Te Whare Karioi saat beraksi dalam peringatan hari perempuan internasional di Selandia Baru (sumber gambar: laman Te Whare Karioi)

Kelompok Seniman Te Whare Karioi Hidupkan Budaya Maori di Taman Ismail Marzuki

19 June 2025   |   11:27 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Ada suasana berbeda di Studio Tari, lantai 4, Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada Rabu (18/6/25). Puluhan orang tampak berkumpul di aula luas itu. Diiringi petikan gitar dan teriakan penuh semangat, mereka menghentakkan kaki dan menyanyikan lagu dengan ekspresi penuh energi.

Mereka tengah mengikuti lokakarya tari yang dipandu langsung oleh Te Whare Karioi, kelompok seni pertunjukan asal Māori, Selandia Baru. Workshop ini menjadi bagian dari rangkaian acara perayaan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Selandia Baru yang tahun ini dirayakan lewat pendekatan budaya.

Te Whare Karioi adalah kelompok seniman keliling berbasis di Tāmaki Makaurau (Auckland), Aotearoa Selandia Baru. Dalam pandangan dunia Māori, atau yang disebut Te Ao Māori, kata "karioi" menggambarkan bentuk hiburan yang tak sekadar pertunjukan, tetapi juga sarana pewarisan nilai-nilai leluhur dan ekspresi kolektif.

Baca juga: Matariki Resmi Jadi Perayaan Nasional, Simak Makna Tahun Baru Suku Maori

Anggota Dewan Kesenian Jakarta, Thomas Aquino W. Hayuta, mengatakan, acara ini memang dirancang sebagai bentuk pertukaran budaya yang konkret antara kedua negara. Selain workshop tari, program ini juga mempertemukan kurator seni rupa dari Indonesia dan Selandia Baru untuk berbagi pengalaman dan memperluas jejaring antar pelaku seni.

Aquino menjelaskan inisiatif ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali semangat kesenian di Taman Ismail Marzuki. Selama empat hari ke depan, Te Whare Karioi juga dijadwalkan menggelar pertunjukan di beberapa titik di Jakarta serta melakukan kunjungan ke situs-situs budaya penting di ibu kota.

“Dari acara seperti ini, kita berharap bisa membangun kolaborasi yang lebih besar. Misalnya, festival bersama yang melibatkan kedutaan dari berbagai negara di TIM. Itu rencana jangka panjang kami, mudah-mudahan bisa terwujud,” katanya.
 


Sementara itu, Mr. Piripi, salah satu anggota Te Whare Karioi, mengaku senang dapat memperkenalkan kebudayaan Māori langsung kepada publik Indonesia. Dia menyampaikan kekagumannya atas antusiasme peserta di Jakarta, meskipun sempat terkejut dengan kemacetan kota yang padat.

Piripi menceritakan bahwa Te Whare Karioi memiliki sejarah panjang dalam menyebarkan budaya Māori ke berbagai penjuru dunia. Generasi sebelum dirinya telah lebih dulu menjelajah membawa kekayaan budaya itu ke panggung global. Kini, dia merasa bertanggung jawab meneruskan tradisi tersebut.

“Saya memilih untuk meneruskan warisan ini bukan hanya karena pentingnya memperkenalkan budaya kami ke dunia,” ujarnya. “Tapi juga untuk membuka lapangan kerja [mahi] bagi seniman Māori dan mewariskan pengetahuan leluhur [mātauranga Māori] kepada generasi muda," katanya.

Tak hanya menghadirkan workshop tari, Kedutaan Besar Selandia Baru juga menggelar perayaan Matariki di Jakarta. Acara itu diadakan pada malam sebelumnya, Selasa (17/6/25), di Ayana Midplaza, Jakarta Selatan, sebagai bagian dari tradisi tahunan yang menandai Tahun Baru Māori.
 

Sejumlah anggota Te Whare Karioi saat menarikan tari tradisi suku Maori di Taman Ismail Marzuki, Ranu, (18/6/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Sejumlah anggota Te Whare Karioi saat menarikan tari tradisi suku Maori di Taman Ismail Marzuki, Ranu, (18/6/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)


Matariki adalah nama gugus bintang Pleiades dalam bahasa Māori. Kemunculannya di langit timur sebelum fajar menandai awal tahun baru dalam kalender tradisional Māori. Tradisi ini kini telah menjadi hari libur nasional di Selandia Baru yang sarat nilai spiritual dan budaya.

Perayaan Matariki biasanya dipakai untuk mengenang leluhur dan anggota keluarga yang telah wafat, sekaligus menjadi waktu untuk refleksi, berbagi cerita, menyanyikan waiata (lagu Māori), dan menampilkan haka (tarian seremonial). Sebuah momentum untuk memperkuat ikatan, harapan, dan penghormatan antar generasi.

Dengan semangat Matariki dan energi pertunjukan Te Whare Karioi, jalinan budaya antara Indonesia dan Selandia Baru diharap menemukan ritme baru. Sebaba, di panggung TIM, nantinya publik tidak hanya menyaksikan tarian, tetapi juga percakapan tanpa kata, tentang identitas, keberlanjutan, dan semangat yang melintasi batas bangsa.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Deretan Film Seru Siap Tayang di Bioskop Indonesia Juni - Juli 2025

BERIKUTNYA

Semasa Piknik 2025 Hadir Lagi di Taman Lapangan Banteng, Cek Agendanya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga