Sutradara A Normal Woman, Lucky Kuswandi, mengungkapkan proses kreatif di balik desain rumah yang menjadi elemen sentral dalam filmnya tersebut. Bagi Lucky, rumah dalam film ini bukan sekadar latar atau tempat tinggal semata.
Rumah di filmnya memiliki peran penting dalam mencerminkan suasana batin dan tekanan emosional yang dialami oleh karakter utama, Mila.
Oleh karena itu, setiap sudut rumah dibangun secara presisi demi mendapatkan efek psikologis kepada para penontonnya yang mendukung apa yang tengah dirasakan para karakter di dalamnya.
Sutradara Lucky Kuswandi (Sumber gambar: Netflix)
"Sedari awal, saya memang ingin membuat rumah itu jadi satu hal penting di film ini. Jadi, bentuknya itu harus cantik, tapi dingin bagaikan penjara," ungkap Lucky.
Dalam mewujudkan visi visual tersebut, Lucky bekerja sama dengan Batara Goempar selaku sinematografer dan Teddy Setiawan selaku production designer.
Mereka bertiga sepakat bahwa rumah dalam film ini harus memiliki penampilan yang menarik secara estetika, tetapi secara emosional justru mesti menampilkan sebaliknya.
Konsep rumah sebagai "penjara cantik" ini muncul dari gagasan bahwa Mila, tokoh utama yang diperankan Marissa Anita ini punya suasana psikologis yang kompleks. Dia digambarkan tidak memiliki ruang untuk dirinya sendiri di lingkungan keluarganya.
Latar rumah di cerita ini pun dirancang untuk mencerminkan dominasi keluarga besar yang mengontrol hidupnya. Mila seolah menjadi tamu yang terjebak di dalam rumah milik orang lain.
“Personality rumah ini bukan untuk Mila, tapi untuk orang-orang yang mengontrol hidupnya,” jelas Lucky.
Lucky ingin menegaskan bahwa Mila sama sekali tidak memiliki kendali atas ruang pribadi maupun emosionalnya. Semua elemen dalam rumah itu dirancang untuk menggambarkan tekanan yang terus membungkam karakter tersebut.
Demi mewujudkan konsep ini secara maksimal, Lucky dan tim akhirnya memutuskan untuk membangun sendiri rumah tersebut di studio. Keputusan ini diambil agar mereka bisa menciptakan ruang yang benar-benar spesifik dan sesuai dengan kebutuhan naratif film.
Setiap sudut, dinding, dan ruang dalam rumah dibangun dengan pertimbangan dramatik yang kuat. Tidak hanya struktur bangunan, palet warna rumah pun dirancang secara seksama.
Dalam film ini, Lucky banyak memainkan tone warna yang didominasi oleh nuansa dingin dan netral. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suasana hampa dan tidak hangat. Dengan begitu, rumah tampak elegan di mata penonton, tetapi juga memberi rasa tidak nyaman yang perlahan-lahan mengendap.
“Kalau diperhatikan bentuk-bentuknya itu sangat kaku. Kita juga bikin ceiling-nya sedikit lebih rendah dari biasanya,” kata Lucky.
Menurutnya, pilihan membuat langit-langit rendah itu untuk memberikan kesan menekan dan membuat ruang terasa sempit, meskipun secara ukuran rumah ini sebenarnya sangat luas. Ini adalah strategi visual untuk menghadirkan ketegangan psikologis tanpa harus mengandalkan dialog.
Rumah itu juga dirancang dengan minim ekspresi pribadi. Tidak ada elemen yang menunjukkan siapa Mila sebenarnya. Dalam artian, tidak ada ruang yang bisa dia klaim sebagai miliknya.
Dengan menghilangkan jejak identitas Mila dalam rumah tersebut, film ini mencoba menekankan betapa terasingnya dia dalam kehidupan yang seharusnya menjadi tempat aman baginya.
Still photo film A Normal Woman (Sumber gambar: Netflix)
Hasil akhirnya adalah sebuah set rumah yang terlihat cantik dan elegan, tetapi secara atmosferik justru menciptakan rasa tidak nyaman. Penonton nantinya akan diajak untuk ikut merasakan sesak dan keterasingan yang dialami Mila.
Inilah yang pada akhirnya menjadi kekuatan desain produksi A Normal Woman, yakni membungkus emosi yang sunyi dalam bentuk visual yang indah tapi mengganggu. Lewat pendekatan desain seperti ini, Lucky Kuswandi menunjukkan bahwa set dalam film bisa lebih dari sekadar tempat. Latar juga bisa menjadi karakter itu sendiri.
A Normal Woman merupakan film produksi perdana dari rumah produksi Soda Machine Films. Film ini bakal ditayangkan secara eksklusif di Netflix mulai 24 Juli 2025.
Ceritanya akan berfokus pada karakter Milla, seorang perempuan yang menjalani kehidupan rumah tangga sempurna bersama suaminya. Namun, segalanya berubah ketika dia tiba-tiba terjangkit sebuah penyakit misterius. Penyakit ini kemudian membuka rahasia kelam dari masa lalunya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.