Market Director JAFF Market Linda Gozali: 1 Film Indonesia Idealnya Dapat 28 Juta Penonton
09 June 2025 |
16:00 WIB
Program Film & Market Conference di JAFF Market 2025 akan kembali hadir tahun ini. Seperti tahun lalu, program ini akan menyoroti isu-isu strategis terkait ekosistem film di Indonesia. Tahun ini, salah satu sorotan utama yang akan dibahas mendalam adalah jumlah penonton Indonesia & keterbatasan layar di bioskop.
Market Director JAFF Market, Linda Gozali, mengatakan program ini menjadi momen bersama untuk merefleksikan perjalanan ekosistem film Indonesia. Secara khusus, dirinya juga menggandeng Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) untuk merancang dan mengkurasi program.
Baca juga: JAFF Market 2025 Usung 6 Program untuk Kenalkan Potensi Film Indonesia
"Pada prinsipnya, kami akan membawa topik yang tren pada saat ini. Salah satu yang akan jadi fokus pertama ialah kita akan memikirkan tentang jumlah penonton Indonesia. Mau sampai ke mana di tahun ke ini? Kita mau shoot to the best, atau sebenarnya kita perlu lebih mendalami hal lain, termasuk soal konsistensi," ungkap Linda.
Dengan pangsa pasar film Indonesia kini stabil di atas 60 persen, kata Linda, saat ini industri sebenarnya sedang dalam keadaan menggembirakan. Namun, sebagai pelaku film, kita juga patut untuk mempertanyakan banyak hal, termasuk sejauh mana film nasional bisa memperluas jangkauan penontonnya secara signifikan?
“Satu film itu sekarang terbanyak baru dapat 10 juta penonton. Kalau penduduk kita 280 juta, maka 10 persennya itu 28 juta. Saya pikir, satu film seharusnya punya potensi untuk menggarap 10 persen dari pasar. Ini kita bertahun-tahun masih 10 juta angka tertingginya,” imbuhnya.
Linda juga menyoroti tantangan struktural yang masih menjadi penghambat pertumbuhan jumlah penonton, terutama soal infrastruktur layar. Dengan distribusi bioskop yang masih terpusat di kota-kota besar, banyak wilayah Indonesia belum terlayani dengan baik.
“Apakah ini persoalan ada masyarakat yang belum punya kebiasaan menonton atau jangan-jangan spal akses layar,” tegasnya.
Diskusi mendalam ini diharapkan tidak hanya menghasilkan refleksi kolektif, tetapi juga rekomendasi konkret yang dapat mendorong tumbuhnya kebijakan dan praktik baru dalam pengembangan penonton, inovasi distribusi, dan ekspansi layar secara merata.
Linda mengatakan dalam diskusi nanti, pihaknya akan mengundang dari pihak eksibitor, produser film, dan tentu saja pemerintah. Dengan demikian, dia berharap ini tak hanya jadi diskusi kosong, tetapi rekomendasi kebijakan.
Setelah sukses pada penyelenggaraan perdananya, JAFF Market bakal kembali digelar tahun ini. Diselenggarakan pada 29 November hingga 1 Desember 2025 di Yogyakarta, JAFF Market edisi kedua akan menjadi ruang strategis bagi ekosistem perfilman Indonesia.
Pasar film pertama di Indonesia ini dirancang untuk menjadi etalase sinema Indonesia ke industri yang lebih luas. Tahun lalu, JAFF berhasil mendatangkan 6.700 pelaku film dari 19 negara dan menghasilkan setidaknya 63 kesepakatan bisnis senilai Rp36 miliar.
Di tengah peningkatan produksi dan antusiasme terhadap konten lokal, JAFF Market mencoba mengambil peran penting, yakni membuka ruang B2B domestik, memperluas jejaring internasional, dan menjadi jembatan kolaborasi lintas sektor.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Market Director JAFF Market, Linda Gozali, mengatakan program ini menjadi momen bersama untuk merefleksikan perjalanan ekosistem film Indonesia. Secara khusus, dirinya juga menggandeng Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) untuk merancang dan mengkurasi program.
Baca juga: JAFF Market 2025 Usung 6 Program untuk Kenalkan Potensi Film Indonesia
"Pada prinsipnya, kami akan membawa topik yang tren pada saat ini. Salah satu yang akan jadi fokus pertama ialah kita akan memikirkan tentang jumlah penonton Indonesia. Mau sampai ke mana di tahun ke ini? Kita mau shoot to the best, atau sebenarnya kita perlu lebih mendalami hal lain, termasuk soal konsistensi," ungkap Linda.
Dengan pangsa pasar film Indonesia kini stabil di atas 60 persen, kata Linda, saat ini industri sebenarnya sedang dalam keadaan menggembirakan. Namun, sebagai pelaku film, kita juga patut untuk mempertanyakan banyak hal, termasuk sejauh mana film nasional bisa memperluas jangkauan penontonnya secara signifikan?
“Satu film itu sekarang terbanyak baru dapat 10 juta penonton. Kalau penduduk kita 280 juta, maka 10 persennya itu 28 juta. Saya pikir, satu film seharusnya punya potensi untuk menggarap 10 persen dari pasar. Ini kita bertahun-tahun masih 10 juta angka tertingginya,” imbuhnya.
Linda juga menyoroti tantangan struktural yang masih menjadi penghambat pertumbuhan jumlah penonton, terutama soal infrastruktur layar. Dengan distribusi bioskop yang masih terpusat di kota-kota besar, banyak wilayah Indonesia belum terlayani dengan baik.
“Apakah ini persoalan ada masyarakat yang belum punya kebiasaan menonton atau jangan-jangan spal akses layar,” tegasnya.
Diskusi mendalam ini diharapkan tidak hanya menghasilkan refleksi kolektif, tetapi juga rekomendasi konkret yang dapat mendorong tumbuhnya kebijakan dan praktik baru dalam pengembangan penonton, inovasi distribusi, dan ekspansi layar secara merata.
Linda mengatakan dalam diskusi nanti, pihaknya akan mengundang dari pihak eksibitor, produser film, dan tentu saja pemerintah. Dengan demikian, dia berharap ini tak hanya jadi diskusi kosong, tetapi rekomendasi kebijakan.
Setelah sukses pada penyelenggaraan perdananya, JAFF Market bakal kembali digelar tahun ini. Diselenggarakan pada 29 November hingga 1 Desember 2025 di Yogyakarta, JAFF Market edisi kedua akan menjadi ruang strategis bagi ekosistem perfilman Indonesia.
Pasar film pertama di Indonesia ini dirancang untuk menjadi etalase sinema Indonesia ke industri yang lebih luas. Tahun lalu, JAFF berhasil mendatangkan 6.700 pelaku film dari 19 negara dan menghasilkan setidaknya 63 kesepakatan bisnis senilai Rp36 miliar.
Di tengah peningkatan produksi dan antusiasme terhadap konten lokal, JAFF Market mencoba mengambil peran penting, yakni membuka ruang B2B domestik, memperluas jejaring internasional, dan menjadi jembatan kolaborasi lintas sektor.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.