Yuk Beli Buku Original! Simak 7 Cara Bedakan Buku Asli & Bajakan
29 July 2025 |
16:00 WIB
Pembajakan buku masih menjadi masalah yang belum kunjung usai. Buku-buku bajakan masih banyak ditemui tak hanya di toko-toko fisik, tapi juga merebak di platform daring dan e-commerce. Hal ini pun menciptakan kerugian yang sangat besar tak hanya bagi penulis dan penerbit, tapi seluruh ekosistem di industri perbukuan Indonesia.
Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Arys Hilman Nugraha mengatakan pada 2020, angka kerugian akibat praktik pembajakan buku mencapai Rp116,5 miliar. Hal itu diketahui melalui survei yang dilakukan Ikapi terhadap 11 penerbit dari 1.600 anggota pada 2020, terkait kerugian finansial yang dialami akibat praktik pembajakan buku.
Baca juga: Buku Bajakan Makin Laris, Penulis dan Penerbit Kian Tercekik
Baca juga: Buku Bajakan Makin Laris, Penulis dan Penerbit Kian Tercekik
Arys menyampaikan praktik pembajakan buku juga kian masif terjadi saat pandemi. Berdasarkan data Ikapi, ditemukan sebanyak 60 persen dari seluruh jumlah buku Indonesia yang dicetak merupakan buku bajakan. Selain itu, pada 2021, Ikapi juga sempat melakukan survei dan hasilnya ditemukan bahwa sebanyak 75 persen penerbit mengaku bahwa buku-buku mereka dibajak.
"Pada saat itu anggota Ikapi itu 1.600 [penerbit] tapi yang melaporkan hanya 11, nilai kerugiannya itu Rp116,5 miliar. Tapi setelah itu memang kita belum pernah menanyakan kembali kepada penerbit setelah pandemi bagaimana. Hanya memang kalau melihat di marketplace itu memang terus berlanjut lah [pembajakan]," katanya kepada Hypeabis.id, belum lama ini.
Pembajakan buku memberikan dampak kerugian yang besar bagi seluruh pelaku ekosistem perbukuan, mulai dari penulis, penerbit, ilustrator, toko buku, dan sebagainya. Tak hanya kerugian finansial, pembajakan buku juga bisa mematikan kreativitas para penulis yang telah mencurahkan segenap kemampuan mereka dalam menulis buku-buku inspiratif.
Sejumlah praktik pembajakan buku yang banyak ditemui termasuk memproduksi dan menjual kembali buku dari penerbit resmi; mengutip, screenshot, mengunduh, serta menjual kembali versi e-book secara ilegal; memfotokopi buku dan dijual kembali; serta memproduksi, menduplikasi, dan menerjemahkan tanpa izin penerbit. Seluruh praktik tersebut termasuk pelanggaran hukum terkait Hak Cipta.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan komitmen penuh para pembaca untuk membeli buku yang asli. Pasalnya, pembaca memiliki andil yang cukup besar untuk menyelamatkan ekosistem perbukuan agar tetap berjalan secara sehat dan berkelanjutan, dengan membeli karya-karya yang original.
Mungkin sebagian dari Genhype masih kebingungan dalam membedakan antara buku yang asli dan bajakan. Jika ya, berikut adalah beberapa tips yang bisa dicermati sebagaimana disampaikan oleh Yosef Adityo selaku Corporate Support Director Gramedia.
1. Perhatikan kualitas sampul buku
Hal pertama yang bisa dicermati ialah cover atau sampul buku. Buku asli biasanya akan menampilkan sampul yang licin, informasinya jelas dan terbaca, enak dilihat, serta ada efek timbul (emboss) pada font judul.
Sementara pada buku hasil bajakan, biasanya informasi atau teks pada sampul buram sehingga sulit terbaca. Selain itu, warna sampul juga terlihat pudar dan berbeda jauh dengan buku aslinya, kadang kusam, dan saat disentuh tidak terasa licin atau kesat.
2. Kualitas kertas & tinta
Buku bajakan memang murah karena bahan kertasnya juga berkualitas rendah. Buku bajakan biasanya menggunakan kertas seperti kertas koran yang buram, berwarna abu, dan tipis, sehingga lebih mudah sobek.
Tintanya pun lebih pudar, cepat hilang, dan jika ditekan warna tinta akan menempel pada tangan. Karena banyak yang hasil fotokopi, halaman-halaman kertas pada buku bajakan juga kerap terdapat bercak dan noda hitam, yang bahkan sampai menutup tulisan.
"Pernah kita temui ketika membaca buku bajakan, tangan jadi hitam, karena tintanya mungkin tinta murah ya, karena bajakan kan pasti kualitasnya tidak terjamin," kata Adit kepada Hypeabis.id.
3. Cek kualitas jilidnya
Buku bajakan biasanya memiliki kualitas jilid yang buruk. Punggung buku bajakan cenderung terlihat tidak halus dan rapi. Sebagai pelindung ketebalan buku, kualitas yang rendah pada perekat buku bajakan membuat kertas gampang terlepas. Sebaliknya, buku-buku original akan selalu menggunakan bahan-bahan terbaik dan teknik terbaik dalam proses jilid sehingga buku tetap kokoh meski dibaca berulang-ulang kali.
"Kualitas lem, cetakan jahitan, itu kalau buku bajakan sering kita temui, baru dibaca, belum habis dibaca sudah lepas, copot halamannya. Itu yang paling mudah," ujar Adit.
4. Tampilan halaman buku
Tampilan halaman pada buku bajakan biasanya tidak rapi. Karena hasil dari fotokopi, biasanya membuat page setup dalam tiap halaman buku juga berbeda-beda, terlihat berantakan dan miring. Berbeda dengan buku original yamg tiap lembar halamannya akan rapi, tidak ada tulisan yang miring, buram, dan sebagainya.
5. Isi halaman buku
Isi halaman pada buku bajakan terkadang tidak berurutan, bahkan ada halaman yang terbalik atau hilang. Sebaliknya, hal ini tidak akan terjadi pada buku original. Buku yang asli biasanya telah melalui proses editing, cetak, dan pengecekan yang proporsional sehingga menghasilkan kualitas terbaik pada tiap lembar halamannya.
"Kadang beberapa halaman blank, kosong, tidak ditemukan di buku bajakan. Jadi halamannya habis tambahin 20, tiba-tiba 24, tiba-tiba 25, kosong," ucap Adit.
6. Cek harga buku
Buku bajakan umumnya dijual dengan harga yang sangat murah dan tidak masuk akal. Hal ini yang membuat beberapa orang tergiur membelinya untuk tujuan berhemat. Harga murah pada buku bajakan karena dicetak di kertas kualitas rendah dengan tinta yang juga berkualitas ala kadarnya. Proses jilid pun ala kadarnya, sehingga biaya produksi minim dan bisa dijual dengan harga lebih receh dari buku aslinya.
Agar tidak tertipu, sebaiknya kalian mengecek harga buku dari website atau media sosial penerbit resminya. Jadikan harga tersebut patokan untuk mencari buku yang original di berbagai platform. Pasalnya, banyak juga oknum penjual nakal yang menaruh harga sama dengan buku-buku original namun kualitas buku bajakan, sehingga pembeli harus benar-benar jeli membedakannya.
7. Beli di toko resmi
Agar terhindar dari buku bajakan, penting untuk membeli buku di toko buku resmi baik fisik maupun daring. Jika ingin membeli di toko fisik, maka kalian bisa mengecek kualitas buku secara langsung untuk memastikan bahwa buku yang akan dibeli merupakan original. Jika perlu, tanyakan jaminan keaslian buku pada staf atau pegawai toko.
Jika memang ingin membeli buku secara daring, sebaiknya langsung membelinya di website resmi penerbit buku yang dicari. Namun, jika ingin melalui ecommerce, pastikan juga untuk membelinya dari akun toko penerbit asli buku yang dicari. Jika tidak ada, pilih toko buku yang memang resmi yang biasanya ditandai dengan label 'Ori' pada tokonya.
Begitupun ketika membeli e-book atau buku digital. Pastikan bahwa buku yang dicari memang dijual versi digitalnya oleh penerbit resminya. Agar aman, sebaiknya beli langsung di website penerbit atau toko buku resmi. Jika pihak penerbit tidak menjual versi digitalnya dan kalian menemukan e-book beredar luas di internet, sudah dipastikan buku yang dijual itu bajakan.
Baca juga: Ikapi Beberkan Kerugian Finansial dari Pembajakan Buku Capai Ratusan Miliar
Baca juga: Ikapi Beberkan Kerugian Finansial dari Pembajakan Buku Capai Ratusan Miliar
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.