Tampilan bonsai yang cantik. (Sumber gambar: Quang nguyen Vinh/Pexels)

Dari Akar hingga Mahkota: Seni Bonsai yang Bernilai Investasi Tinggi

27 May 2025   |   09:30 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Bonsai tidak hanya menjadi media hobi tetapi juga barang investasinya. Tanaman berseni ini tebilang memiliki nilai jual tinggi, beberapa di antaranya bisa menembus angka miliaran Rupiah. Namun, apa yang membuat harganya bisa begitu mahal?

Pegiat dan pedagang bonsai, M Fatah Anugerah, mengatakan utuk menentukan harga bonsai, ada beberapa kriteria yang dinilai mulai dari gerak dasarnya, seninya sebagus apa, kematangan rantingnya, usia, hingga dimensi ruangnya. Jadi intinya, semakin bagus kriteria yang dipenuhi, harga bonsai pasti semakin mahal, tidak terpengaruh dari ukuran besar kecilnya. 

Baca juga: Indahnya Bisnis Bonsai, Omzetnya Bisa Tembus Ratusan Juta

“Memang bentuk, seni, dan juga keindahannya itu yang dijual. Semakin mahal, pasti semakin indah,” jelasnya kepada Hypeabis.id beberapa waktu lalu.

Faktor lain yang mempengaruhi harga jual bonsai yakni ketika bonsai tersebut sempat menang kontes. Terutama jika sudah masuk kontes internasional. 

Bonsai kontes biasanya diburu para kolektor. Beberapa jenisnya yakni bonsai anting putri, bonsai beringin, dan bonsai waru. Jenis ini kerap bertempur di arena kontes karena bentuk ranting-rantingnya yang bisa sangat rapat dan sulit, termasuk usia yang tua.

Usia bonsai turut menentukan harga jual. Pemilik akun Instagram jual beli bonsai, @drfatahbonsai, itu mengaku menyebut bahkan di Jepang, sejumlah bonsai memiliki usia ratusan tahun yang dirawat hingga turun temurun. 

“Bonsai itu seni hidup selama berpuluh hingga ratusan tahun. Bentuknya akan selalu makin bagus, makin mahal, kalau kita bisa merawatnya. Nah itu seninya,” ujar pria yang mulai belajar teknik menanam bonsai sejak 2010 itu.

Juri Utama Nasional Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Bambang Suroso mengatakan, setidaknya ada dua kategori bonsai, yang pertama untuk souvenir atau hiasan dan kedua untuk kontes. Nah, bonsai yang memiliki nilai jual tinggi adalah kategori untuk kontes karena memiliki karakter dan usia tua.

Dalam penialaian para juri, terdapat empat unsur untuk menentukan bonsai yang bernilai tinggi, diantaranya penampilan, gerak dasar, keserasian, san kematangan. Adapun gerak dasar bonsai mulai dilihat dari perakaran, kemudian naik ke pinggul, batang, sampai ke mahkota, sesuai dengan gaya pohon tersebut.

Harga yang dibanderol untuk bonsai kontes cukup bervariasi, bahkan bisa tembus miliaran Rupiah. Semua tergantung karakter pohon dan empat unsur kolom penilaian yang bisa terpenuhi. 

"Kalau empat kolom itu terpenuhi semua dan kategorinya bagus, otomatis harganya sudah pasti mahal. Walaupun ukuran kecil, kadang-kadang kalau karakternya bagus bisa mencapai ratusan juta," ujar pria yang karib disapa Mbah Suro itu.

Meskipun harganya fantastis, Mbah Suro menyebut peminatnya akan selalu ada. Sebab, tanaman ini menurutnya bisa dijadikan investasi selain sekadar hobi.

Pameran dan kontes bonsai biasanya diselenggarakan minimal satu kali setiap tahun di setiap cabang PPBI. Kontes ini selain sebagai wadah bertemunya penggemar bonsai, juga mengenalkan seni tanaman tersebut ke masyarakat secara luas.

Di Indonesia, penggemar bonsai kontes dan souvenir terbilang imbang. PPBI saja memiliki sekitar 250 cabang di Indonesia dengan anggota rata-rata 50 orang. Beberapa penggemar memang ada yang sengaja memproduksi bonsai kontes untuk dijual, tetapi ada juga yang sekadar koleksi pribadi.

"Biasanya kolektor-kolektor itu hanya untuk kalangan sendiri. Kolektor bonsai banyak, di setiap kota ada," tutur pengurus pusat PPBI itu.

Baca juga: Hobi Sekaligus Bangun Komunitas Ala Penggemar Bonsai

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Hari Jamu Nasional, Momentum Menghidupkan Tradisi & Gaya Hidup Sehat

BERIKUTNYA

Hypereport: Kualitas Konser Musik Indonesia Belum Merata, Perbaikan Sistematis Jadi Urgensi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga