Kondisi Film Turang Karya Bachtiar Siagian saat Ditemukan Kembali di Gosfilmofond
06 May 2025 |
15:05 WIB
Sebuah kabar menggembirakan datang dari dunia perfilman Indonesia baru-baru ini. Film Turang, karya sutradara Bachtiar Siagian yang sempat memborong Piala Citra di Festival Film Indonesia 1960, kini akhirnya ditemukan kembali setelah lebih dari setengah abad dinyatakan hilang.
Turang merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah sinema Indonesia. Mengisahkan tentang perlawanan rakyat terhadap kolonialisme, film ini menyuarakan semangat nasionalisme pascakemerdekaan dengan sudut pandang menarik.
Alih-alih membicarakan heroisme yang dilakukan oleh elite dalam perjuangan Indonesia, film ini justru menyoroti peran dan perjuangan rakyat. Sisi yang penting, tetapi kerap dilupakan begitu saja.
Setelah mendapat apresiasi besar, dengan diputar di Istana Negara di depan Presiden Soekarno, lalu meraih penghargaan Film Terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional (yang sekarang menjadi Festival Film Indonesia) pada 1960, Turang kemudian hilang.
Baca juga: Jalan Sunyi Mencari Film Turang yang Sempat Hilang Puluhan Tahun
Kurator film sekaligus peneliti, Bunga Siagian, mengatakan film Turang kini akhirnya bisa muncul kembali. Hal ini terjadi karena selain berjaya di dalam negeri, film ini rupanya pernah dikirim ke Festival Film Asia Afrika 1958.
Festival ini merupakan bagian dari inisiatif yang muncul setelah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955. Berkat penayangannya di festival ini pulalah yang membuat arsip mengenai film ini masih bisa dilacak kembali.
Bunga mengatakan film ini ditemukan di Gosfilmofond, lembaga arsip film nasional Rusia, dalam bentuk seluloid interpositif, yakni salinan langsung dari master asli. Kondisinya luar biasa baik, bahkan nyaris utuh dari sisi gambar. “Filmnya bagus banget kondisinya. Itu yang bikin aku juga kaget,” ungkat Bunga.
Proses ini bermula dari petunjuk yang sangat minim ditemukan dalam proses risetnya bersama beberapa kawannya dari Festival Film Tashkent. Kala itu, mereka menemukan sebuah entri film berjudul Turang tercantum dalam katalog milik Gosfilmofond.
Namun, tidak ada informasi pendukung yang bisa memastikan apakah film itu benar berasal dari Indonesia. Satu-satunya petunjuk hanyalah nama “Turang” yang tercantum pada label. Meski sempat ragu, dirinya meyakini arsip itu adalah jawaban dari pencariannya. Sebab, kata Turang berasal dari bahasa lokal dan tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing.
“Judul ‘Turang’ itu sendiri sudah sangat khas. Kalau dulu film ini dikirim ke festival Asia-Afrika misalnya, lalu diterjemahkan secara sembarangan, besar kemungkinan identitas film ini akan hilang karena jadi lebih sulit mencarinya,” ujar Bunga.
Rasa ingin tahu yang besar mendorong tim untuk melangkah lebih jauh. Mereka kemudian mengajukan permintaan untuk melihat versi digital film tersebut. “Kami harus membayar 200 euro untuk file pratinjau, dan waktu itu biayanya bahkan dibantu teman kami yang tinggal di Berlin. File yang dikirim pun hanya versi beresolusi rendah,” kenangnya.
Setelah proses verifikasi untuk memastikan film tersebut benar, Bunga kemudian menyelesaikan proses administrasi untuk menyalin film tersebut. Menurutnya, prosesnya cukup rumit karena ada ketegangan politik global, selain juga karena biaya yang tak sedikit mengurusnya.
Terlebih, Bunga mengurus seluruh proses ini secara mandiri. Dia mengaku sempat mengirim proposal ke kementerian terkait, tetapi setelah tampuk kekuasaan berganti, prosesnya berhenti, karena orang-orangnya baru.
Dia pun tak tahu mesti mengurus proses ini dari mana lagi. Pada akhirnya, project ini menjadi proyek pribadi yang dibiayainya sendiri.
Di luar itu, Bunga merasa senang akhirnya Turang bisa bangkit lagi. Terlebih, Turang juga kondisi arsipnya tergolong sangat baik. Dari segi visual, kualitas gambar masih tajam dan dapat dinikmati layaknya film-film lama yang terjaga. Namun, pada bagian audio, terdapat beberapa kekurangan.
Meski begitu, kekurangan tersebut tidak bersifat fatal. Menurutnya, hanya ada beberapa bagian saja yang suaranya terdengar samar, terutama pada adegan yang menampilkan warga Karo berbicara dalam bahasa daerah mereka.
Menariknya, Bunga membawa rekaman tersebut ke wilayah Karo dan memutarkannya untuk warga setempat. Hasilnya mengejutkan. Meski audio tidak sepenuhnya jernih, warga masih mampu memahami bahasa yang digunakan dalam film. “Ternyata mereka masih bisa menangkap maknanya, bahkan bisa menerjemahkannya,” ungkapnya.
Dia menekankan bahwa pengalaman ini menunjukkan pentingnya keterlibatan komunitas lokal dalam proses restorasi film. Menurutnya, hubungan antara arsip dan budaya asalnya sangat penting untuk menjaga keaslian dan konteks sejarah film tersebut.
Saat ini film Turang telah didigitalisasi dari bentuk awalnya seluloid. Namun, prosesnya ini hanya digitalisasi sederhana, bukan restorasi menyeluruh. Film ini sempat diubah ke DCP, tetapi itu atas inisiatif Festival Film Rotterdam untuk penayangan di sana saja.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Turang merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah sinema Indonesia. Mengisahkan tentang perlawanan rakyat terhadap kolonialisme, film ini menyuarakan semangat nasionalisme pascakemerdekaan dengan sudut pandang menarik.
Alih-alih membicarakan heroisme yang dilakukan oleh elite dalam perjuangan Indonesia, film ini justru menyoroti peran dan perjuangan rakyat. Sisi yang penting, tetapi kerap dilupakan begitu saja.
Setelah mendapat apresiasi besar, dengan diputar di Istana Negara di depan Presiden Soekarno, lalu meraih penghargaan Film Terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional (yang sekarang menjadi Festival Film Indonesia) pada 1960, Turang kemudian hilang.
Baca juga: Jalan Sunyi Mencari Film Turang yang Sempat Hilang Puluhan Tahun

Bunga mengatakan sejauh ini film Turang yang awalnya seluloid telah didigitalisasi. Namun, hal itu dilakukan secara langsung, tidak melalui restorasi atau semacamnya. Film ini sempat diubah menjadi DCP, terutama saat diputar di IFFR
Festival ini merupakan bagian dari inisiatif yang muncul setelah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955. Berkat penayangannya di festival ini pulalah yang membuat arsip mengenai film ini masih bisa dilacak kembali.
Bunga mengatakan film ini ditemukan di Gosfilmofond, lembaga arsip film nasional Rusia, dalam bentuk seluloid interpositif, yakni salinan langsung dari master asli. Kondisinya luar biasa baik, bahkan nyaris utuh dari sisi gambar. “Filmnya bagus banget kondisinya. Itu yang bikin aku juga kaget,” ungkat Bunga.
Proses ini bermula dari petunjuk yang sangat minim ditemukan dalam proses risetnya bersama beberapa kawannya dari Festival Film Tashkent. Kala itu, mereka menemukan sebuah entri film berjudul Turang tercantum dalam katalog milik Gosfilmofond.
Namun, tidak ada informasi pendukung yang bisa memastikan apakah film itu benar berasal dari Indonesia. Satu-satunya petunjuk hanyalah nama “Turang” yang tercantum pada label. Meski sempat ragu, dirinya meyakini arsip itu adalah jawaban dari pencariannya. Sebab, kata Turang berasal dari bahasa lokal dan tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing.
“Judul ‘Turang’ itu sendiri sudah sangat khas. Kalau dulu film ini dikirim ke festival Asia-Afrika misalnya, lalu diterjemahkan secara sembarangan, besar kemungkinan identitas film ini akan hilang karena jadi lebih sulit mencarinya,” ujar Bunga.
Rasa ingin tahu yang besar mendorong tim untuk melangkah lebih jauh. Mereka kemudian mengajukan permintaan untuk melihat versi digital film tersebut. “Kami harus membayar 200 euro untuk file pratinjau, dan waktu itu biayanya bahkan dibantu teman kami yang tinggal di Berlin. File yang dikirim pun hanya versi beresolusi rendah,” kenangnya.
Setelah proses verifikasi untuk memastikan film tersebut benar, Bunga kemudian menyelesaikan proses administrasi untuk menyalin film tersebut. Menurutnya, prosesnya cukup rumit karena ada ketegangan politik global, selain juga karena biaya yang tak sedikit mengurusnya.
Terlebih, Bunga mengurus seluruh proses ini secara mandiri. Dia mengaku sempat mengirim proposal ke kementerian terkait, tetapi setelah tampuk kekuasaan berganti, prosesnya berhenti, karena orang-orangnya baru.
Dia pun tak tahu mesti mengurus proses ini dari mana lagi. Pada akhirnya, project ini menjadi proyek pribadi yang dibiayainya sendiri.
Di luar itu, Bunga merasa senang akhirnya Turang bisa bangkit lagi. Terlebih, Turang juga kondisi arsipnya tergolong sangat baik. Dari segi visual, kualitas gambar masih tajam dan dapat dinikmati layaknya film-film lama yang terjaga. Namun, pada bagian audio, terdapat beberapa kekurangan.
Meski begitu, kekurangan tersebut tidak bersifat fatal. Menurutnya, hanya ada beberapa bagian saja yang suaranya terdengar samar, terutama pada adegan yang menampilkan warga Karo berbicara dalam bahasa daerah mereka.

Bunga mengatakan sejauh ini film Turang yang awalnya seluloid telah didigitalisasi. Namun, hal itu dilakukan secara langsung, tidak melalui restorasi atau semacamnya. Film ini sempat diubah menjadi DCP, terutama saat diputar di IFFR
Dia menekankan bahwa pengalaman ini menunjukkan pentingnya keterlibatan komunitas lokal dalam proses restorasi film. Menurutnya, hubungan antara arsip dan budaya asalnya sangat penting untuk menjaga keaslian dan konteks sejarah film tersebut.
Saat ini film Turang telah didigitalisasi dari bentuk awalnya seluloid. Namun, prosesnya ini hanya digitalisasi sederhana, bukan restorasi menyeluruh. Film ini sempat diubah ke DCP, tetapi itu atas inisiatif Festival Film Rotterdam untuk penayangan di sana saja.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.