Rahmi Hidayati, salah satu pendiri Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia. (Sumber Foto: Hypeabis.id/Kintan Nabila)

Eksklusif Rahmi Hidayati: Misi Melestarikan Kebaya sebagai Identitas Perempuan Indonesia

23 July 2025   |   19:53 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Like
Rahmi Hidayati dikenal sebagai sosok di balik berdirinya Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), sebuah gerakan yang bertujuan menghidupkan kembali kebaya sebagai identitas budaya dan pakaian keseharian perempuan Indonesia. 

Adapun Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia secara resmi didirikan pada 4 Desember 2014 di Jakarta oleh Rahmi Hidayati bersama tiga rekannya, Kristin Samah, Tuti Marlina, dan Lia Nathalia. Mereka membentuk komunitas ini sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian kebaya sebagai busana tradisional yang menjadi identitas bangsa.

Baca juga: Kebaya Masuk Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, Menbud Sebut Jadi Simbol Persatuan Asean

Bertepatan dengan momentum Hari Kebaya Nasional yang diperingati setiap 24 Juli, Rahmi bersama komunitas PBI mengajak perempuan dari berbagai latar belakang untuk kembali mengenakan kebaya dengan bangga, serta menunjukkan bahwa kebaya tetap menjadi busana yang relevan di kehidupan modern. 

Kepada Hypeabis.id, Rahmi memaparkan perannya menjaga eksistensi kebaya melalui program-program komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia, serta bagaimana dia memaknai kebaya yang bukan hanya sebatas busana seremonial, melainkan pakaian sehari-hari yang mencerminkan identitas bangsa.

Apa yang mendorong Anda beralih dari dunia jurnalisme ke pelestarian kebaya hingga akhirnya mendirikan Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia?
Sebelum mendirikan Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), saya sempat menjadi wartawan sejak masih semester tiga kuliah. Setelah tidak lagi kerja di media, saya dan teman-teman wartawan sering ngumpul dan iseng-iseng foto bareng. Salah satu teman kami bilang, "Yuk, kita pakai kebaya!" Dan ternyata hasil fotonya terlihat lebih anggun, dari situ kami mulai tertarik mendalami kebaya.

Karena kami wartawan, rasa ingin tahunya tinggi. Saya mulai menelusuri dan ternyata kebaya makin jarang dikenakan, apalagi sebagai busana harian. Kami pun mulai membuat diskusi budaya dan mengundang teman-teman dari media. Karena jaringan kami luas, acara pertama kami langsung tersebar dan diliput berbagai media.

Bagaimana komunitas PBI mendorong pelestarian kebaya?
Kita punya program Kebaya Goes to School, Kebaya Goes to Campus, dan Kebaya Goes to Office. Tujuannya memperkenalkan kebaya ke generasi muda. Ada juga program Kebaya Goes to the World. Saya sering hubungi Kedubes Indonesia di luar negeri untuk menggelar acara kebaya dengan WNI di sana. Kami sudah pernah ke Tokyo, Bangkok, bahkan Nepal.

Selain itu, ada juga gerakan Selasa Berkebaya. Kenapa hari Selasa? Karena bunyinya mirip dengan "kebaya". Kami mengimbau orang-orang untuk memakai kebaya setiap hari Selasa. 
 

Komunitas PBI (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi Rahmi Hidayati)

Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi Rahmi Hidayati)


Bagaimana perjalanan Anda dan komunitas PBI saat mendaftarkan kebaya ke UNESCO?
Saya bersama komunitas PBI pertama kali mengusulkan pengajuan kebaya sebagai warisan budaya Indonesia ke UNESCO pada 2017, bertepatan saat kami menggelar acara 1.000 Perempuan Berkebaya. Usulan ini kemudian digaungkan lagi saat kami membuat acara Kongres Berkebaya Nasional pada 5-6 April 2021 di Jakarta.

Sayangnya usulan kami tidak langsung dilanjutkan dengan upaya riset dan penyusunan dokumen, sampai akhirnya pada November 2022, Dewan Warisan Nasional (NHB) Singapura mengumumkan rencana untuk mendaftarkan kebaya sebagai warisan budaya tak benda UNESCO bersama tiga negara ASEAN lainnya, yaitu Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam, tanpa Indonesia.

Setelah digekar kongres-kongres dan pertemuan dengan pemerintah, akhirnya negara kita setuju ketika Malaysia mengajak Indonesia untuk mendaftarkan kebaya dalam skema joint nomination. Jadi ada lima negara ikut mendaftarkan yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand. UNESCO pun secara resmi menetapkan kebaya sebagai warisan budaya tak benda dunia pada 4 Desember 2024


Bagaimana perasaan Anda saat melihat kebaya yang merupakan warisan Indonesia didaftarkan ke UNESCO bersama dengan negara lain?
Dari awal kita sudah mengusulkan untuk mengajukan kebaya ke UNESCO, karena menurut aturannya negara yang sudah melestarikan budaya tertentu selama 20 tahun punya hak untuk mendaftarkannya. Sekarang ketika negara lain mulai ikut mendaftarkan juga, baru semuanya heboh. 

Sejujurnya, secara historis kebaya sangat lekat dengan akar budaya Indonesia. Tapi tak menutup kemungkinan, negara-negara yang serumpun dengan kita, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Singapura pasti punya sejarah panjang dengan kebaya. Sejak dulu nenek moyang kita banyak yang menikah dan merantau ke negara-negara tetangga, dari sanalah kebaya dipopulerkan di luar negeri.

Indonesia punya berbagai jenis kebaya, model seperti apa yang didaftarkan ke UNESCO?
Ada dua jenis yang didaftarkan, yakni kebaya encim hasil perkawinan budaya Tionghoa dan Betawi, serta kebaya labuh dari Kepulauan Riau. Mengingat Indonesia punya berbagai jenis kebaya, seperti kebaya Kartini, kebaya Kutu Baru, kebaya Sumba, kebaya Baduy, dan kebaya Basiba, ada kemungkinan untuk mendaftarkannya ke UNESCO.

Kebaya Indonesia punya model yang berbeda-beda, tapi diselaraskan dengan pakem atau aturan yang sama. Cirinya ada bukaan di depan, panjangnya simetris kiri dan kanan, berlengan (tidak buntung), dan sopan menutup tubuh. Bahannya boleh macam-macam, asal desainnya sesuai pakem.
 

h

Kegiatan Komunitas PBI (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi Rahmi Hidayati)

Anda sering terlihat mengenakan kebaya untuk mendaki dan melakukan aktivitas luar ruangan lainnya, apa yang ingin disampaikan melalui gerakan tersebut?
Saya suka mendaki, naik sepeda, bahkan mancing pakai kebaya, saya ingin membuktikan bahwa kebaya bukanlah pakaian yang ribet. Untuk aktivitas harian, pilih bahan kebaya yang nyaman seperti katun atau sifon yang bisa menyerap keringat, hindari bahan berat seperti brokat atau bludru.

Bawahnya bisa pakai celana atau rok panjang/pendek, asalkan sopan. Kalau mau pakai kain pun boleh, caranya gampang seperti pakai rok biasa. Apalagi sekarang banyak kain batik berbentuk rok yang bisa langsung dipakai.

Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap penggunaan kebaya untuk aktivitas harian?
Banyak orang beranggapan kebaya harusnya digunakan untuk acara formal dan seremonial saja seperti pernikahan atau kondangan, padahal sebenarnya kebaya sangat fungsional dan nyaman digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Mungkin mereka lupa, zaman dulu perempuan-perempuan Indonesia pergi menanam padi di sawah, jualan di pasar, memancing di laut pakai kebaya dan kain.

Apa peran Anda dan Komunitas PBI di Peringatan Hari Kebaya Nasional 2025?
Saya bersama komunitas PBI cabang Banyumas, Pekalongan, Salatiga dan Yogyakarta akan hadir di acara Peringatan Hari Kebaya Nasional yang digelar Kementerian Kebudayaan RI di Solo pada 27 Juli. Saya sendiri diminta menjadi pembicara untuk pengenalan jenis-jenis kebaya dan tutorial berkain.

Sementara, tepat di hari Kebaya Nasional 24 Juli 2025, PBI akan menggelar acara tentang kebaya di Bogor, dengan melibatkan teman-teman pengiat pelestarian budaya Nusantara. Acaranya mencakup pertunjukan tari, menyanyi, dan bermain alat musik angklung.

Program apa yang sedang dikerjakan oleh PBI tahun ini?
Saya dan teman-teman sedang memberdayakan masyarakat kampung adat nusantara. Fokus kami ada empat, yakni pengembangan potensi ekonomi lokal, pendidikan, kesehatan, dan pelestarian budaya.

Dari segi ekonomi misalnya, ibu-ibu di kampung adat diajari cara bikin kerajinan dan tas rajutan yang bisa dijual. Saya tunjukkan contoh tas rajutan dari brand lokal bernama yang produksinya dari Yogyakarta tapi sudah masuk Paris dan Swiss. Mereka pun tertarik dan kami bantu ajari teknik merajut, hasil tasnya bisa dititip jual lewat jaringan Komunitas PBI di luar negeri.

Kami juga ingin budaya-budaya kampung adat dikenali dan dihargai lebih luas. Contohnya di Baduy, dari bayi sampai nenek-nenek masih memakai kebaya setiap hari. Itu kan luar biasa. Kami juga mendukung mereka untuk tetap melestarikan ritual adat, musik tradisional, dan tarian khas daerahnya.

Baca juga: 4 Tips Memilih Kebaya yang Tepat & Nyaman ala Fashion Stylist Hagai Pakan

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Pengguna iPhone Segera Bisa Coba iOS 26, Era Liquid Glass Makin Dekat

BERIKUTNYA

Rambut Air-Dried ala Selena Gomez: Simpel, Segar, dan Tetap Memesona

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga