Educated Manticore disebut-sebut sebagai kelompok Advanced Persistent Threat asal Iran (Sumber gambar/ilustrasi: Pexels/ Pixabay)

Kelompok Peretas Iran Gunakan AI dan Phishing untuk Sasar Akademisi Israel

28 June 2025   |   18:36 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah eskalasi konflik Iran dan Israel, serangan dunia maya meningkat. Laporan Check Point Research mengungkap kelompok peretas Iran, Educated Manticore, menggunakan spear-phishing canggih untuk menyasar pakar keamanan siber dan ilmuwan komputer di Israel, memanfaatkan teknologi web modern serta kredibilitas palsu demi mencuri data sensitif.

Dikutip dari laman Check Point Research, Educated Manticore terus menimbulkan ancaman yang terus-menerus dan berdampak tinggi, khususnya terhadap individu di Israel selama fase eskalasi konflik Iran-Israel.

“Meskipun semakin terekspos oleh komunitas keamanan siber, kelompok tersebut terus beroperasi dengan stabil, ditandai dengan spear-phishing yang agresif, penyiapan domain, subdomain, dan infrastruktur yang cepat, serta penumpasan cepat saat teridentifikasi,” demikian tertulis.

Baca juga: Kebocoran 16 Miliar Data Guncang Dunia Siber, Mayoritas Password Media Sosial

Kelompok Advanced Persistent Threat (APT) asal Iran, Educated Manticore, tetap mampu beroperasi efektif meski berada di bawah pengawasan ketat. Mereka menggunakan kit phishing khusus yang meniru halaman login populer seperti Google, serta memanfaatkan teknologi web modern seperti Single Page Application (SPA) berbasis React dan perutean dinamis.

Kit serangan ini juga didukung koneksi WebSocket real-time untuk mengirim data curian, dengan desain yang memungkinkan penyembunyian kode dari pemeriksaan lebih lanjut. Check Point Research mencatat bahwa kelompok ini kerap beroperasi di lingkungan sensitif dan berbasis kepercayaan, memanfaatkan kerentanan target.

“Taktik Educated Manticore diperkirakan akan terus difokuskan pada pencurian identitas dan kredensial demi kepentingan rezim,” tulis Check Point.

Tim riset juga telah memantau kelompok ini selama beberapa bulan. Selama bertahun-tahun, Educated Manticore konsisten menggunakan spear-phishing sebagai strategi utama dalam menyasar individu dari sektor pemerintahan, militer, riset, media, dan lainnya.

Mereka turut mengembangkan dan menyebarkan backdoor khusus seperti charmpower (alias powerstar) dan powerless. Salah satu metode serangan mereka adalah menyebarkan undangan rapat palsu, dengan menyamar sebagai tokoh berpangkat, jurnalis, atau peneliti untuk membangun kredibilitas dan memancing interaksi.

Korban lalu diarahkan ke situs phishing yang dirancang mengumpulkan kredensial akun seperti Google, Outlook, atau Yahoo.

Setelah perang Iran–Israel pecah, Check Point Research mencatat fase baru serangan Educated Manticore. Kelompok peretas ini mulai menyamar sebagai karyawan perusahaan keamanan siber untuk menargetkan pakar akademis terkemuka di bidang siber dan teknologi komputer di Israel.

Sejak pertengahan Juni 2025, mereka mengirim email dan pesan WhatsApp berpola profesional—dengan tata bahasa rapi, tata letak terstruktur, dan tanpa kesalahan, yang diduga dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Meski tampak meyakinkan, beberapa target berhasil mengenali kejanggalan, seperti ketidaksesuaian nama pengirim dan alamat email. Pesan WhatsApp yang dikirim juga kerap memanfaatkan situasi geopolitik untuk memancing korban ke pertemuan mendesak, bahkan sempat menyarankan pertemuan langsung di Tel Aviv.

Awalnya, pesan tidak memuat tautan. Namun, lewat interaksi yang cepat dan persuasif, korban akhirnya diarahkan ke tautan rapat daring yang terhubung ke infrastruktur phishing milik penyerang.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Tragedi Rinjani, Kemenpar Tegaskan SOP Wajib Ditaati di Destinasi Wisata Ekstrem

BERIKUTNYA

Pola Operasi Commuter Line di Stasiun Tanah Abang Berubah Mulai 29 Juni 2025, Cek Detailnya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga