Syandria Kameron, cucu Guntur Soekarnoputra ditemui di Pameran Gelegar Foto Nusantara (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Karya Lukisan Cucu Guntur Soekarnoputra Ikut Dipajang di Pameran Gelegar Foto Nusantara

07 June 2025   |   17:56 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Pameran Gelegar Foto Nusantara: Potret Sejarah dan Kehidupan menghadirkan deretan karya dokumentasi visual dari fotografer senior Guntur Soekarno. Pameran tunggal yang digelar di Galeri Nasional ini banyak merekam potret perjalanan masyarakat Indonesia dari masa ke masa. 

Lewat bidikan kamera yang jeli, Guntur menangkap momen-momen historis, dari pejabat, aktris, hingga kehidupan masyarakat biasa yang seketika kembali menghidupkan memori kolektif siapa saja yang melihatnya.

Namun, di balik pameran ini, terselip satu kejutan kecil yang juga tak kalah mencuri perhatian. Di salah satu sudut ruangan, terdapat karya-karya lukisan dari Syandria Kameron yang juga dipamerkan. 

Baca juga: Megawati hingga Rano Karno Hadiri Pembukaan Pameran Guntur Soekarnoputra di Galeri Nasional

Syandria adalah cucu dari Guntur Soekarnoputra. Karya-karyanya yang berupa lukisan bersanding apik dengan karya sang kakek yang kebanyakan adalah fotografi.

Sang cucu sebenarnya lebih dikenal sebagai penari profesional. Dia adalah pendiri sanggar Kembalikan Baliku. Akan tetapi, di pameran sang kakek, dia membawa sisi lain dirinya melalui tujuh karya lukis menariknya.

Tujuh karyanya ini menampilkan tema yang berbeda-beda. Meski begitu, yang cukup dominan adalah lukisannya terkait Bali, baik dalam bentuk budaya tariannya maupun lanskap alamnya yang indah. 
 

Lukisan karya Syandria (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)

Lukisan karya Syandria (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)

Salah satu lukisan tampak menampilkan sosok perempuan muda Bali yang ditampilkan dengan balutan kebaya hijau dan hiasan bunga di rambutnya. Dengan gaya realisme yang halus, Syandria tampak tengah menghadirkan kesan kelembutan dan ketenangan khas perempuan Bali. 

Lukisan ini juga tampak mengangkat sisi personal dari budaya Bali, yang anggun dan damai, bahkan di luar panggung pertunjukan. Latar belakang dedaunan hijau menambah suasana alami dan memperkuat nuansa tropis khas pulau dewata.

Kemudian, pada lukisan lain, terdapat gambar seorang penari Bali dengan busana tradisional dan hiasan kepala besar yang khas. Ekspresi wajahnya tenang tapi penuh wibawa, menghadirkan kesan dokumenter seperti arsip budaya yang ditangkap dalam sapuan kuas.

Latar belakang arsitektur khas Bali memperkuat identitas ruang budaya yang menyelimuti sosok tersebut. Tanpa warna, pelukis menekankan pencahayaan dan kontras untuk menghidupkan karakter tokohnya.

Lalu, ada pula lukisan lain yang menggambarkan penari Bali, tetapi kini disuguhkan dengan sudut pandang dari belakang. Lukisan potret ini memperlihatkan penari Bali berdiri tegak mengenakan kostum tari lengkap dengan mahkota emas di kepala.

Gaya lukisan ini cenderung simbolik, menyoroti bahasa tubuh dan detail busana sebagai penanda identitas budaya. Tanpa menunjukkan ekspresi wajah, pelukis justru mengarahkan perhatian pada sikap dan postur yang penuh makna. Ini adalah penghormatan terhadap keindahan ritual dan tarian yang khas dari Bali.

Syandria mengatakan lukisan yang dipajang di pameran Gelegar Foto Nusantara merupakan karya-karya terbarunya yang belum pernah dipamerkan sebelumnya. Lukisan-lukisan ini umumnya dibuat dalam rentang lima tahun terakhir. 

Tak bisa dimungkiri, kata Syandria, hobi melukisnya mulai tumbuh ketika pandemi Covid-19. Melukis menjadi pelampiasan ekspresif ketika panggung-panggung tari menghilang dan ruang gerak tertutup saat zaman pagebluk.

“Waktu itu dibuat ketika kita benar-benar enggak bisa ngapain kan. Waktu Covid-19 menyebar kan enggak bisa latihan nari, apalagi perform karena lockdown, akhirnya saya mulai melukis lagi gitu,” katanya saat ditemui Hypeabis.id di Galeri Nasional Indonesia, Sabtu, (7/6/2025).

Syandria mengatakan lukisan-lukisan tentang manusia memang tengah memantik perhatiannya dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, dia lebih sering menggambar pemandangan alam.

Dalam tujuh karya yang dibawanya, dia juga masih membawa lukisan bernuansa alam. Beberapa lukisan menggambarkan sawah dan laut yang terinspirasi usai dirinya berjalan-jalan di Ubud, Bali. Kemudian, ada pula potret Candi Prambanan dan Angkor Wat. “Satu lukisan rata-rata dikerjakan selama satu hari,” imbuhnya. 

Teknik yang digunakan Syandria dalam melukis cukup menarik. Dia menggunakan akrilik sebagai dasar karena cepat kering. Kemudian, ditimpa dengan cat minyak untuk mendapatkan kedalaman tekstur dan nuansa.

Beberapa bahkan menggunakan teknik palette knife yang memberikan efek timbul, mempertebal impresi visual, tetapi di sisi lain diakui olehnya ini menambah tantangan dalam proses pengeringannya. "Salah satu yang paling sulit itu ya wajah penari Bali,” ucapnya, menandai transisi dari menggambar pemandangan ke kompleksitas bentuk manusia. 
 

Suasana pameran Gelegar Foto Nusantara (GFN) 2025: Potret Sejarah dan Kehidupan di Galeri Nasional Indonesia (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)

Suasana pameran Gelegar Foto Nusantara (GFN) 2025: Potret Sejarah dan Kehidupan di Galeri Nasional Indonesia (Sumber gambar: Hypeabis.id/Eusebio Chrysnamurti)

Hal yang juga menarik, tak satu pun dari lukisan ini diberi judul. Syandria mengaku belum sempat menamai mereka. “Mungkin besok, ketika sudah dibuka untuk umum, akan diberi nama,” katanya. 

Tanpa judul, sederet karyanya memberi ruang besar bagi penonton untuk menafsir sendiri, menjelajahi emosi dan cerita yang disembunyikan dalam sapuan warna dan bentuk.

Lukisan-lukisan ini, meskipun tidak menjadi highlight utama dalam pameran yang didominasi karya fotografi, justru memperkaya narasi dengan keberadaannya yang jujur dan otentik. Ada dimensi lain yang tercipta di tengah-tengah karya fotografi yang memang jadi sajian utama di pameran ini. 

Syandria bercerita keikutsertaannya di pameran ini terjadi karena ajakan sang kakek, atau yang dia dengan panggilan Akung. Dia mengaku senang karena tujuh karya terbarunya ini bisa turut dipamerkan ke publik.

Menurutnya, karya-karyanya ini bukan sekadar pemandangan, tetapi juga jejak emosi dan ingatan dalam lima tahun terakhir. Ketika tubuh tak bisa menari karena pandemi, warnalah yang menjadi wujud ekspresi tersebut. 

Baca juga: Karya Paling Berkesan di Pameran Gelegar Foto Nusantara Versi Ahok

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Jadwal & Lokasi CFD Minggu 8 Juni 2025 di Jakarta dan Sekitarnya

BERIKUTNYA

Pemain Film Agak Laen 2 Akhirnya Diperkenalkan, Tampilkan Wajah Lama & Baru

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga