Jalan Sunyi Mencari Film Turang yang Sempat Hilang Puluhan Tahun
Like
Film Turang disutradarai oleh Bachtiar Siagian. Nama itu dahulu begitu bersinar dalam kancah sinema Indonesia 1950-an. Dia adalah sutradara yang karya-karyanya merekam denyut sosial masyarakat paskakemerdekaan.
Usmar Ismail, bapak film Indonesia, bahkan diketahui pernah mengakui kemampuan Bachtiar. Di antara sutradara-sutradara film saat itu, Bachtiar salah satu yang dianggapnya punya kemampuan setara dengannya.
Baca juga: Hypereport: Merawat Warisan Intelektual Lewat Restorasi Film Lawas
Jika Usmar Ismail memimpin Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini), Bachtiar menduduki kursi setara di Lembaga Film Indonesia (LFI). Namun, LFI kemudian dianggap terafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).
Sejarah mencatat keduanya beda nasib, terutama setelah peristiwa politik 30 September 1965. Sejarah seolah tidak memberi ruang lebih bagi Bachtiar untuk terus bersuara. Film-filmnya lenyap dari bioskop, perpustakaan, dan ingatan kolektif bangsa. Seolah ia tak pernah ada.
Dalam berbagai literatur film Indonesia, nama Bachtiar Siagian jarang disebut, jika tidak benar-benar ingin menyebutnya dihapus. Akan tetapi, dengan munculnya kembali Turang, wacana itu mulai bergeser.
Film ini menjadi bukti bahwa sinema dapat melampaui represi dan karya seni rasanya tak akan pernah benar-benar punah. Keberadaannya melengkapi fragmen yang hilang dalam peta jalan film Indonesia.

Still photo film Turang (Sumber gambar: International Film Festival Rotterdam)
Turang merupakan salah satu dari beberapa film Indonesia pascakemerdekaan yang menggambarkan perjuangan kemerdekaan melawan Belanda. Tidak seperti film-film lain yang sebagian besar berfokus pada ranah militer, film ini menyoroti peran penting masyarakat biasa dalam perjuangan pembebasan. Berlatar di komunitas adat Karo.
Rusli, seorang pemimpin milisi rakyat, sedang menjalankan misi bersama seorang pria Karo ketika pasukan Belanda menghadang mereka. Rusli yang terluka parah dan tidak dapat melanjutkan perjalanan, disembunyikan oleh rekan-rekan di desa Seberaya, yang berada di wilayah Belanda.
Tipi dan ayahnya, kepala desa, dipercaya untuk menjaga keselamatan dan pemulihannya. Dari situasi yang penuh risiko itu, film ini memperlihatkan kehidupan sehari-hari penduduk desa yang menarik, dari solidaritas mereka yang tulus dengan para pejuang kemerdekaan, kisah cinta yang bersemi antara Tipi dan Rusli, hingga kesulitan yang ditimbulkan oleh serangan tentara Belanda.
Yang istimewa dari film tersebut, pemutaran perdananya bukanlah di bioskop. Namun, digelar di Istana Merdeka dan ditonton langsung oleh Presiden Sukarno. Dalam Festival Film Indonesia 1960, Turang menyapu lima penghargaan, yakni film terbaik, film drama terbaik, peran pembantu pria terbaik, dekor terbaik, dan sutradara terbaik.
Pada waktu itu, film ini juga pernah jadi alat diplomasi Indonesia dengan pemutarannya Festival Film Asia Afrika pertama diselenggarakan di Tashkent, Uzbekistan pada tahun 1958. Festival ini merupakan bagian dari inisiatif yang muncul setelah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955.
Penemuan Turang bukan sekadar pencapaian arsip. Film ini memiliki nilai sejarah yang tinggi, tidak hanya karena keunggulan artistiknya, tetapi juga karena posisinya dalam sejarah sinema nasional sekaligus transnasional.
Jalan Berliku Mencari Turang
Dalam beberapa tahun terakhir, kurator film sekaligus peneliti, Bunga Siagian, memulai sebuah misi sunyi: mencari keberadaan film Turang. Film karya ayahnya itu sebenarnya masih bisa ditemukan dalam beberapa bacaan, tetapi bentuk fisiknya, tak ada yang benar-benar tahu ke mana rimbanya.Bertahun-tahun mencari, Bunga kemudian menyadari satu hal. Ada yang keliru dalam prosesnya. Dia mengatakan setelah bertahun-tahun hilang, diskusi yang melibatkan film Turang selalu berkutat pada pertarungan ideologi kiri vs kanan.
Di dalam konteks ini, pencarian Turang nyaris tak ada harapan dan menemukan jalan buntu. Warisan pemikiran kiri dilarang. “Arsip banyak dihancurkan, maka selesailah sudah,” kata Bunga kepada Hypeabis.id.
Bunga kemudian memperluas fokus kajiannya. Meskipun filmnya secara fisik sulit ditemukan sehingga isinya tak dapat ditelusuri secara rinci, jejak-jejak aktivisme yang terkait dengannya sebenarnya masih dapat dipelajari lebih lanjut.
Bunga mengatakan banyak orang mengetahui film Turang berjaya di dalam negeri, terutama dengan banyak penghargaan di Festival Film Indonesia. Rupanya, ada kepingan sejarah lain yang lebih luas.
“Tak banyak yang tahu bahwa Turang pernah dikirim ke Tashkent untuk mengikuti Festival Film Asia Afrika (FFAA) pertama pada 1958,” jelasnya.
Sejak saat itu, Bunga mencoba mempelajari lebih jauh tentang festival tersebut. Pada saat bersamaan, Bunga yang juga adalah seniman, bertemu dengan salah seorang seniman video dari Tashkent. Pertemuan itu terjadi pada 2022.
Dari sana, keduanya berteman. Bunga kemudian saling membantu untuk mencari jejak film Turang yang pernah di putar di Festival Film Asia Afrika pertama di Tashkent. Gayung pun bersambut.

Still photo film Turang (Sumber gambar: International Film Festival Rotterdam)
Sejumlah seniman di sana rupanya juga tengah meneliti Festival Film Tashkent. Festival itu rupanya embrionya berasal dari FFAA. Jadi, mau tidak mau, mereka pun mesti mempelajari FFAA tersebut.
“Jadi, setelah FFAA di Tashkent pada 1958, sepuluh tahun kemudian baru ada Festival Film Tashkent. Itu adalah salah satu festival yang penting banget, terutama untuk negara-negara yang kita sekarang sebut global south,” tuturnya.
Dari situ, proses pencarian mulai menemukan titik terang. Dari 2022 menjadi project personal, lalu pada 2023 bergabung ke project yang lebih besar. Tak lama kemudian, dirinya mendapat kabar bahwa film Turang ditemukan di pusat arsip film Rusia, Gosfilmofond, di Moskow.
Awalnya semua masih ragu. Sebab, data tentang Turang sangat minim di arsip tersebut karena tanpa dilengkapi metadata lain. Namun, nama Turang sebenarnya cukup unik. Ia datang dari bahasa Karo, yang memang sulit dicari padanannya dalam bahasa Inggris, sehingga masih memakai nama asli.
Butuh waktu dan proses administrasi yang rumit untuk memverifikasi isinya. Namun, saat potongan film dikirim, Bunga tersenyum bahagia. Itulah film yang dicarinya selama ini.
Bunga melakukan penelitian dan pencarian film Turang secara mandiri tanpa bantuan dari negara. Dia menggunakan waktu, tenaga, dan dana pribadinya untuk menghidupkan kembali warisan yang telah ditepikan ini.
Refleksi Kebudayaan yang Penting
Bunga percaya bahwa sinema masih memiliki kekuatan untuk membangkitkan ingatan dan harapan, bahkan dari sejarah yang paling sunyi sekalipun. Penemuan Turang bukan hanya soal melestarikan warisan ayahnya, tetapi juga sebuah upaya untuk membangkitkan kembali ingatan kolektif bangsa yang telah lama terlupakan.Film Turang berada di persimpangan menarik untuk membicarakan banyak hal. Dalam konteks nasional, lanjut Bunga, orang mungkin akan kembali diingatkan bahwa genosida 1965 telah mengubah wajah kebudayaan secara ekstrem.
Banyak seniman yang berafiliasi dengan kelompok kiri mengalami dampak dari situasi tersebut. Namun, Bunga juga ingin melihat dari sudut pandang yang berbeda, bukan semata-mata memosisikan seniman kiri sebagai korban, melainkan menelaah pengaruh dan kontribusi yang mereka berikan.
Masuknya film ini di Festival Film Asia Afrika, yang punya hubungan kuat dengan Konferensi Asia Afrika, jelas membuka mata banyak orang bahwa sinema Indonesia dan posisi Indonesia pernah begitu penting bersama dengan negara-negara Asia-Afrika lain.

Still photo film Turang (Sumber gambar: International Film Festival Rotterdam)
Sebagai catatan, Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955 menjadi cikal bakal lahirnya Gerakan Non-Blok (GNB) dan turut melahirkan istilah "negara dunia ketiga".
GNB terbentuk sebagai respons terhadap Perang Dingin dan keinginan negara-negara berkembang untuk tidak memihak blok Barat maupun Timur. Istilah "dunia ketiga" sendiri digunakan untuk menggambarkan negara-negara yang tidak termasuk dalam Blok Barat (Amerika Serikat dan sekutu) maupun Blok Timur (Uni Soviet dan sekutu).
“Dahulu, istilah negara dunia ketiga itu adalah kekuatan besar di antara Blok Barat dan Blok Timur. Namun, sekarang seolah dikerdilkan hanya sebagai negara dengan posisi ekonomi lemah. Ini gila. Padahal, dulu negara dunia ketiga itu yang memimpin visi baru, tentang dunia yang bebas kolonialisme dan imperialisme,” tegasnya.
Warisan Turang dalam kebudayaan transnasional makin menarik ketika dunia hari ini juga tengah dihantui dengan kolonialisasi yang terjadi di Palestina. Dahulu, negara-negara dunia ketiga pernah merasakannya dan sudah waktunya bersatu untuk membelanya untuk kehidupan yang lebih adil.
“Tahun ini kita tengah merayakan peringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. Legasi atau warisan Bandung ini mestinya bisa dibicarakan secara menyeluruh, termasuk tak menepikan begitu saja gerakan kebudayaan kiri,” pungkasnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.