Hipertensi dan Gangguan Jantung (Sumber Foto: Freepik)

Kaitan Hipertensi dan Gangguan Jantung, serta Pemicunya di Usia Muda

18 June 2025   |   14:30 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Kabar berpulangnya Gustiwiw pada usia 25 tahun mengejutkan banyak orang, terutama para penggemar yang menikmati karya-karyanya. Gustiwiw atau Gusti Irwan Wibowo merupakan seorang musisi, produser musik, kreator konten dan penyiar radio.

Gustiwiw meninggal pada Minggu pagi, 15 Juni 2025, di sebuah penginapan di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dia ditemukan tak sadarkan diri setelah jatuh di kamar mandi penginapan. Selain itu juga ada komplikasi berbagai penyakit seperti tekanan darah tinggi yang memicu gangguan pada jantung.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi memang dijuluki the silent killer. Meski kerap tak menimbulkan gejala awal, kondisi ini sangat berisiko menyebabkan berbagai gangguan kardiovaskular, terutama jika tak dikontrol dalam jangka panjang. 

Baca juga: Waspadai Penyakit Hipertensi di Usia 40, Begini Cara Mencegahnya 

Framingham Heart Study, lembaga studi jantung paling panjang sejak 1948, menemukan bahwa hipertensi merupakan faktor dominan dalam menyebabkan gagal jantung. Sekitar 70-90 persen penderita gagal jantung memiliki riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya.

Begitupun dengan laporan dari American Heart Association menyebutkan, tekanan darah tinggi membuat pria dua kali lebih berisiko dan wanita tiga kali lebih berisiko mengalami gagal jantung.

Kondisi ini juga meningkatkan potensi penyakit jantung koroner, stroke, hingga aneurisma aorta. Semuanya merupakan gangguan serius yang dapat berujung fatal bila tidak ditangani.

Hipertensi menyebabkan jantung harus memompa lebih keras, sehingga otot jantung menebal (left ventricular hypertrophy/LVH). Dalam jangka waktu lama, LVH bisa menyebabkan serangan jantung (heart attack), gagal jantung (heart failure), aritmia, bahkan kematian mendadak.

Serangan jantung bisa datang tanpa peringatan yang jelas. Namun sering kali, tubuh sebenarnya telah memberi sinyal sejak lama seperti mudah lelah, pusing, nyeri dada, atau sesak napas yang sering diabaikan. 

Para pakar kesehatan menekankan pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara berkala, perubahan gaya hidup, serta melakukan pengobatan yang disarankan dokter. 
 

Penyebab Gangguan Jantung di Usia Muda

Gangguan jantung tak hanya terjadi pada lansia, masalah kesehatan tersebut kini rentan dialami generasi muda di usia 20-40 tahun. Peningkatan serangan jantung dan kematian mendadak pada orang dewasa muda, dipicu oleh gaya hidup tidak sehat seperti berikut ini. 


1. Pola makan tidak sehat dan kurang olahraga

Mengonsumsi makanan cepat saji yang tinggi garam, gula, dan lemak jenuh, tapi rendah serat dan antioksidan tidak disarankan. Pola makan seperti ini secara perlahan memicu peradangan kronis, meningkatkan tekanan darah, dan mempercepat penumpukan plak di dinding pembuluh darah. 

Di sisi lain, gaya hidup sedentari yang terlalu banyak duduk dan minim aktivitas fisik akan memperburuk kondisi metabolisme tubuh, seperti resistensi insulin dan kolesterol tinggi. Kombinasi keduanya mendorong terjadinya hipertrofi otot jantung (left ventricular hypertrophy), gangguan irama jantung, hingga serangan jantung dini. 


2. Riwayat hipertensi dan diabetes tipe 2

Hipertensi, diabetes tipe 2, dan dislipidemia semakin sering ditemukan pada individu usia 30-an, terutama akibat pola makan buruk dan obesitas yang dimulai sejak remaja. Ketiga kondisi ini saling berkaitan dan mempercepat kerusakan sistem kardiovaskular. 

Hipertensi memaksa jantung bekerja lebih keras, sementara dislipidemia khususnya kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi dan kolesterol baik (HDL) yang rendah akan mendorong pembentukan plak di pembuluh darah. Kombinasi keduanya memperbesar risiko aterosklerosis, penyempitan arteri, hingga serangan jantung dan gagal jantung dini. 

Di sisi lain, diabetes tipe 2 yang kini makin sering muncul di usia muda terjadi karena resistensi insulin yang dipicu kelebihan berat badan dan stres metabolik. 


3. Kebiasaan merokok dan vape 

Kebiasaan merokok dan penggunaan vape sejak remaja memiliki dampak langsung terhadap kesehatan jantung, terutama melalui percepatan proses aterosklerosis yaitu penumpukan plak di dinding pembuluh darah. Ini dapat meningkatkan risiko gangguan jantung serius, seperti serangan jantung, gagal jantung, dan aritmia. 


4. Stres dan tekanan berlebih

Saat seseorang mengalami stres berkepanjangan, tubuh akan meningkatkan produksi hormon adrenalin dan kortisol. Hormon-hormon ini memicu respons fight or flight yang menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. 

Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat mempercepat kerusakan dinding pembuluh darah, memperbesar risiko peradangan, dan pada akhirnya menyebabkan hipertensi kronis. 


5. Faktor genetik & penyakit bawaan

Faktor genetik dan penyakit jantung bawaan dapat meningkatkan risiko gangguan jantung serius di usia muda. Kelainan seperti kardiomiopati, defek septum, long-QT syndrome, dan aritmia genetik sering kali tidak terdeteksi sejak dini namun bisa menyebabkan kematian mendadak, terutama pada usia 20-30-an. 

Selain itu, kondisi turunan seperti hiperkolesterolemia familial membuat kadar kolesterol tinggi sejak lahir dan mempercepat aterosklerosis. Risiko makin besar bila dikombinasikan dengan gaya hidup buruk seperti merokok dan pola makan tak sehat. 

Baca juga: Kolesterol Mulai Menyerang Generasi Muda, Waspadai Penyakit Jantung dan Stroke

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Aturan Kiper Tak Boleh Pegang Bola Lebih dari 8 Detik Diuji Coba di Piala Dunia Antarklub

BERIKUTNYA

7 Hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Membeli Rumah Bekas

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga