Moms, Ini Manfaat Musik untuk Perkembangan Anak
04 July 2025 |
19:00 WIB
Bukan hanya sekadar hiburan, ternyata musik memiliki peran vital dalam perkembangan kehidupan anak-anak. Alunan suara dan irama yang dikeluarkan dan didengar terbukti memiliki andil besar dalam mendukung sisi emosional, sosial, maupun neurologis si buah hati.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menjelaskan bahwa musik memiliki kemampuan unik untuk membantu anak mengenali, mengekspresikan, dan mengatur emosi mereka. “Musik bisa melakukan regulasi emosi, jadi anak bisa mengenali dan ekspresi emosi, simulasi dopamin, serotonin,” ujar Piprim.
Dengan kata lain, mendengarkan dan berinteraksi dengan musik dapat meningkatkan hormon-hormon kebahagiaan yang berdampak positif bagi suasana hati anak.
Selain itu, manfaat musik juga meluas pada aspek sosial anak. Aktivitas bermusik dalam kelompok dapat mendorong kemampuan anak untuk berempati, bekerja sama, serta menjalin interaksi sosial yang sehat. Aktivitas ini pun dianggap mampu meningkatkan keterampilan sosial secara keseluruhan.
Baca juga: Awas, Anak-anak Rentan Terpapar Isu Mental di Ruang Digital
Dalam dunia medis, Piprim menyebut bahwa musik sendiri bahkan sudah dimanfaatkan sebagai bagian dari terapi khususnya bagi anak dengan gangguan perkembangan seperti autisme, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), cerebral palsy (CP), hingga gangguan kecemasan. Pendekatan ini dikenal sebagai musik terapi.
Dalam pendekatan tersebut, musik digunakan secara terstruktur untuk merangsang bagian otak tertentu yang berperan dalam komunikasi, koordinasi motorik, hingga pengendalian emosi. Lebih jauh, musik juga disebut memiliki efek fisiologis terhadap tubuh, salah satunya dengan menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol.
Dalam bidang ilmu kedokteran anak, musik telah menjadi bagian dari kajian dalam cabang tumbuh kembang, psikososial, dan rehabilitasi. Oleh karena itu, orang tua didorong untuk mulai memperkenalkan musik sejak dini kepada anak. Sebab, di luar sarana hiburan, musik juga bisa menjadi sebagai alat bantu perkembangan yang efektif.
Pengenalan musik bisa dilakukan dalam bentuk sederhana mulai dari bernyanyi bersama, memainkan alat musik ritmis, hingga mengikuti kegiatan seni di sekolah atau komunitas. Jika dilakukan secara rutin dan dalam suasana yang positif, pendekatan ini dipercaya dapat membentuk fondasi mental dan sosial yang kuat bagi anak di masa depan.
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Tumbuh Kembang Lisa Pangemanan mengatakan, pengaruh musik terhadap perkembangan anak ternyata tidak dimulai setelah anak lahir. Ini sudah bisa diberikan sejak bayi dalam kandungan.
Respons terhadap suara telah dibentuk sejak trimester ketiga kehamilan, sehingga stimulasi auditori dari lingkungan luar termasuk musik juga sudah dapat dikenali oleh janin. “Respon terhadap suara itu sudah mulai ada pada 3 bulan terakhir kehamilan. Jadi mulai kapan? Ya mulai saat itu,” ungkap Lisa.
Oleh karena itu, orang tua sudah dapat mulai memperkenalkan musik dengan cara sederhana seperti menyanyi atau memutar lagu lembut. Dia menjelaskan, tiap elemen musik mulai dari ritme, melodi, harmoni, hingga intensitas memiliki peran dalam mengaktifkan bagian-bagian otak yang berbeda.
Pada anak-anak, rangsangan ini memicu pertumbuhan koneksi saraf yang penting dalam fase-fase perkembangan awal. Musik diketahui dapat menstimulasi area otak yang berkaitan dengan kemampuan kognitif, fungsi eksekutif, ingatan verbal, pemrosesan fonologis, hingga kemampuan matematika dan membaca.
Ketika anak aktif memainkan alat musik, berbagai kemampuan ikut terasah secara bersamaan. Dibutuhkan koordinasi motorik halus, kemampuan mendengar yang tajam, fokus, dan juga kerja sama jika dilakukan dalam kelompok. Aktivitas ini pun melatih empati karena anak belajar memahami tantangan yang dihadapi teman-temannya dalam proses belajar yang sama.
Selain itu, stimulasi musik juga ternyata memiliki kemiripan dengan fondasi kemampuan belajar. Ketika anak belajar musik, aspek seperti regulasi diri, fokus, memori kerja, hingga koordinasi motorik dilatih secara konsisten. Hal ini membentuk fondasi yang kuat untuk proses belajar lainnya, termasuk membaca dan berhitung.
Umumnya, paparan musik dapat dibagi menjadi dua kategori yakni pasif atau hanya mendengarkan, dan aktif seperti bernyanyi, bermain alat musik. Keduanya membawa manfaat, tetapi pendekatan aktif terbukti memberikan dampak yang lebih besar. Pada pendekatan aktif, otak bekerja lebih kompleks, koneksi antar-hemisfer otak lebih optimal, dan stimulasi emosional lebih dalam.
Namun, paparan pasif tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Anak-anak yang mendengarkan musik secara teratur juga menunjukkan peningkatan dalam kemampuan memori, bahasa, dan atensi.
Untuk genre musik, musik klasik seperti karya Mozart memang sering dianggap paling bermanfaat untuk perkembangan anak. Akan tetapi, Lisa menyebut anggapan ini lebih didasarkan pada banyaknya penelitian yang telah dilakukan terhadap genre tersebut. Faktanya, musik dari genre lain seperti gamelan juga telah terbukti memiliki dampak positif.
“Musik lain mungkin saja memberikan hasil yang sama,” jelas Lisa. Yang penting adalah melodi, tempo, dan kenyamanan yang ditimbulkan oleh musik tersebut, bukan semata-mata genrenya.
Namun, paparan musik juga memiliki batasan agar tidak menimbulkan overstimulasi. Volume suara yang terlalu tinggi berisiko merusak pendengaran anak terutama bila didengarkan dalam jangka waktu lama atau menggunakan earphone langsung.
Secara normatif, Lisa menyebut musik yang memberikan efek menenangkan memiliki ketukan 60-80 beat per menit dengan frekuensi sekitar 5000-8000 Hz, rentang yang mirip dengan percakapan manusia biasa.
Untuk aktivitas aktif seperti bermain alat musik, durasi ideal per sesi adalah sekitar 30-45 menit yang bisa dilakukan minimal 1-3 kali per minggu. Frekuensi dan durasi ini dinilai cukup untuk memberikan stimulasi tanpa membebani anak.
Baca juga: Ini Tiga Pilar Penting Dalam Parenting Anak
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso menjelaskan bahwa musik memiliki kemampuan unik untuk membantu anak mengenali, mengekspresikan, dan mengatur emosi mereka. “Musik bisa melakukan regulasi emosi, jadi anak bisa mengenali dan ekspresi emosi, simulasi dopamin, serotonin,” ujar Piprim.
Dengan kata lain, mendengarkan dan berinteraksi dengan musik dapat meningkatkan hormon-hormon kebahagiaan yang berdampak positif bagi suasana hati anak.
Selain itu, manfaat musik juga meluas pada aspek sosial anak. Aktivitas bermusik dalam kelompok dapat mendorong kemampuan anak untuk berempati, bekerja sama, serta menjalin interaksi sosial yang sehat. Aktivitas ini pun dianggap mampu meningkatkan keterampilan sosial secara keseluruhan.
Baca juga: Awas, Anak-anak Rentan Terpapar Isu Mental di Ruang Digital
Dalam dunia medis, Piprim menyebut bahwa musik sendiri bahkan sudah dimanfaatkan sebagai bagian dari terapi khususnya bagi anak dengan gangguan perkembangan seperti autisme, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), cerebral palsy (CP), hingga gangguan kecemasan. Pendekatan ini dikenal sebagai musik terapi.
Dalam pendekatan tersebut, musik digunakan secara terstruktur untuk merangsang bagian otak tertentu yang berperan dalam komunikasi, koordinasi motorik, hingga pengendalian emosi. Lebih jauh, musik juga disebut memiliki efek fisiologis terhadap tubuh, salah satunya dengan menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol.
Dalam bidang ilmu kedokteran anak, musik telah menjadi bagian dari kajian dalam cabang tumbuh kembang, psikososial, dan rehabilitasi. Oleh karena itu, orang tua didorong untuk mulai memperkenalkan musik sejak dini kepada anak. Sebab, di luar sarana hiburan, musik juga bisa menjadi sebagai alat bantu perkembangan yang efektif.
Pengenalan musik bisa dilakukan dalam bentuk sederhana mulai dari bernyanyi bersama, memainkan alat musik ritmis, hingga mengikuti kegiatan seni di sekolah atau komunitas. Jika dilakukan secara rutin dan dalam suasana yang positif, pendekatan ini dipercaya dapat membentuk fondasi mental dan sosial yang kuat bagi anak di masa depan.
Stimulasi Multisensori Anak

Ilustrasi anak bermain musik (Sumber gambar: Pexels)
Respons terhadap suara telah dibentuk sejak trimester ketiga kehamilan, sehingga stimulasi auditori dari lingkungan luar termasuk musik juga sudah dapat dikenali oleh janin. “Respon terhadap suara itu sudah mulai ada pada 3 bulan terakhir kehamilan. Jadi mulai kapan? Ya mulai saat itu,” ungkap Lisa.
Oleh karena itu, orang tua sudah dapat mulai memperkenalkan musik dengan cara sederhana seperti menyanyi atau memutar lagu lembut. Dia menjelaskan, tiap elemen musik mulai dari ritme, melodi, harmoni, hingga intensitas memiliki peran dalam mengaktifkan bagian-bagian otak yang berbeda.
Pada anak-anak, rangsangan ini memicu pertumbuhan koneksi saraf yang penting dalam fase-fase perkembangan awal. Musik diketahui dapat menstimulasi area otak yang berkaitan dengan kemampuan kognitif, fungsi eksekutif, ingatan verbal, pemrosesan fonologis, hingga kemampuan matematika dan membaca.
Ketika anak aktif memainkan alat musik, berbagai kemampuan ikut terasah secara bersamaan. Dibutuhkan koordinasi motorik halus, kemampuan mendengar yang tajam, fokus, dan juga kerja sama jika dilakukan dalam kelompok. Aktivitas ini pun melatih empati karena anak belajar memahami tantangan yang dihadapi teman-temannya dalam proses belajar yang sama.
Selain itu, stimulasi musik juga ternyata memiliki kemiripan dengan fondasi kemampuan belajar. Ketika anak belajar musik, aspek seperti regulasi diri, fokus, memori kerja, hingga koordinasi motorik dilatih secara konsisten. Hal ini membentuk fondasi yang kuat untuk proses belajar lainnya, termasuk membaca dan berhitung.
Umumnya, paparan musik dapat dibagi menjadi dua kategori yakni pasif atau hanya mendengarkan, dan aktif seperti bernyanyi, bermain alat musik. Keduanya membawa manfaat, tetapi pendekatan aktif terbukti memberikan dampak yang lebih besar. Pada pendekatan aktif, otak bekerja lebih kompleks, koneksi antar-hemisfer otak lebih optimal, dan stimulasi emosional lebih dalam.
Namun, paparan pasif tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Anak-anak yang mendengarkan musik secara teratur juga menunjukkan peningkatan dalam kemampuan memori, bahasa, dan atensi.
Untuk genre musik, musik klasik seperti karya Mozart memang sering dianggap paling bermanfaat untuk perkembangan anak. Akan tetapi, Lisa menyebut anggapan ini lebih didasarkan pada banyaknya penelitian yang telah dilakukan terhadap genre tersebut. Faktanya, musik dari genre lain seperti gamelan juga telah terbukti memiliki dampak positif.
“Musik lain mungkin saja memberikan hasil yang sama,” jelas Lisa. Yang penting adalah melodi, tempo, dan kenyamanan yang ditimbulkan oleh musik tersebut, bukan semata-mata genrenya.
Namun, paparan musik juga memiliki batasan agar tidak menimbulkan overstimulasi. Volume suara yang terlalu tinggi berisiko merusak pendengaran anak terutama bila didengarkan dalam jangka waktu lama atau menggunakan earphone langsung.
Secara normatif, Lisa menyebut musik yang memberikan efek menenangkan memiliki ketukan 60-80 beat per menit dengan frekuensi sekitar 5000-8000 Hz, rentang yang mirip dengan percakapan manusia biasa.
Untuk aktivitas aktif seperti bermain alat musik, durasi ideal per sesi adalah sekitar 30-45 menit yang bisa dilakukan minimal 1-3 kali per minggu. Frekuensi dan durasi ini dinilai cukup untuk memberikan stimulasi tanpa membebani anak.
Baca juga: Ini Tiga Pilar Penting Dalam Parenting Anak
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.