Pengunjung mengamati karya foto saat acara pembukaan Pameran Foto Gelegar Foto Nusantara 2025 di Galeri Nasional, Jakarta, Sabtu (7/6/2025). (Sumber foto: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

Menengok Indonesia Lewat Pameran Gelegar Foto Nusantara di Galeri Nasional

08 June 2025   |   07:39 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Ada kabar gembira buat penikmat fotografi. Pasalnya, pameran fotografi bertajuk Gelegar Foto Nusantara: Potret Sejarah dan Kehidupan resmi dibuka. Seteleng ini terbuka untuk umum dan dapat dinikmati publik mulai 7-13 Juni 2025 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Ekshibisi ini menjadi ajang langka yang mempertemukan seni fotografi dengan jejak-jejak penting sejarah negeri ini. Semuanya dirangkum dalam bingkai karya Guntur Soekarnoputra, atau yang karib disapa Mas Tok.

Tak hanya menjadi dokumentasi visual, pameran ini juga akan mengajak pengunjung untuk menelusuri cara pandang Guntur dalam merekam sejarah dengan kepekaan, empati, dan kedalaman refleksi yang khas.

Sebagai putra dari Presiden pertama Republik Indonesia, Guntur tumbuh di tengah pusaran sejarah bangsa. Namun, alih-alih menjadi tokoh politik, dia memilih jalur berbeda, yakni menyuarakan gagasannya melalui medium yang lebih sunyi: fotografi.

Baca juga: Karya Lukisan Cucu Guntur Soekarnoputra Ikut Dipajang di Pameran Gelegar Foto Nusantara

Identitasnya sebagai saksi sekaligus subjek sejarah menjadikan perspektifnya unik. Dia hadir dalam momen-momen besar, tetapi juga tahu bagaimana menangkap sisi manusiawi dari peristiwa monumental tersebut.

Karya-karyanya bukan hanya tentang ‘apa yang terjadi’, melainkan juga tentang ‘apa yang dirasakan’. Itulah yang membuat foto-foto Guntur Soekarnoputra begitu kuat.

Memasuki ruang pamer, pengunjung akan langsung disambut dengan sepilihan karya yang menggambarkan jejak langkah Soekarno, bukan hanya sebagai pemimpin politik, tetapi juga sebagai tokoh kebudayaan, orator ulung, dan bapak ideologis bangsa.

Lewat lensa Guntur, pengunjung dapat melihat bagaimana ayahandanya tampil dalam berbagai peran, dari memimpin rapat kenegaraan, menyampaikan pidato penuh semangat, berdialog dengan rakyat kecil, hingga menjalankan diplomasi di panggung internasional.

 

Dwitunggal oleh Guntur Soekarno

Dwitunggal oleh Guntur Soekarno  (Sumber foto: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

 

 

Nduk Slendangmu oleh Guntur Soekarno

Nduk Slendangmu oleh Guntur Soekarno  (Sumber foto: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

 


Salah satu foto yang paling menyita perhatian adalah potret Bung Karno bersama Bung Hatta saat menghadiri pernikahan Rachmawati Soekarnoputri pada 1969.

Momen tersebut dianggap penting bukan hanya karena nilai historisnya, tetapi juga karena menggambarkan dinamika relasi personal dan politik antara dua proklamator yang sempat bersilang jalan.

Dalam satu bingkai, terlihat ketegangan yang kuat. Sebuah sudut pandang yang menarik ketika sebuah potret mampu berbicara lebih dari seribu kata. Foto tersebut diberi tajuk Dwitunggal.

“Saat itu, mereka secara politis memang tidak serasi, bahkan Bung Hatta menulis kritik pada Bung Karno dalam sebuah artikel,” ucap Guntur.

Beralih ke ruang lain dalam pameran, Guntur juga menghadirkan dimensi lebih personal dari sosok Bung Karno dalam konteks keluarga. Pengunjung akan diajak melihat potret Bung Karno dan anak cucunya yang mungkin jarang terekspos publik.

Guntur menampilkan foto-foto anggota keluarga besar Bung Karno dengan sentuhan emosional yang hangat, menghadirkan narasi visual yang lebih intim. Beberapa potret memperlihatkan figur-figur seperti Henny Guntur dalam berbagai momen keseharian.

Namun yang paling mencuri perhatian adalah sebuah foto Megawati Soekarnoputri kecil, yang tampak tengah duduk santai sambil memakan sesuatu. Dalam foto bertajuk Megawati dan Pengasuhnya Bu Citro Sentono, momen tampak begitu sederhana, tetapi justru ini menunjukkan sisi kemanusiaan dari keluarga pemimpin besar.

 

 

 

Megawati dan Pengasuhnya Bu Citro Sentono oleh Guntur Soekarno

Megawati dan Pengasuhnya Bu Citro Sentono oleh Guntur Soekarno  (Sumber foto: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

 

 

 

Wahai Cucuku Syandriasari Oleh Guntur Soekarno

Wahai Cucuku Syandriasari Oleh Guntur Soekarno  (Sumber foto: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

 


Tak kalah menarik, Guntur juga menampilkan potret cucunya, Syandria, dalam berbagai pose dan ekspresi, Salah satunya bertajuk Wahai Cucuku Syandriasari. Foto-foto tersebut memancarkan kelembutan dan keceriaan yang menjadi kontras dari potret-potret sejarah yang lebih formal di ruang sebelumnya.

Melalui bagian ini, pengunjung dapat melihat bagaimana Guntur tidak hanya menjadi fotografer momen sejarah, tetapi juga pengarsip kenangan keluarga yang penuh kasih. Di pameran ini, Syandria juga berkesempatan memajang 7 karya lukisannya yang berpadu apik dengan foto-foto sang kakek.

Beralih ke segmen lain, pameran juga menampilkan foto-foto para aktris yang sempat diabadikan oleh Guntur Soekarnoputra. Potret-potret ini memberikan dimensi tambahan tentang lanskap budaya populer Indonesia pada zamannya.

Melalui gaya busana, tatanan rambut, hingga ekspresi wajah para aktris, pengunjung dapat menangkap nuansa estetika dan semangat zaman yang hidup dalam bingkai gambar.

Foto-foto tersebut misalnya bertajuk Mojang Priangan II dan Mojang Priangan Yetty Mamat, yang menggambarkan sosok penari senior dan koreografer dari Bandung yang dikenal karena karyanya dalam Tari Pangayoman.

Tak sekadar potret selebritas, foto-foto ini menjadi arsip visual tentang selera, tren, dan representasi industri hiburan masa itu. Selain potret figur publik, pameran juga memperlihatkan karya-karya Guntur yang berfokus pada kehidupan masyarakat dan lanskap alam Indonesia. Foto-foto ini memperkuat unsur human interest dalam pameran.
 

Mojang Priangan II, Gadis Termenung, Wajah Seorang Gadis, Gadis Bermain Air, Gadis dan Seorang Pemancing, dan Mojang Priangan Yetty Mamat

Mojang Priangan II, Gadis Termenung, Wajah Seorang Gadis, Gadis Bermain Air, Gadis dan Seorang Pemancing, dan Mojang Priangan Yetty Mamat  (Sumber foto: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)


Pentingnya Fotografi dalam Dokumentasi Sejarah


Fotografer sekaligus kurator pameran, Arbain Rambey, menyampaikan bahwa Mas Tok merupakan sosok yang konsisten dalam dunia fotografi. Kecintaannya pada fotografi dimulai sejak usia 12 tahun, ketika Bung Karno menghadiahkan kamera pertamanya sebagai bentuk apresiasi atas kenaikan kelas.

Momen tersebut, lanjutnya, tampaknya membawa kesan mendalam sekaligus menjadi titik awal perjalanan panjangnya sebagai fotografer. Lewat lensa kameranya, Guntur kemudian tak hanya merekam momen pribadi, tetapi juga menyoroti berbagai peristiwa penting dalam sejarah bangsa.

Pameran ini dimaksudkan untuk menampilkan bagaimana Guntur memandang sejarah dan kehidupan dengan kedalaman artistik dan ketajaman visual. Karya-karyanya menyuguhkan potret historis dan sosial yang menyatu dengan narasi personal, menciptakan dokumentasi visual yang kuat.

Melalui foto-fotonya, Guntur menunjukkan peran penting fotografi dalam merekam sejarah Indonesia. Perspektifnya yang unik memperkaya pemahaman publik terhadap perjalanan bangsa dan dinamika kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu.

“Mas Tok memotret dengan pencahayaan alami dan spontanitas yang kuat,” imbuhnya.
 

Presiden ke-5 Indonesia Megawati Soekarnoputri (kiri) bersama dengan Fotografer Senior Guntur Soekarno saat acara pembukaan Pameran Foto Gelegar Foto Nusantara 2025 di Galeri Nasional, Jakarta, Sabtu (7/6/2025). (Sumber foto:  JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

Presiden ke-5 Indonesia Megawati Soekarnoputri (kiri) bersama dengan Fotografer Senior Guntur Soekarno saat acara pembukaan Pameran Foto Gelegar Foto Nusantara 2025 di Galeri Nasional, Jakarta, Sabtu (7/6/2025). (Sumber foto: JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)


Sementara itu, Guntur Soekarnoputra mengatakan pameran ini sengaja digelar mulai Sabtu, 7 Juni 2025, mengambil momen satu hari setelah kelahiran Sang Proklamator, Soekarno. Melalui pameran ini, Guntur ingin mengajak publik mengenang kembali dan menghormati warisan perjuangan Bung Karno.

Selain itu, pameran ini juga menjadi wujud apresiasi terhadap nilai-nilai kebangsaan yang telah diwariskan oleh Bung Karno, khususnya dalam menekankan pentingnya kesadaran akan sejarah dan kebudayaan sebagai fondasi kehidupan berbangsa.

“Pertama, saya mengadakan pameran ini dalam rangka memperingati bulan Bung Karno, yaitu bulan Juni. Karena 1 Juni adalah lahirnya Pancasila. 6 Juni hari lahir Bung Karno. 21 Juni hari wafatnya Bung Karno,” ucapnya.

Selain sebagai ajang refleksi sejarah, Guntur mengungkapkan bahwa pameran ini juga dimaksudkan sebagai sarana penggalangan dana untuk kegiatan kemanusiaan. Dana yang terkumpul nantinya akan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, tanpa harus melalui proses birokrasi yang berbelit.

Guntur menjelaskan bahwa para penerima bantuan berasal dari beragam profesi dan latar belakang, termasuk jurnalis, musisi, hingga tokoh politik yang tengah mengalami kesulitan kesehatan maupun ekonomi.

Dalam pameran ini, ada sekitar 550 foto hasil hobi Guntur yang akan dipamerkan. Foto-foto ini diambil selama 69 tahun usia Guntur.

Baca juga: Karya Paling Berkesan di Pameran Gelegar Foto Nusantara Versi Ahok

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Pemain Film Agak Laen 2 Akhirnya Diperkenalkan, Tampilkan Wajah Lama & Baru

BERIKUTNYA

Ada Babymonster hingga J-Rock, Cek Jadwal Konser Sepanjang Juni 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga