Ilustrasi buku Mengunci Ingatan (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Mengenang Yudhis, Penyair Sikat Gigi, dan Warisan Kata yang Abadi

19 June 2025   |   15:45 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Penyair dan sastrawan Yudhistira A.N.M. Massardi telah berpulang setahun silam, akan tetapi karya-karyanya tetap abadi. Terbaru, untuk mengenang sosoknya, sebuah buku biografi tentangnya diluncurkan di Perpustakaan Jakarta Cikini dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, pada Mei 2025.

Dibuat untuk mengenang setahun kepergian Yudhis, buku ini merupakan adalah satu cara dari para sahabat dan rekan sejawat untuk mendokumentasikan kiprah penyair 'kembar' itu. Yudhis merupakan saudara kembar dari sastrawan Noorca M. Massardi, yang juga banyak berkecimpung di dunia kepengarangan.

Yanto Musthofa, editor dari buku Mengunci Ingatan, mengatakan ihwal pembuatan buku biografi ini sebenarnya sudah ingin dibuat Yudhis sejak lama. Bahkan sang penyair juga sudah mempersiapkan  draft awalnya yang terdiri dari 7 bab, akan tetapi wacana tersebut belum sempat terealisasi.

Baca Juga: Kenang Penyair Wiji Thukul, Makarya Gelar Diskusi Buku & Musikalisi Puisi

Arkian, untuk mengenang kiprah dan perjalanan artistiknya sebagai penyair dan penulis serba bisa, maka dibuatlah buku tersebut. Selain menuliskan kisah hidup, buku ini juga berisi catatan-catatan kenangan keluarga, dan sahabat yang selama ini bersinggungan dengan Yudhis.

"Proses pembuatan bukunya berlangsung sekitar 1 bulan, termasuk riset. Salah satunya terkait kontroversi menangnya mas Yudhis sebagai salah satu pemenang penghargaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk buku puisi Sajak Sikat Gigi pada 1978," katanya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Penerbit KPG (@penerbitkpg)



Secara umum, buku ini memang mendedah tentang kiprah kepenyairan Yudhis yang dimulai di Yogyakarta. Momen ini ditandai dengan bergabungnya Yudhis di Persada Studi Klub, sebuah komunitas kreatif penulis-penulis muda pada 1960-an, yang dimotori oleh Umbu Landu Paranggi.

Salah satunya misal, terefleksi dalam tulisan bertajuk 'Kembara Sastra Kedua dengan Gen Juara' yang menjadi pembuka bab. Dalam bab ini diceritakan bagaimana Yudhis yang lahir di Subang, kemudian hijrah ke Yogyakarta untuk memulai laku sebagai seorang sastrawan.

Dalam bab lain, kita juga akan membaca bagaimana saat Yudhis membuat geger publik sastra, khususnya di Jakarta pada dekade 70-an. Momen ini terjadi saat buku puisinya, Sajak Sikat Gigi, terpilih sebagai salah pemenang penghargaan bergengsi yang diumumkan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 1978.

Namun, polemik meletus karena pemenang lainnya, yakni Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi WM, menolak keputusan juri yang terdiri dari Dodong Djiwapardja, Toeti Heraty, dan Goenawan Mohamad. Walhasil, nama Yudhis pun semakin moncer di belantika sastra Indonesia.

Belakangan, barulah diketahui terdapat kesalahan administrasi panitia, bahwa buku Sajak Sikat Gigi tidak berhak masuk dalam penjurian karena diterbitkan di tahun 1978. Sedangkan sayembara penulisan puisi pada saat itu hanya untuk buku-buku puisi yang terbit di tahun 1977.

Selain kisah Yudhis di dunia sastra, teater, dan jurnalistik, buku ini juga menceritakan masa dua dasawarsa terakhir hidup Yudhis. Terutama setelah dia mendirikan sekolah untuk kaum dhuafa bersama istrinya, Siska Yudhistira Massardi, yang kini masih meneruskan perjuangan suaminya.

Yudhistira A.N.M Massardi (1954—2024) memulai karier di dunia sastra melalui pergaulannya dengan para seniman di Malioboro, Yogyakarta. Mengikuti saudara kembarnya, Noorca Marendra Massardi, dia pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai jurnalis di berbagai media.

Selain menulis puisi, Yudhis juga membuat novel Arjuna Mencari Cinta (1977). Pada masanya novel ini juga mendapat respons baik karena isu yang diangkat hingga pilihan pendekatan kesusastraannya yang unik karena karakternya didasarkan dari nama-nama dalam pewayangan.


Data Buku
Judul: Mengunci Ingatan: Biografi dan Catatan Kenangan Yudhistira Anm Massardi
Penulis: Yanto Musthofa, et al
Perancang Sampul: Risa Kumalasita
Editor: Alpha Hambally
Seting Tata Letak: Wendie Artswenda
Tahun Terbit: 2025
Jumlah Halaman: 334 Halaman
Penerbit: KPG
ISBN:9786231343772

Baca Juga: Buku Dari Laut untuk Manusia, Tekankan Perubahan Paradigma Kelautan Nasional

SEBELUMNYA

5 Tempat Bermain Padel di Jakarta yang Wajib Genhype Coba!

BERIKUTNYA

Belajar dari Thailand, Saatnya Indonesia Serius Kelola Wisata Sejarah

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga