rekah lahir sebagai turunan dari motif Sriwedari dan Sekarlana yang dihadirkan Cottonink dalam koleksi Archipelago 2024. Dalam pengembangannya, menggabungkan karakteristik isen-isen cecek dengan motif bunga melati dan kembang sepatu yang banyak dijumpai pada kain-kain tradisional nusantara.
Arahan kreatif untuk koleksi ini juga dikembangkan dari narasi dan estetika yang berbeda. Cottonink menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak berniat untuk meniru atau mereplikasi karya dari pihak lain. Namun, mereka memahami adanya perhatian dari berbagai pihak yang menilai bahwa komposisi visual yang dihadirkan telah melampaui batasan inspirasi, dan atas hal tersebut, mereka menyampaikan permintaan maaf.
"Sebagai brand yang tumbuh dari keinginan untuk mengeksplorasi dan mendukung local craftsmanship, Sejauh Mata Memandang telah menjadi brand yang sangat kami hormati," tertulis dalam penyataan tersebut.
Terakhir, mereka menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mengangkat diskusi ini dengan niat yang baik. Mereka menegaskan komitmennya untuk terus belajar dan berupaya menjadi lebih baik dengan berkontribusi terhadap perkembangan industri mode tanah air.
Adapun Cottonink sendiri dikenal sebagai merek fesyen lokal Indonesia yang didirikan pada 2008 oleh dua sahabat, yakni Carline Darjanto dan Ria Sarwono. Keduanya membangun merek ini dengan visi untuk menghadirkan busana kasual yang nyaman namun tetap memiliki sentuhan gaya yang unik dan kekinian.
Tanpa modal besar, mereka mengandalkan kreativitas dan kedekatan dengan konsumen muda yang dinamis. Seiring waktu, Cottonink berkembang menjadi salah satu merek fesyen paling dikenal di Indonesia, dengan sejumlah gerai yang tersebar di pusat perbelanjaan ternama Jakarta seperti Plaza Senayan, Pondok Indah Mall 2, dan Kota Kasablanka.
Koleksi ini mencakup beragam pilihan pakaian seperti outer, kebaya panjang dan pendek, kemeja lengan pendek, hingga scarf, semuanya hadir dalam motif khas Sejauh yang khas, seperti flora, fauna, dan ornamen Nusantara. Warna-warna seperti putih, biru, maroon, hijau, dan terracotta memperkuat kesan elegan tapi tetap membumi.
Seluruh produk dalam koleksi ini dibuat menggunakan bahan TENCEL™ Lyocell, serat alami yang bersumber secara berkelanjutan dan bersertifikat OEKO-TEX, menjadikannya pilihan yang ramah lingkungan sekaligus nyaman dipakai.
Dengan mengangkat kembali kekayaan visual batik tambal ke dalam format yang lebih kontemporer, koleksi ini menjadi perwujudan gaya berbusana yang menggabungkan warisan budaya dan kesadaran akan keberlanjutan.
Sejauh Mata Memandang (SMM) didirikan pada 2014 oleh Chitra Subyakto, seorang fashion stylist dan costume designer yang berbasis di Jakarta. Chitra memulai merek ini setelah menekuni dunia styling untuk majalah dan perfilman, dengan visi mengembangkan fesyen batik kontemporer yang relevan bagi generasi muda dan menerapkan prinsip slow fashion.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Koleksi Archipelago sendiri merupakan lini khusus yang dirancang untuk merayakan kekayaan budaya dan estetika Indonesia. Desain busananya berfokus pada pengangkatan motif-motif tradisional ke dalam konsep yang lebih modern. Salah satu seri andalannya, Rekah Merona, dirilis pada 2025 dan hadir dalam dua edisi, yaitu Volume I dan Volume II.
Baca juga: Di Antara Lilin dan Canting, Menjaga Batik Tetap Berkelanjutan di Tengah Globalisasi
Isu plagiarisme terhadap Sejauh Mata Memandang (SJMM) mencuat di media sosial setelah sejumlah warganet berkomentar dan membandingkan visual kedua desain yang dianggap terlalu serupa sampai menimbulkan dugaan penjiplakan.
Menanggapi isu tersebut, Cottonink merilis pernyataan resmi yang menegaskan bahwa motif Rekah merupakan hasil eksplorasi kreatif tim internal. Mereka menyatakan bahwa, desain tersebut tidak dimaksudkan untuk meniru atau mereplikasi karya pihak lain.
"Kami menyadari adanya respons yang muncul mengenai pola motif Rekah dari koleksi Cottonink Archipelago dengan salah satu koleksi dari Sejauh Mata Memandang," tulis pernyataan Cottonink, melalui laman media sosial resminya, dikutip Rabu (30/7/2025).
Menanggapi diskusi terkait desain lini Archipelago, Cottonink menegaskan bahwa desain yang mereka tampilkan merupakan hasil eksplorasi dari tim kreatif internal yang menghasilkan motif dengan elemen-elemen desain yang berbeda.

Motif Sekarlana dan Sriwedari. (Sumber foto: Cottonink)
Motif Rekah lahir sebagai turunan dari motif Sriwedari dan Sekarlana yang dihadirkan Cottonink dalam koleksi Archipelago 2024. Dalam pengembangannya, menggabungkan karakteristik isen-isen cecek dengan motif bunga melati dan kembang sepatu yang banyak dijumpai pada kain-kain tradisional nusantara.
Arahan kreatif untuk koleksi ini juga dikembangkan dari narasi dan estetika yang berbeda. Cottonink menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak berniat untuk meniru atau mereplikasi karya dari pihak lain. Namun, mereka memahami adanya perhatian dari berbagai pihak yang menilai bahwa komposisi visual yang dihadirkan telah melampaui batasan inspirasi, dan atas hal tersebut, mereka menyampaikan permintaan maaf.
"Sebagai brand yang tumbuh dari keinginan untuk mengeksplorasi dan mendukung local craftsmanship, Sejauh Mata Memandang telah menjadi brand yang sangat kami hormati," tertulis dalam penyataan tersebut.

Rekah Merona. (Sumber foto: Cottonink)
Adapun Cottonink sendiri dikenal sebagai merek fesyen lokal Indonesia yang didirikan pada 2008 oleh dua sahabat, yakni Carline Darjanto dan Ria Sarwono. Keduanya membangun merek ini dengan visi untuk menghadirkan busana kasual yang nyaman namun tetap memiliki sentuhan gaya yang unik dan kekinian.
Tanpa modal besar, mereka mengandalkan kreativitas dan kedekatan dengan konsumen muda yang dinamis. Seiring waktu, Cottonink berkembang menjadi salah satu merek fesyen paling dikenal di Indonesia, dengan sejumlah gerai yang tersebar di pusat perbelanjaan ternama Jakarta seperti Plaza Senayan, Pondok Indah Mall 2, dan Kota Kasablanka.
The Tambal Collection SJMM
The Tambal Collection dari Sejauh Mata Memandang merupakan interpretasi modern terhadap motif batik tambal tradisional Indonesia. Koleksi ini menampilkan berbagai motif khas Sejauh yang disusun dalam pola kotak-kotak geometris, menciptakan tampilan patchwork yang segar namun tetap sarat makna budaya.Koleksi ini mencakup beragam pilihan pakaian seperti outer, kebaya panjang dan pendek, kemeja lengan pendek, hingga scarf, semuanya hadir dalam motif khas Sejauh yang khas, seperti flora, fauna, dan ornamen Nusantara. Warna-warna seperti putih, biru, maroon, hijau, dan terracotta memperkuat kesan elegan tapi tetap membumi.


The Tambal Collection (Sumber Foto: Sejauh Mata Memandang)
Dengan mengangkat kembali kekayaan visual batik tambal ke dalam format yang lebih kontemporer, koleksi ini menjadi perwujudan gaya berbusana yang menggabungkan warisan budaya dan kesadaran akan keberlanjutan.
Sejauh Mata Memandang (SMM) didirikan pada 2014 oleh Chitra Subyakto, seorang fashion stylist dan costume designer yang berbasis di Jakarta. Chitra memulai merek ini setelah menekuni dunia styling untuk majalah dan perfilman, dengan visi mengembangkan fesyen batik kontemporer yang relevan bagi generasi muda dan menerapkan prinsip slow fashion.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.