Sawah di Jepang Jadi Media Promosi Film Demon Slayer: Infinity Castle
10 July 2025 |
12:27 WIB
Sawah di Jepang kembali mencuri perhatian dunia, bukan karena panen melimpah atau teknologi pertanian modern, melainkan karena hamparan padi yang disulap jadi kanvas raksasa bergambar Tanjiro Kamado, karakter utama dari anime Demon Slayer:
Kimetsu no Yaiba. Tanbo art, begitulah seni menanam padi dengan pola ini disebut, yang menjadi cara unik warga Gyoda, Jepang, untuk mempromosikan film terbaru Demon Slayer: Infinity Castle.
Baca juga: Jarum dalam Jerami, Seruan Menjaga Sawah di Tengah Dunia yang Semakin Industrial
Bayangkan, dengan total 2,8 hektare sawah di kota Gyoda diubah menjadi potret Tanjiro lengkap dengan ekspresi heroiknya. Hasilnya, kalau dilihat dari atas, jelas bikin siapa saja terpukau.
Gambar ini terbentuk dari penanaman beberapa varietas padi dengan warna daun berbeda. Jadi, tanpa cat atau tinta buatan, dengan para relawan yang kabarnya mencapai 300 orang yang harus merancang pola sedetail itu hanya dengan benih dan lumpur sawah.
Tanbo art sendiri memang bukan hal baru di Jepang, tetapi kemunculannya selalu berhasil mencuri sorotan, apalagi kalau temanya pop culture sekelas Demon Slayer. Tanjiro bukan sekadar karakter fiksi.
Bagi para penggemar, dia adalah simbol perjuangan melawan keputusasaan, keberanian menghadapi iblis, dan kasih sayang keluarga. Jadi, kehadiran wajah Tanjiro di tengah hamparan padi hijau jelas membuat para fans sangat kagum dengan karya yang dibuat ini.
Uniknya lagi, tanbo art Tanjiro ini sengaja dibuat untuk merayakan dan mempromosikan film trilogi penutup saga Demon Slayer. Seperti genhype tahu, Infinity Castle akan menjadi babak klimaks pertarungan Hashira melawan Muzan Kibutsuji yang merupakan sang raja iblis sejak awal jadi biang keladi tragedi keluarga Tanjiro.
Film pertama dari trilogi ini bakal tayang perdana di Jepang pada 18 Juli 2025, sementara penayangannya di Indonesia dijadwalkan pada 15 Agustus 2025.
Promosi dengan metode tradisional semacam ini memang terasa berbeda. Di era serba digital, Demon Slayer justru memanfaatkan elemen budaya agraris Jepang untuk menguatkan keterikatan emosional fans.
Bukan hanya sekadar iklan, tetapi juga penegasan bahwa Demon Slayer adalah kisah yang tumbuh dari nilai-nilai Jepang, yaitu kerja sama, kesabaran, dan keindahan yang muncul dari alam.
Jadi, genhype yang sudah nunggu pertarungan epik di Infinity Castle, boleh banget mulai siap-siap marathon ulang animenya biar makin paham jalan ceritanya. Siapa tahu, setelah film rilis, genhype juga tergoda buat bikin tanbo art versi sendiri di halaman belakang rumah, meski skalanya nggak seluas sawah di Gyoda.
Baca juga: Trailer Demon Slayer: Infinity Castle Dirilis, Babak Pamungkas Franchise Legendaris Dimulai
Kimetsu no Yaiba. Tanbo art, begitulah seni menanam padi dengan pola ini disebut, yang menjadi cara unik warga Gyoda, Jepang, untuk mempromosikan film terbaru Demon Slayer: Infinity Castle.
Baca juga: Jarum dalam Jerami, Seruan Menjaga Sawah di Tengah Dunia yang Semakin Industrial
Bayangkan, dengan total 2,8 hektare sawah di kota Gyoda diubah menjadi potret Tanjiro lengkap dengan ekspresi heroiknya. Hasilnya, kalau dilihat dari atas, jelas bikin siapa saja terpukau.
Gambar ini terbentuk dari penanaman beberapa varietas padi dengan warna daun berbeda. Jadi, tanpa cat atau tinta buatan, dengan para relawan yang kabarnya mencapai 300 orang yang harus merancang pola sedetail itu hanya dengan benih dan lumpur sawah.
Tanbo art sendiri memang bukan hal baru di Jepang, tetapi kemunculannya selalu berhasil mencuri sorotan, apalagi kalau temanya pop culture sekelas Demon Slayer. Tanjiro bukan sekadar karakter fiksi.
Bagi para penggemar, dia adalah simbol perjuangan melawan keputusasaan, keberanian menghadapi iblis, dan kasih sayang keluarga. Jadi, kehadiran wajah Tanjiro di tengah hamparan padi hijau jelas membuat para fans sangat kagum dengan karya yang dibuat ini.
Uniknya lagi, tanbo art Tanjiro ini sengaja dibuat untuk merayakan dan mempromosikan film trilogi penutup saga Demon Slayer. Seperti genhype tahu, Infinity Castle akan menjadi babak klimaks pertarungan Hashira melawan Muzan Kibutsuji yang merupakan sang raja iblis sejak awal jadi biang keladi tragedi keluarga Tanjiro.
Film pertama dari trilogi ini bakal tayang perdana di Jepang pada 18 Juli 2025, sementara penayangannya di Indonesia dijadwalkan pada 15 Agustus 2025.
Promosi dengan metode tradisional semacam ini memang terasa berbeda. Di era serba digital, Demon Slayer justru memanfaatkan elemen budaya agraris Jepang untuk menguatkan keterikatan emosional fans.
Bukan hanya sekadar iklan, tetapi juga penegasan bahwa Demon Slayer adalah kisah yang tumbuh dari nilai-nilai Jepang, yaitu kerja sama, kesabaran, dan keindahan yang muncul dari alam.
Jadi, genhype yang sudah nunggu pertarungan epik di Infinity Castle, boleh banget mulai siap-siap marathon ulang animenya biar makin paham jalan ceritanya. Siapa tahu, setelah film rilis, genhype juga tergoda buat bikin tanbo art versi sendiri di halaman belakang rumah, meski skalanya nggak seluas sawah di Gyoda.
Baca juga: Trailer Demon Slayer: Infinity Castle Dirilis, Babak Pamungkas Franchise Legendaris Dimulai
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.