MICE Menyusut, Pasar Leisure Jadi Penyelamat Hotel Mewah
29 July 2025 |
14:29 WIB
Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah, termasuk pembatasan perjalanan dinas dan kegiatan MICE, menjadi tantangan bagi industri perhotelan. Pembatasan ini berdampak pada penurunan okupansi dan pendapatan, khususnya bagi hotel yang sebelumnya mengandalkan pasar sektor pemerintahan.
Namun, di tengah tekanan itu, sejumlah hotel bintang lima tetap mampu menunjukkan ketahanan dengan mengalihkan fokus ke pasar non-pemerintah. Grand Hyatt Bali, misalnya, berhasil menjaga stabilitas operasional dengan mengandalkan wisatawan internasional dari segmen leisure, yang tetap menjanjikan di tengah dinamika ekonomi dan kebijakan anggaran.
Baca juga: Begini Cara Hotel Bertahan Tutupi Hilangnya Pasar Pemerintahan
“Grand Hyatt Bali tidak hanya fokus pada segmen MICE [Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition], tetapi juga kuat di pasar leisure. Tamu-tamu kami berasal dari berbagai negara seperti Australia, Singapura, dan kawasan Eropa,” ujar Ikha Dewi, Marketing Communication Executive Grand Hyatt Bali.
Hotel yang terletak di kawasan premium Nusa Dua ini memang mengalami penurunan kunjungan dari segmen pemerintah, tetapi operasionalnya masih berjalan normal. Sebagai respons, Grand Hyatt Bali meluncurkan program Stay Longer, Save More untuk menarik wisatawan yang ingin tinggal lebih lama dan menikmati pengalaman Bali secara lebih mendalam.
Program ini ditujukan bagi wisatawan yang menginap minimal tujuh malam melalui situs resmi Hyatt.com, dengan penawaran diskon hingga 20 persen untuk akomodasi, sarapan harian, layanan laundry (lima potong per hari), sesi pemotretan profesional, serta kredit makan senilai US$100 di Lila Cita Tavern, restoran bergaya santai yang menyajikan koktail dan bir lokal.
“Kemewahan sejati terletak pada kebebasan untuk sepenuhnya meresapi semangat Bali,” ujar Gottfried Bogensperger, General Manager Grand Hyatt Bali. “Penawaran ini dirancang untuk memperpanjang pengalaman tamu secara lebih bermakna, tidak sekadar liburan singkat.”
Dengan 636 kamar, suite, dan vila yang dirancang menyerupai kampung tradisional Bali, Grand Hyatt Bali menyajikan pengalaman menginap yang otentik. Fasilitas seperti kolam laguna, restoran internasional, serta pertunjukan seni budaya di Pasar Senggol menjadi nilai tambah yang memperkuat daya tarik hotel ini di pasar global.
Sementara itu, The Langham, Jakarta, juga berhasil menjaga performa okupansi di tengah pembatasan anggaran pemerintah. Strategi diversifikasi pasar dan penguatan layanan lifestyle menjadi kunci keberhasilan hotel mewah yang berlokasi di kawasan bisnis SCBD ini.
Debby Setiawaty, Director of Communications The Langham, Jakarta, menyampaikan bahwa meskipun kontribusi dari segmen pemerintah menurun, dampaknya tidak terlalu signifikan terhadap tingkat hunian.
“Secara positioning, The Langham Jakarta banyak melayani segmentasi korporasi lokal dan internasional, MICE, serta tamu leisure domestik dan ekspatriat, sehingga penurunan di segmen pemerintah masih dapat kami kelola dengan baik,” jelasnya.
Sebelum adanya efisiensi, pendapatan hotel didominasi oleh segmen korporasi, disusul oleh retail dan MICE. Segmen pemerintah berada di urutan berikutnya. Namun, pasca kebijakan efisiensi, manajemen hotel memperkuat pendekatan ke pasar-pasar alternatif tersebut, termasuk menghadirkan berbagai program menginap seperti paket liburan dan pernikahan.
Restoran-restoran di The Langham Jakarta seperti Tom’s, ALICE, T’ang Court, Morimoto, dan Artesian turut menjadi daya tarik tersendiri. “Kami juga aktif menawarkan paket staycation bagi masyarakat lokal, mengandalkan pelayanan personal, fasilitas mewah, dan lokasi strategis,” tambah Debby.
The Langham juga menawarkan layanan eksklusif seperti butler service, kolam renang indoor tertinggi di Jakarta, serta fasilitas spa premium Chuan Spa yang menjadi favorit wisatawan domestik maupun komunitas ekspatriat. Selain kamar, kontribusi pendapatan hotel juga banyak berasal dari sektor F&B dan wellness, termasuk layanan barbershop premium Barberia.
“Dengan pelayanan yang personal dan selalu mengacu pada kepuasan pelanggan, bisnis ini pun menjadi peluang yang menjanjikan,” ujar Debby.
Terkait keberlanjutan bisnis hotel mewah di tengah kebijakan efisiensi, Debby berharap adanya dukungan dari pemerintah, seperti relaksasi pembatasan penggunaan hotel berbintang lima untuk kegiatan resmi.
“Kami berharap setidaknya ada fleksibilitas dalam kapasitas terbatas, serta kolaborasi dengan asosiasi pariwisata untuk membangkitkan kembali pasar MICE dan leisure,” pungkasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Namun, di tengah tekanan itu, sejumlah hotel bintang lima tetap mampu menunjukkan ketahanan dengan mengalihkan fokus ke pasar non-pemerintah. Grand Hyatt Bali, misalnya, berhasil menjaga stabilitas operasional dengan mengandalkan wisatawan internasional dari segmen leisure, yang tetap menjanjikan di tengah dinamika ekonomi dan kebijakan anggaran.
Baca juga: Begini Cara Hotel Bertahan Tutupi Hilangnya Pasar Pemerintahan
“Grand Hyatt Bali tidak hanya fokus pada segmen MICE [Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition], tetapi juga kuat di pasar leisure. Tamu-tamu kami berasal dari berbagai negara seperti Australia, Singapura, dan kawasan Eropa,” ujar Ikha Dewi, Marketing Communication Executive Grand Hyatt Bali.
Hotel yang terletak di kawasan premium Nusa Dua ini memang mengalami penurunan kunjungan dari segmen pemerintah, tetapi operasionalnya masih berjalan normal. Sebagai respons, Grand Hyatt Bali meluncurkan program Stay Longer, Save More untuk menarik wisatawan yang ingin tinggal lebih lama dan menikmati pengalaman Bali secara lebih mendalam.
Program ini ditujukan bagi wisatawan yang menginap minimal tujuh malam melalui situs resmi Hyatt.com, dengan penawaran diskon hingga 20 persen untuk akomodasi, sarapan harian, layanan laundry (lima potong per hari), sesi pemotretan profesional, serta kredit makan senilai US$100 di Lila Cita Tavern, restoran bergaya santai yang menyajikan koktail dan bir lokal.
“Kemewahan sejati terletak pada kebebasan untuk sepenuhnya meresapi semangat Bali,” ujar Gottfried Bogensperger, General Manager Grand Hyatt Bali. “Penawaran ini dirancang untuk memperpanjang pengalaman tamu secara lebih bermakna, tidak sekadar liburan singkat.”
Dengan 636 kamar, suite, dan vila yang dirancang menyerupai kampung tradisional Bali, Grand Hyatt Bali menyajikan pengalaman menginap yang otentik. Fasilitas seperti kolam laguna, restoran internasional, serta pertunjukan seni budaya di Pasar Senggol menjadi nilai tambah yang memperkuat daya tarik hotel ini di pasar global.
Sementara itu, The Langham, Jakarta, juga berhasil menjaga performa okupansi di tengah pembatasan anggaran pemerintah. Strategi diversifikasi pasar dan penguatan layanan lifestyle menjadi kunci keberhasilan hotel mewah yang berlokasi di kawasan bisnis SCBD ini.
Debby Setiawaty, Director of Communications The Langham, Jakarta, menyampaikan bahwa meskipun kontribusi dari segmen pemerintah menurun, dampaknya tidak terlalu signifikan terhadap tingkat hunian.
“Secara positioning, The Langham Jakarta banyak melayani segmentasi korporasi lokal dan internasional, MICE, serta tamu leisure domestik dan ekspatriat, sehingga penurunan di segmen pemerintah masih dapat kami kelola dengan baik,” jelasnya.
Sebelum adanya efisiensi, pendapatan hotel didominasi oleh segmen korporasi, disusul oleh retail dan MICE. Segmen pemerintah berada di urutan berikutnya. Namun, pasca kebijakan efisiensi, manajemen hotel memperkuat pendekatan ke pasar-pasar alternatif tersebut, termasuk menghadirkan berbagai program menginap seperti paket liburan dan pernikahan.
Restoran-restoran di The Langham Jakarta seperti Tom’s, ALICE, T’ang Court, Morimoto, dan Artesian turut menjadi daya tarik tersendiri. “Kami juga aktif menawarkan paket staycation bagi masyarakat lokal, mengandalkan pelayanan personal, fasilitas mewah, dan lokasi strategis,” tambah Debby.
The Langham juga menawarkan layanan eksklusif seperti butler service, kolam renang indoor tertinggi di Jakarta, serta fasilitas spa premium Chuan Spa yang menjadi favorit wisatawan domestik maupun komunitas ekspatriat. Selain kamar, kontribusi pendapatan hotel juga banyak berasal dari sektor F&B dan wellness, termasuk layanan barbershop premium Barberia.
“Dengan pelayanan yang personal dan selalu mengacu pada kepuasan pelanggan, bisnis ini pun menjadi peluang yang menjanjikan,” ujar Debby.
Terkait keberlanjutan bisnis hotel mewah di tengah kebijakan efisiensi, Debby berharap adanya dukungan dari pemerintah, seperti relaksasi pembatasan penggunaan hotel berbintang lima untuk kegiatan resmi.
“Kami berharap setidaknya ada fleksibilitas dalam kapasitas terbatas, serta kolaborasi dengan asosiasi pariwisata untuk membangkitkan kembali pasar MICE dan leisure,” pungkasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.